Category: Pendidikan


Manusia Indonesia Abad 21 yang Berkualitas Tinggi Ditinjau Dari Sudut Pandang Psikologi

Ieda Poernomo Sigit Sidi

Bernadette N. Setiadi

Himpunan Psikologi Indonesia

Jakarta

I. PENGANTAR

Kondisi sebelum abad 21 menampilkan komunikasi antar bangsa, negara, wilayah yang tidak mudah dilakukan. Banyak keterbatasan yang dihadapi, sehingga peristiwa yang terjadi di satu tempat tidaklah mudah diketahui oleh orang-orang yang tinggal di tempat lain. Dunia menjadi terpisah-pisah dalam ruang dan waktu. Kejadian di Amerika tidak akan mudah diketahui oleh mereka yang tinggal di belahan bumi lainnya seperti Eropa, Asia, Afrika, dan Australia. Dengan demikian pikiran, pandangan, gaya hidup masyarakat di wilayah tertentu bersifat lokal dan khusus, mengacu pada kebiasaan dan budaya setempat. Kondisi tersebut memunculkan berbagai ragam tatanan masyarakat dan gaya hidup.

Keterbatasan komunikasi juga mengisolir peristiwa yang berlangsung di wilayah tertentu. Peristiwa di Banda Aceh, misalnya, akan lama sekali sampai pemberitaannya di Merauke, Irian Jaya. Namun, berkat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menjelang abad 21, jarak tampaknya tidak lagi menjadi masalah. Menit ini peristiwanya terjadi, menit berikutnya seluruh dunia bisa mengetahuinya. Ditemukannya satelit membuat komunikasi menjadi lebih mudah. Kemudahan komunikasi inilah yang membawa penghuni dunia ke dalam kehidupan bersama, yang memungkinkan mereka saling berinteraksi, mempengaruhi dan dipengaruhi, juga dalam memilih dan menentukan pandangan serta gaya hidup.

Abad 21 ditandai dengan semakin membaurnya bangsa-bangsa warga masyarakat dunia dalam satu tatanan kehidupan masyarakat luas yang beraneka ragam tetapi sekaligus juga terbuka untuk semua warga. Gaya hidup yang menyangkut pilihan pekerjaan, kesibukan, makanan, mode pakaian, dan kesenangan telah mengalami perubahan, dengan kepastian mengalirnya pengaruh kota-kota besar terhadap kota-kota kecil, bahkan sampai ke desa. Bentuk-bentuk tradisional bergeser, diganti dengan gaya hidup global. Kesenangan bergaya hidup internasional mulai melanda. Perbincangan mengenai pengembangan hubungan antar negara menjadi mirip pembahasan tentang pengembangan komunikasi antar kota dan desa. Teknologi komunikasi memang memungkinkan dilakukannya pengembangan hubungan dengan siapa saja, kapan saja, di mana saja, dalam berbagai bentuk yakni suara dan gambar yang menyajikan informasi, data, peristiwa dalam waktu sekejap. Secara psikologis kondisi tersebut akan membawa manusia pada perubahan peta kognitif, pengembangan dan kemajemukan kebutuhan, pergeseran prioritas dalam tata nilainya.

II. KONDISI DAN SITUASI DI ABAD 21

Proses menuju abad 21 telah berlangsung sejak tahun tujuh puluhan. Dalam percaturan internasional tak ada yang bisa menghindar atau mengelakkan diri dari proses ini. Pengaruh yang datang tak lagi bisa dibendung, mengalir deras tanpa kenal batas. Film, surat kabar, majalah, radio, televisi gencar menyuguhkan pemikiran, sikap dan perilaku yang sebelumnya tidak dikenal. Gaya hidup baru yang diberi label ‘modern’ diperkenalkan secara luas. Naisbitt dan Aburdene (1990) sebagaimana dikutip oleh Sri Mulyani Martaniah (1991) mengatakan bahwa era globalisasi memungkinkan timbulnya gaya hidup global. Tumbuhnya restoran dengan menu khusus dari mancanegara semakin menjamur, menggeser selera masyarakat yang semula bertumpu pada resep-resep tradisional. Gaya berpakaian dipengaruhi oleh garis-garis mode yang diciptakan oleh perancang kelas dunia. Kosmetika, aksesori, dan pernak-pernik lainnya untuk melengkapi penampilan tidak lepas dari pengaruh era globalisasi, seperti halnya tata busana. Selain mode, dunia hiburan juga tersentuh. Munculnya kafe, kelab malam, rumah bola (bilyard) memberi warna baru dalam kehidupan masyarakat. Demikian pula kegiatan pasar. Bentuk-bentuk pasar tradisional yang memungkinkan terjadinya keakraban antara penjual dan pembeli, sehingga keterlibatan emosional ikut mewarnai, perlahan menghilang dan berganti dengan transaksi ekonomi semata ketika muncul pasar-pasar swalayan.

Seiring dengan perubahan jaman, masyarakat pun mengembangkan norma-norma, pandangan dan kebiasaan baru dalam berperilaku. Era globalisasi yang mewarnai abad 21 telah memunculkan pandangan baru tentang arti bekerja. Ada yang lebih luas dari sekadar makna mencari nafkah dan ukuran kecukupan dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Orang cenderung mengejar kesempatan untuk bisa memuaskan kebutuhan aktualisasi diri, sekaligus tampil sebagai pemenang dalam persaingan untuk memperoleh yang terbaik, tertinggi, terbanyak. Untuk bisa mengikuti gaya hidup yang baru, diperlukan dukungan kemampuan ekonomi yang tinggi. Kebutuhan ini sangat terasa. Tawaran gaya hidup modern yang ditawarkan melalui kaca-kaca ruang pamer toko atau distributor benda-benda yang digandrungi masyarakat telah memacu banyak orang untuk bekerja tak kenal waktu. Orang sibuk mencari uang untuk bisa memiliki gaya hidup seperti yang ditawarkan. Apalagi media massa juga rajin menggelitik masyarakat untuk dapat mengikutinya, antara lain melalui iklan, sinetron, acara-acara hiburan, dan sebagainya. Kemajuan teknologi komunikasi abad ini telah memungkinkan berita dan cerita segera menyebar ke seluruh pelosok, menyapa siapa saja, tak peduli penerima pesannya siap atau tidak.

Wajah keluarga juga berubah. Perkembangan jaman yang merubah gaya hidup masyarakat ikut mewarnai kehidupan keluarga. Peran suami istri, pola asuh dan pendidikan anak tidak bisa mempertahankan pola lama sepenuhnya. Pengaruh yang diterima suami istri, juga yang diterima anak dalam proses perkembangannya, tak lagi bisa dipisahkan dari dunia di luar rumah. Melalui perangkat teknologi anak bisa langsung menerima pengaruh dari luar, yang tentu saja akan selalu mempunyai dua sisi, baik dan tidak baik, positif dan negatif. Situasi inilah yang akan mewarnai kehidupan anak dan orang tua di abad 21. Orang tua tak lagi menjadi pewarna tunggal dalam pengembangan pola sikap dan tingkah laku anak. Ada lingkungan yang lebih luas dan leluasa memasuki kehidupan keluarga dalam menawarkan berbagai bentuk perilaku untuk diamati, dipilih, dan diambil alih anak. ‘Teman’ dan ‘pesaing’ orang tua menjadi bertambah, sebab lingkungan memang tidak hanya terdiri dari dukungan atau penguat pesan-pesan dan nilai yang ditanamkan orang tua, tetapi juga menjadi penghambat dan pengganggu penerimaan pesan dan nilai tersebut.

Perkembangan kehidupan keluarga yang mewarnai abad 21 memunculkan penampilan ibu yang berbeda dalam peran dan fungsinya selaku penyelenggara rumah tangga dan pendidik anak. Seiring dengan pemunculan ibu dalam kegiatan di luar rumah (bekerja, melakukan kegiatan sosial-budaya), kehadiran ibu yang tidak lagi 24 jam di rumah menimbulkan pertanyaan tentang hasil yang bisa diharapkan dari pola asuhan dan pendidikan dalam situasi seperti itu. Apa jadinya setelah ibu juga sibuk di luar, padahal ibu dikenal selaku pendidik pertama dan utama? Bisakah anak tetap diharapkan mampu berkembang optimal tanpa kehadiran ibu? Kalau ibu tidak ada, siapa yang layak ditunjuk dan diserahi tanggung jawab sebagai pengganti? Pertanyaan ini menjadi terasa lebih bermakna karena ayah tak juga menjadi surut dari kegiatannya di luar rumah, bahkan cenderung meningkat seiring dengan tuntutan kehidupan abad 21. Nah, kalau ayah dan ibu sama-sama tidak bisa hadir penuh, lalu siapa yang harus menjadi pengganti mereka berdua? Padahal, kehadiran itu sangat diperlukan anak, tak peduli berapapun umurnya, sebab proses pendidikan berlangsung selama masa perkembangannya, sejak kanak-kanak sampai dewasa. Jadi, bukan hanya balita (anak berumur di bawah lima tahun) yang memerlukan kehadiran bapak dan ibu, tetapi juga anak pada tahapan perkembangan selanjutnya, yakni mereka yang berada dalam tahap perkembangan kanak-kanak, pra remaja, remaja, dewasa muda, dewasa.

Mencari pengganti ibu tampaknya merupakan masalah yang akan mewarnai abad 21. Tidak mudah memperoleh pengasuh anak.. Hampir tak ada lagi pengasuh anak dalam keluarga yang bisa membantu ibu dan berperan turun temurun, dari generasi ke generasi, seperti yang pernah dialami pada era sebelumnya. Unsur kesetiaan dan pengabdian sudah berubah menjadi transaksi ekonomi semata, sekadar menjual dan memakai jasa. Sementara itu gagasan untuk mengatasi masalah ini dengan mendirikan Tempat Penitipan Anak (TPA) masih memerlukan banyak pengkajian dan pertimbangan.

Masalah pendidikan anak yang mewarnai abad 21 perlu disikapi sungguh-sungguh sejak sekarang. Bekal untuk anak agar bisa tumbuh dan berkembang sebagai sosok pribadi yang sehat jasmani dan rohani, tangguh dan mandiri serta mampu beradaptasi dalam era globalisasi ini menjadi semakin perlu diperhatikan kualitasnya. Kondisi abad 21 yang memberi peluang besar bagi bangsa-bangsa di dunia untuk saling berinteraksi, sekaligus membawa ke suasana kompetisi atau persaingan yang semakin ketat dalam memperoleh kesempatan untuk mengisi kehidupan dan membuatnya menjadi bermakna (bisa sekolah, bisa bekerja dan mencari nafkah, dan sebagainya). Persaingan ini memerlukan ketangguhan dan keuletan dalam menghadapinya. Kebutuhan untuk “menjadi seseorang” dan “menjadi bagian” yang jelas kedudukannya bisa menjadi landasan untuk menumbuhkan motivasi pengembangan diri dan kemampuan beradaptasi. Kebutuhan ini erat kaitannya dengan pembentukan rasa percaya diri dan menumbuhkan motivasi untuk berusaha dan meraih kesempatan agar dapat senantiasa meningkatkan diri. Sikap yang mandiri, tak gentar menghadapi rintangan, mampu berpikir kreatif dan bertindak inovatif tapi juga peduli lingkungan adalah sosok yang diperlukan untuk menjalani kehidupan dalam era globalisasi. Jelas bahwa pengembangan sikap dan perilaku tersebut merupakan tuntutan yang lebih berat daripada hasil pendidikan yang menjadi tanggung jawab generasi sebelumnya. Kemampuan mengantisipasi masa depan dengan berbagai alternatif untuk mengatasi permasalahannya menjadi sangat penting untuk diperhatikan dalam proses pengasuhan dan pendidikan anak. Situasi ini tidak hanya merupakan masalah keluarga, melainkan juga seluruh pendukung proses pendidikan anak, yaitu masyarakat, bangsa dan negara.

III. PERILAKU MANUSIA INDONESIA

1. Kehidupan masyarakat pasca proklamasi kemerdekaan RI 17 Agustus 1945

Kehidupan berbangsa dan bernegara mempengaruhi pembentukan pola perilaku masyarakat, yang tercermin dari perilaku individu selaku anggota masyarakat. Sebagai bangsa yang bangkit dari penjajahan (Belanda dan Jepang), di awal kemerdekaan manusia Indonesia mengembangkan perilaku penuh gairah membangun bangsa dan negara. Kebanggaan menyandang identitas sebagai bangsa dan negara yang merdeka dan berdaulat penuh mendorong terjadinya interaksi yang saling mengisi antar berbagai suku bangsa dalam semangat kesatuan dan persatuan, yang tercermin dalam lambang Bhinneka Tunggal Ika, walaupun berbeda tetap satu jua. Ada kebutuhan untuk saling mengenal, memahami dan menghayati agar kesatuan dan persatuan tidak hanya sekadar simbol, melainkan merasuk dalam kehidupan sehari-hari.

Kebanggaan dan cita-cita mempertahankan kemerdekaan serta keinginan untuk tampil sebagai bangsa yang dikenal dan dihormati dalam percaturan dunia telah membawa masyarakat dalam pengembangan perilaku kebersamaan, yang cenderung tidak mempertajam perbedaan latar belakang suku, pendidikan, agama, dan sebagainya. Menjadi Manusia Indonesia adalah tujuan yang diharapkan dapat dibentuk bersama oleh masyarakat “seribu pulau” ini. Ada kebutuhan yang ditumbuhkan untuk memotivasi masyarakat agar bisa tampil sebagai “Orang Indonesia” sebagai identitas diri yang baru, dengan tetap mempertahankan latar belakang warna suku bangsanya. Perpaduan berbagai ragam budaya pun dicari dan diusahakan bersama. Dengan falsafah gotong royong, semangat persatuan dan kesatuan, pembangunan bangsa dan negara mendapat dukungan dari berbagai lapisan masyarakat.

2. Pembentukan perilaku manusia Indonesia dalam masa Orde Baru

Peristiwa di tahun 1965 (pembubaran Partai Komunis Indonesia) kemudian memunculkan arah baru dalam pembentukan perilaku manusia Indonesia. Masa yang dikenal sebagai Orde Baru mengarahkan pembangunan di bidang ekonomi sebagai fokus utama. Masyarakat pun berpaling. Segenap lapisan berusaha mengikuti derap pembangunan yang baru, sesuai dengan kemampuan dan harapannya. Sejalan dengan perkembangan ini maka sikap dan gaya hidup masyarakat pun berubah. Manusia Indonesia seolah dipaksa masuk ke dalam persaingan global yang berciri khas kapitalisme. Para pengusaha siap menjelajah seluruh pelosok dan menelan siapa saja untuk mencapai tujuannya demi laba yang ingin diraih. Arief Budiman (1991) mengemukakan bahwa salah satu aspek ekspansi kapitalisme global adalah diciptakannya manusia-manusia yang serakah dan materialistis, sesuai dengan yang dibutuhkan oleh sistem kapitalisme. Produksi akan macet kalau manusia merasa sudah cukup dan tidak mau berkonsumsi lagi. Akibatnya, melalui iklan dan berbagai bentuk promosi lainnya manusia dibentuk menjadi berperilaku konsumeristis. Sikap serakah, materialistis, dan konsumeristis inilah yang mendorong orang untuk bekerja sekeras-kerasnya, demi memenuhi keinginannya yang tak kunjung terpuaskan. Kekayaan menjadi simbol status dalam sistem kapitalis. Ukuran tidak lagi pada kualitas manusianya, melainkan pada jumlah atau kuantitas harta yang dimiliikinya. Kejujuran tak lagi menjadi ukuran keluhuran perilaku. Menurut istilah Arief, “orang yang jujur tapi miskin tampak bodoh ketimbang orang yang kaya meski kurang jujur.”

Sisi lain dari pengembangan sistem kapitalis adalah ditimbulkannya semangat individualistis, baik dalam berkonsumsi maupun berproduksi. Kolektivitas dan solidaritas dianggap tidak rasional. Kemampuan berkompetisi untuk meraih yang terbanyak, tertinggi, lalu berkonsumsi dalam jumlah banyak untuk meraih simbol status adalah tuntutan untuk bisa masuk dan bertahan dalam kehidupan sistem kapitalis. Akhirnya, kapitalisme bukan lagi sekadar sistem perekonomian belaka, tetapi sudah mencampuri nilai-nilai kehidupan dan menentukan arah tujuan hidup. Suasana inilah yang mewarnai periode pemerintahan Orde Baru. Upaya menciptakan manusia yang materalitis, individualistis, memiliki daya saing tinggi agar bisa menjadi pemenang dan mengalahkan pesaing-pesaing lainnya (siapapun dia) menjadi arah pembentukan perilaku oleh berbagai pihak.

Ada pemenang ada pecundang (the winner and the looser). Mereka yang mampu akhirnya memang ‘berhasil’ mengikuti gaya hidup global. Tapi, sebagian besar masyarakat Indonesia belum memiliki dukungan untuk bisa mengikuti gaya hidup yang baru. Keadaan ekonominya masih sangat jauh untuk bisa tampil dalam persaingan tersebut. Akibatnya, banyak orang menempuh jalan pintas. Korupsi, kolusi , koncoisme, nepotisme dilakukan orang dalam berbagai bentuk, yang sama buruknya dengan perilaku menipu, mencuri, merampok, melacurkan diri. Cara ini ditempuh orang-orang yang tidak memiliki kemampuan untuk bersaing tetapi sangat mendambakan kehidupan yang diciptakan oleh sistem kapitalis. Berdasarkan kondisi kemampuan ekonomi sebagian besar masyarakat Indonesia, Sri Mulyani Martaniah (1991) melihat banyak aspek dalam era globalisasi yang dapat berdampak negatif dan bisa menyebabkan patologi sosial dan memerlukan pengembangan psikologi komunitas sebagai salah satu cara mengatasinya.

Ada lagi kelompok lain, yaitu mereka yang tidak dapat melakukan cara-cara tersebut, tetapi tetap terimbas oleh kehidupan sistem kapitalis. Akibat bagi kelompok ini adalah perilaku yang menunjukkan perasaan tertekan (stress), depresi, bunuh diri, melarikan diri ke pemakaian obat-obatan dan minuman keras. Sebagian lainnya dari kelompok ini mengembangkan perilaku yang bersifat apatis. Mereka hanya menjadi penonton pasif dan mencoba bertahan dengan apa yang dimilikinya dan bisa dilakukannya, entah sampai kapan.

Manusia tak lepas dari lingkungannya. Kecenderungan mengikuti gaya hidup yang baru, yang “trendy” dan menempatkan nilai-nilai baru dalam ukuran keberhasilan telah merusak dan menghancurkan nilai-nilai tradisional yang sebelumnya dipegang teguh dan diyakini sebagai kebenaran. Nilai yang mementingkan kebersamaan dan menumbuhkan sikap gotong royong dilibas oleh nilai individualistis. Nilai yang meletakkan unsur spiritual berganti dengan unsur materi. Sikap yang mementingkan keselarasan dalam kehidupan bersama, sebagaimana yang telah mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia, diubah menjadi sikap yang selalu mau bersaing dan memenangkan persaingan, tak peduli apapun caranya dan siapapun yang dihadapi.

Dalam periode ini semua pihak, mau tidak mau, suka atau tidak, seolah dipaksa masuk ke dalam pembentukan perilaku persaingan global. Namun, di sisi lain, pada saat yang bersamaan tidak ingin meninggalkan cita-cita bangsa, yaitu terwujudnya masyarakat yang menjunjung tinggi kemanusiaan dan keadilan sosial. Benturan antara keyakinan terhadap nilai-nilai tradisional dan kenyamanan serta keamanan, yang pernah diberikan dalam cara kehidupan yang menjunjung tinggi kebersamaan, dengan kehidupan sistem kapitalis melahirkan konflik-konflik pribadi yang cukup tajam pengaruhnya dalam proses pembentukan perilaku.

Bayang-bayang kehidupan masyarakat dalam masa Orde Baru dengan berbagai benturan kepentingan dan kebutuhan itulah yang kemudian memunculkan Era Reformasi, yang ditandai oleh “lengsernya” Soeharto dari jabatannya selaku Presiden Republik Indonesia setelah berkuasa selama 32 tahun. Wajah masyarakat muncul beraneka ragam. Berbagai bentuk perilaku tampak mencerminkan kondisi dan situasi yang dimiliki masing-masing, baik sebagai individu maupun kelompok, yang semula ditekan kuat-kuat agar tidak muncul ke permukaan dan tidak menimbulkan konflik terutama bagi mereka yang berbeda pendapat. Demonstrasi, pembentukan partai-partai baru, penjarahan, perkosaan, doa bersama, tuding menuding, menghujat dan dihujat mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia saat ini. Negeri seribu pulau dengan nyanyian nyiur melambai yang melambangkan kenyamanan dan kedamaian seolah terpuruk dalam tangis Pertiwi yang meratapi nasib bangsa dan negara yang tampak ‘carut marut’ oleh berbagai kepentingan dan kebutuhan. Kondisi dan situasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang dirasakan dalam keadaan terpuruk itu menjadi bertambah sulit proyeksinya ke depan, karena perilaku yang tampil di masyarakat tidak lagi mencerminkan kepedulian terhadap hukum dan aturan kehidupan bersama yang menimbulkan ketenteraman dan kenyamanan.

IV. MAKNA HUKUM DALAM PEMBENTUKAN PERILAKU

Hukum dapat mengarahkan masyarakat ke arah pembaruan perilaku yang sesuai dengan kebutuhan mereka untuk dapat menghadapi berbagai tantangan, sekarang dan di masa yang akan datang. Ditinjau dari segi budaya hukum, yaitu bagaimana masyarakat mempersepsikan hukum, maka secara umum hukum dipersepsikan sebagai:

suatu tatanan normatif dalam kehidupan bernegara

berfungsi mengatur kehidupan warganegara dengan memberikan batasan tentang apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan

bertujuan untuk melindungi tiap warganegara dengan mengacu pada nilai-nilai dasar seperti kemanusiaan dan keadilan

ditetapkan oleh otoritas yang legitimasinya diakui oleh seluruh warganegara.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dari sudut perilaku masyarakat, maka hukum memiliki dua fungsi, yaitu:

memantapkan pola perilaku masyarakat yang sudah ada dan ingin dipertahankan dan/atau

mengubah pola perilaku masyarakat yang ada saat ini ke arah perilaku baru yang dicita-citakan.

Persepsi masyarakat terhadap hukum dan kenyataan yang dirasakannya dalam menerima perlakuan hukum adalah unsur penting dalam pengembangan perilaku hukum. Bila masyarakat sungguh mempersepsikan bahwa hukum melindungi kepentingan mereka dan dalam pelaksanaannya dilakukan oleh otoritas yang diakui legitimasinya oleh warga, maka proses pemantapan ataupun perubahan perilaku yang dilakukan melalui pendekatan hukum akan dapat terlaksana secara teratur dan terencana.

Kepastian hukum dan jaminan pelaksanaannya merupakan landasan bagi masyarakat dalam pengembangan perilaku normatif yang diperlukan bagi keamanan dan kenyamanan kehidupan bersama. Kepercayaan masyarakat terhadap aparat penegak hukum dan proses penegakan hukum merupakan unsur penting dalam mengembangkan perilaku yang peduli hukum, yang tampil dalam bentuk perbuatan yang memahami aturan, melaksanakan aturan, dan kesediaan menanggung konsekuensi akibat pelanggaran hukum yang dilakukannya. Perasaan diperlakukan secara adil juga penting bagi dipatuhinya aturan-aturan dalam kehidupan bermasyarakat sesuai hukum yang berlaku. Sebaliknya, perlakuan hukum yang dirasakan berpihak akan mendorong timbulnya perilaku yang cenderung mengingkari, yang bisa muncul dalam bentuk “menghindari” atau bahkan melawan hukum (denda ‘damai’ atau suap).

Setiap anggota masyarakat diharapkan bisa secara mandiri memahami makna dan tujuan ditegakkannya hukum, sehingga dalam pelaksanaannya tidak terlalu memerlukan pengawasan. Dengan demikian jumlah aparat yang diperlukan untuk pengawasan dalam pelaksanaan hukum bisa lebih efisien. Salah satu ciri kemandirian adalah kemampuan memilih yang benar dari yang salah berdasarkan norma atau aturan yang berlaku di satu tempat dalam kurun waktu tertentu. Kesiapan seseorang untuk bisa mandiri dalam membedakan yang benar dan salah berdasarkan norma yang diyakininya dan dijadikannya sebagai pegangan dalam berperilaku memerlukan proses yang bertahap. Menurut Lawrence Kohlberg ada tiga tahapan pokok yang dilalui seseorang untuk mampu bersikap adil dan mengembangkan sikap dan perbuatan berdasarkan pertimbangan moral., yaitu:

Moralitas Prakonvensional. Pada tahapan ini dasar yang menjadi pegangan dalam bersikap dan bertingkah laku adalah pujian dan hukuman yang diberikan oleh lingkungan. Tingkah laku yang diancam hukuman tidak akan dilakukan lagi. Sebaliknya, perbuatan yang mendatangkan pujian atau hadiah akan cenderung diulang.

Moralitas Konvensional. Pada tahapan ini perilaku sudah lebih disesuaikan dengan norma yang dianut dalam lingkungan sosial tertentu. Sikap dan perilaku diarahkan supaya bisa dikelompokkan sebagai perbuatan seorang anggota atau warga masyarakat yang baik.

Moralitas Pascakonvensional. Pada tahapan ini prinsip-prinsip moral digunakan dalam arti luas, tidak sekadar hitam putih dan tidak mengacu pada batasan-batasan sempit yang berlaku hanya untuk kalangan masyarakat tertentu.

