AGAMA SEBAGAI KRITIK KEBUDAYAAN

A. Pendahuluan

Berkembangnya kehidupan manusia membuat berkembang pula kebudayaan yang ada. Perkembangan kebudayaan pun ada yang bersifat positif ada pula yang bersifat negatif, disini agama merupakan suatu pengkritik kebudayaan tersebut yang mana akan mengarahkannya.

Dengan adanya ktitikan-kritikan agama inilah sehingga akan tercipata suatu kebudayaan yang positif dan tidak merusak tatanan kehidupan manusia.

B. Kebudayaan

Saat ini, renungan tema kebudayaan tidaklah bertujuan untuk dirinya sendiri, melainkan hanya sebuah alat atau sarana. Artinya, merenungkan sebuah tema besar kebudayaan bukan merupakan suatu usaha teoritis, melainkan sudah memasuki usaha penyediaan sarana-sarana yang dapat membantu kita dalam memaparkan suatu strategi kebudayaan di masa depan.

Adapun paradigma kebudayaan sendiri dapat dijelaskan melalui penjelasan penting, yakni:

Pertama, dahulu orang berendapat bahwa kebudayaan meliputi segala manifestasi kehidupan, seperti agama, kesenian, fiksafat, ilmu pengetahuan dan sebagainya. Saat ini, kebudayaan sudah menjadi manifestasi kehidupan setiap individu.

Kedua, kebudayaan pada masa kini lebih dipandang sebagai suatu yang dinamis, bukan suatu yang statis. Dalam ungkapan lain, kebudayaan dimasa lalu dipahami sebagai sebuah “kata benda,” tetapi sekarang ini sudah diartikan sebagai “kata kerja”. Artinya kebudayaan bukan sebuah koleksi barang-barang (benda), tetapi sudah dihubungkan dengan aktifitas manusia dalam membuat alat-alat, tarian-tarian, hingga mantera-mantera yang menenteramkan. Dalam arti ini maka tradisi juga merupakan bagian dari kebudayaan.

Untuk itu, yang dibutuhkan manusia sekarang ini dalam menggeluti kebudayaan adalah gambaran yang jelas atau “peta-peta”, paling tidak sebagai “tipe ideal” dalam istilah Max Webber. Adapun peta yang dibutuhkan disini adalah peta yang menggambarkan mengenai kebudayaan sendiri (yang local), dan kebudayaan manusia secara keseluruhan yang bersifat universal.

C. Peta Sebagai Tipe Ideal

Banyak filosof atau sosiolog yang telah mencoba menggambarkan peta-peta tersebut. Misalnya, filosof positifis A. Comte menggambarkan perubahan dari “masyarakat agama” ke “masyarakat metafisik” hingga kepada “masyarakat positif” yang sekarang ini berkembang sedemikian pesatnya. Dalam teori sosiologi dan antropologi, juga dijelaskan secara detail gambaran mengenai perubahan (kebudayaan) masyarakat sebagaimana yang dirumuskan A. Comte .

Adapun tahapan perkembangan kebudayaan meliputi tiga tahapan, yaitu:

1. Tahap mistis

Yaitu suatu tahapan kebudayaan yang pertama, di mana manusia merasakan dirinya terkepung suatu kekuatan-kekuatan ghaib yang berada di sekitarnya sehingga manusia merasa terkepung oleh kekuatan-kekuatan tersebut.

2. Tahap ontologis

Yakni suatu tahapan kebudayaan yang kedua, dimana manusia tidak lagi merasakan hidupnya berada dalam suatu kepungan kekuatan mistik, melainkan sudah secara bebas ingin mengetahui dan meneliti segala “hal ihwal.”

3. Tahap Fungsional

Yakni suatu tahapan kebudayaan yang ketiga, di mana sikap manusia- maksudnya manusia modern sekarang ini sudah mulai ditandai dengan “cita-cita humanismenya.”

D. Titik Lemah dibalik “peta”

Pembagian dalam peta-peta kebudayaan tersebut memberi tahu kita bahwa dalam setiap kebudayaan pada dasarnya tersimpan “titik kuat” sebagai suatu kekuatan, tetapi sekaligus terbongkar “titik lemah”. Adapun titik lemah pada peta-peta tersebut adalah:

  1. Pada tahap mistik, titik lemahnya terletak pada ditemukannya praktik-praktik magis yang mencoba mendamaikan semua proses social dan alamiah yang terjadi.
  2. Pada tahap kebudayaan ontologis, titik lemahnya terjadi pada kecenderungan “substansialisme.” Artinya, manusia melihat segala sesuatu hanya dari sudut pandang hakikatnya saja.
  3. Pada tahap kebudayaan fungsional terdapat kecenderungan “negatif operasionalistik.”

E. Agama Sebagai Kritik Kebudayaan

Penting ditekankan bahwa agama memiliki peran besar sebagai kritik kebudayaan. Maka, seorang agamawan di tengah krisis modernitas, ditantang untuk menyajikan pada kehidupan modern dewasa ini, detail-detail kearifan agamanya, yang memang otentik ada dalam tradisis besar agama-agama sejak masa lalu.

Di sinilah seorang teolog atau ahli agama, dituntut untuk bisa merumuskan suatu platform yang tidak hanya berisi legitemasi, tetapi justru memberikan kritik terhadap kebudayaan. Jelasnya agama harus berdimensi kritis terhadap kebudayaan manusia. Kebudayaan harus juga dinilai dalam perspektif ke arah mana ia akan membawa manusia. Kalau dulu, agama sekedar diasumsikan hanya mengurusi “dosa-dosa individu,” maka saatnya sekarang ini memfungsikan agama sebagai kritik terhadap kebudayaan manusia, yang cenderungyang telah mengalam proses “skularisasi.” Dalam konteks ini, berarti nilai-nilai masyarakat yang agamis harus berhadapan dengan nilai-nilai baru yang sangat menekankan rasionalitas. Dan ini pun merupakan masalah serius yang menimbulkan ketegangan nilai. Oleh karena itu, agama harus meminimalisir kecenderungan “sekularisasi kebudayaan,” sebagaimana sudah terjadi di Barat. Tentu saja, ini merupakan tugas berat kaum agamawan untuk merumuskan operasionalisasinya. Lagi pula, para teolog juga harus membuktikan bahwa agama adalah asasi dalam suatu platform yang operasional. Dan kesemua itu dapat dilakukan dengan sebagai berikut:

Pertama, bahwa fungs kritis agama harus dilakukan dengan menjauhi sikap-sikap yang sifatnya totaliter.

Kedua, agama (agamawan) dalam menerangkan fungsi kritisnya secara konkrit,harus memiliki pengetahuan-pengetahuan emperis yang tangguh.

Ketiga, agama tidak bisa bersifat polotis dalam pengertian hanya membatasi diri pada masalah ritualistik dan moralitas dalam kerangka ketaatan individu kepada Tuhannya, tetapi perlu terlibat kedalam proses transformasai social, sehingga fungsi kemanusiaan agama bisa tercapai.

Keempat, perlunya mendevinisikan kembali pertobatan dalam keberagaman manusia.

F. Penutup

Sudah jelas dikatan diatas bahwa kita perlu merubah paradigma-paradigma dahulu tentang fungsi agama yang hanya mengurus hal-hal yang berkaitan tentang dosa-dosa individu saja, melainkan agama juga sebagai pengkritis kebudayaan. Dengan kritikan agamalah yang dpat mengarahkan kebudayaan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Rachman, Budhy Munawar, Islam Pluralis, Jakarta, Paramadina, 2001