Category: Budaya


Kepercayaan Masyarakat Banjar

A. Pendahuluan

pengakuan bahwa religi suatu sistem, berarti religi itu terdiri dari bagian-bagian yang behubungan satu sama lain, dan masing-masing bagia merupakan satu sistem tersendiri. Apabilakita berbicara tentang sistem kepercayaan, maka yang dimaksud ialah seluruh kepercayaan atau keyakinan yang dianut oleh seseorang atau kesatuan sosial. Kesatuan social itu dapat berwujud suatu masyarakat dalam arti luas, tetapi dapa pula berwujud satu kelompok kekerabatan yang relatif kecil, dalam hal ini Bubuhan dalam masyarakat Banja, atau bahkan keluarga batih semata-mata, dan dapat pula berwujud suatu masyarakat daerah lingkungan tertentu. Pengkatagorian atas berbagai-bagai system kepercayaan yang ada dalam masyarakat Banjar sedikit banyak berdasarkan atas kesatuan-kesatuan sosial yang menganutnya.

B. Perkembangan Agama Atau Kepercayaan Dalam Masyarakat Banjar

Bentuk-bentuk kepercayaan dan praktek-praktek keagamaan yang bagaimana yang dianut oleh nenek-nenek moyang orang Banjar tatkala mereka mula-mula menetap di sini, sulit mencari keterangan dan bukti yang akurat untuk mengutarkan asal-usul agama dalam suku Banjar.barangkali aspek religius dari kehidupan masyarakat Bukit yang mendiami pegunungan Merartus adalah merupakan sisa-sisa yang masih tertinggal (survivals) dari kepercayaan mereka itu. Tentu saja dengan mengingart pengaruh dari agama Hindu dan Islam. Mungkin pula religi nenek moyang orang Banjar pada zaman purba itu dapat ditelusuri di kalangan suku Murba yang hidup di daerah Sumatera (Riau dan Jambi) dan Semenanjung Malaya (sekarang Malaysia Barat) pada saat ini. Dengan demikian kita bias memperkirakan bahwa religi mereka berdasarkan pemujaan nenek moyang dan adanya makhluk-makhluk halusdi sekitar mereka (animisme). Mungkin bentuk-bentuk pemujaan nenek moyang dan aspek-aspek animisme dari kegidupan keagamaan masyarakat Banjar, yang kadang-kadang masih muncul, adalah sisa-sisa dari agama mereka dahulu kala.

Tentang agama yang dianut oleh raja-raja cikal bakal sultan-sultan Banjar, Hikayat Banjar mungkin dapat dijadikan landasan. Empu Jatmika pada waktu mendirikan keraton Negaradipa konon menyuruh pula membangun candi, yang dinamakan “candi Agung”, yang bekas-bekasnya masih ada di kota Amuntai, tidak jauh dari pertemuan sungai Balangan dan Tabalong.

Dengan demikian dapat diperkirakan bahwa agama yang dianut di Negaradipa dan demikian pula agaknya di Negaradaha, ialah salah satu bentuk agama Syiwa, mungkin sekali dalam bentuk sinkretisme syiwa Budha. Pengaruh ini intensif, menurut salah satu peneliti sejarah budaya Banjar hanya terbatas dalam lingkungan Keratondan keluarga bangsawan atau pembesar-pembesar kerajaan, dan hanya berkenaan dengan daerah ibukota lalawangan (mungkin setingkat kabupaten Jawa).

Sejak pangeran Samudera dinobatkan sebagai sultan Suriansyah di Banjarmasin, yaitu kira-kira 400 tahun yang lalu, Islam telah menjadi agama resmi kerajaan menggantikan agama Hindu. Dan agaknya perubahan agama istana Hindu menjadi Islam dipandang oleh rakyat awam sebagai hal yang sewajarnya saja, dan tidak perlu mengubah loyalitas mereka. Sejak masa Suriansyah proses islamisasi berjalan cepat, sehingga dalam waktu yang relatif tidak terlalu lama, yaitu sekitar pertengahan abad-18 atau bahkan sebelumnya, Islam sudah menjadi identitas oaring Banjar.

Sebagaimana nama-nama atau barangkali lebih baik gelar-gelar bagi dewa tertinggi itu memperlihatkan adanya pengaruh Hindu dan Islam., dan sebagian lagi membayangkannya sebagai nenek moyang.

Agama Kristen mlai diperkenalkan sekitar tahun 1688 oleh seorang pastor Portugi, namun penyebaran agam Kristen secara intensif dilakukan di kalangan orang Dayak di kawasan ini oleh kegiatan zending sejak tahun 1688. orang-orang Dayak sasaran khususnya ialah yang bertempat tinggal di (propinsi) Kalimantan Tengah, sedangkan orang-orang Bukit baru terjamah oleh kegiatan pengkristenan pada permulaan abad ini.

Feuilletau de Bruyn melaporkan ditemukannya sekitar 200 orang Kristen di kalangan orang Manyan di sekitar kota Tanjung, yang tersebar dalam beberapa kampung, sedangkan beberapa penganut Kristen di Labuhan pada waktu itu tidak diperoleh sesuatu keterangan.

Setelah menceritakan tentang sultan Suriansyah, selaku sultan Banjar pertama yang menganut agama Islam, Hikayat Banjartidak menyinggung-nyinggung lagi bagaimana proses islami selanjutnya atau bagaimana pengaruh Islam terhadap pemerintahan dan kehidupan sehari-hari, selain menyebut beberapa jabatan agama, yaitu panghulu, chalifah dan chatib.

Mungkin perkembangan jabatan-jabatan agama dari yang tertinggi di ibukota kesultanan sampai yang terendah di kampong-kampung adalah atas pengaruh syekh Muhammmad Arsyad al Banjari. Pengaruh beliau terhadap pelaksanaan sehari-hari di kehidupan keagamaan orang Banjar cukup besar. Karya yang konon didasarkan atas ajaran beliau, yaitu kitab perukuna, sejak lama sekali, bahakn sampai sekarang masih, merupakan kitab pegangan bagi sebagian besar ummat Islam di Banjar, bahkan juga di daerah-daerah lainnya di Indinesia.

C. Kepercayaan Dan Keyakinan Di Masyarakat Banjar

Kepercayaan yang berasal dari ajaran Islam bukanlah satu-satunya keperyacaan religius yang dianut masyarakat Banjar, sistem ritus dan system upacara yang diajarkan Islam bukanlah satu-satunya sistem upacara yang dilakukan. Keseluruhan kepercayaan yang dianut orang Banjar penulis sejarah bedakan menjadi tiga katagori. Yang pertama ialah kepercayaan yang bersumber dari ajaran Islam. Isi kepercayaan ini tergambar dari rukun iman yang ke enam. Yang harus disebutkan di sini, sehubungan dengan karangan ini, ialah kepercayaan tentang malaikat sebagai makhluk tuhan dengan fungsi-fungsi tertentu. Dan tentang adanya kehidupan sesudah mati atau sesudah hancurnya alam semesta ini ( hari akhirat) selain manusia dan malaikat, masih ada dua jenis makhluk tuhan lai yang termasuk dalam sistem kepercayaan ini dan keduanya memang disebut dalam Al Qur’an, yaitu jin dan setan atau iblis.

Kedua, kepercayaan yang munkin ada kaitannya denga struktur masyarakat Banjar pada zaman dahulu, yaiut setidak-tidaknya pada masa sultan-sultan dan sebelumnya. Orang-orang Banjar pada waktu itu hidup dalam lingkungan keluarga luas, yang dinamakan bubuhan dan juga bertempat tinggal dalam rumah, dan belakangan, dalam lingkungan , bubuhan pula.

Kepercayaan demikian ini selalu disertai dengan keharusan bubuhan melakukan upacara tahunan, yang dinamakan atau lebih baik penulisan kategorikan sebagai aruh tahunan, disertai berbagai keharusan atau tantangan sehubungan dengan kepercayaan itu.

Ketiga, kepercayaan yang berhubungan dengan tafsiran masyarakat atas alam lingkungan sekitarnya, yang mungkin adakalanya berkaitan pula dengan kategori kedua.kepercayaan kategori pertama mungkin lebih baik dinamakan kepercayaan Islam, kategori kedua kepercayaan bubuhan dan kategori ketiga kepercayaan lingkungan. Referensi sehubungan denga kepercayaan Islam biasanya diperoleh dari ulama-ulama, kepercayaan bubuhan diperoleh dari tokoh bubuhan dan kepercayaan yang berhubungan dengan tafsiran penduduk terhadap lingkungan alam sekitar (kepercayaan lingkungan) diperoleh dari tabib-tabib, sebutan dukun dalam masyarakat Banjar, atau orang-orang tua tertentu, terutama yang tinggal di lingkungan yang bersangkutan tetapi juga yang bertempat tinggal di luarnya. Masih sehubungan dengan bentuk kepercayaan yang ketiga, kep0ercayaan lingkungan, ialah kepercayaan yang berkenaan dengan isi alam ini.

Di dalam masyarakat berkembang kepercayaan dengan minyak-minyak sakti, yang konon berkhasiat menyebabkan dagangan sipemakainya laku, ia disukai orang, menyembuhkan luka bagaimanapun parahnya, atau kebal terhadap senjata, tetapi di samping itu ada di antara minyak-minyak sakti itu yang berakibat sampingan berupa peminumnya menjadi “hantu” setelah matinya kelak, khsusnya berkenaan wanita yang minum minyak kuyang.

Masyarakat Banjar mengembangkan kegiatan berupacara hamper dalam semua bidang kehidupan: yang ia lihat dari sifatnya merupakan pelaksanaan belaka dari kewajiban-kewajiban (dan anjuran-anjuran) yang diajarkan oleh agama Islam, terjadi dalam rangka peralihan tahap-tahap hidup seorang individu, yang berulang tetap sesuai jalannya kelender, dan yang terjadi sewaktu-waktu dirasakan keperluan untuk itu.

D. Penutup

Kepercayaan dan agama yang dianut nenek moyang kita pada zaman dahulu yang berkembang hingga sekarang tidak lepas dari beberapa keyakinan tentang hal yang gaib dan dijadikan ritual penyembahan. Sejak masa syehk Arsyad al Banjari perubahan dan perkembangan agama terjadi khususnya agama Islam sedangkan agama Kristen datang di bawa oleh bangsa Portiugis dan berkembang di masyarakat Banjar sehingga terjadi keragaman agama dalam masyarakat banjar.

DAFTAR PUSTAKA

· Daud, Alfani, 1997. Islam Dan Masyarakat Banjar. Jakarta. PT. Raja Grafindo.

· Http://www.indomedia.com/bpost/pudak/journal/islam. Htm#1

UPACARA MANDI HAMIL

DALAM PANDANGAN MASYARAKAT BANJAR

Oleh : Fat Hurrahman

A. PENDAHULUAN

Berbagai upacara mandi yang ditemukan di lapangan ialah upacara mandi menjelang kawin pertama kali, upacara mandi bagi seorang wanita yang pertama kali hamil, berbagai upacara mandi sebaagi cara penyembuhan, dan mandi sebagai salah satu syarat atau bentuk amalan.