Perilaku masyarakat terbagi dalam tiga kelompok tersebut, yang dipengaruhi oleh proses perkembangannya. Tingkat kematangan pribadi sangat menentukan moralitas yang mendasari perilakunya.

Ada dua mekanisme belajar yang utama dalam membentuk perilaku manusia, yaitu:

Cara belajar instrumental

Cara belajar observasional

Belajar instrumental pada dasarnya mengatakan bahwa suatu perilaku yang diikuti oleh konsekuensi yang positif (reinforcement) akan diulangi, sedangkan perilaku yang diikuti oleh konsekuensi negatif (punishment) tidak akan diulangi. Contoh: Bila dalam pengalaman sehari-hari seseorang selalu mengalami bahwa “mengurus KTP dengan mengikuti prosedur yang berlaku” (perbuatan menaati peraturan) membuat dia kehilangan jam kerja berhari-hari, sedangkan dengan “mengurus KTP dengan memberi uang pelicin” (perbuatan melanggar peraturan) petugas malahan mengantar KTP baru ke rumah, maka menurut belajar instrumental, dia akan cenderung memberi uang pelicin setiap kali harus mengurus KTP di masa yang akan datang, walaupun perbuatan itu melanggar hukum. Menurut persepsinya, perbuatan itulah yang menghasilkan reinforcement sedangkan menaati hukum justru menghasilkan punishment.

Tentu dalam hal ini keterkaitan (contingency) antara suatu perilaku dengan konsekuensi yang menyertainya harus terjadi secara konsisten untuk suatu jangka waktu tertentu sebelum pola perilaku yang diinginkan dapat terbentuk. Tanpa adanya konsistensi ini maka perilaku yang diinginkan tidak akan dapat terbentuk. Misalnya bila pada suatu waktu si Anu akan melewati lampu merah dilarang oleh polisi, sedangkan ketika ia melakukan hal yang sama pada waktu lain polisi membiarkan saja hal tersebut maka tidak akan terjadi proses pengkaitan antara “melewati lampu merah” dengan “penilangan oleh polisi.” Sebagai konsekuensinya tidak akan terbentuk perilaku “berhenti setiap kali melihat lampu merah.”

Belajar observasional mengatakan bahwa seseorang dapat mempelajari perilaku baru atau memperkuat perilaku yang sudah dimilikinya hanya dengan mengamati orang lain (model) melaksanakan perilaku tersebut. Besarnya pengaruh perilaku model terhadap perilaku si pengamat tergantung pada tiga hal, yaitu:

penilaian pengamat tentang kemampuannya untuk dapat melaksanakan perilaku yang ditunjukkan oleh model

persepsi pengamat tentang hasil perilaku yang ditunjukkan model, yaitu apakah menghasilkan konsekuensi positif atau negatif

perkiraan pengamat, apakah ia akan menghasilkan konsekuensi yang sama bila ia juga melaksanakan perilaku yang ditunjukkan model.

Contoh: Si Polan belum pernah mangkir dari pekerjaan karena hal tersebut melanggat peraturan kerja yang ada. Namun si Polan mengamati bahwa atasan dan rekan kerjanya yang sering mangkir tidak pernah ditegur atau dihukum, malahan dapat menikmati uang dari hasil pekerjaan sampingan (reinforcement) yang dilakukan pada saat mangkir kerja. Dalam situasi ini si Polan pun akan cenderung untuk ikut mangkir kerja dan melakukan pekerjaan sampingan, sesuai dengan perilaku model yang diamatinya. Menurut Bandura (1986) belajar observasional dari model ini telah terbukti sebagai sarana yang ampuh untuk meneruskan nilai-nilai, sikap dan pola perilaku dalam masyarakat. Bila persepsi masyarakat tentang peranan hukum dikaitkan dengan kedua mekanisme belajar tadi, maka hukum sebenarnya merupakan suatu instruksi atau pemberitahuan dari otoritas yang diakui kewenangannya mengenai:

a) perilaku yang diharapkan dari semua individu yang dikenai oleh hukum tersebut

b) konsekuensi yang akan dialami individu pelaku bila ia melaksanakan atau menolak

melaksanakan perilaku yang dimaksud.

Agar hukum ini dapat berfungsi secara efektif, ada dua syarat yang perlu dipenuhi, yaitu:

hukum tersebut harus dimengerti oleh individu yang melaksanakannya dan oleh individu yang akan dikenai oleh hukum tersebut

konsekuensi dari dipatuhi atau tidak dipatuhinya hukum tersebut harus dijalankan secara konsisten dan berlaku umum tanpa pengecualian.

Arah pembangunan Indonesia dalam tiga dasa warsa terakhir ini, yang dikenal sebagai era Orde Baru, pada hakekatnya adalah pembangunan yang sangat menekankan pengembangan bidang ekonomi. Dalam konteks ini segala sesuatu diarahkan agar pertumbuhan ekonomi dapat terus berlangsung tanpa mengalami gangguan. Untuk itu harus selalu diupayakan terciptanya stabilitas ekonomi agar dapat menarik para investor. Stabilitas ekonomi memerlukan dukungan stabilitas politik, yang kemudian oleh para pejabat negara seringkali diinterpretasikan sebagai perlunya pendekatan keamanan (security approach). Tanpa terasa, secara bertahap, semakin banyak kebijakan, keputusan dan kebijaksanaan yang dibuat dengan dalih mempertahankan pertumbuhan ekonomi nasional, padahal dalam kenyataannya tidak jarang hal tersebut hanya menguntungkan pihak tertentu saja dan kadang-kadang bahkan merugikan rakyat kecil. Hal ini antara lain terlihat dengan dikeluarkannya peraturan-peraturan yang bertentangan dengan hukum, seperti pemberian hak monopoli untuk komoditi tertentu, keputusan-keputusan pengadilan yang dirasakan kurang adil, misalnya penyelesaian kasus Kedung Ombo dan hak tanah ulayat di Irian Jaya. Dalam bentuk lain, hal yang sama sering terlihat dalam proses penegakan hukum ataupun proses pengadilan di mana status, kekuasaan atau uang yang dimiliki pelanggar hukum ikut mempengaruhi jalannya persidangan maupun keputusan yang diambil.

Berbagai hal yang kurang menguntungkan dalam pengembangan perilaku masyarakat yang sadar hukum, sebagai bagian dari kehidupan berbangsa dan bernegara, masih diperburuk lagi dengan adanya dua hal yang sangat berpengaruh dalam pembentukan perilaku:

budaya feodalisme dan paternalistik yang membuka banyak peluang bagi yang berkuasa di berbagai tingkat untuk membuat aturan sendiri atau melakukan interpretasi subyektif terhadap hukum dan perundang-undangan yang ada, sehingga peraturan yang sama dapat diartikan berbeda oleh pejabat yang berbeda, di wilayah yang berbeda atau dalam kurun waktu yang berbeda.

adanya kecenderungan budaya untuk menghindari konflik terbuka dan mencari jalan kompromi yang menyebabkan orang sering lari ke prosedur penyelesaian konflik alternatif di luar pengadilan, padahal bentuk penyelesaian alternatif ini sangat dipengaruhi oleh kekuasaan atau status dari pihak-pihak yang ikut berperan dalam proses tersebut.

Berbagai hal tadi dengan sendirinya menurunkan wibawa para penegak hukum seperti hakim, pengacara, polisi, dan lain sebagainya serta menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem peradilan dan sistem penegakan hukum itu sendiri.

Apa arti kenyataan itu dilihat dari pendekatan belajar dalam rangka pembentukan perilaku menurut mekanisme belajar instrumental dan observasional?

Kenyataan bahwa seringkali ada peraturan-peraturan yang bertentangan atau tidak konsisten satu dengan yang lain akan menimbulkan kebingungan, baik di tingkat pelaksana maupun pada mereka yang dikenai oleh peraturan tersebut. Padahal untuk dapat terjadi proses pembentukan perilaku sesuai dengan yang dianjurkan oleh peraturan tertentu, syarat pertama yang harus terpenuhi adalah bahwa orang-orang yang terlibat di dalamnya harus mengerti dengan jelas, apa yang dimaksud oleh peraturan tersebut. Sebagai konsekuensinya, kondisi di mana terdapat kebingungan jelaslah bukan situasi yang memungkinkan terjadinya pembentukan perilaku yang sesuai peraturan.

Adanya penerapan hukum secara berbeda, tergantung pada status dan kekuasaan orang yang ikut dalam proses penyelesaiannya maupun pada status dan kekuasaan individu yang dikenai oleh hukum tersebut, menyebabkan konsekuensi dari hukum/peraturan tersebut tidak dapat dilakukan secara konsisten tanpa pengecualian. Bila kondisi ini tidak terpenuhi, maka pembentukan perilaku yang dituju oleh hukum tersebut tidak akan terjadi.

Kenyataan bahwa orang yang memiliki kekuasaan seringkali mendapat perlakuan yang menguntungkan (reinforcement) secara konsisten akan menjadikannya sebagai model bagi para pemegang kekuasaan pada tingkat yang lebih rendah. Sebagai akibatnya, semakin banyak para pemilik kekuasaan pada tingkat yang lebih rendah meneladani pola perilaku para pemimpin yang lebih tinggi. Namun, sayangnya peneladanan ini lebih jarang terjadi dalam hal menaati hukum tanpa pengecualian dan lebih sering terjadi dalam hal memperoleh perlakuan yang berbeda dan menguntungkan, sesuai dengan kedudukan atau kekuasaan mereka. Hal ini agaknya dapat menjelaskan semakin meningkatnya praktek korupsi, kolusi, koncoisme dan nepotisme di kalangan penguasa di berbagai tingkatan di negara kita.

Dengan perkataan lain, hukum tertulis yang berisikan instruksi atau pemberitahuan mengenai perilaku yang diharapkan dan sanksi yang merupakan konsekuensinya tidak efektif karena tidak dapat dilaksanakan secara konsisten dan berlaku umum tanpa pengecualian. Di sisi lain, hal-hal yang ingin dicegah oleh hukum, yaitu adanya perlakuan yang berbeda pada orang dengan status yang berbeda, justru menjadi semakin tumbuh subur di antara para pemegang kekuasaan. Hal ini disebabkan oleh karena mereka mengamati banyak sekali teladan dari penguasa yang lebih tinggi, yang menunjukkan bahwa “tidak menaati hukum secara konsisten dan tanpa pengecualian” justru memberikan konsekuensi positif (reinforcement) pada mereka. Dalam kondisi demikian kiranya akan sangat sulit untuk berharap bahwa pelaksanaan hukum secara konsisten tanpa pengecualian akan dapat ditegakkan.

Namun, yang tidak kalah pentingnya untuk direnungkan adalah konsekuensi yang mungkin terjadi bila keadaan seperti ini terus berlanjut. Dalam hal ini ada beberapa hal yang mungkin terjadi:

Mereka yang merasa dirugikan akan berusaha untuk memperjuangkan perbaikan melalui cara-cara yang dimungkinkan oleh hukum. Alternatif ini semakin mungkin untuk dipilih bila situasi dan kondisi memungkinkan dan cukup banyak anggota masyarakat yang memiliki pengetahuan dan mau bertindak asertif untuk mengupayakan perubahan (memiliki self-efficacy tinggi).

Bila situasi dan kondisi tidak memungkinkan alternatif di atas atau alternatif tersebut sudah diusahakan tetapi tidak membuahkan hasil maka akan muncul perasaan frustrasi. Dengan adanya stimulus tertentu sebagai pemicu, frustrasi ini dapat dengan mudah menjelma menjadi perilaku agresif. Pengamatan terhadap pengalaman di masa lalu menunjukkan bahwa dalam pola budaya yang berorientasi kekuasaan, orang-orang yang berstatus rendah lazimnya mencari perlindungan dalam kolektivitas (Lev, 1991). Bandura (1986) menemukan hal yang kurang lebih sama, yaitu bila cukup banyak orang yang memiliki self-efficacy tinggi, maka mereka cenderung untuk melakukan protes dan usaha kolektif untuk mengubah keadaan.

Bila perasaan frustrasi yang diakibatkan oleh tidak adanya kemungkinan untuk melakukan tindakan perbaikan berlangsung dalam waktu yang relatif lama atau bila berbagai upaya yang telah dilakukan berkali-kali tidak memberikan hasil nyata, maka sebagian besar kemungkinan mereka yang terlibat akan mengalami apa yang disebut sebagai “learned helplessness”. Artinya, proses panjang dari berbagai upaya yang telah dilakukan namun tidak membuahkan perubahan yang diinginkan menyebabkan orang-orang ini belajar menjadi tidak berdaya dan tidak mau lagi berusaha, karena mereka tidak lagi percaya akan adanya hubungan antara usaha mereka dengan hasil yang ingin dicapai (bersikap apatis). Bila hal ini terjadi pada cukup banyak anggota masyarakat kita, khususnya orang muda, kiranya akan sulit bagi bangsa kita untuk dapat bersaing secara global di abad 21 dan menjadi bangsa yang percaya akan kemampuan diri sendiri.

Kondisi dan situasi negara dewasa ini, yang sedang dilanda berbagai kesulitan dalam kehidupan akibat krisis moneter berkepanjangan, serta terbongkarnya praktek-praktek pelanggaran hukum justru oleh mereka yang seharusnya dijadikan panutan masyarakat, baik sebagai penentu kebijakan maupun selaku aparat penegak, berdampak luas terhadap kondisi kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Krisis kepercayaan ini kemudian melahirkan sikap yang cenderung mengabaikan hukum. Perilaku masyarakat yang akhir-akhir ini menunjukkan kecenderungan melanggar hukum dalam memenuhi kebutuhannya dan ‘main hakim sendiri’ dalam menyelesaikan masalahnya, harus ditanggapi secara sungguh-sungguh dan tidak bisa dibiarkan berlarut-larut, apalagi sampai dijadikan pola perilaku menetap karena ‘dilegalisir’ secara tak langsung oleh pejabat negara. Tanpa disadari pernyataan pejabat negara yang dimaksudkan sebagai simpati terhadap kesulitan hidup yang dialami warga masyarakat (atau justru menarik simpati masyarakat?) telah menimbulkan persepsi yang mengesankan ‘disahkannya’ perilaku hukum yang menyimpang. Contoh: pengungkapan dan penyelesaian masalah perbankan, tanah, operasi becak di Jakarta, kasus orang hilang, penjarahan, dan sebagainya.

Peristiwa huru hara di Jakarta dan kota-kota lainnya pada tanggal 13 dan 14 Mei 1998 dan hari-hari berikutnya semakin membawa negeri ini dalam keadaan terpuruk dengan krisis kepercayaan yang sangat berat. Situasi yang tak kunjung stabil, sementara masyarakat menantikan kepastian dalam penegakan hukum, akhirnya menumbuhkan sikap apatis dan putus asa dengan segala konsekuensinya. Kondisi ini mengantar pemerintah pada beban yang amat berat, terutama dalam hal pemulihan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Diperlukan sikap yang mampu menampung aspirasi ketiga kelompok masyarakat dalam pengembangan moral (prakonvensional, konvensional, pascakonvensional) agar kehidupan bersama bisa ditata kembali. Komunikasi yang digunakan, baik bentuk maupun jalurnya, harus sangat memperhitungkan karakter kelompok masyarakat secara cermat, sehingga tidak terjadi salah tafsir atau keliru interpretasi. Dalam kaitan ini pernyataan pejabat, penjelasan pemerintah, penetapan kebijakan harus mengacu pada kepentingan segala lapisan masyarakat, dengan memperhatikan karakteristik masing-masing, sehingga dapat dipahami dengan baik.

Bagaimana mengubah pola perilaku masyarakat melalui hukum? Seperti telah diuraikan terdahulu, salah satu fungsi hukum adalah untuk mengubah perilaku masyarakat ke arah yang diinginkan. Bila dikaitkan dengan prinsip-prinsip perubahan perilaku berarti diperlukan hukum yang berisikan batasan perilaku yang diinginkan dan uraian yang jelas tentang konsekuensi yang akan diterima bila hukum tersebut ditaati atau dilanggar. Namun, agar sistem hukum yang baru dapat berfungsi secara efektif diperlukan persyaratan berikut:

Sistem hukum tersebut harus dimengerti oleh mereka yang akan melaksanakannya maupun oleh mereka yang akan dikenai oleh hukum tersebut. Hal ini berarti perlu dilakukan peningkatan keahlian (memiliki expert power) dari para penegak hukum sehingga keputusan-keputusan mereka dihargai dan dihormati oleh semua pihak. Di samping itu perlu pula dilakukan pendidikan/penyuluhan hukum bagi seluruh anggota masyarakat sehingga mereka mengetahui apa yang merupakan hak mereka dan apa yang merupakan tanggung jawab mereka.

Sistem hukum tersebut harus dilaksanakan secara konsisten dan mengikat semua warga tanpa pengecualian termasuk si pembuat hukum sendiri (Golding, 1975). Keberhasilannya terutama akan sangat ditentukan oleh keteladanan (memiliki referent power) dan political will dari para pemegang kekuasaan serta komitmen dari semua pihak.

Sistem hukum tersebut didukung oleh sistem dan budaya demokratis di mana masyarakat dan pers dapat menjalankan fungsi kontrol.

Bagaimana proyeksi kita ke depan? Pengalaman selama enam Pelita menunjukkan bahwa pembangunan yang hanya menekankan pertumbuhan ekonomi tanpa disertai dengan pertumbuhan yang seimbang di bidang sosial, politik dan hukum ternyata tidak berhasil meningkatkan daya saing kita di dunia internasional. Berarti kita memerlukan suatu pembaharuan yang menyeluruh sifatnya dan mencakup berbagai aspek kehidupan bangsa. Beberapa hal yang dapat disebutkan antara lain adalah:

Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa agar dapat menjadi bangsa yang percaya diri dan sekaligus mampu berkiprah di dunia internasional. Untuk mencapainya diperlukan suatu transformasi sosio-kultural dari budaya feodal, paternalistik dan berorientasi kekuasaan menuju budaya yang lebih bersifat demokratis, partisipatif dan berorientasi ke depan.

Untuk dapat berkiprah di dunia internasional kita perlu memperoleh kepercayaan dari dunia internasional. Untuk itu kita perlu memiliki hukum yang mengacu pada nilai-nilai universal seperti penghargaan terhadap Hak Asasi Manusia, demokrasi, dan lain sebagainya. Selain itu, salah satu hal pokok yang dapat membina kepercayaan dunia internasional ialah adanya sistem hukum yang berwibawa dan berlandaskan asas-asas hukum modern dengan dukungan sistem peradilan yang dapat diandalkan.

Dalam kaitan ini perlu dipahami bahwa betapapun bagusnya rencana, sistem, maupun kelembagaan yang diciptakan, kemungkinan berhasilnya akan sangat kecil bila tidak didukung oleh perubahan yang mendasar dalam pola pikir, sikap dan perilaku pada tingkat individu sebagai anggota masyarakat.

Ada dua alternatif keadaan masyarakat Indonesia berdasarkan analisis tersebut, yakni:

menjadi bangsa yang mengalami “learned helplessness”, apatis, tidak percaya diri dan tidak mampu bersaing di tatanan global atau

menjadi bangsa yang memiliki self-efficacy, percaya diri dan mampu bersaing di tatanan global.

Indonesia, sebagai bangsa dan negara, juga secara individual, memiliki dua pilihan tersebut. Namun, bila dilihat dari sudut belajar observasional di mana unsur keteladanan (referent power) memegang peranan penting dalam mengubah pola perilaku, maka sikap pemimpin bangsa dan negara ini menjadi sangat bermakna. Semakin tinggi status seseorang dan semakin besar kekuasaan/pengaruhnya, maka semakin menentukan pula pilihannya bagi masa depan bangsa.

V. PERANAN KELUARGA DALAM PEMBENTUKAN PERILAKU DAN PROYEKSI DI ABAD 21

Suasana pembangunan yang lebih terfokus di bidang ekonomi ditingkah dengan era globalisasi telah mengubah tatanan kehidupan masyarakat. Tawaran untuk menikmati gaya hidup global telah mendorong semua orang untuk sibuk mencari uang, dengan berbagai cara. Setiap orang, laki-laki dan perempuan, berusaha pagi dan petang. Mereka membanting tulang dan memeras keringat untuk meraih yang terbaik demi gaya hidup global. Tentu saja kondisi ini berpengaruh terhadap kehidupan kekeluargaan, yang menjadi kurang terbina. Mulailah terjadi kerenggangan antara suami istri, orang tua dan anak, yang tentunya sukar untuk diharapkan sebagai tempat persemaian tumbuh kembang anak secara optimal. Era globalisasi juga melahirkan kompetisi yang membutuhkan kompetensi tinggi di segala bidang untuk bisa menjadi pemenang. Hanya yang terbaik yang bisa memenangkan kompetisi. Akibatnya, orang tua memaksa anak meninggalkan dunianya dan mengisinya dengan upaya pembekalan diri untuk dapat meraih kompetensi sebanyak-banyaknya. Dunia kanak-kanak yang ceria tak lagi bisa dinikmati, berganti dengan jadwal ketat yang mengantarnya pada situasi yang selalu serius dan memandang jauh ke depan. ‘Paksaan’ yang melanda anak dalam penafsiran era globalisasi di bidang ekonomi ini tentunya bisa berdampak negatif terhadap perkembangan anak di kemudian hari, baik terhadap kehidupan pribadinya maupun dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Newman & Newman (1981) menyebutkan tiga unsur pendukung kemampuan seseorang untuk bisa menyesuaikan diri dengan baik, yaitu dirinya sendiri, lingkungan dan situasi krisis dalam pengalaman hidupnya yang sangat membekas dalam dirinya. Pada unsur pribadi (diri sendiri) tercakup kemampuan untuk bisa merasa, berpikir, memberikan alasan, kemauan belajar, identifikasi, kesediaan menerima kenyataan, dan kemampuan memberikan respon sosial. Kemampuan tersebut didasari oleh tingkat kecerdasan yang dimiliki, temperamen, bakat, dan aspek genetika. Berdasarkan konsep tersebut maka proses penyesuaian diri bagi anggota masyarakat merupakan keterkaitan yang sangat erat antara kondisi pribadi, situasi lingkungan dan kemampuan mengelola pengalaman.

Pembentukan perilaku normatif dimulai dari pengenalan terhadap aturan yang berlaku dan terapannya dalam kehidupan sehari-hari, yang kemudian menjadi pengalaman yang terekam dalam kehidupan seseorang. Selanjutnya, dengan bekal kemampuan yang dimilikinya, terjadi proses pengambilalihan norma di luar diri menjadi pengembangan nilai-nilai yang dijadikan pegangan dalam berperilaku (internalisasi). Tergantung dari tingkat kematangan pribadinya, pengembangan nilai dalam diri sendiri bisa dilakukan secara mandiri, bahkan bernuansa luas, dan mampu dipertahankan secara tangguh dalam berbagai kondisi dan situasi. Pada tingkat seperti ini orang tersebut tidak akan mudah terpengaruh atau terbawa suasana lingkungan. Dia tahu memilih yang benar, yang perlu, yang bermanfaat dan bisa dengan mudah membedakannya dari hal-hal yang bisa merugikan pribadi maupun lingkungannya. Pengalamannya berpadu dengan penalaran pikirnya, menghasilkan dialog yang terus menerus sebelum memutuskan sikap dan perilaku dengan kesadaran terhadap konsekuensinya, baik untuk diri sendiri maupun lingkungan.

Sikap dan perilaku orang tua sebagai anggota masyarakat yang menampilkan gaya hidup dan etos kerja serta pengembangan interaksi dengan lingkungan akan direkam anak, baik untuk kepentingan belajar instrumental maupun belajar observasional. Perilaku masyarakat menuju abad 21 tidak lagi mencerminkan setia kawan, gotong royong seperti yang tampak di era sebelumnya. Perilaku itu cenderung meluntur, terutama di kota-kota besar. Tingkah laku manusia di kota besar lebih mengarah pada kesibukan pribadi, tidak acuh, tidak peduli terhadap mereka yang kurang beruntung (individualis). “Pokoknya saya senang, saya berhasil, saya bisa meraih semuanya. Apa yang terjadi dengan orang lain, bukan urusan saya,” kata si individualis, yang juga masuk ke dalam rekaman anak dan bukan tak mungkin dijadikannya pola bertingkah laku.

Ketidakpastian dalam penegakan hukum berdampak pula pada perilaku yang ditampilkan orang tua dan anggota masyarakat lainnya dalam bekerja dan berorganisasi, yang selanjutnya bisa dijadikan acuan oleh anak dalam mengembangkan dirinya. Tindakan yang lebih suka memilih jalan pintas untuk mencapai tujuan, tidak tepat waktu, unjuk kerja seadanya, lebih menuntut fasilitas daripada tanggung jawab adalah melunturnya etos kerja yang diamati anak dengan leluasa, di dalam maupun di luar rumah (orang tuanya sendiri maupun orang tua lainnya). Sikap mau menang sendiri, tidak adanya kepatuhan terhadap hukum, pelanggaran terhadap tata tertib yang berlaku adalah ketidakdisiplinan pribadi yang bisa ditangkap anak dari orang tua dan lingkungannya. Tindak kejahatan dengan kekerasan, baik yang berupa pengrusakan, perampokan, penyiksaan, perkosaan juga pertikaian yang diakhiri dengan pembunuhan, walaupun penyebabnya mungkin sepele, adalah agresivitas yang masuk dalam benak anak dan bisa menjadi referensi dalam menjalani kehidupannya. Kesenangan berlebihan terhadap barang-barang simbol teknologi canggih dan kemapanan serta kenyamanan hidup sebagai kecenderungan hidup materialistik bisa dijadikan dasar pola pembentukan perilakunya. Penggunaan berlebih terhadap produk teknologi canggih tanpa memperhatikan kondisi lingkungan yang bisa dikatakan sebagai kecenderungan pendewaan teknologi adalah referensi lain yang sewaktu-waktu siap ditampilkan anak. Meningkatnya frekuensi dan intensitas perkelahian antar kelompok remaja dan dewasa muda adalah situasi lain yang diamati anak. Mereka melihat mengurangnya kemampuan menalar, komunikasi dan penyelesaian masalah melalui dialog di antara pelaku-pelakunya. Dalam hal ini pengaruh media massa terasa sangat bermakna.

