KONVERSI PENILAIAN DALAM EVALUASI PENDIDIKAN

Oleh : Fat Hurrahman

Pendahuluan

Peneggasan fungsi Pendidikan saat ini, bagi manusia salah satunya adalah pendidikan sebagai bentuk investasi jangka panjang. “Invesmen in human capital”. Dapat dijelaskan bahwa pendidikan sebagai bentuk infrastruktur yang akan memberi keuntungan dimasa depan bersifat non material berupa sumber daya manusia berkualitas.

Sumber Daya Manusia ( SDM ) yang berkualitas, sebagai bagian dari pendidikan, telah disadari oleh bangsa ini, tetapi membangun SDM melalui pendidikan masih sering dipertanyakan. Ukuran ini dapat dilihat dari anggaran pendidikan oleh pemerintah dari pelita I hingga era Pemerintahan Habibie rata – rata angka anggaran pendidikan masih 7,10 % dari APBN. Sedangkan di era Reformasi sampai saat ini anggaran pendidikan masih bekisar antara 6 % sampai 7 % dari APBN, meskipun dalam amandemen UUD 1945 telah disepakati dan telah di undangkan bahwa anggaran pendidikan minimal 20 % dari APBN, dengan ketentuan bahwa anggaran tersebut dapat terpenuhi bila tersedia dana. Peningkatan anggaran pendidikan menjadi 20 % di era Megawati dan era sekarang telah disepakati dan akan dilaksanakan bertahap. Namun demikian yang menjadi pernyataan mengapa anggaran pendidikan di awali dengan nilai relative rendah ( mengalami penurunan anggaran ) ? Di samping itu kesan ketidak seriusan dalam menangani peningkatan SDM dapat juga dilihat dari kurang mengakarnya partisipasi masyarakat terhadap pendidikan. Sikap semacam ini, logis bila akan memberi kontribusi kurang maksimal terhadap keberhasilan pendidikan. Kita sebagai guru ( pelaksanaan pendidikan ) pantas prihatin dengan kenyataan ini, tetapi sebaliknya sebagai guru, akan bijaksana apa bila tidak mencari kambing hitam penyebab kurang berhasilnya pendidikan, melainkan kita kita terus berusaha berkaitan dengan tanggung jawab yang telah kita terima dan kita pilih sebagai profesi.

Profesi guru memang banyak tuntutan, tetapi relative kurang penghargaan secara materi. Namun demikian pantaskah guru menuntut pada Negara ini, yang pada kenyataannya Negara ini butuh perbaikan dari segala lini ? Penulis yakin apabila pendidikan kita baik apapun yang dilakukan dinegara ini juga baik. Bila saat ini terjadi sesuatu yang kurang baik tentu kita harus legowo bahwa tindakan tersebut bahwa semata – mata karena imbas dar pendidikan yang kurang baik.

Usaha perbaikan yang berkaitan dengan tanggung jawab seorang guru dapat dilihat dari berbagai tekniks, diantaranya dapat dilihat dari perbaikan sistem pengajaran, perbaikan metode mengajar, perbaikan sarana mengajar, serta dapat juga dilihat dari evaluasinya. Usaha – usaha tersebut, apabila terus bersinergis akan berdampak positip terhadap kemajuan pendidikan, meskipun kita perlu menyadari untuk mencapai sistem ynag baik tidak semudah membalikkan telapak tangan. Upaya tersebut terus dilaksanakan terus menerus. Berikut adalah uraian tentang konversi yang menjadi kontroversi tentang evaluasi yang timbul di masyarakat, kontroversi itu berkaitan dengan Ujian Nasional. Di Negara kita sebagian berpendapat nilai ujian seharusnya tidak di konversi karena konversi akan merugikan siswa berprestasi dan pendapat lain mengatakan nilai ujian bila tidak di konversi akan terjadi ledakan peserta didik di tingkat tertentu akibat dari siswa yang dinyatakan gagal ujian dan ini menyebabkan anggaran pendidikan semakin besar dan alasan tersebut bila kita sikapi belumlah benar, karena perlu adanya penelitian lebih jauh..

Masalah

Dari uraian pada latar belakang dalam makalah ini penulis merumuskan masalah, sebagai berikut : Bagaimana Penerapan Konvensi penilaian ujian dalam evaluasi yang dapat dilaksanakan di dalam dunia pendidikan ?.