Tidak semua wanita yang hamil pertama kali harus menjalani upacara mandi. Konon yang harus menjalaninya ialah yang keturunannya secara turun temurun memang harus menjalaninya. Pada upacara mandi hamil, mungkin si calon ibu sebenarnya bukan tergolong yang wajib menjalaninya, tetapi konon bayi yang dikandungnya mungkin mengharuskannya melalui ayahnya dan dengan demikian si calon ibu ini pun harus menjalaninya pula. Lalai melakukan upacara itu konon menyebabkan yang bersangkutan atau salah seorang anggota kerabat dekat “dipingit”. Sebagai akibat peristiwa “pemingitan” itu proses kelahiran berjalan lambat.[1]

Seperti sudah dikemukakan di atas, tidak semua wanita hamil pertama kali harus melakukan upacara mandi. Yang harus melakukannya hanyalah mereka yang memang keturunan dari orang-orang yang selalu melaksanakannya. Namun dalam kenyataannya banyak ibu-ibu muda yang melaksanakan upacara itu dalam bentuknya yang sangat sederhana, meskipun konon sebenarnya tidak ada keharusan baginya untuk melakukan hal itu.

Di Anduhum dan di Rangas prosedur yang lengkap tidak berhasil ditemukan, sekalipun dinyatakan sebagian ada dilakukan oleh keturunan tertentu. Di kalangan mereka yang secara tradisional melaksanakannya pun tampaknya ada kecendrunagn untuk menyederhanakan upacara itu, mungkin karena menghindarai pembiayaannya yang besar.

Untuk melaksanakan upacara ini kadang-kadang dipadakan saja dengan meminta banyu baya kepada seorang bidan, membuat banyu Yasin sendiri yang kemudian dicampur dengan bunga-bungaan dan melakukan sendiri upacara di rumah yang dibantu oleh wanita-wanita tua yang masih berhubungan kerabat dekat dengannya atau dengan suaminya.

Sebagai syarat melaksanakan upacara mandi ini disiapkan nasi ketan dengan inti, yang dimakan bersama setelah upacara selesai. Upacara mandi yang demikian sederhana ini sebenarnya juga dilaksanakan pada kehamilan ketiga, kelima dan seterusnya di Dalam Pagar dan sekitarnya, khususnya apabila terdapat kesukaran pada kehamilan sebelumnya.[2]

B. MASA KEHAMILAN

1. Upaya Mendapatkan Keselamatan

Wanita yang hamil pertama kali (tian mandaring) harus diupacara mandikan. Keharusan melakukan upacara mandi hamil ini konon hanyalah berlaku bagi wanita nag turun temurun melakukan upacara ini. Seorang wanita yang keturunannya seharusnya tidak mengharuskan dilakukannya upacara itu, tetapi karena kondisi si bayi dalam kandungan mengharuskannya melalui ayahnya, si wanita itu harus pula menjalaninya. Jika tidak konon wanita itu dapat dipingit, sehingga umpamanya si bayi lambat lahir dan akibatnya ia sangat menderita karenanya.[3]

Dalam kehidupan masyarakat Banjar yang masih terikat akan tradisi lama, apabila seseorang wanita yang sedang hamil untuk kali pertamanya, ketika usia kehamilan mencapai tiga bulan atau pada kehamilan tujuh bulan maka diadakanlah suatu upacara dengan maksud atau tujuan utama untuk menolak bala dan mendapatkan keselamatan. Karena menurut kepercayaan sebagian masyarakat Banjar, bahwa wanita yang sedang hamil tersebut suka diganggu mahluk-mahluk halus yang jahat.[4]

Upacara ini juga mempunyai maksud dan tujuan untuk keselamatan bagi ibu yang sedang hamil serta keselamatan bagi seluruh keluarganya. Bagi masyarakat Banjar Hulu Sungai khususnya, menganggap bahwa angka ganjil seperti 3, 7 dan 9 bagi yang hamil merupakan saat-saat yang dianggap sakral. Bukankah kelahiran sering terjadi pada bulan ke7 dan bulan ke-9? Dan menurut kepercayaan mereka bahwa roh-roh halus dan hantu selalu berusaha mengganggu si ibu dan dan bayi dalam kandungan, karena menurut mereka bahwa wanita hamil 3 bulan itu baunya harum.[5]

Pada masyarakat Banjar Batang Banyu telah diketahui ada suatu upacara yang disebut “Batapung Tawar Tian (hamil) Tiga Bulan”, menyusul kemudian dilaksanakan upacara mandi “Tian Mandaring” ketika kehamilan telah berusia tujuh bulan. Tetapi pada masyarakat Banjar Kuala sampai saat ini hanya mengenal dan melakukan upacra mandi “Tian Mandaring” atau sering pula disebut upacara mandi “Bapagar Mayang”. Dikatakan demikian karena upacara tersebut dikelilingi oleh benang yang direntangkan dari tiang ke tiang tersebut di tebu (manisan) serta tombak (bila ada), sehingga merupakan ruang persegi empat pada benang-benang tersebut disangkutkan mayang-mayang pinang dan kelengkapan lainnya. Adapun tata pelaksanaan upacara “Mandi Tian Mandaring” ini akan dikupas pada pembahasan selanjutnya.

Upacara mandi dengan bepagar mayang ini kebanyakan dilaksanakan oleh kelompok, tutus bangsawan atau tutus candi, tetapi pada kebanyakan rakyat biasa atau orang yang tidak mampu tetapi ingin melaksanakan upacara in, maka pelaksanaan cukup sederhana saja tanpa menggunakan pagar mayang.

Selain upacara yang berupa mandi tersebut, adapula beberapa upaya yang diusahakan oleh para orang tua untuk anak atau menantunyayang sedang hamil sebagai wujud sebuah pengharapan dari seluruh keluarga agar ibu yang akan melahirkan kelak selamat dan tidak ada gangguan pada saat persalinan (kada halinan) serta anak yang lahir sempurna keadaannya. Upaya-upaya tersebut antara lain:

1. Mengingatkan anak menantunya yang sedang hamil untuk menghindari dari hal-    hal yang bersifat pantangan (tabu).

2. Memberikan doa atau bacaan al-Qur’an untuk dijadikan amalan selama masa     kehamilan.

3. Meminta air (banyu tawar) yang telah dibacakan doa-doa dari seorang tabib atau     orang pintar.[6]

2. Hal-hal yang Berupa Pantangan

Sebagian dari kelompok masyarakat yang masih memakai adat tradisi lama, hal-hal yang bersifat pantangan atau pamali masih mereka yakini, namun sebagiannya tidak memperdulikan hal-hal yang bersifat pantangan tersebut. Sebab sebagian beranggapan bahwa hal-hal yang seperti tidak masuk akal (mustahil) dapat mempengaruhi kehamilan. Hal-hal yang berupa pantangan tersebut antara lain:

1. Tidak boleh duduk di depan pintu, dikhawatirkan akan susah melahirkan.

2. Tidak boleh keluar rumah pada waktu senja hari menjelang waktu maghrib,     dikhawatirkan kalau diganggu mahluk halus atau roh jahat.

3. Tidak boleh makan pisang dempet, dikhawatirkan anak yang akan dilahirkan akan     kembar dempet atau siam.

4. Jangan membelah puntung atau kayu api yang ujungnya sudah terbakar, karena     anak yang dilahirkan bisa sumbing atau anggota badannya ada yang buntung.

5. Jangan meletakan sisir di atas kepala, ditakutkan akan susah saat melahirkan.[7]

6. Dilarang pergi ke hutan, karena wanita hamil menurut kepercayaan mereka baunya     harum sehingga mahluk-mahluk halus dapat mengganggunya.

7. Dilarang menganyam bakul karena dapat berakibat jari-jari tangannya akan     berdempet menjadi satu.[8]

Pantangan-pantangan tersebut di atas bukan hanya pada si calon ibu saja, tetapi juga berlaku terhadap suaminya.

3. Pemeliharaan Kehamilan dan Keselamatan

Cara pemeliharaan kehamilan tidaklah berbeda dengan wanita-wanita dari suku lain. Pusat Kesehatan Masyarakat (puskesmas) banyak mereka kunjungi untuk memeriksa kehamilan. Selain itu pemeriksaan kehamilan secara tradisional pun mereka lakukan yaitu dengan cara:

1. Melakukan pijatan atau dengan istilah Banjar “Baurut” pada seorang dukun beranak atau bidan kampung yang ahli dalam bidang pijatan (urut).

2. Membatasi diri untuk tidak terlalu suka minum air es.

3. Memperbanyak makan sayur dan buah-buahan.

4. Jika perut terasa sakit karena masuk angin, oleh bidan kampung disuruh     meminum air rebusan gula merah dengan jahe (tipakan).

5. Jika kaki bengkak, maka digosok dengan wadak panas atau ramuan beras kencur.

C. UPACARA MANDI HAMIL

1. Nama Upacara dan Tahap-tahapnya.

Berbagai nama bagi upacara mandi hamil ialah: mandi-mandi matian, mandi baya, mandi bepapai dan badudus. Dinamakan mandi baya karena menggunakan antara lain banyu baya, air yang disiapkan oleh bidan khusus untuk keperluan tersebut. Dinamakan bapapai karena memapai, yaitu memercikan air dengan berkas daun-daunan, merupakan salah satu acara pokok dalam upacara ini. Badudus ialah istilah lain bagi upacara mandi (bandingkan dengan duduk dalam ras.1968: Glosary dan Index), demikian pula mandi-mandi atau bamandi-mandi. Tambahan kata batian pada istilah mandi-mandi untuk membedakannya dengan upacara mandi lainnya (hamil, batian, memperoleh hamil). Kata baya dalam ungkapan banyu baya dan mandi baya tidak jelas artinya.[9]

Untuk mengetahui makna atau pengertian, baiklah kita lihat atau kita tinjau dari pengertian istilah atau nama dari upacara ini, yaitu “Betapung Tawar Tian Tiga Bulan”. Betapung berasal dari kata tapung dalam bahasa Banjar maksudnya mengikat atau mendekatkan antara satu benda dengan benda yang lain. “Ba” adalah satu awalan dalam bahasa Banjar, di mana digunakan untuk menunjukan pekerjaan dan berfungsi sebagai penegas dari kata tapung. Sedangkan tawar berarti terang atau selamat. Sedangkan tian maksudnya adalah kehamilan atau hamil atau kandungan yang berada dalam rahim ibu yang sedang mengandung.

Oleh Karena itu Batapung Tawar Tian Tiga Bulan berarti suatu upacara yang bertujuan untuk mendapatkan keselamatan bagi wanita yang sedang hamil atau mengandung tiga bulan.

Secara kata atau istilah berarti bahwa Batapung Tawar Tian Tiga Bulan ialah memercikan air tepung tawar kepada wanita yang sedang hamil tiga bulan.[10]

2. Waktu Penyelenggaraan Upacara

Upacara mandi ini harus dilaksanakan pada umur kehamilan tujuh bulan atau tidak lama sesudahnya. Upacara mandi ini harus dilaksanakan pada waktu turun bulan, khususnya pada hari-hari dalam minggu ke tiga bulan Arab. Apabila karena sesuatu hal upacara mandi tidak dapat dilaksanakan pada waktu tersebut, pelaksanaannya ditunda pada bulan berikutnya. Juga upacara ini harus dilaksanakan pada waktu turun matahari, upacara ini biasanya dilakukan sekitar jam 14.00 dan tidak pernah setelah jam 16.00. Secara darurat upacara mandi ini pernah dilaksanakan di Dalam Pagar, yaitu pada saat si wanita sudah hampir melahirkan. Si wanita ini sudah lama sakit akan melahirkan, dan oleh bidan yang menolongnya dinyatakan bahwa meskipun si wanita bukan keturunan yang harus melakukan upacara itu, tetapi si bayi mengharuskannya melalui ayahnya. Oleh karena itu upacara mandi secara darurat dilaksanakan, yaitu hanya sekedar menyiram dan memerciki si ibu dengan banyu baya. Segera setelah selesai dimandikan tersebut konon lahirlah bayinya.