Kesibukan kota besar yang segera merambah pelosok lainnya dengan gerak hidup cepat, bertubinya rangsangan kegiatan dan mobilitas pribadi yang tinggi menempatkan individu dalam situasi yang dilematis. Situasi tersebut membuat individu harus memilih antara pencarian kegiatan yang didasari oleh minat pribadi dengan pelestarian ikatan dan fungsi utama keluarga sebagai sarana dalam menyiapkan anggotanya untuk hidup bermasyarakat. Kecenderungan ini oleh para ahli dianggap sebagai melunturnya fungsi utama keluarga. Fokus perhatian yang lebih mengarah pada tugas-tugas di luar rumah agar tak kalah bersaing kemudian menjadi pilihan orang tua dan sekaligus menempatkan anak dalam kekosongan yang cukup bermakna, terutama dalam upaya pembentukan hati nurani yang akan menjadi pemandunya kelak, sebagai orang yang tangguh, mandiri, tapi juga peduli lingkungan dengan warna spiritual yang kental dan luwes. Apakah orang tua dan masyarakat menyadari kepentingan ini, juga bahwa masa depan bangsa dan negara ada di tangan anak-anak yang sekarang menjadi penonton dan pengamat perilaku orang tua, baik yang ada di rumahnya maupun di masyarakat, apapun peran dan fungsinya? Seberapa jauh kita menyiapkan anak-anak agar bisa berkualitas tinggi dalam abad 21 nanti?

Pendidikan adalah upaya membekali anak dengan ilmu dan iman agar ia mampu menghadapi dan menjalani kehidupannya dengan baik, serta mampu mengatasi permasalahannya secara mandiri. Bekal itu diperlukan karena orang tua tidak mungkin mendampingi anak terus menerus, melindungi dan membantunya dari berbagai keadaan dan kesulitan yang dihadapinya. Anak tidak akan selamanya menjadi anak. Dia akan berkembang menjadi manusia dewasa. Kalau perkembangan fisiknya secara umum berjalan sesuai dengan pertambahan umurnya, maka kemampuan kecerdasan dan perkembangan emosi serta proses adaptasi atau penyesuaian diri dan ketakwaannya sangat memerlukan asuhan dan pendidikan untuk bisa berkembang optimal. Melalui bekal pendidikan dan proses perkembangan yang dialaminya selama mendapatkan asuhan dari lingkungannya, diharapkan anak akan mampu menyongsong dan menjalani masa depannya dengan baik.

Memberi bekal adalah sikap yang mencerminkan pemikiran dan pandangan ke depan. Artinya, kondisi atau keadaan dan situasi yang akan dihadapi anak nantinya, ketika ia sudah menjadi orang dewasa, sangat perlu diperhitungkan. Kehidupan berjalan ke depan. Jadi, sangatlah penting mempertimbangkan kondisi dan situasi di masa depan itu dalam upaya memberikan bekal kepada anak. Sosok manusia dewasa hasil asuhan dan pendidikan orang tua dalam kurun waktu sekarang akan terlihat secara jelas dalam perkembangan anak menjadi orang dewasa. Berhasilkah pendidikan dan asuhan yang telah diberikan? Tercapaikah harapan dan cita-cita atau impian orang tua? Bahagiakah anak dengan yang diperoleh dan dimilikinya? Mampukah ia menjadi sosok pribadi yang diangankannya sendiri, yang mungkin sama dengan harapan orang tua dan lingkungan pendidiknya yang lain? Semua jawaban itu baru akan tampak nanti, ketika anak sudah menjadi dewasa.

Latar belakang pengertian tersebut hendaknya menjadi dasar pengembangan pola asuhan dan pendidikan untuk anak. Biasanya pendidikan diberikan berdasarkan pengalaman masa lalu, yakni ketika yang menjadi orang tua masih berstatus kanak-kanak, yang menerima pendidikan dari orang tuanya. Pengalaman masa lalu ini kerap kali cukup mewarnai pola asuhan dan pendidikan anak. Pemanfaatan pengalaman memang selalu ada gunanya. Akan tetapi sikap yang mampu mengantisipasi ke depan juga sangat penting, karena anak tidak akan hidup di masa lalu, tetapi menapak ke masa depan. Dengan demikian posisi pengalaman ketika menerima didikan dan asuhan orang tua di masa lalu hanyalah pantas sebagai acuan atau referensi, terutama dalam rangka mengembangkan empati (penghayatan, kemampuan merabarasakan dari sudut pandang atau posisi orang lain) agar komunikasinya bisa berjalan seperti yang diharapkan. Terapan pengalaman masa lalu ayah ibu, ketika dididik dan diasuh orang tuanya, perlu disesuaikan dengan kondisi dan situasi perkembangan jaman. Tanpa penyesuaian, pola asuh dan pendidikan yang dilakukan akan cenderung menyulitkan anak dalam perkembangannya, sehingga iapun akan tumbuh menjadi sosok pribadi yang sukar menemukan konsep diri, sulit menyesuaikan diri dan tentunya sulit mengaktualisasikan diri.

Proses pendidikan berlangsung dinamis, sesuai dengan kondisi perkembangan pribadi anak dan situasi lingkungan. Era globalisasi yang menandai abad 21 seyogianya tidak hanya dilihat sebagai hal yang mengancam, dengan dampak kecemasan atau kekhawatiran dalam mendidik anak, yang mungkin hanya akan menghasilkan kondisi perkembangan yang kurang menguntungkan. Kecemasan dan kekhawatiran biasanya akan menyebabkan orang tua menjadi tegang dan tertekan sehingga kurang mampu melihat alternatif, lalu justru menekan anak padahal tindakan itu lebih ditujukan untuk dapat menenteramkan dirinya sendiri.

Kondisi jaman dalam era globalisasi justru bisa dimanfaatkan untuk membangun sosok-sosok pribadi yang tangguh dan mandiri, antara lain karena terbiasa menghadapi persaingan yang ketat dan mampu memanfaatkan fasilitas dan peluang yang dibukakan oleh “pintu globalisasi.” Untuk itu orang tua sangat perlu menyadari, bahwa kehidupan terus berkembang sesuai perputaran dunia, jaman pun berubah. Sangat diperlukan kemampuan dan kemauan untuk mengikuti perubahan dan senantiasa menyesuaikan diri.

Perubahan kondisi dan situasi orang tua dalam menjalankan peran dan fungsinya selaku pengasuh dan pendidik anak perlu diikuti dengan upaya menambah pengetahuan, meluaskan wawasan, dan meningkatkan keterampilan. Dengan sikap ini maka orang tua pun bisa diharapkan melaksanakan tugasnya dalam mengarahkan, membimbing, mendorong, membantu anak serta mengusahakan peluang/kesempatan untuk berprestasi optimal, sesuai dengan kemampuannya. Berpikir positif dan bersikap adaptif adalah sikap yang diharapkan dari para orang tua yang kini tengah mendidik dan mengasuh anak-anak yang akan memasuki era globalisasi. Tugas ini tentunya tidak hanya menjadi tanggung jawab ibu. Bersama, ayah dan ibu menyikapi perubahan jaman dalam kondisi yang lebih menguntungkan bagi anak, sehingga ia mampu menyongsong era globalisasi dengan keyakinan diri yang kuat, berdasarkan bekal yang diperolehnya dan kepercayaan akan rakhmat dan karunia-NYA.

VI. BEBERAPA PEMIKIRAN TENTANG KUALITAS MANUSIA INDONESIA

Dari berbagai pembahasan mengenai kualitas manusia Indonesia dalam periode Orde Baru yang memfokuskan pembangunan di bidang ekonomi, terlihat kecenderungan untuk menyimpulkan beberapa insiden sebagai gambaran manusia Indonesia dewasa ini yang lebih menandakan sikap instrumental, egosentris, kurang peka terhadap lingkungannya, konsumtif, dan melakukan jalan pintas untuk mencapai kepuasan pribadi. Bernadette N. Setiadi dan kawan-kawan dalam penelitiannya (1989) menemukan hal-hal yang menguatkan pengamatan tersebut. Menurutnya, kualitas manusia Indonesia diwarnai oleh kurangnya etos kerja dan sangat berorientasi pada hasil akhir tanpa atau kurang memperhatikan proses pencapaian hasil akhir. Enoch Markum (1984) mengemukakan bahwa untuk menyongsong pembangunan tahun 2000 mendatang secara mutlak diperlukan manusia Indonesia dengan karakteristik tingkah laku seperti kemandirian, kerja keras, gigih dan prestatif. Saparinah Sadli dan kawan-kawan (1985) dalam penelitian tentang sistem nilai masyarakat kota besar yang dilakukan pada pertengahan dekade delapanpuluhan menemukan bahwa masyarakat kota mempunyai besar nilai terminal (preverensi tujuan hidup) yang diwarnai dengan hal-hal yang sifatnya materi. Sedangkan nilai instrumental (preverensi cara-cara pencapaian tujuan hidup) lebih ditandai oleh pengutamaan kompetensi pribadi.

Abad 21 yang memunculkan situasi makin terbukanya hubungan antar bangsa/negara membuat batasan sebelumnya menjadi tipis, sehingga berlangsung persentuhan aspek kehidupan mental psikologis, ekonomi, sosial, budaya. Bila dikaitkan dengan proses pembentukan tingkah laku manusia, maka proses globalisasi membawa kemungkinan sebagai berikut:

terjadi peningkatan interaksi, interdependensi dan saling pengaruh

terbuka pilihan pengembangan diri yang memerlukan penyesuaian prioritas tindakan secara terus menerus sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya. Secara psikologis terjadi perubahan kognitif, perubahan kebutuhan, yang kemudian membawa pembentukan nilai (pemberian skala prioritas) terhadap hal-hal yang dianggap bermakna dalam hidupnya.

La Piere (1981) mengartikan pembangunan sebagai suatu usaha yang secara sistematis direncanakan dan dilakukan untuk merubah kondisi masyarakat yang ada ke arah kondisi dan taraf kehidupan yang lebih santun. Di sini terkandung arti bahwa pembangunan sebenarnya merupakan suatu perubahan sosial, yang mau tidak mau merujuk pada terjadinya perubahan tingkah laku individu warga masyarakat yang sedang membangun. Fuad Hassan menyatakan bahwa hakiki manusia adalah kemampuan manusia untuk menjadi dirinya sendiri dan kemudian mengembangkan kehidupannya dalam suatu keadaan yang menjadi pilihannya. Manusia berpeluang untuk diarahkan agar bisa menumbuhkan motivasi, sehingga di setiap saat dan situasi ia selalu berusaha mencari peluang dan kesempatan yang menarik keinginan dan perhatiannya untuk memenuhi kebutuhan aktualisasi diri. Di setiap saat dan situasi manusia dihadapkan pada berbagai alternatif pilihan. Ia memerlukan kebebasan untuk dapat menentukan pilihan yang baik, yaitu pilihan dengan kapasitas, bakat serta minat atau kebutuhannya secara umum. Dengan kebebasan itu barulah ia leluasa melakukan aktuialisasi diri, menentukan arah dan pengembangan hidupnya.

Mempelajari hakiki manusia sebagai mahluk sosial, jelas bahwa ia membutuhkan kehadiran manusia lainnya, kebutuhan untuk berkelompok dan menjadi bagian dari kelompok. Membanjirnya peluang, kesempatan dan pilhan untuk aktualisasi diri sering membuat manusia hanyut sehingga melupakan hakiki yang sangat mendasar. Terbawanya manusia dalam banjir informasi menyebabkan kekaburan manusia untuk memahami perbedaan antara kebutuhan dengan keserakahan (needs and greed), butuh dan ingin (wish and need) yang kemudian mendorong manusia untuk secara terus menerus terlibat dalam kegiatan pemuasan pribadi. Dia lalu berkembang menjadi mahluk yang egosentris dan instrumental. Mereka yang tidak mampu sehingga tidak mungkin memenuhi kebutuhan aktualisasi diri akan memunculkan pesimisme dan kekhawatiran, yang bisa melahirkan ketidakpuasan dan protes terhadap kejadian di lingkungannya. Disonansi, kesenjangan generasi, kesenjangan kelas sosial-ekonomi, adalah efek samping lainnya karena usaha yang dilakukan tidak lagi sekadar ingin memiliki tetapi juga memuaskan, sementara kepuasan sifatnya relatif dan cenderung tidak berujung. Keserakahan menampilkan wajah egosentris yang kemudian melepaskan diri dari kasih sayang (Gromm). Kemudahan komunikasi membuat individu melupakan peran-peran lain dalam kehidupan, terutama yang menyangkut kehidupan interdependensi. AKU menjadi sangat menonjol. Situasi ini bisa menjadi pemicu bagi pemunculan pribadi yang kehilangan kontrol diri.

Psikologi sebagai ilmu yang kajian utamanya adalah perilaku manusia terkait erat dengan telaah proses pembentukan perilaku, yang hasilnya bisa disumbangkan sebagai intervensi dalam pembentukan perilaku Manusia Indonesia Abad 21 Yang Berkualitas Tinggi. Keterlibatan dalam upaya rekayasa tingkah laku, baik dalam kapasitas sebagai sarana belajar maupun bimbingan dan penyuluhan, perlu dilakukan untuk mendapatkan wawasan tentang konteks dan lingkungan serta eksistensi manusia. Cara yang bisa ditempuh dalam upaya rekayasa ini adalah melakukan usaha yang berkesinambungan dengan memperhitungkan dukungan kelompok maupun dukungan masyarakat. Untuk itu kerjasama dengan berbagai disiplin ilmu lainnya terasa sangat bermakna. Psikologi akan memfokuskan pada upaya pembangkitan kebutuhan untuk berubah agar bisa menjadi pendorong (motivasi) dalam proses perubahan tingkah laku yang diharapkan. Pembekalan individu dengan pengetahuan dan keterampilan yang cukup harus dilakukan agar ia mampu melaksanakan perubahan tingkah laku yang diharapkan, yang sudah beralih menjadi kebutuhan pribadi dan bukan kebutuhan yang bersifat eksternal. Dalam upaya ini harus diciptakan kesempatan bagi individu untuk memecahkan masalah berkaitan dengan adopsi tingkah laku dalam kondisi nyata. Penelitian yang dilakukan oleh Bernadette N. Setiadi (1987), Yaumil A. Achir (1990), Iman Santoso Sukardi (1991) dan Soesmaliyah Soewondo (1991) membuktikan bahwa usaha merubah tingkah laku manusia dapat dilakukan melalui intervensi terencana perubahan tingkah laku.

Dengan mengembangkan teori serta intervensi dalam pola asuh yang khas Indonesia, pengalaman daur belajar Kolb dan intervensi perubahan tingkah laku Mc Clelland yang diadaptasikan ke Indonesia serta pengembangan intervensi lain dalam keterampilan hubungan antar manusia, membuktikan bahwa psikologi mampu berbuat sesuatu dalam rangka menyongsong era globalisasi. Yang diperlukan adalah intervensi terencana yang menekankan analisis kebutuhan individu dan masyarakat, pengembangan iklim belajar partisipatif, penciptaan dukungan kelompok serta pemanfaatan seluruh sumber sebagai sarana belajar. Dalam rekayasa terencana perlu dilihat, mana nilai-nilai tradisional yang masih bisa dipertahankan dan dikembangkan, mana pula yang harus ditinggalkan karena sudah tidak sesuai, bahkan bisa menghambat.

Dalam rangka globalisasi ternyata manusia Indonesia mengalami perubahan peta kognitif, pengembangan dan kemajemukan kebutuhan serta pergeseran prioritas dalam tata nilainya. Kesemuanya tampil dalam perilakunya yang egosentris, instrumental, jalan pintas, etos kerja yag lemah dan kurang peka terhadap masalah yang tidak menyangkut kepentingannya. Padahal era abad 21 memerlukan manusia Indonesia yang tangguh, yang harus menampilkan tingkah laku yang diwarnai dengan etos kerja, prestatif, religius, peka terhadap lingkungan, inovatif dan mandiri. Pertanyaannya adalah, sejauh mana manusia Indonesia bisa dibantu untuk menemukan jati dirinya dan mampu beradaptasi terhadap tarikan dan pengaruh globalisasi masyarakat dunia. Selain itu perlu dicermati pula, berapa banyak yang ‘masih tersisa’ saat ini untuk bisa diajak memasuki abad 21 secara produktif? Berapa bagian dan seberapa luas kerusakan yang sudah terjadi? Di lapisan mana kerusakan itu terjadi dan di tingkat mana yang masih menjanjikan harapan untuk pembentukan perilaku yang adaptif dalam memasuki abad 21?

VII. PENGEMBANGAN POLA PERILAKU MANUSIA INDONESIA YANG BERKUALITAS TINGGI DALAM MASYARAKAT ABAD 21

Sebagaimana telah diuraikan di atas, ada dua kemungkinan pembentukan pola perilaku manusia Indonesia dalam memasuki abad 21, yang diwarnai oleh latar belakang sejarah bangsa dan negara selama ini, yaitu:

menjadi bangsa yang memiliki self efficacy

menjadi bangsa yang mengalami learned helplessness

Era Reformasi membukakan kenyataan, betapa banyak unsur penting lainnya dalam upaya pengembangan Manusia Indonesia yang seolah terlupakan dalam membangun bangsa dan negara dalam masa Orde Baru, yang antara lain menjadi penyebab munculnya perilaku yang mengarah kepada perbuatan Korupsi, Kolusi, Koncoisme, Nepotisme (KKKN). Kesadaran tersebut lalu mendorong keinginan untuk membenahi perilaku Manusia Indonesia dari sikap yang cenderung KKKN menjadi perilaku yang Bersih, Transparan, Profesional. Keinginan untuk memunculkan Manusia Indonesia yang bersih, transparan, dan profesional dalam menjalani kehidupannya sangat diperlukan, apapun yang dilakukannya, di manapun posisinya. Kehidupan Abad 21 menyiratkan tantangan yang lebih luas dalam berkompetisi di era globalisasi. Pengembangan perilaku bersih, transparan, dan profesional menjadi persyaratan bagi Manusia Indonesia agar bisa berkualitas tinggi dan mampu mengambil posisi dalam persaingan di kancah dunia dan memanfaatkannya dengan baik. Sebaliknya, perilaku yang mencerminkan KKKN harus ditinggalkan.

Peristiwa di Bulan Mei 1998 dan hari-hari berikutnya telah menunjukkan betapa kompleksnya permasalahan yang harus diperhatikan dalam upaya meningkatkan kualitas Manusia Indonesia. Ada masalah budaya, ada masalah sosial, ada masalah agama yang secara psikologis menjadi dasar pengembangan sikap dan perilaku, selain masalah ekonomi dan harapan untuk bisa mengambil posisi dalam mengantisipasi globalisasi dan perkembangan teknologi. Pemahaman diri sebagai Manusia Indonesia perlu dimiliki agar dapat menempatkan diri dan mengembangkan hubungan dengan lingkungan, baik dalam skala kecil maupun percaturan yang lebih luas. Negara dan bangsa memerlukan Manusia Indonesia yang mencerminkan pandangan, sikap, dan perilaku warga Republik Indonesia (siapapun dia, dari kelompok mana pun – etnik, kelas sosial, agama, pendidikan, kemampuan ekonomi). Era globalisasi yang semakin terasa denyutnya memerlukan penampilan Manusia Indonesia yang berkualitas tinggi, sehingga dapat mengikuti perkembangan dunia, yang selanjutnya akan dapat menghasilkan peran serta aktif di berbagai bidang (pertanian, perdagangan, perindustrian, teknologi, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya).

Manusia Indonesia yang berkualitas tinggi, dengan latar belakang berbagai periode yang telah dijalaninya memerlukan kajian lintas disiplin ilmu agar bisa dirumuskan secara jelas dan tegas. Dalam kaitan ini sangat disadari bahwa kompleksitas permasalahan yang dihadapi dalam memunculkannya sekaligus mensyaratkan adanya dialog/komunikasi yang bersifat saling isi dan melengkapi antar berbagai ilmu yang terkait, sesuai dengan kondisi dan situasinya. Forum Organisasi Profesi Ilmiah Indonesia (FOPI) yang beranggotakan berbagai Organisasi Profesi Ilmiah (OPI) diharapkan secara ilmiah mampu merumuskan Manusia Indonesia Abad 21 Yang Berkualitas Tinggi sehingga arah pembangunan bangsa dan negara pun bisa ditata lebih baik. Untuk itu perlu dicarikan upaya agar dapat memberdayakan Manusia Indonesia dengan meningkatkan kualitas ketangguhan dan kemandirian dengan tetap peduli lingkungan (alam, sosial, budaya) sehingga lebih mampu menyikapi berbagai perubahan kondisi dan situasi. Hasil kajian tersebut diharapkan dapat memunculkan karakteristik Manusia Indonesia yang berkualitas tinggi, yang menggambarkan manusia dan budayanya (akhlak, moral, budi pekerti) serta kaitannya dengan kehidupan lingkungan (kependudukan, politik, ekonomi, sosial, alam). Gambaran tersebut kemudian dikaitkan dengan kondisi dan situasi yang harus dihadapi masyarakat Indonesia di masa depan, sehingga bisa dicarikan berbagai alternatif upaya yang perlu dan harus dilakukan agar Manusia Indonesia bisa menerima dan memahami dirinya serta mampu menyesuaikan diri dengan kondisi dan situasi lingkungan pada jamannya.

John J. Macionis (1996) mengemukakan bahwa abad 21 menyiratkan ketidakjelasan terhadap ukuran keberhasilan yang bisa dijadikan keteladanan. Sukar sekali menutupi kejadian yang tak ingin disebarluaskan, baik untuk pertimbangan menghormati hak asasi manusia maupun kecanggihan teknologi komunikasi. Banyak masalah yang masih harus dijawab dalam memasuki abad 21, antara lain merumuskan makna kehidupan, pemecahan sengketa/konflik antar bangsa/negara, pengentasan kemiskinan yang tidak hanya terkait dengan masalah populasi (pertambahan penduduk) dalam hubungannya dengan ketersediaan sumber daya alam yang makin terbatas. Abad 21 mengisaratkan perlunya wawasan pikir yang lebih luas, imajinasi, rasa kasihan atau simpati, dan keteguhan hati. Pemahaman yang luas terhadap kehidupan bersama akan menjadi dasar yang kuat bagi upaya membantu manusia memasuki abad 21 dengan sikap optimis.

Ada lima cara yang dikemukakan Macionis dalam pembentukan perilaku yang mencerminkan pemahaman sosialisasi, yaitu:

teori Id, Ego, Superego dari Sigmund Freud (1856-1939)

teori Perkembangan Kognitif dari Jean Piaget (1896-1980)

teori Perkembangan Moral dari Lawrence Kohlberg (1981)

teori Gender dari Carol Gilligan (1982)

teori “Social Self” dari George Herbert Mead (1863-1931)

Jalur yang bisa digunakan untuk membentuk perilaku yang mencerminkan kemampuan sosialisasi adalah:

keluarga

sekolah

kelompok sebaya

media massa

opini publik

Sedangkan proses sosialisasi bisa berlangsung sepanjang kehidupan, yakni sejak kanak-kanak, pra remaja, remaja, dewasa muda, dewasa, lanjut usia.

Harapan untuk dapat membantu masyarakat dalam mewujudkan perilaku Manusia Indonesia Abad 21 Yang Berkualitas Tinggi bisa mengacu pada kerangka pikir tersebut (untuk pemahaman, proses dan pembentukan perilaku dalam upaya sosialisasi), terutama dalam upaya membentuk manusia yang cerdas, terampil, tangguh, mandiri, berdaya saing tinggi tapi juga punya hati nurani, yang membuatnya peduli dan tidak individualis. Untuk itu perlu dipahami dulu kondisi masyarakat Indonesia saat ini. Berdasarkan teori perkembangan moral dari Kohlberg, masyarakat Indonesia terbagi dalam tiga kelompok moralitas. Kelompok pertama menyandarkan perilakunya pada pengertian benar dan salah, baik dan buruk berdasarkan reaksi yang diterimanya dari lingkungan. Bagi kelompok ini, keputusan benar salah, baik buruk harus bisa dipahami secara nyata, bukan sesuatu yang bersifat abstrak. Bentuk hukuman dan pujian/penghargaan harus dipahami sesuai dengan tingkat kemampuan mereka, antara lain taraf kecerdasannya. Penempatan patung-patung polisi lalu lintas di berbagai kota (Bogor, pinggiran kota Bandung, Surabaya, Padang) adalah contoh pemahaman “hitam putih” dalam usaha pengawasan perilaku. Kehadiran polisi secara fisik (terlihat) menjadi penting daripada hanya sekadar penempatan rambu-rambu lalu lintas. Kelompok ini lebih terfokus pada pikiran dan pertimbangannya sendiri, menggunakan ukurannya sendiri dan tidak terlalu mampu mempertimbangkannya dalam perspektif yang lebih luas. Kelompok kedua sudah lebih luas pandangannya, sehingga pemahaman terhadap norma dalam kehidupan bersama, yang mengacu pada kehidupan bersama, bisa diharapkan. Kepedulian dan kebutuhan mendapatkan predikat sebagai warga masyarakat yang baik sudah dimiliki. Kelompok ketiga memiliki tingkat pemahaman dan kesadaran yang lebih tinggi mengenai perlunya norma dalam kehidupan bersama agar dapat mencapai rasa aman dan nyaman. Pengelompokan tersebut seharusnya dijadikan patokan dalam mengembangkan aturan berikut sanksinya. Meskipun secara umum tetap bersumber pada acuan hukum yang sama, tetapi dalam penyampaian informasi dan terapannya sangat perlu memperhatikan kondisi psikologis masing-masing kelompok, sehingga bisa diterima dan dilaksanakan dengan baik.