Pembahasan

Pengukuran dan Evaluasi

Dalam dunia penidikan system evaluasi tidak dapat terlepas dari system pengukuran, meskipun dari keduanya memiliki pengertian berbeda. Pengukuran berkenaan dengan pembuatan soal – soal, pengadministrasian dan penskoran tes, sedangkan evaluasi berkenaan dengan pertimbangan. Evaluasi pembelajaran juga merupakan bagian dari system pendidikan yang bertujuan untuk melihat keberhasilan dalam mencapai tujuan. Guru dan lembaga pendidikan memperoleh informasi akademik tentang para siswa yang telah mengikuti pembelajaran, dan evaluasi diperlukan untuk memberikan umpan balik bagi guru sebagai dasar memperbaiki proses pembelajaran dan hasilnya digunakan sebagai dasar untuk menyusun program perbaikan.

Dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran guru memerlukan alat yang dapat mengukur secara tepat keberhasilan para siswa, jangan sampai terjadi kesalahanpengukuran yang mengakibatkan kekeliruan dalam mengambil keputusan. Guru harus mempersiapkan perangkat soal yang valid dan reliabel. Di samping itu evaluasi harus dilaksanakan secara adil meskipun desain pengukuran yang dilakukan berbeda karena evaluasi diharapkan mampu memberi gambaran tentang keberadaan siswa dan tingkat keberhasilan dalam proses belajar.

Desain Pengukuran Guru dalam melaksanakan evaluasi tidak terlepas dari pengukuran. Umumnya dalam pengukuran, langkah yang akan diambil tergantung pada desain ( rancangan ) yang akan dilaksanakan karena rancangan itu berkaitan dengan istimasi yang akan dijadikan dasar evaluasi.

Ada beberapa rancangan pengukuran yang sering terjadi dalam pendidikan :

Rancangan Pertama : Instrumen / alat pengukuran sama dilaksanakan pada waktu sama atau pada kelompok yang sama. Pengukuran ini, pada umumnya mampu mengistimasikan anak yang pandai dan yang sedang dan rendah serta adil tetapi tidak dapat mengetahui beberapa besar tingkat kemajuan pembelajaran yang dilaksanakan karena tidak terdapat pembanding yang jelas dari satuan yang satu dengan satuan yang lain.

Rancangan Kedua : Instrumen / alat pengukuran sama dengan waktu berbeda atau kelompokberbeda. Rancangan ini dapat di asumsikan bahwa siswa yang melaksanakan evaluasi diwaktu akhir tentu akan memperoleh nilai yang lebih tinggi, disebabkan ketika waktu selang sering terjadi kebocoran soal dari kelompok satu dengan kelompok yang lainnya.

Rancangan Ketiga : Instrumen / alat pengukuran berbeda dilaksanakan dengan waktu sama atau kelompok sama. Meskipun waktu pelaksanaan sama atau pada kelompok sama jika taraf kesukaran, reliabilitas dan validitas berbeda hampir dapat dipastikan pada siswa yang mengerjakan tingkat kesukaran lebih rendah akan memperoleh hasil yang tinggi sehingga rancangan ini tidak mampu membedakan mana yang pintar dan mana yang bodoh.

Rancangan Keempat : Instrumen / alat ukur berbeda untuk waktu berbeda atau pada kelompok berbeda. Pengukuran ini sekilas sangat lemah tetapi pengukuran ini ternyata sering dilaksanakan dalam tes formatif, ulangan umum, ujian bahkan ujian nasional juga mengambil rancangan tersebut. Sebenarnya menentukan desain pengukuran manapun sah – sah saja, tetapi perlu diingat bahwa pengukuran bagian yang terpenting adalah bagaimana mengistimasikan pengukuran dalam bentuk evaluasi. Dengan melakukan pengukuran yang dipilih harus bersifat adil dan bagi yang diukur tidak merasa dirugikan karena instrument yang berakibat pada perolehan skor (nilai). Pengukuran yang diambil juga mampu menciptakan kompetisi yang sehat pada kelompok, sekolah atau tingkat yang lebih luas.

Konversi Penilaian Sebagai Keperluan Evaluasi

Ahli pendidikan telah sepakat bahwa untuk keperluan evaluasi yang adil dalam belajar, baik untuk evaluasi formatif, sumatif, ujian akhir diperlukan pengukuran tes yang setara sangat diperlukan. Beberapa perangkat tes tersebut harus berisi kisi – kisi yang sama. Tetapi sebaliknya dalam membuat soal yang memiliki tingkat kesukaran, daya pembeda dan reliabel yang sama Tidak mungkin ditemukan pada perangkat soal yang benar – benar paralel. Meskipun disusun berdasarkan kisi – kisi yang sama.