3. Tempat Penyelenggaraan Upacara

Para informan di Dalam Pagar menyatakan upacara ini harus dilaksankan di dalam pagar mayang. Pada upacara yang berhasil diamati di Akar Bagantung dan Teluk Selong (1979), pagar mayang memang digunakan, tetapi pada upacara mandi yang dilaksanakan di Dalam Pagar (1980) tidak dibangun pagar mayang, melainkan cukup dilaksanakan di atas palatar belakang.[11]

4. Pihak yang Terlibat dalam Upacara

Pihak yang terlibat dalam upacara ini di antaranya:

- Orang tua dari kedua belah pihak baik itu ibu kandung atau ibu mertua.

- Saudara-saudara, kerabat-kerabat seperti julak (saudara ibu), uma kacil (adik ibu)   dan begitu pula dari pihak mertua.

- Di pimpin oleh bidan kampong (dukun beranak) dan Tuan Guru (mualim) yang    membacakan doa selamat setelah upacara berakhir.

Selain pihak-pihak di atas masih ada yang terlibat dalam upacara tersebut, yakni para undangan yaitu wanita-wanita tetangga dan kerabat dekat, umumnya terdiri dari ibu-ibu muda dan wanita-wanita muda yang sudah kawin. Wanita-wanita tua yang hadir biasanya adalah mereka yang banyak tahu tentang upacara ini atau karena diperlukan untuk membantu bidan melaksanakannya.

5. Persiapan dan Perlengkapan Upacara

Upacara mandi hamil mengharuskan tersedianya 40 jenis penganan atau “wadai ampat puluh”. Mungkin sebenarnya berjumlah 41, atau bahkan lebih. Wadai 40 ini terdiri dari: apam (putih dan merah), cucur (putih dan merah), kawari, samban, tumpiangin (sejenis rempeyek di Jawa, tetapi kali ini tidak menggunakan kacang tanah melainkan kelapa iris), cicin (cincin, perhiasan dipakai di jari, dua jenis dan tiga warna), parut hayam (perut lilit ayam, tiga warna), sarang samut (sarang semut, tiga warna), cangkaruk (cengkaruk), ketupat (empat jenis), nasi ketan putih (dengan inti di atasnya), wajik, kokoleh (putih dan merah), tapai, lemang, dodol, madu kasirat (sejenis dodol tapi masih muda), gagati (empat jenis), dan sesisir pisang mahuli.[12]

Sedangkan hidangan untuk para tamu ialah nasi ketan (dengan inti) dan apam dari wadai 40 ini, tetapi bisa juga ketupat dan sayur tumis ditambah dengan nasi ketan, atau hidangan lainnya. Tetapi di Anduhum konon kadang-kadang ada keharusan (dahulu) menghidangkan bubur ayam, yang mungkin mengandung perlambang tertentu pula. Dapat diduga meskipun terdapat kesamaan dalam jumlah jenis penganan yang harus dihidangkan pada upacara mandi hamil di Martapura namun terdapat perbedaan tentang keharusan adanya jenis-jenis penganan tertentu tergantung pada kerabat yang melaksanakannya. Pada upacara mandi yang diamati di Dalam Pagar terdapat detail-detail seperti yang akan dijelaskan di bawah ini.

Kue apam dan cucur, masing-masing berwarna merah dan putih, adalah kue-kue yanag biasa dipergunakan sebagai syarat upacara batumbang, yang dilaksanakan setelah upacara mandi selesai. Kue samban dan kawari merupakan lambang jenis kelamin bayi yang akan lahir. Samban melambangkan jenis kelamin perempuan dan kawari melambangkan jenis kelamin pria. Apam, cucur, kokoleh, wajik, nasi ketan, dodol dan madu kasirat merupakan kue-kue yang harus ada karena menggunakan air sungai Kitanu. Nasi ketan kuning dan telur rebus di atasnya merupakan sajian untuk buaya kuning yang konon (dahulu) menghuni sebuah lubuk dekat balai padudusan di tepi sungai Kitanu. Kue gagati jumlahnya harus sembilan dan ketupat jumlahnya harus tujuh. Tidak berhasil diungkapkan untuk siapa disajikan dan mengapa harus sembilan dan tujuh, sedangkan kue-kue lainnya tidak harus demikian.

Di Dalam pagar mayang, atau di tempat upacara mandi akan dilaksanakan, diletakan perapen, dan berbagai peralatan mandi. Sebuah tempayan atau bejana plastik berisi air tempat merendam mayang pinang (terurai), beberapa untaian bunga (kembang berenteng), sebuah ranting kambat, sebuah ranting balinjuang dan sebuah ranting kacapiring. Sebuah tempat air yang lebih kecil berisi banyu baya, yaitu air yang dimantrai oleh bidan, sebuah lagi berisi banyu Yasin, yaitu air yang dibacakan surah Yasin, yang sering dicampuri dngan banyu Burdah yaitu air yang dibacakan syair Burdah. Selain itu pada pengamatan di Dalam Pagar, terdapat sebuah gelas berisi air (banyu) sungai Kitanu. untuk keperluan mandi ini terdapat juga kasai (bedak, param) temugiring dan keramas asam jawa atu jeruk nipis. Dahulu, sebagai tempat duduk si wanita hamil itu diletakan sebuah kuantan (sejenis panci terbuat dari tanah yang diletakan tengkurap dan di atasnya diletakan bamban (bamban bajalin). Merupakan alat mandi pula ialah mayang pinang yang masih dalam seludangnya, kelapa tumbuh (berselimut kain kuning), benang lawai dan kelapa muda.

Untuk keperluan mandi hamil diperlukan dua buah piduduk. Sebuah akan diserahkan kepada bidan yang memimpin upacara dan yang membantu proses kelahiran, dan sebuah lagi sebagai syarat upacara. Yang pertama dilengkapi dengan rempah-rempah dapur, sedangkan yang sebuah lagi termasuk di dalamnya alat-alat yang diperlukan untuk melahirkan, ayam, pisau dan sarung berwarna kuning. Konon jenis kelamin ayam harus sesuai denagn jenis kelamin bayi yang akan lahir, sehingga praktis tidak mungkin disediakan, dan demikian pula alat-alat yang diperlukan untuk melahirkan biasanya juga belum tersedia, namun harus tegas dinyatakan sebagai ada. Bagian dari piduduk yang belum tersedia ini dikatakan sebagai “dihutang”, sebagai syarat menyediakan barang yang belum ada ini harus disediakan nasi ketan dengan inti, yang dihidangkan kepada hadirin setelah upacara selesai.

6. Proses Upacara

Berikut upacara mandi yang terjadi di Teluk Selong, sebuah kampung yang terletak bersebrangan sungai dengan Dalam Pagar.

Wanita hamil yang diupacarakan memakai pakaian yang indah-indah dan memakai perhiasan, duduk di atas lapik di ruang tengah sambil memangku sebiji kelapa tumbuh yang diselimuti kain kuning menghadapi sajian wadai ampat puluh. Setelah beberapa lama duduk dengan disaksikan oleh para undangan wanita, perempuan hamil itu turun ke pagar mayang sambil menggendong kelapa tumbuh tadi. Ketika ia turun ke pagar mayang, ia menyerahkan kelapa yang digendongnya kepada orang lain, bertukar pakaian dengan kain basahan kuning sampai batas dada, lalu duduk di atas bamban bajalin, sedemikian sehingga kuantan tanah langsung remuk. Para wanita tua yang membantunya mandi (jumlahnya selalu ganjil, sekurang-kurangnya tiga dan paling banyak tujuh orang dan seorang di antaranya bertindak sebagi pemimpinnya, yaitu biasanya bidan) menyiraminya dengan air bunga, membedakinya dengan kasai temugiring lalu mengeramasinya.

Selanjutnya para pembantunya itu berganti-ganti mamapaikan berkas mayang, berkas daun balinjuang dan berkas daun kacapiring kepadanya dan kadang-kadang juga kepada hadirin di sekitarnya. Proses berikutnya ialah menyiramkan berbagai air lainnya, yaitu banyu sungai Kitanu, banyu baya, yang telah dicampur dengan banyu Yasin atau banyu doa, dan banyu Burdah. Setiap kali disiram dengan air-air tersebut, si wanita hamil diminta untuk menghirupnya sedikit. Sebuah mayang pinang yang masih belum terbuka dari seludangnya diletakkan di atas kepala wanita hamil tersebut lalu ditepuk, diusahakan sekali saja sampai pecah. Mayang dikeluarkan dari seludangnya lalu diletakkan di atas kepala wanita hamil dan disirami dengan air kelapa muda tiga kali berturut-turut dengan posisi mayang yang berbeda-beda. Kali ini juga airnya harus dihirup oleh wanita hamil itu.

Kemudian diambil dua tangkai mayang dan diselipkan di sela-sela daun telinga si wanita hamil masing-masing sebuah. Lalu dua orang perempuan tua membantunya meloloskan lawai dari kepala sampai ke ujung kaki, tiga kali berturut-turut. Untuk melepaskan lawai dari kakinya, pada kali yang pertma ia melangkah ke depan, kali yang ke dua melangkah ke belakang dan terakhir kembali melangkah ke depan.

Sesudah itu badannya dikeringkan dan ia berganti pakaian lalu keluar dari pagar mayang. Di luar telah tersedia sebiji telur ayam yang harus dipijakinya ketika melewatinya. Ketika ia keluar untuk kembali ke ruang tengah ini dibacakan pula shalawat berramai-ramai. Di ruang tengah si wanita hamil itu kembali duduk di atas lapik di hadapan tamu-tamu, disisiri dan disanggul rambutnya. Pada saat itu juga di tepung tawari, yaitu dipercikan minyak likat beboreh dengan anyaman daun kelapa yang dinamakan tepung tawar.

Setelah itu lalu batumbang dibacakan doa selamat oleh salah seorang hadirin. Sementara itu si wanita hamil menyalami semua wanita yang hamil menyalami semua wanita yang hadir, lalu masuk ke dalam kamarnya. Setelah itu hidangan pokok diedarkan dan kemudian ditambah dengan hidangan tambahan berupa nasi ketan (dengan inti), apam, cucur dan kue-kue lainnya yang sebelumnya dipamerkan sebagai saji. Sebagian kue saji harus disiapkan untuk dibawa pulang oleh bidan dan perempuan-perempuan tua yang tadi membantu si wanita hamil itu mandi.