Bagi masyarakat Indonesia yang secara mayoritas mencerminkan pola patrilineal, adanya figur yang bisa dijadikan pegangan menjadi sangat penting. Figur tersebut harus dapat mencerminkan tokoh yang dikagumi dan bisa dipercaya, yang antara lain bisa dilihat dari sikap dan perilakunya dalam kehidupan keseharian sebagai pribadi maupun dalam melaksanakan tugasnya. Perasaan diperlakukan secara adil, yang antara lain merasa memiliki hak dan kewajiban yang sama di depan hukum, menjadi syarat utama bagi tumbuhnya kepercayaan kepada pimpinan negara dan aparat penegak hukum. Segala bentuk kekecualian akan mengurangi bobot aturan yang ditetapkan. Apalagi kalau figur yang seharusnya menjadi panutan ternyata menampilkan perilaku yang tidak sesuai dengan aturan yang telah disepakati bersama. Bentuk masyarakat Indonesia yang sangat heterogen juga harus diperhatikan. Sejalan dengan hal tersebut maka penyusunan undang-undang dan peraturan penjelasan serta kelengkapannya harus disampaikan dalam bentuk komunikasi yang efektif, sesuai karakteristik masing-masing kelompok.

Untuk bisa menjaga agar perilaku masyarakat tetap produktif dalam upaya menegakkan kewibawaan pemerintah, ketertiban dan ketenteraman bersama, masyarakat yang seolah baru terbangun dan mulai sadar atas hak-haknya sebagai individu maupun sebagai warga negara, yang kemudian memunculkan berbagai bentuk perilaku ‘terkejut’ harus segera diarahkan dan dibimbing, sehingga reformasi bisa tetap sesuai dengan jiwanya ketika diperjuangkan oleh mahasiswa. Perilaku beberapa pihak yang saling tunjuk, saling menghujat, saling menghakimi tanpa mengindahkan prosedur hukum/aturan/tatanan yang berlaku perlu segera diatasi, sebelum menyesatkan masyarakat dalam pengembangan pola pikir dan tindakan yang jauh dari kehidupan sadar hukum.

Pemulihan kepercayaan masyarakat tidak hanya diperlukan untuk mengembalikan kondisi dalam negeri, tetapi juga bagi dunia internasional dalam menentukan sikap dan kebijaksanaan politik maupun ekonomi terhadap Indonesia. Beban psikologis ini amat berat. Persoalannya adalah seberapa jauh pemerintah dan seluruh jajarannya menyadari hal ini? Apakah masyarakat juga bisa melihat persoalan ini dalam skala pikir yang lebih luas dari hanya sekadar memikirkan kepentingannya sendiri? Dapatkah mereka melihat dirinya sebagai bagian dari kepentingan bersama, selaku anggota masyarakat dan warga negara? Pemerintah dan masyarakat harus bersama-sama menyelesaikan persoalan ini sebagai kepentingan yang tak bisa ditawar untuk dapat mempertahankan keutuhan dan kesatuan bangsa dan negara. Untuk itu sangat perlu dimasyarakatkan secara luas dan terbuka mengenai kondisi dan situasi yang dihadapi bersama agar pemerintah dan masyarakat bisa bahu membahu dalam upaya penyelesaiannya, yang tentunya harus sangat memperhitungkan karakter masing-masing kelompok, sehingga bentuk dan jalur penyampaiannya bisa disesuaikan dan kemudian bisa dipahami sebagaimana mestinya.

Hal lain yang memerlukan perhatian pemerintah untuk dapat memulihkan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah adalah koordinasi yang baik antara seluruh aparat/jajaran pemerintah. Pernyataan dan tindakan yang terkesan kontradiktif antar departemen harus dihindarkan. Sebelum memberikan pernyataan, baik sebagai tanggapan maupun rumusan kebijaksanaan, seyogianya sudah ada pemahaman dan kesepakatan di antara para anggota kabinet dan aparat/jajaran di bawahnya yang terkait. Dengan demikian masyarakat tidak seperti penonton yang kebingungan, sebab tidak ada yang bisa dijadikan pegangan secara jelas, yang akibatnya memunculkan perilaku yang dikembangkan atas interpretasi sendiri. Kondisi ini dapat memunculkan situasi yang rawan bagi kehidupan bersama, sebab tak ada acuan yang jelas dan tak ada kepastian yang bisa dipercaya untuk dijadikan pedoman.

Transparansi atau keterbukaan dalam menjalankan pemerintahan masih perlu dilakukan secara selektif, sesuai karakter masyarakat yang dihadapi supaya tidak berubah menjadi bentuk perilaku yang seenaknya menuntut dan menghujat orang/pihak lain, sedangkan di sisi lain menepuk dada atau menganggap diri paling benar dan bersih. Kehidupan demokrasi yang sesungguhnya harus dijabarkan secara operasional di tiap tingkatan kemampuan masyarakat dalam memahaminya, sesuai karakter kelompok-kelompok yang ada. Pendekatan persuasif dan tidak sekadar responsif sangat diperlukan, yang bisa dilakukan dalam bentuk pendidikan masyarakat dalam hal kesadaran hidup berbangsa dan bernegara, yang menyiratkan rasa kebersamaan, bahu membahu, saling isi, saling melengkapi. Tatanan kehidupan menurut adat dan agama harus jelas posisinya dalam tatanan hukum negara, sehingga aspirasi dan kebutuhan masyarakat bisa tertampung dengan baik dan tidak menimbulkan gejolak yang merugikan kehidupan bersama. Aturan yang meliputi seluruh kehidupan, antara lain dalam ketentuan mengenai tanah adat, kehidupan beragama, kehidupan masyarakat yang berlandaskan bhinneka tunggal ika, kesempatan memperoleh pendidikan/pekerjaan, kenyamanan dan jaminan keamanan dalam bekerja, corak kehidupan perkawinan/keluarga sesuai kondisi jaman perlu ditelaah untuk bisa memenuhi aspirasi masyarakat.

VIII. PENUTUP

Manusia Indonesia Abad 21 Yang Berkualitas Tinggi ditandai oleh lima ciri utama dari aspek-aspek perkembangan yang berlangsung secara seimbang dan selaras, yaitu perkembangan tubuh (fisik), kecerdasan (inteligensi), emosional (afeksi), sosialisasi, spiritual. Pola perawatan, asuhan, dan pendidikan anak hendaknya mengacu pada upaya pengembangan kelima aspek tersebut secara harmonis dan seimbang agar terbentuk pribadi yang sehat, cerdas, peka (sensitif), luwes beradaptasi dan bersandar pada hati nurani dalam bersikap dan bertindak. Dengan demikian meskipun ia berhadapan dengan gaya hidup global, pijakannya pada akar kehidupan tradisional yang menjadi cikal bakal kehidupan bangsa dan negaranya tidak akan hanyut terbawa arus kehidupan global. Justru ia akan dapat memilih dan memutuskan yang terbaik untuk diri, bangsa dan negaranya, baik untuk keperluan jangka pendek maupun jangka panjang. Penegakan hukum dan contoh yang diperlukan sebagai model pembentukan perilaku, baik yang ditunjukkan orang tua maupun masyarakat, menjadi penting.

Kerjasama antar disiplin ilmu dalam memecahkan masalah yang dihadapi saat ini sangat diperlukan. Pembangunan harus diarahkan pada cita-cita bangsa dan negara ketika republik ini didirikan. Kebersamaan menjadi penting untuk dapat menjaga kesatuan dan persatuan. Menyadari keterbatasan kemampuan diri sebagai individu dan kelebihan bekerja sama akan dapat menghindarkan suasana yang saling tuding, saling hujat, saling mencemooh, saling menepuk dada, saling melecehkan, adu kuasa dan adu kekuatan seperti yang tampak sekarang ini. Selain merugikan kehidupan bangsa dan negara, memunculkan ancaman perpecahan, perilaku tersebut tidak akan menempatkan individu dalam proses belajar memahami dan mentaati hukum. Padahal, era globalisasi di abad 21 akan menghadapkan manusia Indonesia pada hukum dan tatanan kehidupan bersama yang lebih luas, tidak hanya dalam batas wilayah Republik Indonesia. Perilaku sadar hukum adalah sebagian dari persyaratan yang diajukan abad 21. Siapkah kita membentuknya? Tahukah kita cara membentuknya? Jawaban pertanyaan ini akan menentukan corak individu yang menandai masyarakat Indonesia abad 21, apakah kita akan menjadi bangsa yang mengalami “learned helplessness”, apatis, tidak percaya diri dan tidak mampu bersaing di tatanan global atau menjadi bangsa yang memiliki self-efficacy, percaya diri dan mampu bersaing di tatanan global.

Agar bangsa dan negara ini tidak semakin terpuruk karena terpaksa mengalami “learned helplessness” seharusnya pemerintah dan masyarakat mampu menumbuhkan motivasi berprestasi tinggi atau dikenal sebagai need for achievement (Mc Clelland). Menurut teori Maslow, manusia Indonesia harus didorong sampai pengembangan motivasi untuk mampu mengaktualisasi diri dan tidak terhenti pada motivasi pemenuhan kebutuhan hidup yang mendasar saja.

Dalam kaitan dengan pembangunan selanjutnya, ada pertanyaan yang masih harus dijawab, terutama mengacu pada pengalaman kita selama ini, akankah kita masih terkotak-kotak dalam menyelenggarakan pembangunan? Dapatkah kita menempatkan manusia sebagai individu dengan segala keunikannya sehingga tidak memperlakukannya sebagai obyek semata? Atau kita masih tetap beranggapan bahwa masyarakat yang terdiri dari kumpulan individu adalah sekadar obyek, yang bisa diatasi dengan “dua K” yaitu kekuatan dan kekuasaan. Kalau jawabannya “Ya,” maka cita-cita untuk mewujudkan Manusia Indonesia Abad 21 Yang Berkualitas Tinggi barangkali cuma angan-angan, seperti membangun rumah di atas angin.

DAFTAR PUSTAKA

Bandura, A. (1986). Social Foundations of Thought and Action: A Social Cognitive Theory. Englewood, New Jersey: Prentice Hall, Inc

Deaux, K., Dane, F.C., Wrightsman, L.S., In association with Sigelman, C.K. (1993). Social Psychology in the ‘90s (6th Ed.). Pacific Groove, California: Brooks/Cole Publishing Company.

Feldman, R.S. (1990): Understanding Psychology (2nd Ed). Mc Graw Hill Publishing Company.

FOPI (1998): Kerangka Acuan “Curah Pikir” Manusia Indonesia Abad 21 Yang Berkualitas Tinggi. FOPI. Jakarta, Agustus 1998

Friedman, L.M. (1984). Legal Culture: Legitimacy and Morality. In American Law. London: W.W. Norton Company.

Golding, M.P. (1975), Philosophy of Law. Englewood, New Jersey: Prentice Hall, Inc.

Himpsi (1991): Membangun Manusia Tangguh Dalam Era Globalisasi, kumpulan makalah Kongres V dan Temu Ilmiah ISPSI (sekarang Himpsi), Semarang 4-7 Desember 1991. Himpsi Pusat.

Himpsi (1998): Pokok-Pokok Pemikiran Himpsi tentang Upaya Penegakan Hukum di Indonesia Dalam Rangka Memulihkan Kepercayaan Masyarakat Kepada Pemerintah, konsep masukan kepada pemerintah. Himpsi Pusat, Agustus 1998.

Lev, D.S. (1990). Hukum dan Politik di Indonesia. Penerjemah, Nirwono dan A.K. Priyono. Jakarta LP3ES.

Macionis, J.J. (1996): Society, The Basics (3rd Ed). Upper Saddle River, New Jersey. Prentice Hall, Inc.

Martin, G. & Pear, J. (1992). Behavior Modification (4th Ed.). Englewood, New Jersey: Prentice Hall, Inc.

Poernomo SS, I (1997): Era Globalisasi, Tantangan atau Ancaman? Makalah disampaikan pada Acara Seminar Sehari “Kiat-Kiat Mendidik Anak Dalam Menyongsong Era Globalisasi” diselenggarakan oleh Ikatan Isteri Dokter Indonesia Cabang Jakarta Barat, Jakarta 6 September 1997.

Poernomo SS, I (1998): Saat Tepat Mengajar Anak Hidup Susah. Makalah disampaikan pada acara Temu Pakar dan Pembaca, diselenggarakan oleh Majalah Ayahbunda, Jakarta 28 Agustus 1998.

Poespowardojo, S (1998). Kondisi Budaya Dewasa ini dan Implikasinya bagi Dunia Pendidikan. Makalah disampaikan dalam pertemuan Konsep Pendidikan Tinggi Katolik di Universitas Katolik Atma Jaya Yogyakarta, 16 Januari.

Seran, A. (1997). Hukum dan Moral: Refleksi Etis Atas Paham Mengenai Hukum Yang Baik. Atma Jaya, Tahun X No. 3, 1-15.

Setiadi, B.N. & Indarwahyanti G, B.K. (1998): Peranan Hukum Dalam Pembaharuan Pola Perilaku Masyarakat. Makalah disampaikan pada Simposium Kepedulian Universitas Indonesia terhadap Tatanan Masa Depan Indonesia, Depok 30 Maret-1 April 1998

Pendidikan yang Humanis

Diposting oleh Theodore Suwariyanto

Penyunting : Fat Hurrahman

25.10.2004

Pada hakikatnya seorang pendidik adalah seorang fasilitator. Fasilitator baik dalam aspek kognitif, afektif, psikomotorik, maupun konatif. Seorang pendidik hendaknya mampu membangun suasana belajar yang kondusif untuk belajar-mandiri (self-directed learning). Ia juga hendaknya mampu menjadikan proses pembelajaran sebagai kegiatan eksplorasi diri. Galileo menegaskan bahwa sebenarnya kita tidak dapat mengajarkan apapun, kita hanya dapat membantu peserta didik untuk menemukan dirinya dan mengaktualisasikan dirinya. Setiap pribadi manusia memiliki “self-hidden potential excellece” (mutiara talenta yang tersembunyi di dalam diri), tugas pendidikan yang sejati adalah membantu peserta didik untuk menemukan dan mengembangkannya seoptimal mungkin.

PENDIDIKAN YANG HUMANIS

A. PENGANTAR

Pada hakikatnya seorang pendidik adalah seorang fasilitator. Fasilitator baik dalam aspek kognitif, afektif, psikomotorik, maupun konatif. Seorang pendidik hendaknya mampu membangun suasana belajar yang kondusif untuk belajar-mandiri (self-directed learning). Ia juga hendaknya mampu menjadikan proses pembelajaran sebagai kegiatan eksplorasi diri. Galileo menegaskan bahwa sebenarnya kita tidak dapat mengajarkan apapun, kita hanya dapat membantu peserta didik untuk menemukan dirinya dan mengaktualisasikan dirinya. Setiap pribadi manusia memiliki “self-hidden potential excellece” (mutiara talenta yang tersembunyi di dalam diri), tugas pendidikan yang sejati adalah membantu peserta didik untuk menemukan dan mengembangkannya seoptimal mungkin.

Seorang pendidik yang efektif, tidak hanya efektif dalam kegiatan belajar mengajar di kelas saja (transfer of knowledge), tetapi lebih-lebih dalam relasi pribadinya dan “modeling”nya (transfer of attitude and values), baik kepada peserta didik maupun kepada seluruh anggota komunitas sekolah. Pendidikan yang humanis menekankan bahwa pendidikan pertama-tama dan yang utama adalah bagaimana menjalin komunikasi dan relasi personal antara pribadi-pribadi dan antar pribadi dan kelompok di dalam komunitas sekolah. Relasi ini berkembang dengan pesat dan menghasilkan buah-buah pendidikan jika dilandasi oleh cintakasih antar mereka. Pribadi-pribadi hanya berkembang secara optimal dan relatif tanpa hambatan jika berada dalam suasana yang penuh cinta (unconditional love), hati yang penuh pengertian (understanding heart) serta relasi pribadi yang efektif (personal relationship). Dalam mendidik seseorang kita hendaknya mampu menerima diri sebagaimana adanya dan kemudian mengungkapkannya secara jujur (modeling). Mendidik tidak sekedar mentransfer ilmu pengetahuan, melatih keterampilan verbal kepada para peserta didik, namun merupakan bantuan agar peserta didik dapat menumbuhkembangkan dirinya secara optimal.

Mendidik yang efektif pada dasarnya merupakan kemampun seseorang menghadirkan diri sedemikian sehingga pendidik memiliki relasi bermakna pendidikan dengan para peserta didik sehingga mereka mampu menumbuhkembangkan dirinya menjadi pribadi dewasa dan matang. Pendidikan yang efektif adalah yang berpusat pada siswa atau pendidikan BAGI siswa. Dasar pendidikannya adalah apa yang menjadi “dunia”, minat, dan kebutuhan-kebutuhan peserta didik. Pendidik membantu peserta didik untuk menemukan, mengembangkan dan mencoba mempraktikkan kemampuan-kemampuan yang mereka miliki (the learners-centered teaching). Ciri utama pendidikan yang berpusat pada siswa adalah bahwa pendidik menghormati, menghargai dan menerima siswa sebagaimana adanya. Komunikasi dan relasi yang efektif sangat diperlukan dalam model pendidikan yang berpusat pada siswa, sebab hanya dalam suasana relasi dan komunikasi yang efektif, peserta didik akan dapat mengeksplorasi dirinya, mengembangkan dirinya dan kemudian mem- “fungsi” -kan dirinya di dalam masyarakat secara optimal.

Tujuan sejati dari pendidikan seharusnya adalah pertumbuhan dan perkembangan diri peserta didik secara utuh sehingga mereka menjadi pribadi dewasa yang matang dan mapan, mampu menghadapi berbagai masalah dan konflik dalam kehidupan sehari-hari. Agar tujuan ini dapat tercapai maka diperlukan sistem pembelajaran dan pendidikan yang humanis serta mengembangkan cara berpikir aktif-positif dan keterampilan yang memadai (income generating skills). Pendidikan dan pembelajaran yang bersifat aktif-positif dan berdasarkan pada minat dan kebutuhan siswa sangat penting untuk memperoleh kemajuan baik dalam bidang intelektual, emosi/perasaan (EQ), afeksi maupun keterampilan yang berguna untuk hidup praktis. Tujuan pendidikan pada hakikatnya adalah memanusiakan manusia muda (N. Driyarkara). Pendidikan hendaknya membantu peserta didik untuk bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi-pribadi yang lebih bermanusiawi (semakin “penuh” sebagai manusia), berguna dan berpengaruh di dalam masyarakatnya, yang bertanggungjawab dan bersifat proaktif dan kooperatif. Masyarakat membutuhkan pribadi-pribadi yang handal dalam bidang akademis, keterampilan atau keahlian dan sekaligus memiliki watak atau keutamaan yang luhur. Singkatnya pribadi yang cerdas, berkeahlian, namun tetap humanis.

B. PERMASALAHAN

Masih banyak persoalan yang menjadi beban pengelolaan pendidikan dan pengajaran. Mulai dari beban ajar yang terlalu banyak dan padat, sampai pada profesionalitas guru yang masih belum memadai dan penghargaan finansial terhadap para pendidik yang masih sangat rendah. Dalam bahasan ini masalah yang terkait erat adalah standar keberhasilan belajar yang masih menekankan bidang intelektual dan sekaligus sentralisasi standar mutu (UNAS: Ujian Nasional), yang mengakibatkan masyarakat terjerumus pada keyakinan bahwa hasil UNAS adalah satu-satunya ukuran keberhasilan peserta didik dan juga sekolah sebagai lembaga pendidikan. Hasil UNAS menentukan ranking mutu sekolah, tanpa memperhatikan banyak aspek lain yang mungkin diperoleh oleh peserta didik atau lembaga sekolah yang ada. Singkatnya sistem evaluasi dan UNAS yang diselenggarakan masih mengkerdilkan peserta didik sebagai pribadi manusia dan sekolah sebagai lembaga pendidikan, menjadi satu aspek saja yaitu kecerdasan yang diukur oleh UNAS (kasarnya soal pilihan ganda atau benar salah).

Pada jaman kemajuan teknologi sekarang ini, sebagian besar manusia dipengaruhi perilakunya oleh pesatnya perkembangan dan kecanggihan teknologi (teknologi informasi). Banyak orang terbuai dengan teknologi yang canggih, sehingga melupakan aspek-aspek lain dalam kehidupannya, seperti pentingnya membangun relasi dengan orang lain, perlunya melakukan aktivitas sosial di dalam masyarakat, pentingnya menghargai sesama lebih daripada apa yang berhasil dibuatnya, dan lain-lain. Seringkali teknologi yang dibuat manusia untuk membantu manusia tidak lagi dikuasai oleh manusia tetapi sebaliknya manusia yang terkuasai oleh kemajuan teknologi. Manusia tidak lagi bebas menumbuhkembangkan dirinya menjadi manusia seutuhnya dengan segala aspeknya. Keberadaan manusia pada zaman ini seringkali diukur dari “to have” (apa saja materi yang dimilikinya) dan “to do” (apa saja yang telah berhasil/tidak berhasil dilakukannya) daripada keberadaan pribadi yang bersangkutan (“to be” atau “being”nya). Dalam pendidikan perlu ditanamkan sejak dini bawa keberadaan seorang pribadi, jauh lebih penting dan tentu tidak persis sama dengan apa yang menjadi miliknya dan apa yang telah dilakukannya. Sebab manusia tidak sekedar pemilik kekayaan dan juga menjalankan suatu fungsi tertentu. Pendidikan yang humanis menekankan pentingnya pelestarian eksistensi manusia, dalam arti membantu manusia lebih manusiawi, lebih berbudaya, sebagai manusia yang utuh berkembang (menurut Ki Hajar Dewantara menyangkut daya cipta (kognitif), daya rasa (afektif), dan daya karsa (konatif). Singkatnya, “educate the head, the heart, and the hand !”

Masalah pendidikan yang cukup penting untuk dibenahi adalah proses pembelajaran yang hanya menekankan pada aspek hafalan, ingatan, “memorizing” belaka. Ini disebabkan beberapa faktor; guru mengajar hanya menggunakan metode ceramah melulu, bentuk soal yang hanya pilihan berganda, penanaman pengetahuan yang tidak sampai pada konsep/pengertian dan nilai, dan suasana kelas yang aktif-negatif (seperti misalnya aktif mendengarkan, aktif mencatat) namun tidak aktif-positif (seperti misalnya aktif bertanya, aktif berdiskusi, aktif melakukan percobaan, aktif “mengalami”, aktif merefleksikan). Oleh karena itu kalau pendidikan mau benar-benar membantu peserta didik untuk menumbuhkembangkan aspek-aspek dirinya, perlu dikembangkan pendidikan yang tidak hanya menekankan aspek ingatan, hafalan, memorizing (berbasis materi), namun sampai pada aspek penalaran dan kemampuan menggunakan keterampilan secara baik serta sifat berpikir yang aktif positif. Pembelajaran dan pendidikan yang menjadikan peserta didik memiliki kompetensi tertentu.Dalam hal ini pembelajaran tujuh kebiasaan manusia efektif yang dikemukakan oleh Stephen R. Covey sangat bermanfaat untuk dikembangkan dalam dunia pendidikan. Penting pula menerapkan pendidikan dan pembelajaran berdasarkan kecerdasan jamak yang dikemukakan oleh Howard Gardner. Penting pula bahwa setiap institusi pendidikan menerapkan pendidikan nilai sesuai dengan tingkat dan jenisnya.

Di tengah-tengah maraknya globalisasi komunikasi dan teknologi, manusia makin bersikap individualis. Mereka “gandrung teknologi”, asyik dan terpesona dengan penemuan-penemuan/barang-barang baru dalam bidang iptek yang serba canggih, sehingga cenderung melupakan kesejahteraan dirinya sendiri sebagai pribadi manusia dan semakin melupakan aspek sosialitas dirinya. Oleh karena itu, pendidikan dan pembelajaran hendaknya diperbaiki sehingga memberi keseimbangan pada aspek individualitas ke aspek sosialitas atau kehidupan kebersamaan sebagai masyarakat manusia. Pendidikan dan pembelajaran hendaknya juga dikembalikan kepada aspek-aspek kemanusiaan yang perlu ditumbuhkembangkan pada diri peserta didik.

C. ASPEK-ASPEK KEMANUSIAAN

Manusia adalah makhluk multidimensional yang dapat ditelaah dari berbagai sudut pandang. Eduart Spranger (1950), melihat manusia sebagai makhluk jasmani dan rohani. Yang membedakan manusia dengan makhluk lain adalah aspek kerohaniannya. Manusia akan menjadi sungguh-sungguh manusia kalau ia mengembangkan nilai-nilai rohani (nilai-nilai budaya), yang meliputi: nilai pengetahuan, keagamaan, kesenian, ekonomi, kemasyarakatan dan politik.