Oleh karena itu apapun bentuknya instrument ketika memperoleh hasil pengukuran, hasil pengukuran tersebut belumcukup dapat digunakan sebagai vonis tentang kualitas pembelajaran / pendidikan. Tetapi untuk melaksanakan vonis tentang kualitas pendidikan adalah tepat bila dilaksanakan konversi suatu instrument yang satu dengan instrument yang lain. Seperti juga ketika kita mengukur volume air meskipun jumlahnya sama ternyata bila kita ukur dengan alat ukur bersatuan beda misal liter dan centimeter kubik ( cm3 ), ternyata besar yang ditunjukkan nilainya berbeda. 1 liter = 1000 cm3.

Alternatif Konversi Nilai

Dalam makalah ini penulis tidak akan membahas seluruh bentuk konversi yang dilaksanakan dari sekian desain pengukuran tetapi penulis sengaja hanya menunjukkan salah satu desain dari bentuk konversi yang sering dilaksanakan.

Penerapan bentuk desain yang kami bahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut :

Desain

Kelompok A

Kelompo B

I

X

Y

II

( X + Z )

( Y + Z )

Dari desain I, tentu memerlukan kesamaan distribusi probabilitas antar X dan Y dengan distribusi yang sama, kedua skor tersebut memiliki rerata dan simpangan baku yang berbeda yang dapat mentrasformasikan nilai dari distribusi probabilitas ke probabilitasnya. Dengan ketentuan ini maka dasar konversi ( Penyetaraan ) matrik skor adalah baku :

X – μx = Y -μy

ðx ðy

diperoleh :

ðy ( X – μx ) = ðy (Y –μy )

Maka bentuk persamaan menjadi :

ðy / ðy ( X – μx ) + μy = Y

Bila : ðx / ðy = a : μx = b dan μy = c

Bentuk konversi penilaian dapat dirumuskan sebagai berikut :

a ( X – b ) + c = y

6

Sebagai contoh

Peserta

Skor Kelas A dengan instrument X

Skor Kelas B dengan instrument Y

1

60

70

2

70

80

3

80

85

4

75

70

5

75

75

Dari perhitungan data diperoleh :

ðx / ðy ( X – μx ) + μy = Y

μx = 72,00 ðx = 6,78

ðy = 76,00 ðy = 5,83

dengan memasukkan data dalam persamaan konversi :

diperoleh bentuk konversi

5,83 / 6,78 ( X – 72,00 ) + 76,00

Maka bentuk persamaan konversinya adalah sebagai berikut :

Y = 0,85 ( X – 72,00 ) + 76,00

Dengan demikian pada perangkat soal X pada kelompok A dapat di konversikan dengan perangkat soal Y pada kelompok B

Sebagai contoh ketika siswa mendapatkan skor 75 mengerjakan soal X, maka bila mengerjakan soal Y pada kelompok B dapat diasumsikan bahwa siswa tersebut akan bernilai :

Y = 0,85 ( 75 – 72 ) + 76

7

Y = 78,55

Sedangkan pada bentuk desain II tersebut diatas lebih dikenal dengan akor item. Dan umumnya rancangan ini sering digunakan untuk menghindari kebocoran soal dalam ujian bersama seperti ulangan umum bersama, Ujian Nasional. Oleh karena itu diperlukan suatu cara penulisan butir tes yang relative mudah, cepat dan ekonomis yang dapat diganti sewaktu – waktu jika dicurigai terdapat soal yang bocor.

Bila kelompok A mengerjakan instrumen ( X – Z ) dan Kelompok B mengerjakan instrument ( Y + Z ), bila uji tes Z yang dikerjakan oleh kelas A mengisi skor Z1 dengan rerata ( μZ1 ) Simpangan baku ( ðZ1 ) dan uji Z2 dengan rerata ( μZ2 ), simpangan baku ( ðZ2 )maka gabungan uji tes Z yang dikerjakan oleh kelompok A dan B diperoleh skor Z dengan rerata ( μZ ) dan simpangan baku ( ðZ )

Dengan uji X hanya dikerjakan oleh kelompok A dan menghasilkan skor X dengan rerata ( μx ) dan simpangan baku ( ðx ). Dan uji Y hanya dikerjakan oleh kelompok B dan menghasilkan skor Y dengan rerata ( μy ) dan simpangan baku ( ðx ).

Maka bentuk regresi ( Konversi ) dapat digambarkan sebagai berikut :

y ðx2 y ðy2

ðZ1 ( μZ – μZ1) ðZ2 Z – μZ2)

μZ1 μZ Z μZ μZ2 Z

Dari grafik tersebut bahwa selisih X disebabkan oleh faktor selisih rerata Z dan rerata Z1 sebesar bXz Z – μZ1). Sedangkan rerata X ( μx ) bergeser dengan angka tersebut. Demikian juga selisih Y disebabkan oleh faktor selisih rerata Z dan rerata Z1 sebesar bYz Z – μZ1).