7. Arti Lambang dan Makna di Balik Upacara

Dalam upacara mandi ini dilambangkna kelancaran proses kelahiran dengan berbagai cara, yaitu:

1. Pecahnya kuantan tanah ketika diduduki melambangkan pecahnya ketuban.

2. Pecahnya mayang dengan sekali tepuk saja menandakan proses kelahiran akan     berjalan dengan lancar, tetapi bila perlu ditepuk beberapa kali agar pecah, konon     menandakan proses kelahiran akan terganggu (halinan baranak), meskipun          diharapkan akan berakhir dengan selamat juga.

3. Proses kelahiran diperagakan dengan meloloskan lawai pada tubuh si wanita     mengisyaratkan mudahnya proses itu.

4. Pecahnya telur ketika dipijak juga melambangkan prose kelahiran yang cepat pula.

5. Kelapa tumbuh yang dipangku dan kemudian digendong melambangkaan bayi.

6. Memerciki dengan tepung tawar ialah guna memberkatinya.

7. Dan batumbang konon akan memperkuat semangatnya.

D. PENUTUP

Pada sebagian masyarakat Banjar dalam hal kehamilan masih melakukan daur hidup yang berupa upacara adat maupun berupa hal-hal yang dipercayai sehingga menimbulkan adanya pantangn atau tabu.

Upacara kehamilan yang berupa upacara mandi tian mandaring sampai sekarang masih berlangsung terutama sering dilakukan di daerah-daerah pedesaan yang masih kuat dengan tradisi dalam kehidupan sehari-hari sedangkan pada masa perkotaan yang sudah mengalami perkembangan kemajuan alam pikiran dan teknologi sebagian telah meninggalkan beberapa upacara adat dan tidak lagi mengindahkan berupa hal-hal yang dipercayai yang bersifat mustahil. Kalaupun mereka lakukan, kadang-kadang sudah berpadu dengan unsur modern. Baik dalam adat upacara maupun dalam pelaksanaan upacara lebih menitik beratkan pada unsur-unsur yang praktis daripada unsur-unsur yang bersifat magis.

Bagi masyarakat Banjar yang masih memakai adat, terutama yang berhubungan dengan kehamilan dan kelahiran dengan segala pantangannya, dalam hal upacara adat selalu mereka selenggarakan walaupun diimplemantasikan dalam bentuk upacara yang sangat sederhana sekali sebatas sebagai persyaratan belaka. Karena mereka khawatir akan dapat berakibat buruk terhadap bayi yang dikandungnya apabila tidak melaksanakan upacara adat. Oleh karena tujuan utama penyelenggaraan upacara untuk mengusir roh-roh jahat yang dapat mengganggu kehamilan.

Adanya lapisan kebudayaan lama / asli dengan segala unsur religinya yang berakulturasi yang mana unsur agama lebih banyak sekali mempengaruhi adat istiadat kebudayaan masyarakat Banjar. Karena masyarakat Banjar merupakan penganut agama Islam yang kuat, namun walaupun demikian sebagian masyarakat Banjar masih mempercayai kepercayaan lama yang berupa kepercayaan terhadap roh-roh halus yang dapat mengganggu kehidupannya. Karena itu setiap upacara adat yang merupakan daur hidupnya suku Banjar dilaksanakan secara Islami namun tidak meninggalkan unsur kepercayaan lama, dan sampai sekarang masih berkembang di masyarakat walaupun sebagiannya sudah hampir punah.

DAFTAR RUJUKAN

1. Daud, Alfani. 1997. Islam dan Masyarakat Banjar. Jakarta. Raja Grafindo Persada.

2. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Kebudayaan Rirektorat Permuseuman Museum negri Propinsi Kal-Sel Lambung Mangkurat 1999/2000. Upacara Kehamilan dan Kelahiran dalam Pandangan Masyarakat Banjar.

3. Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaaan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Kebudayaan Direktorat Sejarah daan Nilai Tradisional. 1981/1982. Upacara Tradisional (sejak anak dalam kandungan, lahir sampai dewasa).


[1] Alfani Daud, Islam dan Masyarakat Banjar, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1997, hal.259.

[2] Ibid., hal.268.

[3] Ibid., hal.263.

[4] Departemen Pend. &Kebud…., Upacara Kehamilan & Kelahiran dalam Pandangan Masyarakat Banjar.

[5] Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Upacara Tradisional (sejak anak dalam kandungan, lahir sampai dewasa), 1981, hal.25.

[6] Departemen Pend. & Kebud….., op.cit.

[7] Ibid., hal…

[8] Proyek Inventarisasi……, op. cit.

[9] Alfani Daud, loc. cit., hal. 263.

[10] Proyek Inventarisasi……, op. cit.h.25.

[11] Alfani daud, op.cit., hal.265.

[12] Ibid., hal.264.

Proses Agama Masyarakat Banjar

Oleh Fat Hurrahman

A. PENDAHULUAN

SUKU bangsa Banjar ialah penduduk asli sebagian wilayah Propinsi Kalimantan Selatan, yaitu selain Kabupaten Kota Baru. Mereka itu diduga berintikan penduduk asal Sumatera atau daerah sekitarnya, yang membangun tanah air baru di kawasan ini sekitar lebih dari seribu tahun yang lalu. Setelah berlalu masa yang lama sekali akhirnya, setelah bercampur dengan penduduk yang lebih asli, yang biasanya dinamakan secara umum sebagai suku Dayak, dan dengan imigran-imigran yang berdatangan belakangan, terbentuklah setidak-tidaknya tiga subsuku, yaitu (Banjar) Pahuluan, (Banjar) Batang Banyu dan Banjar (Kuala). Orang Pahuluan pada asasnya ialah penduduk daerah lembah sungai-sungai (cabang sungai Negara) yang berhulu ke Pegunungan Meratus, orang Batang Banyu mendiami lembah sungai Negara, sedangkan orang Banjar (Kuala) mendiami daerah sekitar Banjarmasin (dan Martapura). Bahasa yang mereka kembangkan dinamakan bahasa Banjar, yang pada asasnya ialah bahasa Melayu, sama halnya seperti ketika berada di daerah asalnya di Sumatera atau sekitarnya, yang di dalamnya terdapat banyak sekali kosa kata asal Dayak dan asal Jawa.

Nama Banjar diperoleh karena mereka dahulu, sebelum dihapuskan pada tahun 1860, adalah warga Kesultanan Banjarmasin atau disingkat Banjar, sesuai dengan nama ibu-kotanya pada mula berdirinya. Ketika ibukota dipindahkan arah ke pedalaman, terakhir di Martapura, nama tersebut nampaknya sudah baku atau tidak berubah lagi. Orang Banjar memeluk agama Islam dan, seperti ternyata dalam uraian selanjutnya, tergolong taat men-jalankan perintah agamanya.

Dalam uraian berikut ini diikhtisarkan gambaran tentang wujud agama Islam dalam masyarakat Banjar. Yaitu bentuk-bentuk kepercayaan dan bentuk-bentuk kelakuan yang merupakan ungkapan rasa keagamaan mereka, serta faham yang mereka anut tentang keselamatan manusia. Yang terakhir ini ialah bukan saja gagasan-gagasan tentang apa yang harus dilakukan agar selamat dalam kehidupan sesudah mati kelak, melainkan juga gagasan-gagasan untuk menatap hidup masa yang akan datang di dunia ini juga. Gagasan-gagasan tentang kepercayaan dan tentang keselamatan manusia ini tentu sangat erat berkaitan dengan pengalaman masyarakat Banjar pada masa lampau. Oleh karena itu, sebelum sampai pada isi pokok karangan ini, dibicarakan juga tentang organisasi masyarakat, khususnya dalam zaman yang lampau, dan proses islamisasi yang dialami mereka, yang telah ikut mewarnai kepercayaan yang dianut mereka. Di dalam seksi yang disebut terakhir ini akan dikemukakan apa yang sebenarnya terjadi, sampai akhirnya Islam menjadi identitas masyarakat Banjar, serta perkembangan keislaman mereka kemudian.

ORGANISASI MASYARAKAT

SUKU bangsa Melayu, yang menjadi inti masyarakat Banjar, memasuki daerah ini, ketika dataran dan rawa-rawa yang luas yang saat ini membentuk bagian besar Propinsi Kalimantan Selatan dan Propinsi Kalimantan Tengah masih merupakan teluk raksasa yang jauh menjorok ke pedalaman. Sukubangsa Melayu itu, dengan melalui laut Jawa, memasuki teluk raksasa tersebut, lalu memudiki sungai-sungai yang bermuara ke sana, dan yang belakangan menjadi cabang-cabang sungai Negara, yang semuanya berhulu di kaki Pegunungan Meratus. Mereka tentu menjumpai penduduk yang lebih asli, yaitu suku Dayak Bukit, yang dahulu diperkirakan mendiami lembah-lembah sungai yang sama. Dengan memperhatikan bahasa yang dikembangkannya, suku Dayak Bukit adalah satu asal usul dengan cikal bakal suku-bangsa Banjar, yaitu sama-sama berasal dari Sumatera atau sekitarnya, tetapi mereka lebih dahulu menetap. Kedua kelompok masyarakat asal Melayu ini memang hidup bertetangga tetapi, setidak-tidaknya pada masa permulaan, pada asasnya tidak berbaur. Jadi, meski pun kelompok suku Banjar (baca: Pahuluan) membangun pemukiman di suatu tempat, yang mungkin tidak terlalu jauh letaknya dari balai suku Dayak Bukit, namun masing-masing merupakan kelompok yang berdiri sendiri. Untuk kepentingan keamanan dan atau karena memang ada ikatan kekerabatan, cikal bakal suku Banjar membentuk komplek pemukiman tersendiri. Komplek pemukiman cikal bakal suku Banjar (Pahuluan) yang pertama ini merupakan komplek pemukiman bubuhan, yang pada mulanya terdiri dari seorang tokoh yang berwibawa sebagai kepalanya, dan warga kerabatnya, dan mungkin ditambah dengan keluarga-keluarga lain yang bergabung dengannya. Model yang sama atau hampir sama juga ada pada masyarakat balai di kalangan masyarakat Dayak Bukit, yang pada asasnya masih berlaku sampai sekarang. Daerah lembah sungai-sungai yang berhulu di Pegunungan Meratus ini nampaknya wilayah pemukiman pertama masyarakat banjar, dan didaerah inilah konsentrasi penduduk yang banyak sejak jaman kuno, dan daerah inilah pulalah pertama dinamakan pendahuluan.

Apa yang dikemukakan di atas menggambarkan terbentuknya masyarakat (Banjar) Pahuluan, yang tentu saja dengan kemungkinan adanya unsur Dayak Bukit ikut membentuknya. Masyarakat Batang Banyu terbentuk diduga erat sekali berkaitan dengan terbentuknya pusat kekuasaan yang meliputi seluruh wilayah Banjar, yang barangkali terbentuk mula pertama di hulu sungai Negara atau cabangnya yaitu sungai Tabalung. Selaku warga yang berdiam di ibukota tentu merupakan kebanggaan tersendiri, se-hingga menjadi kelompok penduduk yang terpisah. Daerah tepi sungai Tabalung adalah merupakan tempat tinggal tradisional dari suku Dayak Manyan (dan Lawangan), sehingga diduga banyak yang ikut serta membentuk subsuku Batang Banyu, di samping tentu saja orang-orang asal Pahuluan yang pindah ke sana dan para pendatang yang datang dari luar. Bila di Pahuluan umumnya orang hidup dari bertani, maka banyak di antara penduduk Batang Banyu yang bermata pencaharian sebagai pedagang dan pengrajin.