Howard Gardner (1983) menelaah manusia dari sudut kehidupan mentalnya khususnya aktivitas inteligensia (kecerdasan). Menurut dia, paling tidak manusia memiliki 7 macam kecerdasan yaitu:

1. Kecerdasan matematis/logis: yaitu kemampuan penalaran ilmiah, penalaran induktif/deduktif, berhitung/angka dan pola-pola abstrak.

2. Kecerdasan verbal/bahasa: yaitu kemampuan yang berhubungan dengan kata/bahasa tertulis maupun lisan. (sebagian materi pelajaran di sekolah berhubungan dengan kecerdasan ini)

3. Kecerdasan interpersonal: yaitu kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan berelasi dengan orang lain, berkomunikasi antar pribadi

4. Kecerdasan fisik/gerak/badan: yaitu kemampuan mengatur gerakan badan, memahami sesuatu berdasar gerakan

5. Kecerdasan musikal/ritme: yaitu kemampuan penalaran berdasarkan pola nada atau ritme. Kepekaan akan suatu nada atau ritme

6. Kecerdasan visual/ruang/spasial: yaitu kemampuan yang mengandalkan penglihatan dan kemampuan membayangkan obyek. Kemampuan menciptakan gambaran mental.

7. Kecerdasan intrapersonal: yaitu kemampuan yang berhubungan dengan kesadaran kebatinannya seperti refleksi diri, kesadaran akan hal-hal rohani.

Kecerdasan inter dan intra personal ini selanjutnya oleh Daniel Goleman (1995) disebut dengan kecerdasan emosional. Ternyata pula bahwa sebagian besar kegiatan kecerdasan logis matematis dan kecerdasan verbal bahasa dilakukan dibelahan otak kiri. Sedangkan kegiatan kecerdasan lainnya dilakukan pada otak kanan (intra personal, interpersonal, visual-ruang, gerak-badan, dan musik-ritme). Penting pula dengan demikian bahwa nilai akademik dan tingkah laku dibedakan. Hukuman akademik dan hukuman “kepribadian” dipisahkan. Sayang bahwa hanya kecerdasan logis-matematis dan verbal-bahasa yang dikembangkan di sekolah, sedangkan yang lainnya hanya sedikit sekali. Hal ini tentu merugikan siswa sebab tidak semua bakat dan kemampuannya dieksplorasi dan dikembangkan, dan juga fatal bagi sebagian siswa yang memiliki kelebihan kecerdasan di otak kanan. Betapa pentingnya dalam dunia pendidikan kita mengusahakan proses pembelajaran dan pendidikan yang mengembangkan aktivitas baik otak kanan maupun otak kiri, yang mengembangkan semua aspek kemanusiaan perseorangan.

Ki Hajar Dewantara, pendidik asli Indonesia, melihat manusia lebih pada sisi kehidupan psikologiknya. Menurutnya manusia memiliki daya jiwa yaitu cipta, karsa dan karya. Pengembangan manusia seutuhnya menuntut pengembangan semua daya secara seimbang. Pengembangan semua daya secara seimbang. Pengembangan yang terlalu menitikberatkan pada satu daya saja akan menghasilkan ketidakutuhan perkembangan sebagai manusia. Beliau mengatakan bahwa pendidikan yang menekankan pada aspek intelektual belaka hanya akan menjauhkan peserta didik dari masyarakatnya. Dan ternyata pendidikan sampai sekarang ini hanya menekankan pada pengembangan daya cipta, dan kurang memperhatikan pengembangan olah rasa dan karsa. Jika berlanjut terus akan menjadikan manusia kurang humanis atau manusiawi.

Dari titik pandang sosio-anthropologis, kekhasan manusia yang membedakannya dengan makhluk lain adalah bahwa manusia itu berbudaya, sedangkan makhluk lainnya tidak berbudaya. Maka salah satu cara yang efektif untuk menjadikan manusia lebih manusiawi adalah dengan mengembangkan kebudayaannya. Persoalannya budaya dalam masyarakat itu berbeda-beda. Dalam masalah kebudayaan berlaku pepatah:”Lain lading lain belalang, lain lubuk lain ikannya.” Manusia akan benar-benar menjadi manusia kalau ia hidup dalam budayanya sendiri. Manusia yang seutuhnya antara lain dimengerti sebagai manusia itu sendiri ditambah dengan budaya masyarakat yang melingkupinya.

D. PEMBAHARUAN INSTITUSI PENDIDIKAN

Perlu diusahakan pembaharuan yang menyeluruh dalam institusi pendidikan. Pertama adalah usaha restrukturisasi yaitu proses pelembagaan keyakinan, nilai dan norma baru tentang fungsi dasar, proses dan struktur suatu lembaga untuk menjamin kepastian, keadilan, dan pemanfaatan usaha pendidikan itu sendiri. Pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah sangat mendukung usaha restrukturisasi ini, asal dilaksanakan dengan baik dan tepat. Desentralisasi pendidikan merupakan salah satu bentuk dari restrukturisasi. Kedua adalah rekulturisasi: yaitu proses pembudayaan perilaku seseorang atau kelompok atas keyakinan, nilai dan norma baru yang diharapkan. Pembudayaan nilai kreativitas, otonomi/kemandirian, dan relevansi pendidikan merupakan kunci rekulturasi. UNESCO merekomendasikan pembaharuan pendidikan dan pembelajaran yang amat menunjang proses ini, pada lima konsep pokok paradigma pembelajaran dan pendidikan, yaitu:

a. Learning to know: guru hendaknya mampu menjadi fasilitator bagi peserta didiknya. Information supplier (ceramah, putar pita kaset) sudah tidak jamannya lagi. Peserta didik dimotivasi sehingga timbul kebutuhan dari dirinya sendiri untuk memperoleh informasi, keterampilan hidup (income generating skills), dan sikap tertentu yang ingin dikuasainya.

b. Learning to do: peserta didik dilatih untuk secara sadar mampu melakukan suatu perbuatan atau tindakan produktif dalam ranah pengetahuan, perasaan dan penghendakan. Peserta didik dilatih untuk aktif-positif daripada aktif-negatif. Pengajaran yang hanya menekankan aspek intelektual saja sudah usang.

c. Learning to live together: ini adalah tanggapan nyata terhadap arus deras spesialisme dan individualisme. Nilai baru seperti kompetisi, efisiensi, keefektifan, kecepatan, telah diterapkan secara keliru dalam dunia pendidikan. Sebagai misal, sebenarnya kompetisi hanya akan bersifat adil kalau berada dalam paying kooperatif dan didasarkan pada kesamaan kemampuan, kesempatan, lingkup, sarana, tanpa itu semua hanyalah merupakan kompetisi yang akan mengakibatkan yang “kalah” akan selalu “kalah”. Sekolah sebagai suatu masyarakat mini seharusnya mengajarkan “cooperatif learning”, kerjasama dan bersama-sama, dan bukannya pertandingan intelektualistik semata-mata, yang hanya akan menjadikan manusia pandai tetapi termakan oleh kepandaiannya sendiri dan juga membodohi orang lain. Sekolah menjadi suatu paguyuban penuh kekeluargaan dan mengembangkan daya cipta, rasa dan karsa, atau aspek-aspek kemanusiaan manusia.

d. Learning to be: dihayati dan dikembangkan untuk memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Setiap peserta didik memiliki harga diri berdasarkan diri yang senyatanya. Peserta didik dikondisikan dalam suasana yang dipercaya, dihargai, dan dihormati sebagai pribadi yang unik, merdeka, berkemampuan, adanya kebebasan untuk mengekspresikan diri, sehingga terus menerus dapat menemukan jati dirinya. Subyek didik diberikan suasana dan sistem yang kondusif untuk menjadi dirinya sendiri.

e. Learning throughout life yaitu bahwa pembelajaran tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu. Pembelajaran dan pendidikan berlangsung seumur hidup. Pelaku pendidikan formal hendaknya berorientasi pada proses dan bukan pada hasil atau produk semata.

Ketiga adalah refigurasi yaitu proses perekayasaan figur atau tokoh sebagai model atau teladan (kepala sekolah, guru, pamong, orang tua) agar yang bersangkutan memiliki kemampuan dan kesanggupan melembagakan dan membudayakan keyakinan, nilai dan norma baru pendidikan yang diharapkan. Pelaku pendidikan hendaknya menuntut dirinya untuk menjadi figur, model panutan, teladan bagi peserta didik. Kita sekarang ini lagi menderita kemiskinan idola pendidik. Proses pendidikan sebenarnya juga merupakan proses mempengaruhi orang lain. Pendidik memberikan pengaruhnya kepada para peserta didik. Pendidik menyediakan diri sebagai teladan yang patut diteladani dan menjadi kebanggaan bagi peserta didik, terutama kepribadiannya secara menyeluruh. Pendidik hendaknya sadar bahwa dirinya merupakan teladan kedewasaan, kematangan perasaan, efektivitas dan integritas pribadinya. Maka kualitas kepribadian pendidik sangat menentukan dalam proses pendidikan. Namun yang lebih penting lagi adalah mutu dan tanggungjawab relasi dan komunikasi pribadi yang dibangunnya dengan seluruh anggota komunitas sekolah.

E. PEMIKIRAN FILOSOFIS KI HAJAR DEWANTARA TENTANG PENDIDIKAN

Ki Hajar Dewantara sendiri dengan mengubah namanya tersebut ingin menunjukkan perubahan sikapnya dalam melaksanakan pendidikan yaitu dari satria pinandita ke pinandita satria yaitu dari pahlawan yang berwatak guru spiritual ke guru spiritual yang berjiwa ksatria, yang mempersiapkan diri dan peserta didik untuk melindungi bangsa dan negara. Bagi Ki Hajar Dewantara, para guru hendaknya menjadi pribadi yang bermutu dalam kepribadian dan kerohanian, baru kemudian menyediakan diri untuk menjadi pahlawan dan juga menyiapkan para peserta didik untuk menjadi pembela nusa dan bangsa. Dengan kata lain, yang diutamakan sebagai pendidik pertama-tama adalah fungsinya sebagai model atau figur keteladanan, baru kemudian sebagai fasilitator atau pengajar. Oleh karena itu, nama Hajar Dewantara sendiri memiliki makna sebagai guru yang mengajarkan kebaikan, keluhuran, keutamaan. Pendidik atau Sang Hajar adalah seseorang yang memiliki kelebihan di bidang keagamaan dan keimanan, sekaligus masalah-masalah sosial kemasyarakatan. Modelnya adalah Kyai Semar (menjadi perantara antara Tuhan dan manusia, mewujudkan kehendak Tuhan di dunia ini). Sebagai pendidik yang merupakan perantara Tuhan maka guru sejati sebenarnya adalah berwatak pandita juga, yaitu mampu menyampaikan kehendak Tuhan dan membawa keselamatan.

Manusia merdeka adalah tujuan pendidikan Taman Siswa. Merdeka baik secara fisik, mental dan kerohanian. Namun kemerdekaan pribadi ini dibatasi oleh tertib damainya kehidupan bersama dan ini mendukung sikap-sikap seperti keselarasan, kekeluargaan, musyawarah, toleransi, kebersamaan, demokrasi, tanggungjawab dan disiplin. Sedangkan maksud pendirian Taman Siswa adalah membangun budayanya sendiri, jalan hidup sendiri dengan mengembangkan rasa merdeka dalam hati setiap orang melalui media pendidikan yang berlandaskan pada aspek-aspek nasional. Landasan filosofisnya adalah nasionalistik dan universalistik. Nasionalistik maksudnya adalah budaya nasional, bangsa yang merdeka dan independen baik secara politis, ekonomis, maupun spiritual. Universal artinya berdasarkan pada hukum alam (natural law), segala sesuatu merupakan perwujudan dari kehendak Tuhan. Prinsip dasarnya adalah kemerdekaan, merdeka dari segala hambatan cinta, kebahagiaan, keadilan, dan kedamaian tumbuh dalam diri (hati) manusia. Suasana yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan adalah suasana yang berprinsip pada kekeluargaan, kebaikan hati, empati, cintakasih dan penghargaan terhadap masing-masing anggotanya. Maka hak setiap individu hendaknya dihormati; pendidikan hendaknya membantu peserta didik untuk menjadi merdeka dan independen secara fisik, mental dan spiritual; pendidikan hendaknya tidak hanya mengembangkan aspek intelektual sebab akan memisahkan dari orang kebanyakan; pendidikan hendaknya memperkaya setiap individu tetapi perbedaan antara masing-masing pribadi harus tetap dipertimbangkan; pendidikan hendaknya memperkuat rasa percaya diri, mengembangkan harga diri; setiap orang harus hidup sederhana dan guru hendaknya rela mengorbankan kepentingan-kepentingan pribadinya demi kebahagiaan para peserta didiknya. Peserta didik yang dihasilkan adalah peserta didik yang berkepribadian merdeka, sehat fisik, sehat mental, cerdas, menjadi anggota masyarakat yang berguna, dan bertanggungjawab atas kebahagiaan dirinya dan kesejahteraan orang lain. Metode yang yang sesuai dengan sistem pendidikan ini adalah sistem among yaitu metode pengajaran dan pendidikan yang berdasarkan pada asih, asah dan asuh (care and dedication based on love). Yang dimaksud dengan manusia merdeka adalah seseorang yang mampu berkembang secara utuh dan selaras dari segala aspek kemanusiaannya dan yang mampu menghargai dan menghormati kemanusiaan setiap orang. Oleh karena itu bagi Ki Hajar Dewantara pepatah ini sangat tepat yaitu “educate the head, the heart, and the hand.

F. APA SAJA YANG DIPERLUKAN?

Sistem pendidikan hendaknya berpusat pada peserta didik, artinya kurikulum, administrasi, kegiatan ekstrakurikuler maupun kokurikulernya, sistem pengelolaannya harus dirumuskan dan dilaksanakan demi kepentingan peserta didik, bukan demi kepentingan guru, sekolah atau lembaga lain. Pendidikan yang hanya memusatkan pada kepentingan kebutuhan kerja secara sempit harus dikembalikan kepada kepentingan pertumbuhan dan perkembangan kepribadian peserta didik secara utuh. Seperti misalnya kemampuan bernalar, berpikir aktif-positif, kreatif, menemukan alternatif dan prosesnya menjadi pribadi yang utuh (process of becoming). Peserta didik hendaknya benar-benar dikembalikan sebagai subyek (dan juga obyek) pendidikan dan bukannya obyek semata-mata.

Kemajuan iptek dan mengglobalnya dunia informasi dan komunikasi sebenarnya membutuhkan pribadi-pribadi yang matang dan berwatak. Ternyata pendidikan di masa lampau lebih menekankan manusia menjadi cerdas logis matematis dan bahasa, namun tidak memiliki watak yang tangguh dan bermoral luhur. Maka pentinglah pemberian otonomi pendidikan pada sekolah masing-masing untuk menentukan visi dan misinya dan melaksanakannya sehingga menghasilkan peserta didik yang selain cerdas, berkeahlian sekaligus berkepribadian tangguh. Untuk ini diperlukan tenaga-tenaga professional, karena membutuhkan kemampuan-kemampuan seorang guru sebagai “Artist, scientist, and technologist.”

Karena semakin kompleksnya pelaksanaan pendidikan pada zaman yang akan datang, maka pentinglah bahwa seorang kepala sekolah perlu memiliki sikap kepemimpinan sekolah (school leadership) dan keterampilan mengelola pendidikan (educational management). Seorang calon Kepala Sekolah perlu mendapatkan training secara menyeluruh tentang mutu kepribadian, kepemimpinan sekolah dan pengelolaan pendidikan. Sistem kepemimpinan yang partisipatif, delegatif, terbuka dan selalu melihat ke depan tanpa melupakan evaluasi sangat dibutuhkan pada zaman sekarang ini. Strategi yang digunakan adalah optimalisasi semua komponen sekolah seperti kesiapan peserta didik, motivasi dan usaha keras sekolah, dukungan keluarga dan masyarakat (komite sekolah). Jika sarana, peserta didik, dan lingkungan optimal, ditambah dengan proses belajar mengajar yang efektif, dinamis dan berkualitas, maka kualitas lulusan akan seperti yang diharapkan dalam visi dan misi serta jabarannya.

Di masa mendatang para pendidik (guru) hendaknya bergairah dan terlatih untuk mengetahui potret dirinya di kelas. Penelitian kelas hendaknya dilakukan untuk melihat potret dirinya selaku pendidik, pengajar, dan sebagai pribadi. Bagaimana penilaian peserta didik tentang para gurunya, sebagai pendidik, pengajar dan juga sebagai seorang pribadi. Guru juga perlu meningkatkan tingkat akademik dan profesionalitasnya (beban sosial ekonomi sering menjadi hambatan, maka peningaktan kesejahteraan perlu). Guru yang efektif memiliki keunggulan dalam mengajar (fasilitator); dalam hubungan (relasi dan komunikasi) dengan peserta didik dan anggota komunitas sekolah; dan juga relasi dan komunikasinya dengan pihak lain (orang tua, komite sekolah, pihak terkait); segi administrasi sebagai guru; dan sikap profesionalitasnya. Sikap-sikap professional itu meliputi antara lain: keinginan untuk memperbaiki diri dan keinginan untuk mengikuti perkembangan zaman. Maka penting pula membangun suatu etos kerja yang positif yaitu: menjunjung tinggi pekerjaan; menjaga harga diri dalam melaksanakan pekerjaan, dan keinginan untuk melayani masyarakat. Dalam kaitan dengan ini penting juga performance/penampilan seorang profesional: secara fisik, intelektual, relasi sosial, kepribadian, nilai-nilai dan kerohanian serta mampu menjadi motivator. Singkatnya perlu adanya peningkatan mutu kinerja yang professional, produktif dan kolaboratif demi pemanusiaan secara utuh setiap peserta didik.

Perlu juga diusahakan suatu pengelolaan kelas dengan perspektif baru. Pengelolaan kelas tidak sekedar pada hal-hal teknis atau menyangkut strategi belaka, namun lebih menyangkut faktor pribadi-pribadi peserta didik yang ada di kelas tersebut. Pengelolaan kelas tidak dapat dilepaskan dari aspek manusiawi dari pembelajaran dan pengajaran. Pengelolaan kelas yang ditekankan pada bagaimana mengelola pribadi-pribadi yang ada akan lebih menolong dan mendukung perkembangan pribadi, baik pribadi peserta didik maupun pribadi gurunya. Kelas yang dikelola dengan cara demikian, peserta didik tidak hanya akan berkembang intelektualtasnya saja, namun juga aspek aspek afektif, konatif, dan sosialitasnya. Sebab belajar ternyata tidak hanya terbatas pada aspek intelektual tetapi juga aspek perasaan, perhatian, keterampilan dan kreativitas. Proses belajar hanya efektif jika ada relasi dan komunikasi yang bermutu antara pendidik dan peserta didik dan peserta didik dengan peserta didik. Guru yang tidak menyampaikan kualitas dan makna hidupnya dalam setiap mata pelajaran yang diembannya kepada anak, tidak akan banyak berpengaruh pada perkembangan kepribadian anak. Kelas atau kegiatan belajar mengajar hendaknya menjadi suasana yang menggairahkan dan mengasyikkan untuk kegiatan eksplorasi diri dan menemukan identitas diri. Maka pengajaran secara integral mesti berkaitan dengan pendidikan nilai.

Pendidikan yang benar adalah suatu usaha pembinaan pribadi manusia untuk mencapai tujuan akhirnya (perilaku hubungan dengan Tuhan dan diri sendiri) dan sekaligus untuk kepentingan masyarakat (perilaku hubungan dengan diri sendiri, keluarga, masyarakat dan alam sekitarnya). Secara singkat dikatakan bahwa pendidikan nilai adalah suatu proses dimana seseorang menemukan maknanya sebagai pribadi pada saat dimana nilai-nilai tertentu memberikan arti pada jalan hidupnya. Proses ini menyangkut “perjalanan menuju ke kedalaman diri sendiri”, menyentuh bagian-bagian terdalam diri manusia, seperti daya refleksi, introspeksi, analisa dan kemampuan menemukan diri sendiri dan betapa besar harga dirinya. Pendidikan nilai menyangkut ranah daya cipta, rasa dan karsa, menyentuh seluruh pengalaman seseorang. Faktor-faktor penting dalam pengelolaan kelas yang pertama adalah faktor gurunya, kemudian faktor kedisiplinan, terus evaluasi atau penilaian bagi peserta didik.

Pendekatan pembelajaran humanis memandang manusia sebagai subyek yang bebas merdeka untuk menentukan arah hidupnya. Manusia bertanggungjawab penuh atas hidupnya sendiri dan juga atas hidup orang lain. Pendekatan yang lebih tepat digunakan dalam pembelajaran yang humanis adalah pendekatan dialogis, reflektif, dan ekspresif. Pendekatan dialogis mengajak peserta didik untuk berpikir bersama secara kritis dan kreatif. Pendidik tidak bertindak sebagai guru melainkan fasilitator dan partner dialog; pendekatan reflektif mengajak peserta didik untuk berdialog dengan dirinya sendiri; sedangkan pendekatan ekspresif mengajak peserta didik untuk mengekspresikan diri dengan segala potensinya (realisasi dan aktulisasi diri). Dengan demikian pendidik tidak mengambil alih tangungjawab, melainkan sekedar membantu dan mendampingi peserta didik dalam proses perkembangan diri, penentuan sikap dan pemilahan nilai-nilai yang akan diperjuangkannya.

Salah satu hal yang perlu dipertimbangkan dalam mengadakan pembaharuan pendidikan adalah perumusan dasar filosofi pendidikan, misi dan visi setiap unit kerja, strategi dan perencanaan untuk mencapai tujuan yang banyak membantu dan menjadi pedoman dalam pelaksanaan kegiatan sehari-hari. Tanpa itu semua, suatu lembaga pendidikan akan bekerja serampangan dan tidak tahu ukuran apa yang akan dipakai untuk mengukur keberhasilan dan kegagalan segala kegiatan yang ada. Warna sistem pendidikan dan pengelolaannya sangat tergantung dari dasar filosofi, visi dan misi yang dimiliki oleh suatu lembaga pendidikan. Pelaksanaan yang secara konsisten dan konsekuen akan dengan sendirinya membentuk identitas yang membedakan dengan lembaga sekolah lain. Hal-hal ini pula yang akan memberikan roh yang menjiwai dan menggerakkan semua pelaku pendidikan untuk mencapai tujuan yang optimal. Perlu pula dibangun suatu budaya pengelolaan keorganisasian yang jelas dan terinci sehingga semua dapat bekerja secara proaktif, mendahulukan yang utama, selalu melihat tujuan akhir, kooperatif, berpikir meang-menang, berusaha mengerti terlebih dahulu baru dimengerti dan meujudkan sinergi. Semua anggota komunitas pendidikan hendaknya bergerak dari ketergantungan melewati kemandirian menuju kesalingtergatungan.

G. PENUTUP

Otonomi pendidikan sebenarnya selalu hadir disaat orang tua menyerahkan pendidikan anaknya kepada sekolah. Agar anaknya dilatih memanusiakan dan menemukan dirinya sendiri secara utuh dan bermartabat kemanusiaan. Implikasi dari paham ini adalah bahwa setiap individu merupakan titipan Tuhan, anak manusia adalah unik dan seharusnya tidak boleh diperlakukan secara seragam. Sekolah hendaknya membantu siswa dalam proses menjadi dirinya sendiri, dalam berproses menjadi citra Tuhan (process of becoming oneself). Pada zaman ini pentinglah untuk mengubah kiblat pendidikan diri yang berorientasi pada sebagian diri manusia ke keseluruhan diri manusia seutuhnya. Supremasi pendidikan hendaknya pada kebutuhan diri manusia agar manusia semakin berbudaya dan berkembang secara utuh.

Untuk dapat mengadakan reformasi pendidikan, hal-hal berikut perlu mendapatkan pertimbangannya: a) siswa dijadikan subyek pendidikan dan pusat proses pembelajaran; b) teori aktivitas diri dan aktif-positif merupakan dasar dari proses pembelajaran; c) tujuan pendidikan dirumuskan berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan siswa daripada tekanan pada penguasaan materi pelajaran; d) kurikulum sekolah disusun dalam kerangka kegiatan bersama atau kegiatan yang bersifat “proyek”; e) perlunya secara rutin kontrol informal di kelas dan sosialisasi mengajar dan belajar atau kegiatan bersama di tengah-tengah arus deras individualisme; g) hendaknya banyak diterapkan keaktifan berpikir dan berargumentasi daripada sekedar menghafal atau mengingat-ingat saja; h) pendidikan hendaknya mengembangkan kreativitas siswa. Oleh karena itu perlulah dipersiapkan pendidik yang fleksibel dalam profesinya. Lebih penting mengajarkan bagaimana belajar daripada apa yang dipelajari. Perlu dipertimbangkan juga kaitan antara bangunan sekolah, sistem pendidikan, guru dan tenaga kependidikan dalam melaksanakan tugas pembelajaran dan pendidikan. Guru harus menuntut dirinya untuk dapat menjadi figur teladan atau model bagi para peserta didik. Sistem kerja dari berdasar pada waktu ke penampilan mutu kerja. Guru dipersiapkan dan dilatih sehingga mampu berperan seperti di dalam keluarga. Pentingnya guru belajar mendengarkan, berkomunikasi dan berelasi dengan seluruh anggota komunitas sekolah. Yang lebih penting lagi guru harus selalu berusaha “memperhitungkan” siswa, dan mengkondisikan bahwa siswa itu penting. Menumbuhkan rasa percaya diri dan harga diri siswa.