8

Dari cara linier tersebut, kesamaan nilaiditentukan oleh kesamaan nilai baku dengan beberapa besaran tersebut diatas. Dengan kesamaan nilai baku dengan beberapa besaran tersebut diatas. Dengan kesamaan nilai baku dapat dituliskan konversi pengukuran sebagai berikut :

X – (μx + bz1 x – μx1 ) ) Y – (μx + bz1 x – μx2 ) )

ð2 x + b2xz1 2 z – ð2 z1 ) ð2 y + b2xz1 2 z – ð2 z2 )

Jika d = akar dari :

X – (μx + bz1 x – μx1 ) )

ð2 x + b2xz1 2 z – ð2 z1 )

e = (μx + bxz1 x – μx1 )) dan f = byz1 z – μx2 ) Konversi yang diperoleh adalah sebagai berikut :

Y = d ( X – e ) + f

Misal suatu benda diperoleh data statistik sebagai berikut :

Kelas A

Statistik

X

Y

Z

μ

74,5

76,6

Ð

9,2

10,5

bxz1

0,8

Kelas B

Statistik

μ

80,3

79,8

Ð

10,3

7,6

bxz1

1,4

9

Gabungan

μ

77,7

Ð

8,2

Dengan memasukan data dalam perhitungan akan diperoleh koefisien :

d = 1,48 e = 75,38 f = 77,36

Sehingga konversi niali dapat dirumuskan :

Y = 1,48 ( X – 75,38 ) + 77,36

Sebagai missal X memperoleh skor 80 melalui konversi akan menjadi

Y = 1,48 ( 80 – 75,38 ) + 77,36 = 84,20

Artinya siswa yang mendapat skor 80 dengan menggunakan perangkat test ( X + Z ), jika menggunakan perangkat test ( Y + Z ) akan mendapatkan angka 84,20. dengan demikian cara penyetaraan skor ( Konversi skor) dapat menghindari istimasi kesalahan dalam pengukuran

Penutup

Dari uraian latar belakang, perumusan masalah dan pembahasan tersebut maka penulis menyampaikan kesimpulan sebagai penutup makalah ini adalah sebagai berikut :

* Antara pengukuran ( penilaian ) dan evaluasi pendidikan memiliki hubungan yang sangat erat. Pengukuran berkaitan dengan pembuatan soal, pengadministrasian dan peskoran. Evaluasi berkenaan pada pengambilan kebijakan.

** Pada umumnya untuk melaksanakan evaluasi perlu diproses pengukuran dan pengukuran yang baik terdapat langkah – langkah bagaimana menentukan instrument, kevalidan instrument, reliabilitas instrument dan bagian yang tidak kalah penting adalah desain pengukuran yang akan dilaksanakan.

10

*** Konversi penilaian dan evaluasi bukan penyimpangan dalam pendidikan dan perlu dilakukan. Karena tanpa adanya konversi untuk mengambil inti dari tujuan evaluasi tidak mungkin akan terjadi. Sebagai pelaksana pendidikan bahwa konversi penilaian yang selama ini menjadi kontroversi di masyarakat sebagai guru pelaksana evaluasi mari kita beri makna bijaksana, bukan malah saling menyalahkan.

Saran

* Seyogyanya dalam menentukan instrument sebagai alat evaluasi perlu dilaksanakan proses pengujian reabelitas soal, validitas soal sehingga ditemukan soal – soal yang baik.

** Seyogyanya dalam penggunaan instrument sebagai pengukuran khususnya pada pelaksanaan telah tersedia sejumlah perangkat yang telah teruji kefalidan soal sehingga kapanpun pelaksanaan evaluasi tim evaluasi bisa mempertanggung jawabkan keberadaan soal dalam mengukur kemajuan siswa khususnya dan kemajuan pendidikan secara umum.

*** Seyogyanya kegiatan konversi nilai dalam pendidikan tetap dilaksanakan karena melalui konversi dapat diperoleh prinsip kejujuran, keadilan yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

11

Daftar Referensi

Arikunto, Suharsimi. Dasar – dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara , 1992.

Furchan, Arief. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan, Surabaya : Usaha Nasional, 1982

Globe, Norman M. Perubahan Peranan Guru, Jakarta Gunung Agung, 1983.

N.K, Roestiyah. Didakti Metodik, Jakarta : Bina Aksara, 1983.

N.K, Roestiyah. Masalah Pengajaran Sebagai Suatu Siatem, Jakarta Bina Aksara, 1986

Supranata, Sumarno; Hatta Muhhammad. Penilaian Portofolio, Jakarta : Rosda, 2004

Wartono; dkk. Menteri Pelatihan Terintegrasi Sains Buku IV, Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Lanjutan Pertama, 2004

12