Ketika pusat kerajaan dipindahkan ke Banjarmasin (terbentuknya Kesultanan Banjar), sebagian warga Batang Banyu (dibawa) pindah ke pusat kekuasaan yang baru ini, dan dengan demikian terbentuklah subsuku Banjar. Di kawasan ini mereka berjumpa dengan suku Dayak Ngaju yang, seperti halnya dengan masyarakat Dayak Bukit dan masyarakat Dayak Manyan atau Lawangan, banyak di antara mereka yang akhirnya melebur ke dalam masyarakat Banjar, setelah mereka memeluk agama Islam, atau berimigrasi ke tempat-tempat lain, khususnya ke sebelah barat sungai Barito. Mereka yang bertempat tinggal di sekitar ibukota kesultanan inilah sebenarnya yang dinamakan atau menamakan dirinya orang Banjar, sedangkan masyarakat Pahuluan dan masyarakat Batang Banyu biasa menyebut dirinya sebagai orang (asal dari) kota-kota kuno yang terkemuka dahulu. Tetapi bila berada di luar Tanah Banjar, mereka itu tanpa kecuali mengaku sebagai orang Banjar.

Berkali-kali kita menyebut bubuhan. Bubuhan adalah merupakan kelompok kekerabatan ambilinial: seseorang menjadi warga masyarakat bubuhan karena ia masih se-keturunan dengan mereka, dari pihak ibu saja atau dari pihak ayah saja, mau pun kedua-duanya, dan menetap dalam lingkungan bubuhan tersebut. Seseorang dapat masuk menjadi warga kelompok apabila ia kawin dengan salah seorang warga dan menetap dalam lingkungan pemukiman mereka. Hal yang sama masih terjadi di kalangan masyarakat Bukit sampai setidak-tidaknya belum lama berselang. Kelompok bubuhan dipimpin oleh seorang warganya yang berwibawa. Sama halnya dengan masyarakat balai saat ini, kepala bubuhan, yang pada masa kesultanan sering disebut sebagai asli, berfungsi sebagai tokoh yang berwibawa, sebagai tabib, sebagai kepala pemerintahan dan mewakili bubuhan bila berhubungan dengan pihak luar, sama halnya seperti seorang kepala balai, yang biasanya selalu seorang balian bagi masyarakat Bukit sampai belum lama ini. Ketika terbentuk pusat kekuasaan, kelompok masyarakat bubuhan diintegrasikan ke dalamnya: kewibawaan kepala bubuhan terhadap warganya diakui. Biasanya sebuah kelompok bubuhan membentuk sebuah anakkampung, gabungan beberapa masyarakat bubuhan membentuk sebuah kampung, dan salah seorang kepala bubuhan yang paling berwibawa diakui sebagai kepala kampung itu. Untuk mengkoordinasikan beberapa buah kampung ditetapkan seorang lurah, suatu jabatan kesultanan di daerah, yaitu biasanya seorang kepala bubuhan yang paling berwibawa pula. Beberapa orang lurah dikoordinasikan oleh seorang lalawangan, suatu jabatan yang mungkin dapat disamakan dengan jabatan bupati di Jawa pada kurun waktu yang sama. Dengan sendirinya seseorang yang menduduki jabatan formal sebagai mantri atau penghulu merupakan tokoh pula di dalam lingkungan bubuhannya.

Dengan demikian dapat kita nyatakan bahwa sistem pemerintahan pada masa kesultanan, dan mungkin juga regim-regim sebelumnya, diatur secara hierarkis sebagai pemerintahan bubuhan. Di tingkat pusat yang berkuasa ialah bubuhan raja-raja, yang terdiri dari sultan beserta kerabatnya ditambah dengan pembesar-pembesar kerajaan (baca: mantri-mantri). Pada tingkat daerah memerintah tokoh-tokoh bubuhan, mulai dari lurah-lurah, yang dikoordinasikan oleh seorang lalawangan, berikutnya ialah kepala-kepala kampung, yang adalah seorang tokoh bubuhan, semuanya yang paling berwibawa di dalam lingkungannya, dan membawahi beberapa kelompok bubuhan rakyat jelata pada tingkat paling bawah. Peranan bubuhan ini sangat dominan pada zaman sultan-sultan, dan masih sangat kuat pada permulaan pemerintahan Hindia Belanda. Belakangan memang dilakukan perombakan-perombakan; jabatan kepala pemerintahan di atas desa (kampung) tidak lagi ditentukan oleh keturunan, melainkan melalui pendi-dikan, dan ini terjadi sekitar permulaan abad ke-20, tetapi di tingkat desa peranan bubuhan masih kuat sampai belum lama berselang. Kenyataan tokoh bubuhan tidak lagi menduduki jabatan tinggi membawa pengaruh pada wibawa bubuhan tersebut terhadap masyarakat-masyarakat bubuhan selebihnya.

Saat ini dominasi bubuhan sebagai kelompok kekerabatan sudah sangat lemah, tetapi masih terasa dan sewaktu-waktu masih muncul ke permukaan. Konsep bubuhan akhirnya difahami sebagai suatu lingkungan sosial sendiri, yang berbeda dengan lingkungan sosial lainnya. Demikianlah kita sering mendengar ungkapan bubuhan Kandangan, bubuhan SMP Negeri Pantai Hambawang, bubuhan kami (kelompok kami) atau bubuhan kita (kelompok kita) dan bubuhan ikam (kelompok kamu), bubuhannya (dalam arti kawan-kawan lainnya).

Kenyataan tentang dominasi bubuhan terhadap bubuhan lainnya dan dominasi tokoh bubuhan terhadap warga selebihnya ikut mewarnai keislaman masyarakat Banjar, yang bekas-bekasnya masih dapat ditemukan sampai sekarang.

PROSES ISLAMISASI

SANGAT mungkin sekali pemeluk Islam sudah ada sebelumnya di sekitar keraton yang dibangun di Banjarmasin, tetapi pengislaman secara massal diduga terjadi setelah raja, Pangeran Samudera yang kemudian dilantik menjadi Sultan Suriansyah, memeluk Islam diikuti warga kerabatnya, yaitu bubuhan raja-raja. Perilaku raja ini diikuti oleh elit ibukota, masing-masing disertai kelompok bubuhannya, dan oleh elit daerah, juga diikuti warga bubuhannya, dan demikianlah seterusnya sampai kepada bubuhan rakyat jelata di tingkat paling bawah.

Dengan masuk Islamnya para bubuhan, kelompok demi kelompok, maka dalam waktu relatif singkat Islam akhirnya telah menjadi identitas orang Banjar dan merupakan cirinya yang pokok, meski pun pada mulanya ketaatan menjalankan ajaran Islam tidak merata. Dapat dikatakan bahwa pada tahap permulaan berkembangnya Islam tersebut, kebudayaan Banjar telah memberikan bingkai dan Islam telah terintegrasikan ke dalamnya: dengan masuk Islamnya bubuhan secara berkelompok, kepercayaan Islam diterima sebagai bagian dari kepercayaan bubuhan. Tidak heran bila ketika itu ungkapan keislaman secara berkelompok lebih dominan dibandingkan ibadah perseorangan umpamanya. Namun orang Banjar berusaha belajar mendalami ajaran agamanya serentak ada kesempatan untuk itu, sehingga akhirnya orang Banjar secara relatif dapat digolongkan orang yang taat menjalankan agamanya, seperti halnya sekarang.

Intensitas keberagamaan masyarakat Banjar meningkat tajam setelah Syekh Arsyad al-Banjari kembali dari mengaji di tanah Arab dan membuka pengajian di Dalam Pagar, sebuah perkampungan yang dibangunnya di atas tanah perwatasan yang dihadiahkan oleh sultan kepadanya, terletak sekitar lima kilo meter dari keraton. Murid-muridnya kemudian membuka pengajian pula di tempatnya masing-masing, yang antara lain adalah keturunannya sendiri, seakan-akan merupakan perwjudan dari hasil munajatnya kepada Tuhan agar dikaruniai ilmu keagamaan sampai tujuh keturunan (“alim tujuh turunan”). Salah sebuah kitab yang dianggap sebagai perwujudan ajaran-ajaran Syekh, terkenal sebagai kitab perukunan, menjadi pegangan umat di kawasan ini selama lebih dari satu abad. Ceritera rakyat menggambarkan bahwa kitab perukunan sebenarnya ialah hasil catatan salah seorang cucu perempuan Syekh yang cerdas ketika mengikuti pengajian khusus wanita yang diberikan oleh Syekh, dan kemudian dicetak dan diakukan sebagai dikarang oleh mufti Jamaluddin, salah seorang anak Syekh. Kitab ini, menurut penulis, belakangan ditambah dan disempurnakan, dan dinamakan Perukunan Besar atau Perukunan Melayu, yang dicetak sebagai dikarang oleh Haji Abdur-rasyid Banjar. Selain peningkatan pengamalan sehari-hari ajaran Islam, Syekh juga berhasil menegaskan peran tokoh agama dalam pemerintahan sebagai kadi dan mufti. Syekh juga berhasil membentuk pengadilan agama, yang tersebar di daerah-daerah dan terus berlanjut sampai lebih dari seratus tahun sesudah meninggalnya. Pada tahun 1835 Sultan Adam (meninggal 1857), melalui kitab hukum yang dinamakan Undang-Undang Sultan Adam, memerintahkan warganya agar membangun langgar dan mengisinya dengan kegiatan-kegiatan ibadah bersama yang, barangkali, merupakan asal muasal orang Banjar gemar membangun langgar. Kenyataan bahwa bubuhan memeluk Islam secara berkelompok telah memberikan warna pada keislaman masyarakat di kawasan ini, yaitu pada asasnya diintegrasikannya kepercayaan Islam ke dalam kepercayaan bubuhan, yaitu kepercayaan yang dianut oleh warga bubuhan.

II. KEPERCAYAAN

BERIKUT ini kepercayaan yang dianut masyarakat Banjar, yang dipilah menjadi kepercayaan asal ajaran Islam dan kepercayaan asal kebudayaan lokal. Sebenarnya sulit untuk memilah, karena kepercayaan-kepercayaan yang nampaknya bersifat lokal, namun unsur-unsur Islamnya ditemukan juga; demikian pula kepercayaan-kepercayaan yang jelas-jelas bersumber dari ajaran Islam, tetapi mengandung unsur-unsur yang tidak dapat diketahui sumbernya. Yang pertama, umpamanya, tentang kepercayaan terhadap wali lokal, yang kuburannya menjadi sasaran ziarah, selalu ada ceritera tentang suara orang membaca tahlil di sekitar kuburan itu, yang tidak diketahui sumbernya. Yang kedua, umpamanya, tentang malaikat yang dapat dijadikan sahabat gaib.