Akhirnya kita perlu menyadari bahwa tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia muda. Pendidikan hendaknya menghasilkan pribadi-pribadi yang lebih manusiawi, berguna dan berpengaruh di masyarakatnya, yang bertanggungjawab atas hidup sendiri dan orang lain, yang berwatak luhur dan berkeahlian. Semoga!

DAFTAR BACAAN:

1. Handoko, Martin, Ph.D (1999) Pendidikan Humaniora Pada Milenium ke III (makalah)
2. Maryanto, A., (1999), Otonomi Pendidikan Salah Satu Bentuk Implementasi Desentralisasi Pemerintahan (makalah)

3. Riyanto, Theo., (Grasindo, 2002), Pembelajaran sebagai Proses Pembimbingan Pribadi.

4. Suwariyanto, Theodorus, MA., (1998), The Educational Philosophy of Ki Hajar Dewantara: Naturalistic and Humanistic Education in Analitical Comparison, (Thesis), Manila, De la Salle University.

Kumpulam Hadist Tarbawy

KEIMANAN

1.Tentang iman, islam, ihsan

حديث ابى هريرة رضى الله عنه قال كان النبى صلى الله عليه وسلم بارزا يوما للناس فاتاه رجول فقال: ما الايمان الايمان ان تؤمن بالله وملا ئكته وبلقائه وبرسوله وتؤمن بالبعث قال: ماالاسلام قال: الاسلام ان تعبد الله ولاتشرك به وتقيم االصلاة وتؤدى الزكاة المفروضة وتصوم رمضان قال: ما الاحسان قال: ان تعبد الله كانك تراه فان لم تكن تراه فانه يراك قال: متى الساعة قال: ماالمسئول عنها باعلم من السائل قال: وساخبرك عن اشراطها قال: ادا ولدت الامة ربهاواداتطاول رعاة الابل البهم فى البنيان, فى خمس لايعلمهن الاالله ثم تلا النبى صلى الله عليه وسلم ان الله عنده علم الساعة وينزل الغيث ويعلم مافى الارحام وماتدرى نفس ماداتكسب غداوماتدرى نفس باي ارض تموت ان الله عليم خبير(الاية) ثم ادبر فقال:(ردوه) فلم يرواشيئافقال:” هدا جبريل جاء يعلم الناس دينهم” (متفق عليه)

Artinya:

Hadits abi hurairah R.a berkata: bahwasanya rosulullah suatu hari memberi nasihat pada umat, datanglah seorang laki-laki dan bertanya: apakah iman itu? Berkata rosulullah SAW:iman ialah bahwasanya beriman pada Allah , malaikat , perjumpaan dgn rosulullah dan beriman dgn hari kiamat. Lalu bertanya apa itu islam? Rosulullah menjawab: islam ialah menyembah Allah dan tidak menyekutukannya, mendirikan solat, menunaikan zakat yang diwajibkan, puasa ramadhan. Kemudian bertanya apakah ihsan itu? Rosulullah menjawab: menyembah Allah seperti ia melihatmu dan jika tiada melihatnya, maka ia melihatmu. Ia bertanya: kapan hari kiamat itu? Bersabda rosulullah:yang bertanya lebih mengetahui dari yang ditanya. Lalu ia bertanya: beritahukan aku ttg tanda-tandanya? Dijawab: jika seorang melahirkan tuannya, tukang gembala bermegah-megahan dalam bangunan, lima perkara yang tiada mengetahuinya kecuali allah. Kemudian membaca rosulullah: bahwasanya Allah mengetahui hari kiamat, menurunkan hujan, mengetahui apa yang didalam rahim, apa-apa yang tdk diketahui diri, apa yang akan terjadi esok, dan tiada mengetahui dimana ia dikuburkan kelak, Allah yang maha mengetahui. Kemudian ia pergi. Dan berkata sahabat: tiada tampak atasnya bekas perjalanan jauh. Rosulullah menjawab: itu jibril yang datang untuk mengajari umat manusia tentang agama islam.

Sumber: lu’lu’ wal marjan (5)

2.Iman ketika keluar maksiat

حديث ابى هريرة رضى الله عنه ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: لا يزنى الزني حين يزني وهو مؤمن ولا يسرق حين يسرق وهو مؤمن, ولا يشرب االخمر حين يشربها وهو مؤمن التوبة معروضة بعدا” (رواه مسلم)

Artinya:

Hadits Abi hurairah r.a, bahwasanya Rosulullah SAW bersabda: tidak akan berzina orang yang berzina apabila ketika berzina ia beriman, dan tidak mencuri seorang pencuri apabila ia mencuri dalam keadaan beriman, dan tiada meminum khamar apabila ia meminumnya dalam keadaan beriman, taubat dilaksanakan sesudahnya.

Sumber: shohih muslim (104)

3.malu sebagian daripada iman

حديث ابن عمر رضى الله عنهما: ان رسول الله صلى الله عليه وسلم مر على رجل من الانصار وهو يعظ اخاه فى الحياء, فقال رسول الله عليه وسلم:” دعه فان االحياء من الايمان (متفق عليه)

Artinya:

Hadits Ibnu Umar r.a, bahwasanya Rosulullah SAW melewati seorang laki-laki dari kaum anshor yang sedang menasehati saudaranya karena malu. Maka bersabda Rosulullah SAW: biarkan ia karena bahwasanya malu itu sebagian dari iman.

Sumber:lu’lu wal marjan (22)

4.cabang-cabang iman

عن ابى هريرة رضى الله عنه قال, قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:” الايمان بضع وسبعون شعبة, فافضلها قول لااله الا الله, وادناها اماطة الادى عن الطرق والحياء من الايمان” (متفق عليه

Artinya:

Dari Abi Hurairah r.a berkata: bersabda Rosulullah SAW: cabang iman ada tujuh puluh bagian, dan yang paling utama ialah perkataan lailaha illallah, dan yang paling serendah-rendahnya iman ialah menyingkirkan sesuatu dari jalan, dan malu itu sebagian daripada iman.

Sumber: Misykatul mashobih (5)

Ikhlas Dalam Beramal dan Istiqomah

(I)وعن امير المؤ منين ابى حفص عمر بن الخطاب بن تفيل بن عبد العزى بن رياح بن عبد الله بن قرط بن رزاح بن عدى بن كعب بن لؤى بن غالب القريشي رضى الله قال: “انما الاعمال بالنيات وانما لكل امرىءمانوى فمن كانت هجرته الى الله ورسوله فهجرته الى الله و رسوله, ومن كانت هجرته لدنيايصيبهااو امراة ينكحهافهجرته الى ماهاجر اليه. (متفق عليه)

Artinya:

Dari Amiril mukminin Abi Hafshin umar bin khatab bin Tufail bin Abdul Izza bin Riyah bin Abdullah bin Qort bin Rzah bin A’dd bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib al quraisy r.a berkata: aku telah mendengar Rosulullah SAW bersabda: bahwasanya setiap amal tergantung pada niat dan tiap perkara tergantung pada niat, barang siapa berniat hijrah kepada Allah dan rosulnya maka hijrahnya kepada allah dan rosulnya, dan barang siapa hijrahnya untuk dunia dan perempuan yg akan dinikahinya maka hijrahnya kepada apa yang ia tuntut.

Sumber: Riyadhus Sholihin

( (IIوعن ابى عمرو, وقيل: ابى مرة سفيان بن عبد الله رضى الله عنه قال: قلت: يارسول الله قل لى فى الاسلام قولا لااسال عنه احد غيرك. قال: “قل: امنت باالله ثم استقيم”.(رواه مسلم)

Artinya:

Dari Abi Amru, dikatakan Abi muroh Sofyan bin Abdullah r.a berkata: aku bertanya: ya Rosulullah katakan padaku suatu perkataan dalam islam yang tiada bertanya aku akan selainnya. Bersabda rosulullah: “katakan, aku beriman kepada allah dan istiqomahlah”.

Sumber: riyadhus sholihin

Dosa-Dosa Besar

عن ابن مسعود رضى الله عنه قال: سالت النبى صلى الله عليه وسلم اى الدنب الاعظم عند الله ؟ قال ان تجعل لله ندا وهوخلقك قلت ان دلك لعظيم قلت ثم اى؟ قال وان تقتل ولدك تخاف ان يطعم معك قلت ثم اى؟ قال ان تزانى حليلة جارك

Artinya:

Dari Ibnu Mas’ud r.a berkata: aku bertanya pada nabi SAW tentang dosa besar disisi Allah? Bersabda Rosulullah : menjadikan selain Allah (saingan) padahal Allah yang menciptakan hal itu termasuk dosa besar, aku bertanya: lalu apa? Sabda rosulullah: bahwasanya membunuh anak-anakmu dikarnakan takut mereka makan bersama engkau, aku bertanya lagi: lalu apa? Sabdanya: bahwasanya menzinahi istri tetangga engkau

عن ابى هريرة رضى الله عنه: ان رسول الله صلي الله عليه وسلم قال: اجتنب السبع الموبقات, قيل يارسول الله,وماهن؟ قال الشرك بالله, والسحر, وقتل النفس التي حرم الله الا بالحق, واكل مال اليتيم, واكل الربا, والمتولي يوم الزحف وقدف المحصنات الغافلات المؤمنات.

Artinya: Dari Abi Hurairah ra: Bahwasanya Rasul SAW. Bersabda: Jauhi olehmu tujuh yang membinasakan, seseorang bertanya, wahai rasulullah! apa itu tujuh yang membinasakan? Beliau bersabda: Mensekutukan Allah, sihir, menghilangkan nyawa orang lain kecuali yang dibolehkan, memakan harta anak yatim, memakan harta riba, lari dari peperangan dan menuduh perempuan mukmin berzina.

Sumber: lu’lu walmarzan (56)

عن اناس رضي الله عنه: عن النبي صلي الله عليه وسلم في الكبا ئر. قال الشرك بالله وعقوق الوالدين وقتل النفس وقول الزور.

Artinya: dari Anas ra. Bersabda Nabi SAW tentang dosa-dosa besar: menyekutukan allah, durhaka kepada kedua orang tua, menghilangkan nyawa orang lain, dan saksi palsu,

Sumber: lu’lu walmarzan (55)

MUNAFIQ

عن انس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من صلى لله اربعين يوما فى جماعة يدرك التكبيرة الاولى كتب له برئتان برئة من النفاق وبرئة من النار(رواه االترمدى)

Artinya:

Dari annas berkata: sabda Rosulullah SAW barang siapa solat berjama’ah selama 40 hari tiada tertinggal takbir yang awal ditulis baginya dua keselamatan, selamat dari sifat munafiq dan selamat dari api neraka.

عن ابن عمر رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلي الله عليه وسلم: اربع من كن فيه كان منا منافقا خالصا ومن كانت فيه خلة منهن كانت فيه خلة من نفاق حتي يدعها وادا حدث كدب وادا عاهد غدر وادا وعد اخلف وادا خاصم فجر.

Artinya:

Dari Ibnu Umar ra. Bersabda Rasulullah SAW. Empat perkara, barang siapa padanya empat perkara tersebut jadilah ia seorang munafik yang tidak diragukan. Dan barang siapa padanya sebagian daripadanya(empat perkara) maka padanya sebagian daripada sifat munafik tersebut sehingga ia meninggalkannya dan jika berkata- kata ia berdusta, jika berjanji ia ingkar, jika bertengkar ia curang.

Sumber : Lu’lu Walmarzan (37)

Akhlakul Karimah

1.Orang yang baik adalah, baik akhlaknya

عن النوس بن سمعان قال: سالت النبى صلى الله عليه وسلم عن البر و الاثم؟ فقال البر حسن الخلق, والاثم ماحك فى نفسك, وكرهت ان يطلع عليه الناس. (رواه مسلم)

Artinya:

Dari Nawwas bin sam’an berkata: aku bertanya pada nabi SAW tentang bakti dan dosa? Maka sabdanya: bakti ialah baik akhlak, sedangkan dosa adalah apa-apa yang meragukan dalam dirimu dan kamu tak suka jika diketahui oleh orang banyak.

Sumber: Riyadhus Sholihin (623)

2. kejujuran membawa kepada kebaikan

عن ابن مسعود, عن النبى صلى الله عليه وسلم قال: ان الصدق يهدى الى البر وان البر يهدى الى الجنة, وان الرجل ليسدق حتى يكون صديقا. وان الكدب يهدى الى الفجور, وان الفجور يهدى الى النار. وان الرجل ليكدب حتى يكتب عند الله كادبا.(متفق عليه)

Artinya:

Dari ibnu Mas’ud, dari nabi SAW bersabda: bahwasanya kejujuran membawa pada kebaikan dan kebaikan membawa kepada surga, dan bahwasanya seorang laki-laki yang senantiasa jujur sehingga ia menjadi orang yang jujur. Dan bahwasanya dusta membawa kepada dosa, dan bahwasanya dosa membawa membawa kepada neraka. Bahwasanya seorang laki-laki yang senantiasa berdusta sehingga ditulis baginya disisi Allah sebagai pendusta.

Sumber: Lu’lu wal Marjan (1675)

3. Orang yang paling berhak dihormati

عن ابى هريرة قال: جاء رجل الى رسول الله صلى الله عليه وسلم, فقال: يارسول الله! من احق بحسن صحابتى؟ قال: امك, قال: ثم من؟ قال: امك, قال: ثم من؟ قال: امك, قال: ثم من؟ قال: ثم ابوك.(متفق عليه(

Artinya:

Dari Abi Hurairah berkata: telah datang seorang laki-laki kepada Rosulullah SAW, dan bertanya: ya Rosulullah! siapakah yang lebih berhak untuk aku hormati dari kerabatku? Sabdanya: ibumu, laki-laki itu berkata: lalu siapa? Sabda rosulullah: ibumu, lalu tanyanya lagi: lalu siapa? Sabda rosulullah: ibumu, lalu tanyanya lagi: lalu siapa? Sabda rosulullah: lalu ayahmu.

Sumber: Lu’lu’ wal Marjan (1652)

4. berbuat baik kepada tetangga

عن ابى شريح العدوى قال: سمعت ادناى وابصرت عيناى حين تكلم النبى صلى الله عليه وسلم, فقال: من كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليكرم جاره…(متفق عليه)

Artinya:

Dari Abi Syuraih al A’dawi berkata: aku mendengar dengan telingaku dan aku melihat dengan kedua mataku ketika rosulullah bersabda: barang siapa beriman kepada Allah dan hari kiamat maka mulyakanlah tetangganya.

Sumber: Lu’lu’ wal Marjan (30).

KESEHATAN

  1. Mukmin yang kuat lebih disukai Allah daripada mukmin yang lemah

عن ابى هريرة رضى الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “ألمؤمن القوي خير واحب الى الله من المؤمن الضعيف وفى كل خير احرص ما ينفعك واستعن بالله ولاتعجز وان اصابك شيء فلا تقل لوانى فعلت كدا ولكن قل قدرالله وماشاء فعل فان”لو” تفتح عمل الشيطان” (رواه مسلم)

Artinya:

Dari Abi Hurairah r.a berkata: bersabda Rosulullah SAW: “orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah dan setiap sesuatu ada kebaikan didalamnya, maka bersungguh-sungguhlah terhadap sesuatu yang memberi manfaat bagimu dan mintalah pertolongan pada Allah dan jangan lemah jika tertimpa sesuatu jangan katakan jika aku memperbuat yang demikian tetapi ucapkanlah ini kuasa Allah dan Allah memperbuat setiap sesuatu, maka bahwasanya “jikalau” membuka perbuatan syaitan.

Sumber: Adabun Nabawy (88)

2. Lima fitrah dalam kebersihan tubuh

حديث ابى هريرة رضى الله عنه عن النبى صلى الله عليه وسلم قال:” الفطرة خمس او خمس من الفطرة: الختان والااستحداد ونتف الابط وتقليم الاظفار وقص الشارب” (متفق عليه)

Artinya:

Hadits abi hurairah r.a dari nabi SAW bersabda: suci /fitrah ada lima : khitan, mencabut bulu ari, memotong bulu ketiak memotong kuku dan mencukur kumis.

Sumber: Lu’lu’ wal Marjan (145)

3. Siwak

حديث ابى هريرة رضى الله عنه ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:”لولا ان اشق على امتى او على الناس لامرتهم بالسواك مع كل صلاة” (متفق عليه)

Artinya:

Hadits Abi Hurairah r.a bahwasanya Rosulullah SAW bersabda: jikalau tidak memberatkan umatku dan seluruh manusia akan kuperintahkan bersiwak pada setiap solat.

Sumber: Lu’lu’ wal marjan (142)

PERSAUDARAAN DALAM ISLAM

  1. Orang islam bersaudara

حديث عبد الله بن عمر رضى الله عنهما, ان رسول الله عليه وسلم قال: المسلم اخو المسلم لا يظلمه ولا يسلمه. ومن كان فى حاجة اخيه, كان الله فى حاجته. ومن فرج عن مسلم كربة من كربات يوم القيامة. ومن ستر مسلما ستره الله يوم القيامة. (متفق عليه)

Artinya :

Hadits Abdullah bin Umar r.a, bahwasanya Rosulullah SAW bersabda: orang muslim saudaranya muslim, tiada mendholiminya dan tidak membiarkannya di dholimi, dan barang siapa menunaikan hajat saudaranya, Allah akan menunaikan hajatnya, dan barang siapa melapangkan kesulitan orang muslim maka melapangkan Allah akan ia dari kesulitan-kesulitan di hari kiamat. Dan barang siapa menutupi aib saudaranya (muslim) Allah akan menutupi aibnya dihari kiamat.

Sumber: Lu’lu’ wal marjan (1667)

  1. Orang mukmin bagaikan sebuah bangunan

حديث ابى موسى رضى الله عنه, عن النبى صلى الله عليه وسلم قال: ان المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا, وشبك اصابعه. (متفق عليه)

Artinya:

Hadits abi Musa r.a, dari nabi SAW bersabda: bahwasanya orang mukmin bagi mukmin lainnya seperti bangunan yang menguatkan antara satu bagian dgn bagian yang lain, dan rosulullah sambil menggenggam jemarinya.

Sumber: lu’lu’ wal marjan (1670)

  1. larangan mencaci dan membunuh sesama manusia

وعن ابن مسعود رضى الله عنه قال, قال رسول الله صلى الله عليه وسلم سباب المسلم فسوق وقتاله كفر. (متفق عليه)

artinya:

Dari Ibnu Mas’ud r.a berkata: bersabda Rosulullah SAW: mencaci orang muslim itu fasiq dan membunuhnya ialah kafir.

Sumber: Riyadhus Sholihin (1559)

DORONGAN MEMPELAJARI DAN MENGAJARKAN AL-QUR’AN DAN TANGGUNG JAWAB MENUNTUT PENGETAHUAN

1. Hasad yang diperbolehkan

عن ابن عمر رضى الله عنهما قال, قال رسول الله عليه وسلم: لا حسد الافى اثنتين: رجل اتاه الله القران فهو يقوم به اناء النهار ورجل اًعطاه مالا فهو ينفق منه اناء الليل واناء النهار. (رواه البخارى ومسلم والترمدى والنسائى)

Artinya:

Dari ibnu umar r.a berkata, sabda Rosulullah SAW: jangan engkau hasad kecuali pada dua perkara: pertama seorang laki-laki yang datang padanya Alqur’an dan ia sibuk mengamalkannya sepanjang hari (siang dan malam) dan yang kedua seorang laki-laki yang diberikan harta dan ia sibuk menginfaqkan hartanya sepanjang hari (siang malam).

Sumber: Adabun Nabawy (76)

  1. perbandingan antara orang yang membaca dan tidak membaca al Qur’an

عن ابى موسى رضى الله عنه قال, قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مثل المؤمن الدى يقراً القران مثل الاًترجة ريحهاطيب وطعمهاطيب, ومثل المؤمن الدى لايقراً القران مثل التمرة لاريحهاوطعمها حلو, ومثل المنافق الدى لايقراً القران مثل الحنظلة ليس لهاريح وطعمها مر, ومثل المنافق الدى يقراً القران مثل الريحانة ريحها طيب وطعمها مر. (رواه البخارى ومسلم والنسائى وابن ماجه)

Artinya:

Dari Abi Musa r.a berkata, sabda rosulullah SAW : perumpamaan orang mukmin yang membaca Al qur’an seperti buah jeruk manis yang baunya harum dan manis rasanya, dan perumpamaan orang mukmin yang tak membaca al qur’an seperti kurma yang tak berbau dan manis rasanya, dan perumpaman orang munafiq yang tidak membaca Al qur’an seperti buah pare yang tidak berbau dan rasanya pahit, dan perumpamaan orang munafiq yang membaca Al Qur’an seperti bunga raihanah yang baunya harum dan rasanya pahit.

Sumber: Adabun nabawy (79)

3. hilangnya ilmu karena wafatnya orang berilmu

عن عبد الله بن عمرو بناالعاص رضى الله عنهما قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: ان الله لايقبض العلم النتزاعا ينتزعه من العباد, ولكن بقيض العلم يقبض العلماء حتى ادا لم يبق عالما, اتخد الناس رئوسا جهالا فسئلوا, فافتوا بغير علم, فضلوا واضلو. (رواه البخارى ومسلم)

Artinya:

Dari Abdullah bin Amru r.a berkata: aku mendengar rosulullah SAW bersabda: Allah mengangkat ilmu dari hati hamba, akan tetapi mengangkat ilmu dengan mengambil para ulama sehingga tiada tersisa, Dan menyisakan penguasa yang jahil yang berfatwa tanpa ilmu, maka sungguh sesat lagi menyesatkan.

Sumber: lu’lu’ wal marjan (1712)

  1. sikap yang baik dan buruk dalam menuntut ilmu

عن ابى واقد الليثى, ان رسول الله صلى الله عليه وسلم بينماهو جالس فى المسجد والناس معه, اد اًقبل ثلاثة نفر, فاًقبل اثنان الى رسول الله صلى الله عليه وسلم, ودهب واحد. قال: فوقفا على رسول الله صلى الله عليه وسلم. فاًمااًحدهما فراًى فرجة فى الحلقة فجلس فيهاواماالاخر فجلس خلفهم, واماالثالث فاًدبر داهبا فلما فرغ رسول الله عليه وسلم, قال: اًلا اخيركم عن النفر الثلاثة؟ امااًحدهم فاًوى الى الله فاًواه الله: واماالا خر فاستحيا فاستحيا الله منه: واماالا خر فاًعرض فاًعرض الله عنه. (رواه البخارى ومسلم)

Artinya:

Dari Abi Waqad Al laysy, bahwasanya rosulullah SAW duduk di masjid bersama sahabat, tiba-tiba datang tiga orang, maka yang dua orang menghadap pada rosulullah SAW sedangkan yang satu terus pergi, adapun salah satu dari keduanya melihat ada lowongan ditengah majlis maka iapun duduk ditempat tersebut sedang yang lainnya duduk dibelakang sedangkan salah satu dari ketiganya telah pergi, maka ketika rosulullah telah selesai dari nasehatnya, beliau bersabda:” sukakah kamu aku beritakan kepada kalian tentang tiga orang tersebut? Adapun orang pertama ia ingin mendekat pada allah maka allahpun memberi tempat dekat, sedangkan orang kedua ia malu kepada Allah maka Allahpun malu kepadanya dan adapun orang ketiga ia berpaling dari Allah maka Allahpun berpaling darinya.

Sumber: Lu’lu’ wal marjan (1405)

DORONGAN MENCARI RIZKI YANG HALAL

  1. Tangan yang diatas lebih mulia dari yang dibawah

حديث لبن عمر رضى الله عنه, اًن رسول الله عليه وسلم قال, وهو على المنبر, ودكر الصدقة و التعفف والمسئلة: اليد العليا خير من يد السفلى, فاليد العليا هى المنفقة, والسفلى هى السائلة. (متفق عليه)

Artinya:

Ibnu umar r.a berkata: ketika nabi SAW khutbah di atas mimbar dan menyebut sedekah dan minta-minta, maka bersabda : tangan yang diatas lebih baik dari tangan yang dibawah, tangan yang diatas itu memberi dan yang dibawah yang meminta.

Sumber: Lu’lu’ wal marjan (612)

حديث حكيم بن حزام رضى الله عنهو خن انبى صلى الله عليه وسلم, قال: اليد العلياخير من اليد السفلى, وابداً بمن تعول, وخير الصدقة عن الظهر غنى, ومن يستعفف يعفه الله, ومن يستغن يغنه الله. (متفق عليه)

Artinya:

Hakiem bin hizam r.a berkata: nabi Saw bersabda: tangan yang diatas lebih baik dari tangan yang dibawah, dan dahulukan keluargamu (orang-orang yang wajib kamu belanjai) dan sebaik-baik sedekah itu dari dari kekayaan (yang berlebihan), dan siapa yang menjaga kehormatan diri tidak meminta-minta, maka Allah akan mencukupinya , demikian pula siapa yang beriman merasa sudah cukup maka allah akan membantu memberinya kekayaan.

Sumber: Lu’lu’ wal marjan (613)

  1. mencari kayu bakar lebih baik dari meminta-minta

حديث ابى هريرة رضى الله عنه, قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لاًن يحتطب احدكم حزمة على ظهره خير من ان يسال اًحدا فيعطيه أو يمنعه.

artinya:

Abu Hurairah r.a berkata: rosulullah SAW bersabda: jika seseorang itu pergi mencari kayu, lalu diangkat seikat kayu diatas punggungnya (yakni untuk dijual dipasar) maka itu lebih baik baginya daripada minta kepada seseorang baik diberi atau ditolak

Sumber: Lu’lu’ wal marjan (618)

KEPEDULIAN SOSIAL

  1. Membuang duri dijalan

حديث ابى هريرة, اًن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: بينمارجل يمشى بطريق, وجد غصن شوك على الطريق, فاًخره, فشكر الله له, فغفر له. (متفق عليه)

Artinya:

Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda: ketika seseorang berjalan disuatu jalan, tiba-tiba melihat dahan berduri ditengah jalan, maka segera ia singkirkan, maka Allah memuji perbuatannya dan mengampunkan baginya (dosanya).