KEPERCAYAAN ISLAM

ORANG Banjar meyakini sepenuhnya keenam rukun iman, dan melaksanakan dengan rajin kelima rukun Islam. Orang Banjar percaya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan bahwa Allahlah yang menciptakan alam dan seluruh isinya, termasuk makhluk-makhluk halus. Allah Maha Kuasa dan Maha Mengetahui, menciptakan segala sesuatu dari tidak ada menjadi ada dan sanggup pula menjadikannya dari ada menjadi tidak ada. Sesuai dengan kemahatahuanNya ini, orang Banjar juga percaya bahwa Allah telah menentukan segala sesuatu sejak semula (azali), tetapi rincian tentang kepercayaan kepada takdir ini tidak berhasil diungkapkan.

Orang Banjar percaya tidak lama setelah kuburannya ditimbuni kembali, Allah mengembalikan ruh kepada si mati, yang segera menyadari tentang kematiannya, dan ia juga mendengar petuah-petuah yang diberikan dalam talkin. Tidak lama setelah itu dua orang malaikat datang menanyainya tentang agamanya dan akan menyiksanya bila jawabannya tidak benar atau tidak memuaskan. Pada hari kiamat nanti semua orang akan dibangkitkan dari kuburnya dan dihalau ke padang mahsyar untuk ditimbang amal baik dan amal buruknya. Buku berisi catatan amal baik dan amal buruk, hasil karya malaikat tertentu, diperlihatkan, dan masing-masing tidak dapat berkelit atau membantah isi buku amalnya, karena setiap anggota tubuh yang digunakan untuk berbuat buruk akan menjadi saksi. Setelah penimbangan amal, semua orang, dengan melalui sebuah titian yang lebih halus dari sehelai rambut dan lebih tajam dari sembilu, melewati lautan api menuju ke surga. Mereka yang telah tamat mengaji al-Qur’an dapat menumpang sebuah kapal, jelmaan kitab al-Qur’an, ketika menyeberang tersebut. Tergantung amal perbuatannya sewaktu hidup di dunia, seseorang melewati lautan api tersebut seperti kilat, yang lain agak lambat, sangat lambat, tertatih-tatih, bahkan ada yang jatuh. Orang-orang muslim yang berat amal buruknya lebih dibanding amal baik-nya akan dimasukkan ke dalam neraka guna menebus dosa-dosanya, sebelum akhirnya dimasukkan ke dalam surga menyusul para muslim yang taat yang telah lebih dahulu berada di sana.

Umumnya orang Banjar hafal di luar kepala nama-nama ke 25 rasul yang penting, meski pun kadang-kadang lupa ketika merincinya. Berkenaan dengan Nabi Muhammad semua orang hafal nama kedua orang tuanya, isteri-isterinya dan anak-anaknya, meski pun dua yang terakhir ini barangkali tidak semuanya, dan nama beberapa sahabatnya. Syafaat_ Nabi Muhammad sangat diharapkan pada hari kiamat nanti, yang akan meringankan azab, yang tidak mungkin diberikan oleh nabi yang lain. Nabi Muhammad mempunyai sebuah telaga tempat umatnya memuaskan dahaga pada teriknya hari kiamat di padang mahsyar kelak. Seksi berikutnya akan mengemukakan anggapan orang Banjar tentang (anak) Nabi Sulaiman dan Nabi Khaidir.

Malaikat diciptakan Allah dari cahaya (nur) dengan tugas-tugas tertentu, antara lain menyampaikan wahyu, mencabut nyawa, mencatat amal perbuatan manusia, menanyai setiap manusia di dalam kuburnya, dan menjadi penguasa surga dan neraka. Orang Banjar, setidak-tidaknya sebagian, percaya bahwa ada malaikat yang bertugas khusus untuk memelihara kemurnian al-Qur’an dan yang lain berfungsi untuk menyebarkan rahmat.

Orang Banjar yakin bahwa Allah telah menurunkan kitab-kitab suci guna menunjang rasul-rasulnya dalam menjalankan misi risalahnya masing-masing, yaitu Taurat (kepada Nabi Musa), Zabur (kepada Nabi Daud), Injil (kepada Nabi Isa) dan, yang terakhir al-Qur’an (kepada Nabi Muhammad). Selain dari pada itu juga Allah menurunkan lembaran-lembaran kecil (di lapangan orang menyebut sahifah) kepada Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan Nabi Syis. Berkenaan dengan kitab al-Qur’an, mereka yakin masih banyak rahasia yang terkandung di dalamnya yang belum terungkapkan, baik bersangkutan dengan amalan-amalan bacaan yang berguna bagi kehidupan di dunia mau pun di akhirat, atau pun kegunaan lainnya.

Meski pun tidak termasuk unsur dalam rukun iman, di dalam ajaran Islam termasuk juga kepercayaan tentang wali, orang yang kedudukannya istimewa di sisi Tuhan. Di kalangan masyarakat Banjar wali (lokal) nampaknya ialah manusia keramat, orang suci, dan kuburannya menjadi sasaran ziarah. Sasaran ziarah lainnya ialah mesjid-mesjid keramat dan situs candi Agung.

KEPERCAYAAN Eks BUDAYA LOKAL

KEPERCAYAAN eks kebudayaan lokal yang mewarnai keislaman masyarakat Banjar pada hakekatnya mengandung paham tentang keunggulan kelompok kerabat bubuhan dan tokoh tertentu mereka dibandingkan dengan bubuhan lain atau warga selebihnya. Kewibawaan tokoh-tokoh ini berlanjut terus setelah mereka meninggal dunia, sehingga akhirnya dimitoskan menjadi tokoh di dunia gaib yang berfungsi menjaga keseimbangan kosmos dan memelihara adat istiadat. Demikianlah, selain malaikat (jin, iblis dan setan), yang bersumber dari ajaran Islam, orang Banjar juga percaya pada makhluk-makhluk halus lain, yang asal jelmaan manusia dan yang memang seasalnya makhluk halus. Semua makhluk halus tersebut dipercayai sebagai makhluk ciptaan Tuhan pula seperti halnya manusia. Makhluk-makhluk halus tersebut ialah orang-orang gaib, yang asal cikal bakal raja-raja Banjar yang wapat. Atau makhluk halus yang menghuni hutan dan danau atau rawa tertentu yang asal nenek moyang bubuhan tertentu yang biasa dipanggil datu, yang dapat diduga asal tokoh yang menyingkir ke tempat tersebut dan menetap disana. Makhluk halus lainnya ialah berbagai makhluk bawah air, yaitu naga, tambun, dan buaya, ketiganya yang asal jelmaan nenek moyang. Selain tokoh nenek moyang yang wapat, ada pula kelompok bubuhan tertentu yang yakin bahwa sepasang moyangnya dahulu telah menjelma menjadi naga dan seterusnya hidup sebagai makhluk bawah air itu sampai saat ini.

Makhluk halus lainnya ialah macan dan tabuan, keduanya yang gaib, yang dikonsepsikan hidup di gunung, dan buaya gaib yang hidup di dalam air. Macan dan buaya konon di dalam lingkungannya hidup bermasyarakat seperti halnya manusia, dan di antaranya ada yang dapat menyaru dan dengan demikian bergaul dengan manusia lainnya, yang dapat dikenali dengan tanda-tanda fisik yang berbeda (antara lain tangan dan kaki yang relatif lebih pendek, dan tiadanya lekukan pada bibir atasnya). Makhluk halus lainnya ialah yang dikonsepsikan sebagai mengganggu atau mendatangkan penyakit atau dapat disuruh dukun menyebabkan sakit: kuyang, hantu beranak, hantu sawan, hantu karungkup, hantu pulasit. Dan makhluk halus (hantu) yang dikonsepsikan sebagai jelmaan manusia yang telah mati, karena mengaji ilmu yang salah atau karena meminum salah satu minyak sakti agar kaya, kebal (taguh) atau kuat perkasa (gancang). Bayi dilahirkan bersama-sama dengan saudara-saudaranya, yang semuanya gaib, yaitu biasanya berupa personifikasi dari benda-benda yang menyertainya ketika lahir.

Selain itu di dalam kosmologi orang Banjar termasuk juga alam yang tidak kelihatan, alam gaib, antara lain, sebagai tempat makhluk-makhluk halus hidup bermasyarakat. Nampaknya dunia ini bagi orang Banjar relatif atau tumpang tindih, sebab mungkin saja hutan rawa, semak belukar atau pokok kayu tertentu sebenarnya di dalam dunia gaib ialah kota, perkampungan, atau gedung megah milik orang gaib. Dunia gaib di balik apa yang nampak ini di kalangan tertentu disebut sebagai bumi lamah (harpiah: bumi lemah). Juga ada istilah bumi rata untuk dunia gaib berupa gua-gua di gunung-gunung batu, yaitu tempat pemukiman masyarakat macan gaib. Istilah yang pertama agak luas penyebarannya, sedangkan yang kedua lebih terbatas. Sebenarnya ada dunia gaib lain lagi, yaitu dunia para buaya yang terletak di bawah permukaan sungai, yang tidak penulis ketahui namanya.

Keterampilan atau kelebihan, bahkan juga kewibawaan, yang dimiliki seseorang konon bukan semata-mata diperoleh dengan belajar, melainkan dapat pula terjadi berkat kekuatan gaib yang ada pada dirinya, karena ilmu gaib yang diwarisinya, atau karena adanya makhluk gaib yang menopangnya. Selain itu orang yang mempunyai keterampilan khusus atau mempunyai keistimewaan dibandingkan orang lain (seniman wayang, seniman topeng, ulama, tokoh berwibawa di kalangan bubuhan) dianggap mempunyai potensi untuk mengobati; hal ini nampaknya ada kaitannya dengan kekuatan gaib yang diduga ada padanya atau adanya makhluk gaib yang menopangnya. Selain itu berkembang anggapan bahwa bila ada 40 orang dalam suatu majelis doa atau majelis sembahyang jenazah, pasti termasuk di dalamnya orang yang saleh_, yang doa-nya atau pun kutuknya sangat makbul.

Orang Banjar percaya bahwa berbagai benda, termasuk binatang atau tumbuh-tumbuh-an dan bacaan tertentu mempunyai khasiat atau kegunaan tertentu, yang penulis istilahkan sebagai tuah. Demikian pula orang, binatang atau tumbuh-tumbuhan dan mungkin juga benda-benda lain mempunyai diri yang lain yang penulis istilahkan sebagai semangat dan di lapangan diistilahkan sebagai sumangat, ngaran (nama), raja (raja), dan ngaran raja. Tentang tuah dan semangat ini lihat uraian berikutnya..

III. KEPERCAYAAN RELIGIUS

SUATU kelakuan religius memperjelas dan mengungkapkan kepercayaan religi, berfungsi mengkomunikasikannya ke dunia luar dan merupakan perwujudan dari usaha para warga komunitas untuk berkomunikasi dengan Tuhan atau makhluk-makhluk halus yang menjadi isi kepercayaan. Di samping itu kelakuan ritual atau seremonial tertentu berfungsi meningkatkan solidaritas masyarakat pula. Dengan demikian ber-bagai kelakuan religius yang terungkap dalam masyarakat Banjar dapat ditelusuri referensinya asal ajaran Islam atau dapat dikembalikan kepada kepercayaan Islam, dan yang lain dapat dicari asal usulnya dari kepercayaan asal kebudayaan lokal. Kali ini juga kita tidak dapat memilah secara ketat.

Pokok-pokok kewajiban ritual Islam tergambar dalam rukun Islam, yaitu kewajiban sembahyang, puasa, zakat, haji dan mengucapkan kalimat syahadat. Tetapi ungkapan religius umat di kawasan ini meliputi pula berbagai kelakuan kolektif yang bersifat ritual, seremonial atau pengajaran: ibadah bersama di rumah-rumah ibadah, perayaan maulud, perayaan mi’raj, berbagai selamatan, berbagai kelakuan ritual bersangkutan dengan kelahiran, perkawinan dan kematian, dan berbagai bentuk mengaji. Sedangkan wujud kelakuan ritual yang dapat dikembalikan pada kepercayaan asal kebudayaan lokal ialah berbagai bentuk upacara bersaji, berbagai upacara tahap hidup individu, berbagai upacara mandi, berbagai tabu dan keharusan, sering berkenaan dengan pakaian dan perhiasan, keharusan ziarah ke tempat-tempat tertentu, dan tabu membawa makanan tertentu di dalam kendara-an. Namun di dalam kelakuan tersebut sering kali terkandung unsur-unsur yang dapat dikembalikan kepada ajaran Islam.

KELAKUAN ISLAM

ORANG Banjar relatif taat menjalankan agamanya: sembahyang dilakukan dengan teratur, meski pun adakalanya tidak tepat waktunya. Meski pun jelas ada saja orang yang tidak berpuasa dalam bulan Ramadlan, khususnya di kota-kota, tetapi yang jelas tidak ada orang yang secara terbuka memperlihatkan ia tidak berpuasa, dan anak-anak sering diperingatkan agar tidak “mengganggu” orang yang berpuasa dengan cara memakan sesuatu di hadapannya. Zakat juga ditunaikan dengan teratur, di sini khususnya zakat fitrah, zakat padi dan zakat barang-barang yang diperniagakan. Kegairahan untuk menunaikan ibadah haji di kawasan ini mungkin yang terbesar di Indonesia. Dan ada saat-saat tertentu syahadat diucapkan secara formal. Di lapangan diketahui jenis sembahyang tertentu dan syahadat berfungsi pula selaku upaya magis untuk berbagai keperluan tertentu. Selain itu ada saat-saat tertentu orang-orang melakukan ibadah sunat: sembahyang sunat, puasa sunat, sedekah sunat.

Segala ibadah dan doa memang ditujukan kepada Allah dan tidak dapat ditujukan kepada makhlukNya; tidak ada yang dapat mengabulkan doa kecuali Allah. Namun bagi orang Banjar doa yang diucapkan orang saleh dianggap makbul dan restu yang diberikannya dengan melakukan sembahyang hajat sangat bermanfaat. Rezeki, penyakit dan kesembuhan diakui berasal dari Allah, tetapi Allah juga yang menentukan dengan takdirNya sebab atau lantaran untuk itu, yang diluar kemampuannya untuk mengetahuinya. Ini mengharuskan orang berusaha dengan berbagai cara guna mencari sebab bagi terhalangnya rezeki atau guna mencari sumber kesembuhan, termasuk melakukan upacara bersaji atau meminta tolong kepada balian (pemimpin religi suku di Labuhan) atau kepada tabib. Dalam hal mencari kesembuhan ini doa orang saleh sangat bermanfaat.

Keyakinan, bahwa kehidupan sesudah mati tergantung pada amal perbuatannya ketika hidupnya, tidak menghalangi keluarga untuk menyantuni kerabatnya yang telah meninggal. Hal ini akan disinggung kembali dalam seksi berikutnya.

Di kalangan tertentu berkembang anggapan bahwa dengan cara balampah orang dapat menghubungi malaikat atau jin untuk dijadikan muwakkal atau sahabat, dan demikian pula dengan mahluk-mahluk halus lainnya, yaitu orang gaib, macan gaib atau salah satu kembaran kita sendiri sewaktu lahir. Malaikat yang dijadikan sahabat ialah khususnya malaikat pemelihara surah al-Ikhlas dan surah al-Mulk. Sahabat gaib ini akan membantu kita sewaktu-waktu diperlukan dalam berbagai kegiatan di dunia ini.

Perayaan maulud, yaitu peringatan hari lahir Nabi, dirayakan berganti-ganti hampir sepanjang bulan Rabi’ al-Awwal bahkan sampai permulaan bulan berikutnya, oleh hampir semua rumah tangga di Hulu Sungai, dan konon demikian pula halnya dahulu di Martapura. Memperingati maulud dan mi’raj Nabi merupakan kegiatan rumah-rumah ibadah, sekolah-sekolah dan perkumpulan-perkumpulan tertentu. Mengamalkan membaca selawat Nabi Muhammad konon memudahkan memperoleh syafaat beliau pada hari kiamat kelak, dan dapat serta meminum air di telaga beliau di padang mahsyar nanti. Di dalam masyarakat beredar berbagai bentuk selawat dengan kegunaannya masing-masing. Qasidah Burdah, sebuah syair puji-pujian untuk Nabi, diyakini berkhasiat mendinginkan (dinginan), dibaca berulang-ulang sebagai upaya mendinginkan suasana yang memanas dan dibacakan pada air dan airnya digunakan sebagai air keramat untuk mandi.

Nabi Sulaiman dianggap, setidak-tidaknya di kalangan tertentu, sebagai pemilik segala khazanah yang tersimpan dalam perut bumi atau segala sesuatu berkenaan dengan tanah. Di kalangan pendulang intan dan emas berkembang berbagai bacaan agar bisa memaku isi perbendaharaan Nabi Sulaiman di suatu tempat dan kemudian membuka khazanah perbendaharaan tersebut, agar mudah diambil. Bacaan atau mantra yang pertama dinamakan kunci bumi, dan yang sebuah lagi kunci Nabi Sulaiman. Konon mengetahui nama anak Nabi Sulaiman, yang tidak bertangan dan berkaki sehingga “tubuhnya bulat mirip semangka”, berarti bergaul intim dengannya dan, dengan demikian, mudah memperoleh hasil bila mela-kukan usaha berhubungan dengan tanah atau bumi. Nabi Khaidir dianggap sebagai penguasa bawah air, namun tidak nampak ia dipuja dalam fungsinya itu. Tetapi yang jelas ia secara khusus “diundang” ketika bersaji tahunan (aruh tahun) dengan menghidangkan nasi ketan kuning dan nasi ketan putih yang dibentuk seperti gunung, masing-masing dengan telur rebus di atasnya, yang di-anggap sebagai pembuka rezeki, dan (oleh kalangan tertentu “diundang”) ketika akan memulai suatu usaha dan setahun sekali.

Bagi orang Banjar kitab al-Qur’an mengandung rahasia, yang hanya sebagian kecil berhasil diungkapkan. Di lapangan diketahui ada ayat dan surah yang dibaca, diamalkan atau dipakai sebagai jimat agar murah rezeki, mudah memperoleh ilmu pengeta-huan, untuk mendinginkan badan si sakit, agar mudah memperoleh jodoh, atau mem-bebaskan pengamalnya dari siksa api neraka di akhirat kelak. Ayat lain berfungsi men-damaikan suami isteri yang sering bertengkar, memikat jodoh atau sebagai mantra untuk mengail. Kitab surah Yasin berfungsi selaku penangkal terhadap makhluk halus yang biasa mengganggu wanita yang sedang atau baru-baru melahirkan atau bayinya. Tali mubin, yang diperoleh dengan membuhul benang hitam setiap kali sampai pada kata mubin ketika membaca surah Yasin, dijadikan gelang untuk bayi dan berguna sebagai penangkal agar ia tidak sering menangis.

Doa orang banyak sangat bermanfaat, tetapi juga kutukan mereka sangat ditakuti. Jumlah empat puluh orang dewasa atau lebih yang menyembahyangkan dan kemudian mendoakan seorang warga menjelang dikuburkan, meletakkan botol berisi air di atas mimbar pada hari Jum’at dan menggunakannya sebagai air doa, dan orang senantiasa diperingatkan agar jangan sampai banyak orang yang menyebutnya sebagai gila atau nakal. Yang terakhir ini di-katakan bila sampai ada empat puluh orang mengatakan seseorang sebagai gila, orang ter-sebut akan benar-benar gila.

KELAKUAN Eks KEBUDAYAAN LOKAL

ADANYA nenek moyang yang gaib atau menjelma menjadi naga dahulu kala, atau adanya salah seorang kerabat dekat yang wapat dan hidup seterusnya di dalam dunia gaib, mengharuskan keturunannya untuk melakukan upacara bersaji setahun sekali. Konon tokoh nenek moyang yang gaib (wapat) atau menjadi naga ini tetap memperhatikan kesejahteraan keturunannya dan memperingatkan anak cucunya bila lalai melaksanakan adat dahulu kala. Kadang-kadang pemeliharaan atau peringatan ini nampak seperti dilakukan atau diwakili dilakukan oleh sahabat gaib nenek moyang. Pada keharusan membawa bayi ziarah ke kuburan keramat atau mesjid keramat tertentu atau (situs) candi Agung, mungkin orang gaib yang menghuni atau memelihara tempat tersebut menghukum (memingit) keluarga yang lalai melakukan ziarah seperti yang dibiasakan generasi terdahulu. Orang gaib atau makhluk halus lain yang diyakini menempati suatu hutan tertentu dikhawatirkan akan mengganggu kegiatan mendulang atau mencelakakan para pendulang, oleh karena itu dilakukan upacara bersaji untuk menghormati mereka (upacaranya dinamakan menyanggar). Para petani mungkin khawatir akan gangguan makhluk-makhluk halus yang dahulu bertempat tinggal di sekitar hutan atau rawa yang telah dijadikan persawahan lalu mengadakan upacara bersaji tahunan (upacaranya dinamakan bapalas padang).

Sehubungan dengan pokok kayu atau wilayah tertentu mungkin dalam dunia gaib sebenarnya ialah (rumah) tempat tinggal orang gaib atau daerah pemukiman mereka, konon kita harus berhati-hati bila ada dugaan ke arah itu, atau bila berada di daerah yang belum dikenal betul. Para sopir menolak membawa seorang penumpang, bila yang terakhir ini membawa “makanan” orang gaib, yaitu antara lain nasi ketan, lemang dan telur rebus (dipindang atau diasin). Selain orang gaib, di tempat-tempat tertentu juga berkeliaran pidara dan kariau, yaitu (menurut pendapat penulis) ruh-ruh orang mati. Pidara dapat menyebabkan orang sakit, khususnya bayi dan anak-anak (sakitnya dinamakan kapidaraan), dengan gejala badan panas dingin (mariap dingin) dan kepala pusing. Ketika mengobati kapidaraan (mamidarayi), ketika bamamang, mengucapkan mantra, pidara diminta meninggalkan si sakit, bahkan juga dimohon serta menyediakan air obat bagi si sakit.