Sumber: Lulu’ Walmarjan (1682)

  1. Menolong saudara-saudara seagama

عن عبد الله بن عمر رضى الله عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: المسلم اًخو المسلم لايظلمه ولا يسلمه ومن كان فى حاجة اًخيه كان الله فى حاجته ومن فرج الله عنه كربة من كرب يوم القيامة ومن ستر مسلما ستره الله يوم القيامة. (رواه بخارى, ابو داود, النسائى, الترمدى )

Artinya:

Dari Abdillah bin Umar RA, Rasulullah bersabda: orang muslim itu bersaudara atas orang muslim yang lain, tidak boleh ia menganiaya dan tidak boleh ia dibiarkan dianiaya oleh orang lain atau tidak boleh diserahkan kepada musuh.

Sumber: Adabun Nabawy (23)

  1. Haram menyiksa kucing dan binatang lain yang tidak mengganggu

حديث عبد الله بن عمر رضى الله عنه, ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: عدبت امراًة فى هرة سجنتهاحتى ماتت, فدخلت فيها النار. لاهى اطعمتها, ولا سقتها, اد حبستها. ولا هى تركتها تاًكل من خشاس الارض. (متفق عليه)

Artinya:

Abdullah bin Umar berkata: Nabi Muhammad SAW bersabda: Seorang wanita telah disiksa disebabkan kucing yang dikurung sampai mati, sehingga ia masuk neraka sebab tidak diberi makan, minum ketika dikurung, juga tidak dilepas untuk mencari makanan dari binatang-binatang bumi yang menjadi makanannya.

Sumber: Lu’lu’ Walmarjan (1683)

  1. Pelacur memberi minum anjing yang kehausan

حديث ابى هريرة رضى الله عنه, ان رسول الله عليه وسلم قال: بينا رجل يمشى فاشتد عليه العطش, فنزل بئرا, فشرب منها, ثم خرج, فاد هو بكلب يلهث ياًكل الثرى من العطش.فقال: لقد بلغ هدا مثل الدى بلغ بى. فملاً خفه, ثم امسكه بفيه, ثم رقى, فسقى الكلب. فشكرالله له فغفر له ,قالوا: يارسول الله! وان لنا فى البهائم اجرا؟ قال: فى كل كبد رطبة اجر. (متفق عليه)

Artinya:

Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda: Ketika ada seseorang berjalan, ia merasa sangat haus, lalu ia turun ke sebuah sumur untuk minum, kemudian setelah ia keluar dari sumur, tiba-tiba ada anjing menjilat-jilat tanah karena sangat haus, maka ia berkata: binatang ini telah merasa haus sebagaimana yang kurasa, lalu ia turun kembali kedalam sumur dan mengisi sepatunya dengan air, lalu digigit dengan mulutnya dan dibawa naik keatas sumur, lalu memberi minum pada anjing itu, maka Allah memuji perbuatannya itu dan mengampunkan baginya. Sahabat bertanya, Ya Rasulullah apakah ada pahala untuk kami dalam menolong dan memberi apa-apa pada binatang? Jawab Nabi SAW: Setiap jiwa yang hidup itu ada pahalanya (Bukahari Muslim) yakni bagi siapa yang suka menolong dan dengan memberi makan atau minum.

Sumber: Lu’lu’ Walmarjan (1447)

حديث ابى هريرة, قال: قال النبى صلى الله عليه وسلم بينما كلب يطيف بركية كاد يقتله العطش, اد راًته البغى من بغايا بنى اسرايل, فنزعت موقها, قسقته, فغفر لهابه.(متفق عليه)

Artinya:

Abu Hurairah berkata, Nabi SAW bersabda: Ketika ada anjing berputar-putar diatas sumur hampir mati kehausan, tiba-tiba dilihat oleh seorang wanita pelacur dari Bani Isarail, maka segera ia membuka sepatunya lalu digunakan menimba air sumur lalu diminumkan pada anjing itu, maka Allah mengampunkan baginya.

Sumber: Lu’lu’ Walmarjan (1448)

ZAKAT DAN SADAKAH

  1. Zakatul fitri

حديث ابن عمر رضى الله عنهما, اًن رسول الله صلى الله عليه وسلم فرض زكاة الفطرصاعا من تمر, او صاعا من شعير, على كل حر او عبد, دكر او انثى من المسلمين. (متفق عليه)

Artinya:

Ibnu umar r.a berkata: rosulullah telah mewajibkan zakatul fitri satu sha’ dari kurma atau jawawut, beras, jagung atas tiap orang merdeka atau budak, lelaki atau wanita, besar atau kecil dari kaum muslimin.

Sumber: Lu’lu’ wal marjan (570)

  1. Semua amal kebaikan termasuk sedekah

حديث ابى موسى, قال: قال النبى صلى الله عليه وسلم: على كل مسلم صدقة قالوا: فان لم يجد؟ قال: فيعمل بيديه فينفع نفسه ويتصدق, قالوا: فان لم يستطع او لم يفعل؟ قال: فيعين داالحاجة الملهوف, قالوا: فان لم يفعل؟ قال: فياًمر بالخير او قال: بالمعروف, قال: قان لم يفعل؟ قال: فيمسك عن الشر فانه له صدقة. (متفق عليه)

Artinya:

Abu musa r.a berkata, nabi SAW bersabda: tiap muslimin wajib bersedekah. Sahabat bertanya: jika tidak dapat? Jawab nabi SAW: bekerja dengan tangannya yang berguna bagi diri dan bersedekah. Sahabat Tanya pula: jika tidak dapat? Jawab nabi SAW: membantu orang yang sangat berhajat. Sahabat bertanya: jika tidak dapat? Jawab nabi Saw: menganjurkan kebaikan. Sahabat bertanya: jika tidak dapat? Jawab nabi SAW: menahan diri dari kejahatan maka itu sedekah untuk dirinya sendiri.

Sumber: Lu’lu’ wal marjan (589)

  1. Zakat fitrah

عن ابن عباس رضى الله عنهما: ان النبى صلى الله عليه وسلم بعث معادا الى اليمن فدكر الحديث وفيه : ان الله قد افترض عليهم صدقة فى اموالهم تؤخد من اغنيائهم فترد فى فقرائهم (متفق عليه)

Artinya:

Dari Ibnu Abbas r,a, bahwasanya Rosulullah Saw pernah mengutus Muadz keyaman . maka menyebutkan hadits didalamnya: sesungguhnya Allah mewajibkan kepada mereka zakat harta mereka , diambil dari orang-orang kaya mereka lalu dikembalikan kepada kaum faqir-faqir mereka.

Sumber: Bulugul Maram (621)

AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR & ZIHAD FISABILILLAH

  1. Penegak kebenaran selalu muncul

حديث المغيرة بن شعبة, عن النبى صلى الله عليه وسلم, قال: لايزال ناس من أمتى ظاهرين حتى ياًتيهم امر الله وهم ظاهرون.(متفق عليه)

artinya:

al mughirah bin syu’bah r.a berkata: nabi Saw bersabda: selalu akan ada dari umatku gigih memepertahankan hak, sehingga tiba ketentuan allah dan mereka tetap menang

Sumber: Lu’lu’ wal marjan (1249)

  1. Bahaya orang yang tidak mencegah kemunkaran

عن ابى بكر الصديق رضى الله عنه قال: يايها الناس انكم تقرئون هده الاية : ياايها الدين أمنوا عليكم انفسكم لايضركم من ضل ادااهتديتم, وان سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: ان الناس اداراوااظالم فلم يأخدوا على يديه او شك ان يعمهم الله بعقاب منه. (رواه ابو داوود, الترمدى,النسائى)

Artinya:

Abu Bakar Asshiddiq r.a berkata; hai sekalian manusia, kamu membaca ayat ini : ya ayyuhalladzina amanu alaikum anfusakum laa yadhurrukum man dhollaa idzahtadaitum hingga akhirnya. (hai sekalian orang yang beriman, jagalah dirimu, tidak membahayakan kamu kesesatan orang yang sesat, asalkan kamu mendapat hidayat), dan kamu letakkan pengertiannya tidak pada tempatnya sedang saya telah mendengar rosulullah bersabda: sesungguhnya jika orang-orang melihat orang dholim berbuat kejam jahat, dan tidak mereka cegah ( tahan tangannya ), mungkin sudah hampir allah akan meratakan kepada mereka siksanya.

Sumber: Riyadhus Sholihin (197)

3. Akibat memerintah pada yang ma’ruf tapi tidak melaksanakannya

حديث أسامة قيل له: لو اتيت فلانا فكلمتهز قال: انكم لترون أنى لا أكلمه الا اسمعكم. انى اكلمه الا اسمعكم. انى أكلمه فى السر, دون أن افتح بابا لا اكون اول من فتحه. ولا اكل لرجل, أن كان على أميرا :انه خير الناس, بعد شىء سمعته من رسول الله صلى الله عليه وسلم قالوا: وما سمعته يقول؟ قال سمعته يقول: يجاء بالرجل يوم القيامة, فيلقى فى النار, فتندلق أفتابه فى النار, فيدور كما يدور الحمار برحاهو فيجتمع اهل النار عليه, فيقولون: أى فلان! ما شأنك؟ اليس كنت تأمرون بالمعروف, وتنهى عن المنكر؟ قال: كنت امركم بالمعروف ولا اتيه, وانها كم عن المنكر واتيه. (متفق عليه)

artinya:

Usamah r.a ketika ditanya: mengapakah anda tidak pergi kepada fulan itu untuk menasehatinya. Jawabnya: kalian mengira aku tidak bicara kepadanya melainkan jika kamu dengar, sungguh aku telah menasehatinya dengan rahasia, jangan sampai akulah yang membuka pintu, yang aku tidak ingin menjadi pertama yang membukanya, dan aku tidak memuji orang itu baik meskipun ia pimpinanku setelah aku mendengar rosulullah saw bersabda: orang bertanya: apakah yang anda dengar dari rosulullah Saw? Jawab Usamah: aku telah mendengar rosulullah Saw bersabda; aku dihadapkan seorang pada hari qiamat kemudian dibuang kedalam neraka, maka keluar usus perutnya dalam neraka, lalu ia berputar-putar bagaikan himar yang berputar dipenggilingan, maka berkumpullah penghuni neraka padanya dan berkata: hai fulan mengapakah anda? Tidakkah dahulu engkau menganjurkan kami untuk berbuat baik dan mencegah dari yang munkar? Jawabnya: benar aku menganjurkan kepadamu kebaikan tetapi aku tidak mengerjakannya, dan mencehgah kamu dari yang munkar tapi aku melakukannya.

Sumber: Lu’lu’ wal marjan (1882)

وعن ابى زيد أسامة بن زيد بن حارسة, رضى الله عنهما, قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم, يقول: يؤتى بالرجل يوم القيامة فيلقى فى النار, فتندلق أقتاب بطنه, فيدور بها كما يدور الحمار فى الرحا, فيجتمع اليه اهل النار فيقولون: يافلان مالك؟ الم تك تأمر بالمعروف وتنهى عن المنكر ؟ فيقول: بلى, قد كنت امر بالمعروف ولا أتيه, وأنهى عن المنكر واتيه. (متفق عليه)

Artinya:

Abu Zaid (usamah) bin Zaid bin Haritsah r.a berkata; saya telah mendengar rosulullah SAW bersabda: seorang dihadapkan dihari qiamat. Kemudian dilemparkan kedalam neraka, maka keluar usus perutnya, lalu berputar-putar didalam neraka bagaikan himar yang berputar disekitar penggilingan maka berkerumun ahli neraka padanya sambil bertanya: hai fulan mengapakan engkau, tidakkah engkau dahulu menganjurkan kebaikan dan mencegah munkar? Jawabnya: benar, aku dahulu menganjurkan kebaikan tetapi tidak saya kerjakan, dan mencegah munkar tetapi saya kerjakan.

Sumber: Riyadhus Sholihin (198)

PENUTUP

Alhamdulillah atas berkat rahmat Allah dan bimbingan dari bapak dosen, akhirnya pembukuan hadist-hadist tarbawy dapat kami selesaikan, yang kami kumpulkan dari beberapa kitab hadist. Dan kami berharap semoga buku ini dapat memberi manfaat pada diri kami khususnya dan untuk orang lain pada umumnya. Mudah-mudahan apa yang telah kami kerjakan mendapatkan ridho dari Allah SWT.

Tidak lupa kami mohon maaf kepada segenap pembaca yang budiman akan berbagai kekurangan dalam pembukuan ini. Dengan memberikan saran dan kritik yang membangun dan kemudian dilakukan perbaikan, kami sampaikan banyak terimakasih.

Wallahul muwaffiq ilaa aqwamith tharieq

Assalamualaikum Wr.Wb.

Tim penyusun

- Mujahid

- Gusti. M. Abd. Q. Jailani

- Khairun alfisah

- Poliyanto

- Fathurrahman

KECERDASAN EMOSIONAL SPRITUAL

DALAM BELAJAR

A. Latar Belakang

Kecerdasan spiritual merupakan sebuah kesadaran yang menghubungkan manusia dengan Allah SWT dengan hati nurani.Tingkat spiritual pada anak-anak tercermin pada aktivitas kreatifnya. Arah dan tujuan hidup akan indah dengan kecerdasan spiritual. Contohnya: bagaimana kita memandang alam, air, tumbuh – tumbuhan, awan, bunga yang berwarna-warni, Fauna–kupu2, yang suka diving bisa melihat bagaimana keindahan isi laut. Untuk mencapai ketakwaan yang tinggi kepada Allah SWT, maka Allah SWT mengajak kita untuk mengenali alam ( kecerdasan spiritual kita tinggi). Seperti misalnya kita merasa takjub dengan keindahan alam, Surat Abasa (80) ayat 24-31.

̍ÝàZu‹ù=sù ß`»|¡RM}$# 4’n<Î) ÿ¾ÏmÏB$yèsÛ ÇËÍÈ $¯Rr& $uZö;t7|¹ uä!$yJø9$# ${7|¹ ÇËÎÈ §NèO $uZø)s)x© uÚö‘F{$# $y)x© ÇËÏÈ $uZ÷Kt7/Rrsù $pkŽÏù ${7ym ÇËÐÈ $Y6uZÏãur $Y7ôÒs%ur ÇËÑÈ $ZRqçG÷ƒy—ur WxøƒwUur ÇËÒÈ t,ͬ!#y‰tnur $Y6ù=äñ ÇÌÉÈ ZpygÅ3»sùur $|/r&ur ÇÌÊÈ

24. Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.25. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit),26. kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya,27. lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu,28. anggur dan sayur-sayuran,29. zaitun dan kurma,30. kebun-kebun (yang) lebat,31. dan buah-buahan serta rumput-rumputan

Aristoteles menjabarkan orang yang marah tapi cerdas, adalah yang mengerti kapan dan bagaimana bersikap ketika akan marah. Kecerdasan emosional menyangkut::

v Motivasi diri, dengan mendorong dirinya dengan cara-cara sebagai berikut :

§ Bagaimana seseorang memiliki sifat positif thinking (berfikir)

§ Bagaimana seseorang bisa memanage pekerjaannya

§ Bertahan menghadapi frustasi

§ Mengenali emosi orang lain.

§ Kemampuan untuk membina hubungan dengan orang lain (social skill-interpersonal intelligent).

Wilayah emosional meliputi:

1. Kenali emosi diri.

2. Bisa menghibur diri dari ketersinggungan.

B. Emosi

Setiap individu menurut dasarnya memilki kebutuhan-kebutuhan jasmaniyah tertentu . Di antara kebutuhan-kebutuhan ini kita dapati misalnya kebutuhan-kebutuhan akan makanan, kebebasan bergerak, serta komport atau kebebasan dari stimulus-stimulus yang mengganggu. Setiap stimulus yang akan menghalangi, memblokade atau mengacaukan salah satu kebutuhan semacam ini dapat menyebabkan individu kehilangan cara hidupnya yang biasanya berlangsung dengan lancar dan menyebabkan dia mengalami emosi yang tidak enak, seperti takut, marah atau mata gelap. Sebaliknya suatu situasi yang memenuhi atau mencukupi kebutuhan-kebutuhan dasar akan menghasilkan sambutan-sambutan yang mengenakkan, yang dapat disebut :kepuasan kegembiraan yang memuncak ; kelegaan atas rasa nikmat. Emosi juga dapat ditimbulkan oleh reaksi sosial, seprti interaksi antara individu dengan individu lainnya. Emosi bukanlah pengalaman yang berdiri sendiri atau diskrit.

Untuk kepentingan belajar dalam membimbing perkembangan emosional dapat diisolasikan empat aspek dari emosi : manifestasi yang terlihat, intensitet, nada perasaan dan kecendrungan arah. Karena emosi bukanlah pengalaman yang terpisah-pisah, melainkan mengantar aktivitet-aktivitet psikis yang lain, guru harus berusaha dengan bijaksana untuk melengkapi berbagai aktivitet belajar dengan cara-cara yang tepat yang dapat menyinggung aspek-aspek yang menyenangkan dari pengalaman yang diemosikan.

C. Motivasi Dan Emosi

Motivasi berkaitan erat dengan emosi. Emosi itu sendiri adalah pendorong terjadinya perilaku, tetapi hubungannya dengan motivasi seperti apa, belum terjawab sepenuhnya oleh ahli psikologi. Menurut Hilgrad dan kawan-kawan, kebanyakan ahli beranggapan bahwa motivasi adalah pendorong perilaku yang determinan-determinannya berasal dari dalam diri individu (stimulus-stimulus internal), sedang determinan-determinan emosi berasal dari luar individu (stimulus-stimulus eksternal).

Kebanyakan perilaku bermotivasi mempunyai komponen emosional (afektif). Komponen inilah yang menyebabkan perilaku tertentu cenderung di ulang kembali (karena menghasilkan sesuatu yang menyenangkan) atau dijauhi/dihindari (karena menimbulkan sesuatu yang tidak disukai) meskipun demikian, para ahli lebih memperhatikan perilaku terarah tujuan bila mempelajari motivasi dan pengalaman-pengalaman subjektif afektif bila mempelajari emosi.

Karena perilaku bermotivasi selalu mempunyai komponen afektif, maka pengetahuan tentang perilaku apa dengan komponen afektif apa akan mempermudah usaha untuk memperbesar motivasi manusia. Para ahli sepakat bahwa didalam emosi masih terdapat unsur nalar, kognisi. Karena adanya kognisi inilah, maka dapat terjadi dua orang yang menghadapi insentif yang sama (uang) mempunyai reaksi yang amat berbeda. Dengan pengetahuan emosi inilah orang setinggi mungkin mempertahankan motivasi ini baik dalam hal pekerjaan ataupun belajar

D. Motivasi, Belajar, dan Minat

Dalam kaitannya dengan belajar dan minat biasanya para ahli membedakan dua macam motivasi berdasarkan sumber dorongan terhadap perilaku, yaitu motivasi intristik dan ekstrisik. Motivasi intrinsik adalah yang bersumber dari dalam diri individu yang bersangkutan (ingin menjadi Guru, saya harus lebih banyak belajar karena kurang menguasai bagaimana menjadi guru yang profesional ; dan lain-lain). Motivasi ekstrinsik mempunyai sumber dari luar (takut nilai rendah ; untuk mendapatkan si Maya tersayang ; biar dibilang anak pintar ; dan lain-lain).

Motivasi intrinsik erat kaitannya dengan n-achnya Mc Clelland dan aktualisasinya Maslow. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa motivasi intrinsik lebih tahan lama dan kuat dibanding motivasi Ekstrinsik untuk mendorong minat belajar. Namun demikian, motivasi ekstrinsik juga bisa sangat efektif karena minat tidak selalu bersifat intrinsik.

E. Kecerdasan Inteligensi

Sebenarnya pengertian cerdas ini sangat beragam, karena kecerdasan bisa meliputi berbagai aspek, seperti intelektual, emosional, spritual, kinestetik, musik, interpersonal, akademis dan sebagainya. Tapi secara awam, budaya masyarakat kita cenderung menganggap cerdas adalah apabila anak yang selalu jadi juara kelas atau yang jago matematik. Padahal, tentu tidak selalu demikian. Belum tentu semua anak yang cerdas adalah anak yang jago matematik atau anak yang selalu jadi juara kelas. Ada banyak anak yang tidak menjadi juara kelas tapi sebenarnya ia tergolong anak yang cerdas.Ada banyak anak yang cerdas berbahasa tapi tidak pandai matematik, atau ada anak yang pandai bergaul tapi kurang trampil dalam hal menggambar, dan sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa pengertian cerdas di sini menggambarkan adanya potensi-potensi yang menonjol yang dimiliki anak dan bersifat unik antara anak yang satu dengan yang lain. Setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda.

F. Kecerdasan Emosional Spritual

Seorang ibu, orangtua murid yang baru lulus, bercerita bagaimana caranya untuk mengirim Rahmat ke Jerman. Ia sudah meyakinkan anaknya bahwa ia tidak akan mampu untuk membiayainya. Tetapi anaknya berulang-kali meyakinkan orangtuanya, bahwa Tuhan pasti akan memberikan jalan. Ditengah-tengah pembicaraan, ibu itu bercerita tentang perubahan perilaku anaknya setelah masuk sekolah yang menitik beratkan kepada pengembangan kecerdasan emosional spritual. Waktu pulang kampung, ia banyak menaruh perhatian pada tetangga-tetangganya yang miskin. Menjelang Lebaran, seperti biasanya, ibu itu memberi anaknya uang untuk membeli pakaian baru. Rahmat menerima uang itu seraya minta izin untuk memberikannya pada tukang becak tetangganya. “Uang ini jauh lebih berharga bagi dia ketimbang saya, Bu,” kata Rahmat. Ibunya bercerita sambil meneteskan air mata. Kisah nyata di atas menyajikan contoh anak yang cerdas secara spiritual. Itu terjadi jauh sebelum konsep kecerdasan spiritual ramai diperbincangkan. Dan kutipan lima karakteristik orang yang cerdas secara spiritual menurut Roberts A. Emmons, The – Psychology of Ultimate Concerns:

(1)   Kemampuan untuk mentransendensikan yang fisik dan material;

(2)   Kemampuan untuk mengalami tingkat kesadaran yang memuncak;

(3)   Kemampuan untuk mensakralkan pengalaman sehari-hari;

(4)   Kemampuan untuk menggunakan sumber-sumber spiritual buat menyelesaikan masalah.

(5) Kemampuan untuk berbuat baik.

Karakteristik di atas sering disebut sebagai komponen inti kecerdasan spiritual. Anak yang merasakan kehadiran Tuhan atau makhluk ruhaniyah di sekitarnya mengalami transendensi fisikal dan material. Ia memasuki dunia spiritual. Ia mencapai kesadaran kosmis yang menggabungkan dia dengan seluruh alam semesta. Ia merasa bahwa alamnya tidak terbatas pada apa yang disaksikan dengan alat-alat indranya. Dalam interaksi sehari-hari, kalau seseorang tidak memiliki kecerdasan emosional maka hubungan yang dia lakukan adalah berdasarkan pamrih semata.Kalau orang yang beriman maka dia akan menjalin hubungan dengan orang lain, karena mengharap ridho Allah SWT (surat Al Insan ayat 9).

Sanktifikasi pengalaman sehari-hari, ciri yang ketiga, terjadi ketika kita meletakkan pekerjaan biasa dalam tujuan yang agung. Konon, pada abad pertengahan seorang musafir bertemu dengan dua orang pekerja yang sedang mengangkut batu-bata. Salah seorang di antara mereka bekerja dengan muka cemberut, masam, dan tampak kelelahan. Kawannya justru bekerja dengan ceria, gembira, penuh semangat. Ia tampak tidak kecapaian. Kepada keduanya ditanyakan pertanyaan yang sama, “Apa yang sedang Anda kerjakan? “Yang cemberut menjawab, “Saya sedang menumpuk batu.” Yang ceria berkata, “Saya sedang membangun Masjid!” Yang kedua telah mengangkat pekerjaan “menumpuk bata” pada dataran makna yang lebih luhur. Ia telah melakukan sanktifikasi.

Orang yang cerdas secara spiritual tidak memecahkan persoalan hidup hanya secara rasional atau emosional saja. Ia menghubungkannya dengan makna kehidupan secara spiritual. Ia merujuk pada warisan spiritual -seperti teks-teks Kitab Suci atau wejangan orang-orang suci- untuk memberikan penafsiran pada situasi yang dihadapinya, untuk melakukan definisi situasi

Mengelola emosi berarti bagaimana menangani perasaan agar terungkap dengan tepat. Ini bergantung pada kesadaran diri.Makanya kalau dibilang mengelola emosi itu tidak tepat, Contoh: Apabila seorang anak melakukan kesalahan,maka sang ibu sebaiknya tidak langsung memarahi. Tapi bertanya kepada sang anak, apakah dia tahu telah melakukan kesalahan. Karena, sang anak belum tentu dia tahu kesalahannya.Begitupun dengan suami. Jadi tanyalah dengan cara yang baik tidak dengan marah-marah.

Ketika Rahmat diberitahu bahwa orang tuanya tidak akan sanggup menyekolahkannya ke Jerman, ia tidak putus asa. Ia yakin bahwa kalau orang itu bersungguh-sungguh dan minta pertolongan kepada Tuhan, ia akan diberi jalan. Bukankah Tuhan berfirman, “Orang-orang yang bersungguh-sungguh dijalan Kami, Kami akan berikan kepadanya jalan-jalan Kami”? Bukankah Heinrich Heine memberikan inspirasi dengan kalimatnya “Den Menschen machtseiner Wille gro=DF und klein”? Rahmat memiliki karakteristik yang ke empat. Tetapi Rahmat juga menampakkan karakteristik yang ke lima: memiliki rasa kasih yang tinggi pada sesama makhluk Tuhan. “The fifth and final component of spiritual intelligence refers to the capacity to engage invirtuous behavior: to show forgiveness, to express gratitude, to be humble, to display compassion and wisdom,” tulis Emmons. Memberi maaf, bersyukur atau mengungkapkan terimakasih, bersikap rendah hati, menunjukkan kasih sayang dan kearifan, hanyalah sebagian dari kebajikan. Karakteristikterakhir ini mungkin disimpulkan dalam sabda nabi Muhammad saw, “Amal paling utama ialah engkau masukkan rasa bahagia pada sesama manusia.”

Dijelaskan secara singkat kiat-kiat untuk mengembangkan SQ :

(1)   Jadilah “gembala spiritual” yang baik,

(2)   Bantulah anak untuk merumuskan “missi” hidupnya,

(3)   Baca kitab suci bersama-sama dan jelaskan maknanya dalam kehidupan kita,

(4)   Ceritakan kisah-kisah agung dari tokoh-tokoh spiritual,

(5)   Diskusikan berbagai persoalan dengan perspektif ruhaniah,

(6)   Libatkan anak dalam kegiatan-kegiatan ritual keagamaan,

(7)   Bacakan puisi-puisi, atau lagu-lagu yang spiritual dan inspirasional,

(8)   Bawa anak untuk menikmati keindahan alam,

(9)   Bawa anak ke tempat-tempat orang yang menderita, dan

(10) Ikut-sertakan anak dalam kegiatan-kegiatan sosial.

1. Jadilah gembala spiritual. Orang tua atau guru yang bermaksud mengembangkan SQ anak haruslah seseorang yang sudah mengalami kesadaran spiritual juga. Ia sudah “mengakses” sumber-sumber spiritual untuk mengembangkan dirinya. Seperti disebutkan di atas yakni karakteristik orang yang cerdas secara spiritual, ia harus dapat merasakan kehadiran dan peranan Tuhan dalam hidupnya. “Spiritual intelligence is the faculty of our non-material dimension the human soul,” kata Khalil Khavari. Ia harus sudah menemukan makna hidupnya dan mengalami hidup yang bermakna. Ia tampak pada orang-orang di sekitarnya sebagai “orang yang berjalan dengan membawa cahaya.” (Al-Quran 6:122).

`tBurr& tb%x. $\GøŠtB çm»oY÷uŠômrsù $oYù=yèy_ur ¼çms9 #Y‘qçR ÓÅ´ôJtƒ ¾ÏmÎ/ †Îû Ĩ$¨Y9$# `yJx. ¼ã&é#sW¨B ’Îû ÏM»yJè=—à9$# }§øŠs9 8l͑$sƒ¿2 $pk÷]ÏiB 4 šÏ9ºx‹x. z`Îiƒã— tûï̍Ïÿ»s3ù=Ï9 $tB (#qçR%x. šcqè=yJ÷ètƒ ÇÊËËÈ

Ia tahu ke mana ia harus mengarahkan bahteranya. Ia pun menunjukkan tetap bahagia di tengah taufan dan badai yang melandanya. “Spiritual intelligence empowers us to be happy in spite of circumstances and not because of them,” masih kata Khavari. Bayangkalah masa kecil kita dahulu. Betapa banyaknya perilaku kita terilhami oleh orang-orang yang sekarang kita kenal sebagai orang yang berSQ tinggi. Dan orang-orang itu boleh jadi orang-tua kita, atau guru kita, atau orang-orang kecil di sekitar kita.

2.Rumuskan missi hidup. Nyatakan kepada anak bahwa ada berbagai tingkat tujuan, mulai dari tujuan paling dekat sampai tujuan paling jauh, tujuan akhir kita: Suatu misal ada seorang anak yang ingin melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi swasta, setelah gagal di UMPTN. Ia tidak punya apa pun kecuali kemauan. Sayang, ia belum bisa merumuskan keinginannya dalam kerangka missi yang luhur. Berikut ini adalah cuplikan percakapannya anatar anak dan yang dimintai tolong :

* Saya ingin belajar, Pak

* Untuk apa kamu belajar?

* Saya ingin mendapat pekerjaan.

* Jika belajar itu hanya untuk dapat pekerjaan, saya beri kamu pekerjaan.

* Tinggallah di rumahku. Cuci mobilku, dan saya bayar.

* Saya ingin belajar, Pak

* Untuk apa kamu belajar?

* Saya ingin mendapat pengetahuan

* Jika tujuan kamu hanya untuk memperoleh pengetahuan, tinggallah bersamaku. Saya wajibkan kamu setiap hari untuk membaca buku. Kita lebih banyak memperoleh pengetahuan dari buku ketimbang sekolah.

* Tetapi saya ingin masuk sekolah.

* Untuk apa kamu masuk sekolah?

* Saya bingung, Pak.

Kita dapat membantu anak untuk menemukan missinya. Jika kamu sudah sekolah, kamu mau apa? Aku mau jadi orang pintar. Jika sudah pintar, mau apa, what then? Dengan kepintaranku, aku akan memperoleh pekerjaan yang bagus. Jika sudah dapat pekerjaan, mau apa? Aku akan punya duit banyak.Jika sudah punya duit banyak, mau apa? Aku ingin bantu orang miskin, yang di negeri kita sudah tidak terhitung jumlahnya. Sampai di sini, kita sudah membantu anak untuk menemukan tujuan hidupnya.

3. Baca Kitab Suci. Setiap agama pasti punya kitab suci. Begitu keterangan guru-guru kita. Tetapi tidak setiap orang menyediakan waktu khusus untuk memperbincangkan kitab suci dengan anak-anaknya. Di antara pemikir besar Islam, yang memasukkan kembali dimensi ruhaniah ke dalam khazanah pemikiran Islam, adalah Dari Muhammad Iqbal. Walaupun ia dibesarkan dalam tradisi intelektual barat, ia melakukan pengembaraan ruhaniah bersama Jalaluddin Rumi dan tokoh-tokoh sufi lainnya. Boleh jadi, yang membawa Iqbal ke situ adalah pengalaman masa kecilnya. Setiap selesai salat Subuh, ia membaca Al-Quran. Pada suatu hari, bapaknya berkata, “Bacalah Al-Quran seakan-akan ia diturunkan untukmu!” Setelah itu, kata Iqbal, “aku merasakan Al-Quran seakan-akan berbicara kepadaku.”

4. Ceritakan kisah-kisah agung. Anak-anak, bahkan orang dewasa, sangat terpengaruh dengan cerita. “Manusia,” kata Gerbner, “adalah satu-satunya makhluk yang suka bercerita dan hidup berdasarkan cerita yang dipercayainya.” Para Nabi mengajar umatnya dengan parabel atau kisah perumpamaan. Para sufi seperti Al-‘Attar, Rumi, Sa’di mengajarkan kearifan perenial dengan cerita. Sekarang Jack Canfield memberikan inspirasi pada jutaan orang melalui Chicken Soup-nya. Kita tidak akan kekurangan cerita luhur, bila kita bersedia menerima cerita itu dari semua sumber.

5. Diskusikan berbagai persoalan dengan perspektif ruhaniah. Melihat dari perspektif ruhaniah artinya memberikan makna dengan merujuk pada Rencana Agung Ilahi (Divine Grand Design). Mengapa hidup kita menderita? Kita sedang diuji Tuhan. Dengan mengutip Rumi secara bebas, katakan kepada anak kita bahwa bunga mawar di taman bunga hanya merkah setelah langit menangis. Anak kecil tahu bahwa ia hanya akan memperoleh air susu dari dada ibunya setelah menangis. Penderitaan adalah cara Tuhan untuk membuat kita menangis. Menangislah supaya Sang Perawat Agung memberikan susu keabadian kepadamu. Mengapa kita bahagia? Perhatikan bagaimana Tuhan selalu mengasihi kita, berkhidmat melayani keperluan kita, bahkan jauh sebelum kita dapat menyebut asma-Nya.

6. Libatkan anak dalam kegiatan-kegiatan ritual keagamaan. Kegiatan agama adalah cara praktis untuk “tune in” dengan Sumber dari Segala Kekuatan. Ambillah bola lampu listrik di rumah Anda. Bahaslah bentuknya, strukturnya, komponen-komponennya, kekutan cahayanya, voltasenya, dan sebagainya. Anda pasti menggunakan sains. Kegiatan agama adalah kabel yang menghubungkan bola lampu itu dengan sumber cahaya. Sembahyang, dalam bentuk apa pun, mengangkat manusia dari pengalaman fisikal dan material ke pengalaman spiritual. Untuk itu, kegiatan keagamaan tidak boleh dilakukan dengan terlalu banyak menekankan hal-hal yang formal. Berikan kepada anak-anak kita makna batiniah dari setiap ritus yang kita lakukan. Sembahyang bukan sekedar kewajiban. Sembahyang adalah kehormatan untuk menghadap Dia yang Mahakasih dan Mahasayang!

7. Bacakan puisi-puisi, atau lagu-lagu yang spiritual dan inspirasional. Seperti kita sebutkan di atas, manusia mempunyai dua fakultas, fakultas untuk mencerap hal-hal material dan fakultas untuk mencerap hal-hal spiritual. Kita punya mata lahir dan mata batin. Ketika kita berkata “masakan ini pahit”, kita sedang menggunakan indra lahiriah kita. Tetapi ketika kita berkata “keputusan ini pahit”, kita sedang menggunakan indra batiniah kita. Empati, cinta, kedamaian, keindahan hanya dapat dicerap dengan fakultas spiritual kita (Ini yang kita sebut sbg SQ). SQ harus dilatih. Salah satu cara melatih SQ ialah menyanyikan lagu-lagu ruhaniah atau membacakan puisi-puisi. Jika Plato berkata “pada sentuhan cinta semua orang menjadi pujangga”, kita dapat berkata “pada sentuhan puisi semua orang menjadi pecinta.”

8. Bawa anak untuk menikmati keindahan alam. Teknologi moderen dan kehidupan urban membuat kita teralienasi dari alam. Kita tidak akrab lagi dengan alam. Setiap hari kita berhubungan dengan alam yang sudah dicemari, dimanipulasi, dirusak. Alam tampak di depan kita sebagai musuh setelah kita memusuhinya. Bawalah anak-anak kita kepada alam yang relatif belum banyak tercemari. Ajak mereka naik ke puncak gunung. Rasakan udara yang segar dan sejuk. Dengarkan burung-burung yang berkicau dengan bebas. Hirup wewangian alami. Ajak mereka ke pantai. Rasakan angin yang menerpa tubuh. Celupkan kaki kita dan biarkan ombak kecil mengelus-elus jemarinya. Dan seterusnya. Kita harus menyediakan waktu khusus bersama mereka untuk menikmati ciptaan Tuhan, setelah setiap hari kita dipengapkan oleh ciptaan kita sendiri.

9. Bawa anak ke tempat-tempat orang yang menderita. Nabi Musa pernah berjumpadengan Tuhan di Bukit Sinai. Setelah ia kembali ke kaumnya, ia merindukan pertemuan dengan Dia. Ia bermunajat, “Tuhanku, di mana bisa kutemui Engkau.” Tuhan berfirman, “Temuilah aku di tengah-tengah orang-orang yang hancur hatinya.”

10. Ikut-sertakan anak dalam kegiatan-kegiatan sosial. Dari Canfield dalam Chicken Soup for the Teens. Ia bercerita tentang seorang anak yang “catatan kejahatannya lebih panjang dari tangannya.” Anak itu pemberang, pemberontak, dan ditakuti baik oleh guru maupun kawan- kawannya. Dalam sebuah acara perkemahan, pelatih memberikan tugas kepadanya untuk mengumpulkan makanan untuk disumbangkan bagi penduduk yang termiskin. Ia berhasil memimpin kawan-kawannya untuk mengumpulkan dan membagikan makanan dalam jumlah yang memecahkan rekor kegiatan sosial selama ini. Setelah makanan, mereka mengumpulkan selimut dan alat-alat rumah tangga. Dalam beberapa minggu saja, anak yang pemberang itu berubah menjadi anak yang lembut dan penuh kasih. Seperti dilahirkan kembali, ia menjadi anak yang baik – rajin, penyayang, dan penuh tanggung jawab.

G. Penutup

Kecerdasan Emosional Spritual adalah Anak yang merasakan kehadiran Tuhan atau makhluk ruhaniyah di sekitarnya mengalami transendensi fisikal dan material. Ia memasuki dunia spiritual. Ia mencapai kesadaran kosmis yang menggabungkan dia dengan seluruh alam semesta. Ia merasa bahwa alamnya tidak terbatas pada apa yang disaksikan dengan alat-alat indranya. Dalam interaksi sehari-hari, kalau seseorang tidak memiliki kecerdasan emosional maka hubungan yang dia lakukan adalah berdasarkan pamrih semata.Kalau orang yang beriman maka dia akan menjalin hubungan dengan orang lain, karena mengharap ridho Allah SWT (surat Al Insan ayat 9).

$oÿ©VÎ) ö/ä3ãKÏèôÜçR Ïmô_uqÏ9 «!$# Ÿw ߉ƒÌçR óOä3ZÏB [ä!#t“y_ Ÿwur #·‘qä3ä© ÇÒÈ

Ada tipe orang yang straight forward/berbicara langsung apa adanya. Dari sudut pandang kecerdasan emosional, orang seperti ini harus belajar memahami perasaan orang lain.

Rasulullah pernah menerima tamu, Usman bin Affan. Rasulullah selalu membetulkan bajunya ketika Usman bertamu. Karena Rasulullah tahu betul sifat Usman yang pemalu. Apalagi kalau Rasulullah berpakaian santai. Untuk itu kita perlu belajar mengenali orang lain seperti tindakan Rasulullah terhadap tamunya. Sehingga tindakan kita bisa diterima oleh orang lain

DAFTAR BACAAN

Whiterington., “Psikologi Pendidikan”, PT.Rineka Cipta. Jakarta, 1991

Muhammad Iqbal. Drs., “Rekonstruksi Pemikiran Islam”, Kalam Mulia, 1994

Irwanto. Drs. Dkk., “Psikologi Umum”, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1994

Ditulis oleh Bidang PSDM Fahima. Rabu, 20 September 2006, Pukul 20.00-21.30 JST/18.00 – 19.30 WIB), “Membangun Emosi yang Cerdas di Bulan Ramadhan”, Tempat : Radio Tarbiyah Pembicara : Ust. Adi Junjunan Mustafa.

Jalaluddin Rakhmat. Prof. Dr. KH, Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Anak”, Dikutip dari artikel lepas Yayasan Muthahari, http://www.melasayang.netfirms.com, 05 Februari 2007

Dewa Ketut Sukardi. Drs., “Analisis Tes Psikologis”, PT. Rineka Cipta, Jakarta, 1990

A. Pendahuluan

pengakuan bahwa religi suatu sistem, berarti religi itu terdiri dari bagian-bagian yang behubungan satu sama lain, dan masing-masing bagia merupakan satu sistem tersendiri. Apabilakita berbicara tentang sistem kepercayaan, maka yang dimaksud ialah seluruh kepercayaan atau keyakinan yang dianut oleh seseorang atau kesatuan sosial. Kesatuan social itu dapat berwujud suatu masyarakat dalam arti luas, tetapi dapa pula berwujud satu kelompok kekerabatan yang relatif kecil, dalam hal ini Bubuhan dalam masyarakat Banja, atau bahkan keluarga batih semata-mata, dan dapat pula berwujud suatu masyarakat daerah lingkungan tertentu. Pengkatagorian atas berbagai-bagai system kepercayaan yang ada dalam masyarakat Banjar sedikit banyak berdasarkan atas kesatuan-kesatuan sosial yang menganutnya.

B. Perkembangan Agama Atau Kepercayaan Dalam Masyarakat Banjar

Bentuk-bentuk kepercayaan dan praktek-praktek keagamaan yang bagaimana yang dianut oleh nenek-nenek moyang orang Banjar tatkala mereka mula-mula menetap di sini, sulit mencari keterangan dan bukti yang akurat untuk mengutarkan asal-usul agama dalam suku Banjar.barangkali aspek religius dari kehidupan masyarakat Bukit yang mendiami pegunungan Merartus adalah merupakan sisa-sisa yang masih tertinggal (survivals) dari kepercayaan mereka itu. Tentu saja dengan mengingart pengaruh dari agama Hindu dan Islam. Mungkin pula religi nenek moyang orang Banjar pada zaman purba itu dapat ditelusuri di kalangan suku Murba yang hidup di daerah Sumatera (Riau dan Jambi) dan Semenanjung Malaya (sekarang Malaysia Barat) pada saat ini. Dengan demikian kita bias memperkirakan bahwa religi mereka berdasarkan pemujaan nenek moyang dan adanya makhluk-makhluk halusdi sekitar mereka (animisme). Mungkin bentuk-bentuk pemujaan nenek moyang dan aspek-aspek animisme dari kegidupan keagamaan masyarakat Banjar, yang kadang-kadang masih muncul, adalah sisa-sisa dari agama mereka dahulu kala.

Tentang agama yang dianut oleh raja-raja cikal bakal sultan-sultan Banjar, Hikayat Banjar mungkin dapat dijadikan landasan. Empu Jatmika pada waktu mendirikan keraton Negaradipa konon menyuruh pula membangun candi, yang dinamakan “candi Agung”, yang bekas-bekasnya masih ada di kota Amuntai, tidak jauh dari pertemuan sungai Balangan dan Tabalong.

Dengan demikian dapat diperkirakan bahwa agama yang dianut di Negaradipa dan demikian pula agaknya di Negaradaha, ialah salah satu bentuk agama Syiwa, mungkin sekali dalam bentuk sinkretisme syiwa Budha. Pengaruh ini intensif, menurut salah satu peneliti sejarah budaya Banjar hanya terbatas dalam lingkungan Keratondan keluarga bangsawan atau pembesar-pembesar kerajaan, dan hanya berkenaan dengan daerah ibukota lalawangan (mungkin setingkat kabupaten Jawa).

Sejak pangeran Samudera dinobatkan sebagai sultan Suriansyah di Banjarmasin, yaitu kira-kira 400 tahun yang lalu, Islam telah menjadi agama resmi kerajaan menggantikan agama Hindu. Dan agaknya perubahan agama istana Hindu menjadi Islam dipandang oleh rakyat awam sebagai hal yang sewajarnya saja, dan tidak perlu mengubah loyalitas mereka. Sejak masa Suriansyah proses islamisasi berjalan cepat, sehingga dalam waktu yang relatif tidak terlalu lama, yaitu sekitar pertengahan abad-18 atau bahkan sebelumnya, Islam sudah menjadi identitas oaring Banjar.

Sebagaimana nama-nama atau barangkali lebih baik gelar-gelar bagi dewa tertinggi itu memperlihatkan adanya pengaruh Hindu dan Islam., dan sebagian lagi membayangkannya sebagai nenek moyang.

Agama Kristen mlai diperkenalkan sekitar tahun 1688 oleh seorang pastor Portugi, namun penyebaran agam Kristen secara intensif dilakukan di kalangan orang Dayak di kawasan ini oleh kegiatan zending sejak tahun 1688. orang-orang Dayak sasaran khususnya ialah yang bertempat tinggal di (propinsi) Kalimantan Tengah, sedangkan orang-orang Bukit baru terjamah oleh kegiatan pengkristenan pada permulaan abad ini.

Feuilletau de Bruyn melaporkan ditemukannya sekitar 200 orang Kristen di kalangan orang Manyan di sekitar kota Tanjung, yang tersebar dalam beberapa kampung, sedangkan beberapa penganut Kristen di Labuhan pada waktu itu tidak diperoleh sesuatu keterangan.

Setelah menceritakan tentang sultan Suriansyah, selaku sultan Banjar pertama yang menganut agama Islam, Hikayat Banjartidak menyinggung-nyinggung lagi bagaimana proses islami selanjutnya atau bagaimana pengaruh Islam terhadap pemerintahan dan kehidupan sehari-hari, selain menyebut beberapa jabatan agama, yaitu panghulu, chalifah dan chatib.

Mungkin perkembangan jabatan-jabatan agama dari yang tertinggi di ibukota kesultanan sampai yang terendah di kampong-kampung adalah atas pengaruh syekh Muhammmad Arsyad al Banjari. Pengaruh beliau terhadap pelaksanaan sehari-hari di kehidupan keagamaan orang Banjar cukup besar. Karya yang konon didasarkan atas ajaran beliau, yaitu kitab perukuna, sejak lama sekali, bahakn sampai sekarang masih, merupakan kitab pegangan bagi sebagian besar ummat Islam di Banjar, bahkan juga di daerah-daerah lainnya di Indinesia.

C. Kepercayaan Dan Keyakinan Di Masyarakat Banjar

Kepercayaan yang berasal dari ajaran Islam bukanlah satu-satunya keperyacaan religius yang dianut masyarakat Banjar, sistem ritus dan system upacara yang diajarkan Islam bukanlah satu-satunya sistem upacara yang dilakukan. Keseluruhan kepercayaan yang dianut orang Banjar penulis sejarah bedakan menjadi tiga katagori. Yang pertama ialah kepercayaan yang bersumber dari ajaran Islam. Isi kepercayaan ini tergambar dari rukun iman yang ke enam. Yang harus disebutkan di sini, sehubungan dengan karangan ini, ialah kepercayaan tentang malaikat sebagai makhluk tuhan dengan fungsi-fungsi tertentu. Dan tentang adanya kehidupan sesudah mati atau sesudah hancurnya alam semesta ini ( hari akhirat) selain manusia dan malaikat, masih ada dua jenis makhluk tuhan lai yang termasuk dalam sistem kepercayaan ini dan keduanya memang disebut dalam Al Qur’an, yaitu jin dan setan atau iblis.

Kedua, kepercayaan yang munkin ada kaitannya denga struktur masyarakat Banjar pada zaman dahulu, yaiut setidak-tidaknya pada masa sultan-sultan dan sebelumnya. Orang-orang Banjar pada waktu itu hidup dalam lingkungan keluarga luas, yang dinamakan bubuhan dan juga bertempat tinggal dalam rumah, dan belakangan, dalam lingkungan , bubuhan pula.

Kepercayaan demikian ini selalu disertai dengan keharusan bubuhan melakukan upacara tahunan, yang dinamakan atau lebih baik penulisan kategorikan sebagai aruh tahunan, disertai berbagai keharusan atau tantangan sehubungan dengan kepercayaan itu.

Ketiga, kepercayaan yang berhubungan dengan tafsiran masyarakat atas alam lingkungan sekitarnya, yang mungkin adakalanya berkaitan pula dengan kategori kedua.kepercayaan kategori pertama mungkin lebih baik dinamakan kepercayaan Islam, kategori kedua kepercayaan bubuhan dan kategori ketiga kepercayaan lingkungan. Referensi sehubungan denga kepercayaan Islam biasanya diperoleh dari ulama-ulama, kepercayaan bubuhan diperoleh dari tokoh bubuhan dan kepercayaan yang berhubungan dengan tafsiran penduduk terhadap lingkungan alam sekitar (kepercayaan lingkungan) diperoleh dari tabib-tabib, sebutan dukun dalam masyarakat Banjar, atau orang-orang tua tertentu, terutama yang tinggal di lingkungan yang bersangkutan tetapi juga yang bertempat tinggal di luarnya. Masih sehubungan dengan bentuk kepercayaan yang ketiga, kep0ercayaan lingkungan, ialah kepercayaan yang berkenaan dengan isi alam ini.

Di dalam masyarakat berkembang kepercayaan dengan minyak-minyak sakti, yang konon berkhasiat menyebabkan dagangan sipemakainya laku, ia disukai orang, menyembuhkan luka bagaimanapun parahnya, atau kebal terhadap senjata, tetapi di samping itu ada di antara minyak-minyak sakti itu yang berakibat sampingan berupa peminumnya menjadi “hantu” setelah matinya kelak, khsusnya berkenaan wanita yang minum minyak kuyang.

Masyarakat Banjar mengembangkan kegiatan berupacara hamper dalam semua bidang kehidupan: yang ia lihat dari sifatnya merupakan pelaksanaan belaka dari kewajiban-kewajiban (dan anjuran-anjuran) yang diajarkan oleh agama Islam, terjadi dalam rangka peralihan tahap-tahap hidup seorang individu, yang berulang tetap sesuai jalannya kelender, dan yang terjadi sewaktu-waktu dirasakan keperluan untuk itu.

D. Penutup

Kepercayaan dan agama yang dianut nenek moyang kita pada zaman dahulu yang berkembang hingga sekarang tidak lepas dari beberapa keyakinan tentang hal yang gaib dan dijadikan ritual penyembahan. Sejak masa syehk Arsyad al Banjari perubahan dan perkembangan agama terjadi khususnya agama Islam sedangkan agama Kristen datang di bawa oleh bangsa Portiugis dan berkembang di masyarakat Banjar sehingga terjadi keragaman agama dalam masyarakat banjar.

DAFTAR PUSTAKA

· Daud, Alfani, 1997. Islam Dan Masyarakat Banjar. Jakarta. PT. Raja Grafindo.

· Http://www.indomedia.com/bpost/pudak/journal/islam. Htm#1

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 181 pengikut lainnya.