Dengan memperhatikan kelakuan peziarah, para wali (lokal) dianggap dapat mem-beri tahukan hal-hal yang tersembunyi (gaib), termasuk meramal peristiwa yang bakal terjadi, memberikan pengobatan atau mencarikan ramuan yang tepat sebagai obat, dan menjadi perantara untuk mencapai sesuatu hajat dari Allah. Yang terakhir ini khususnya berlaku terhadap kuburan keramat. Kuburan keramat, yaitu kuburan para wali lokal, yang tersebar luas di kampung-kampung, biasanya diziarahi untuk mengucapkan kaul akan ziarah kembali bila sesuatu hajat terpenuhi (isteri hamil, selamat tiba dari menunaikan ibadah haji di Mekah, anak lulus sekolah atau tamat mengaji atau sembuh dari sakit, anak atau cucu memperoleh jodoh yang sesuai, berhasil dalam usaha mendulang atau mata pencaharian lainnya). Pada kuburan keramat tertentu dan situs candi Agung, orang juga dapat meramalkan apakah hidupnya akan lebih baik atau cita-cita-nya akan tercapai.

Semangat anak konon kadang-kadang perlu dipanggil (dikukur) guna menyembuh-kannya dari kapidaraan yang tak kunjung sembuh; upacara bamula (memulai) antara lain berfungsi mengumpulkan semangat padi sebelum dituai secara besar-besaran dan tindakan tertentu ketika itu berfungsi menangkal agar padi tidak dituai oleh orang gaib. Menyebut ngaran timah ketika berangkat ke medan laga akan terhindar dari peluru senjata api (peluru senjata api berbahan baku timah), menulis ngaran hantu beranak menghindarkan makhluk halus itu mendekat. Semangat anak dipanggil (dikukur) guna menyembuhkannya dari kapidaraan yang berlarut-larut, semangat padi diajak berkumpul menjelang panen.

Wanita yang baru melahirkan tabu memakan makanan yang bersifat dingin (dinginan); menghidangkan sayur batang pisang, juga dipercayai bersifat dinginan, dalam selamatan menjelang upacara perkawinan (di Martapura), dipercayai akan menenangkan pengantin atau mempelai yang bersangkutan (pengantin dinginan). Berbagai senjata pusaka dianggap bersifat panas (panasan) atau dinginan; (yang lain lagi) menyebabkan pemakainya disukai atau dihormati orang. Berbagai batu atau senjata pusaka berkhasiat menyebabkan pemakainya kebal, kuat perkasa, berkhasiat menyembuhkan penyakit tertentu dan lain sebagainya. Konon ada berbagai minyak sakti, yang berkhasiat kebal, kuat perkasa, luka yang parah bisa sembuh bila bintang-bintang muncul di langit, berkhasiat guna-guna atau sebagai pelaris berdagang, atau menyebabkan peminumnya menjelma menjadi kuyang (makhluk halus yang suka meng-ganggu wanita yang baru melahirkan atau bayinya) bila malam tiba.

Sehubungan dengan tuah batu dan besi berkembang berbagai teknik untuk menentukan atau meramalkan tuahnya. Di lapangan memang diketahui ada orang yang memiliki pal batu, alat yang bisa digunakan untuk menentukan tuah batu atau besi. Tetapi kebanyakan orang mengunjungi seseorang yang dikenal ahli tentang besi (antara lain ulama tertentu), bila merasakan ada masalah berkenaan dengan barang besi (antara lain kendaraan bermotor) kepunyaannya. Seorang calon pendulang sering menanyakan peruntungannya dalam pekerjaan mendulang sebelum bergabung dengan kelompoknya. Ada orang yang meminta diramalkan apakah anaknya berjodoh dengan seseorang sebelum meminang atau menerima pinangan orang tersebut.

Pada akhir uraian tentang kelakuan religius ini, penulis ingin mengungkapkan gagasan tentang pengobatan di kalangan masyarakat Banjar. Pengobatan orang Banjar biasanya di-lengkapi dengan air doa (banyu tawar) yang diminum atau dicampurkan ke dalam air minum, disemburkan ke badan si sakit, atau dijadikan sebagai air mandi atau air cuci muka. Seorang alim belumlah alim benar-benar bila belum bisa membuatkan air doa: tidak dapat dipahami oleh orang Banjar, seorang alim yang tidak bisa memberikan air untuk obat. Air doa lainnya dimintakan kepada seorang bidan (banyu baya, digunakan dalam rangka mandi hamil) atau seorang tabib. Untuk mempersiapkan air doa ini banyak di antaranya dilakukan dengan membaca bagian-bagian dari al-Qur’an. Cara lain untuk memperoleh air doa ialah dengan meletakkan botol berisi air di mimbar mesjid menjelang sembahyang Jum’at dan mengambilnya sesudah usai acara hari Jum’at, dan meletakkan botol berisi air di kuburan keramat.

IV. FAHAM KESELAMATAN MANUSIA

ISLAM, seperti juga biasanya agama lainnya, berbicara tentang kehidupan lain sesudah kehidupan di dunia ini dan mengungkapkan apa yang harus diupayakan manusia agar selamat dalam alam akhirat tersebut. Faham tentang keselamatan manusia di kalangan orang Banjar menyangkut berbagai gagasan tentang bagaimana seharusnya sebaiknya hidup di dunia ini, bagaimana seharusnya kelakuan agar selamat dalam kehidupan akhirat kelak, usaha-usaha guna mempengaruhi hidup di dunia dan usaha-usaha mempengaruhi kehidupan lain sesudah mati; yang terakhir ini termasuk yang diupayakan sendiri oleh yang bersangkutan ketika hidupnya dan yang dilakukan oleh kerabat dekatnya sesudah meninggalnya.

Agar selamat hidup di dunia, orang harus memelihara hubungan baik dengan tetangganya, termasuk juga dengan tetangga yang gaib. Bagi kerabat-kerabat tertentu hubungan baik juga harus dipelihara dengan nenek moyang yang gaib atau yang telah menjelma menjadi naga, dan atau dengan makhluk gaib yang menjadi sahabat nenek moyang. Bagi orang Banjar ketidak serasian hubungan dengan tetangga atau masyara-kat atau seretnya rezeki dan terlambatnya mendapat jodoh, mungkin saja ada kaitannya dengan ulah orang gaib, yang tidak senang akan sikapnya. Agar selamat hidup di akhirat, orang harus menjalankan kewajiban agamanya dengan tekun dan teratur dan memelihara hubungan baik dengan tetangga, seperti nampak pada gagasan tentang orang yang dapat diminta untuk melakukan upacara bahilah, sembahyang fiil, puasa fiil, dan sembahyang hadiah bagi kepentingan kerabat yang baru-baru meninggal dunia. Konon kesempurnaan ibadah sukar diperoleh, karena itu ibadah harus dilengkapi dengan ibadah-ibadah sunat dan berbagai-bagai amalan bacaan. Meski pun demikian kegiatan ibadah sunat sebenarnya tidak banyak dilakukan kecuali pada waktu-waktu tertentu. Selain itu di lapangan nampak ada berbagai usaha untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, baik di dunia ini juga mau pun di akhirat kelak.

Ada orang yang memakai wafak agar disenangi orang banyak atau agar mudah berurusan dengan para pembesar atau rezekinya dalam bidang kegiatan mencari nafkah tertentu meningkat atau jodohnya segera ditemukan. Amalan bacaan (termasuk ayat atau surah al-Qur’an) tertentu mempunyai fungsi demikian pula. Berbagai minyak sakti konon diminum atau dioleskan di tubuh agar kebal atau kuat perkasa atau agar disukai orang. Kegiatan balampah, kurang lebih bertapa, konon akan menjadikan kehidupannya, baik rohani mau pun fisik, akan menjadi lebih baik.

Orang-orang tertentu mempersiapkan alat-alat makan dan minum yang terbaik untuk dihadiahkan oleh ahli warisnya ketika meninggalnya kepada orang yang memandikan mayatnya kelak, dengan anggapan bahwa alat makan dan minum itulah yang akan diguna-kannya dalam alam barunya nanti. Amalan bacaan tujuh laksa (tujuh puluh ribu) zikir, yang dilakukan oleh orang-orang tertentu setelah memperoleh otoritas (ijazah) untuk itu dari seorang alim, diyakini akan membebaskannya dari siksaan api neraka kelak di hari akhirat. Amalan bacaan lainnya (antara lain berwujud ayat-ayat atau surah al-Qur’an, rumusan selawat tertentu) berfungsi demikian pula. Mengaji tasawuf bermotifkan keselamatan di alam akhirat pula, dan dengan mengaji fikih diharapkan meningkatkan kualitas ibadah, dan secara tidak langsung menjanjikan keselamatan di alam akhirat pula. Berwakaf untuk rumah ibadah atau gedung sekolah diyakini akan membuahkan pahala amal terus menerus yang mengalir kepadanya sesudah matinya kelak, setidak-tidaknya selama barang wakaf itu digunakan orang (amal jariah). Mempunyai anak yang alim berarti akan menerima hadiah bacaan sewaktu-waktu bila meninggal kelak.

Keluarga yang tinggal juga dapat mengusahakan keselamatan, khususnya, warganya yang baru-baru meninggal dunia. Di daerah tertentu, ibadah sembahyang dan puasa almarhum yang tidak dilaksanakan atau diduga ada kekurangan ketika dilaksanakan di-tebus dengan sejumlah harta secara simbolis pada acara bahilah. Amalan tujuh laksa zikir almarhum dapat dilengkapi oleh majelis doa, dan demikian pula halnya amalan berupa surah Qulhu (surah al-Ikhlas), yang dilakukan sebelum mayat selesai dimandikan, dan itu sama halnya seperti dilakukan almarhum sewaktu hidupnya. Puasa dan sembahyang yang tidak terkerjakan selama almarhum sakit menjelang kematiannya di-mintakan di-kerjakan kepada orang alim tertentu (dinamakan puasa fiil dan sembahyang fiil). Dengan disembahyangkan oleh empat puluh orang, yang kemudian memohonkan ampunan untuknya dan menyatakan bahwa ia orang baik-baik, dosa-dosa almarhum akan diampuni dan almarhum tergolong dalam kelompok orang baik-baik. Dibacakannya al-Qur’an di samping kuburannya konon akan memaksa malaikat menun-da menyiksanya dan, di daerah tertentu, dengan dibacakan surah al-Qadar pada gum-palan tanah yang digunakan sebagai pengganjal mayat (agar tidak berubah posisinya dalam kubur) konon malaikat tidak dapat mendekat untuk menyiksa si mati. Sembahyang hadiah yang dimintakan dilakukan untuknya kepada seorang alim akan memberikan penerangan di dalam kuburnya; dan keluarga sewaktu-waktu dapat mengeluar-kan amal jariah atas nama almarhum dan berakibat yang sama dengan bila dikerjakan almarhum sendiri sewaktu hidupnya. Anak almarhum dapat sewaktu-waktu mengirimkan hadiah bacaan baginya.

Untuk mengusahakan keselamatan kerabat yang pergi haji, dilakukanlah selamatan menjelang berangkat, ketika akan berangkat, dan setiap malam Jum’at sampai kerabat tersebut tiba kembali di rumah. Di dalam selamatan menjelang berangkat dan setiap malam Jum’at dan terutama pada malam ketika jemaah haji berangkat menuju padang Arafah undangan lebih banyak, acaranya antara lain sembahyang hajat bersama. Di antara hidangan-hidangan dan bacaan-bacaan ketika selamatan itu diyakini akan mendinginkan suasana sekitar kerabat yang tengah menunaikan ibadah haji tersebut.

V. PENUTUP

KIRANYA dapatlah disimpulkan bahwa orang-orang Banjar termasuk penganut Islam yang taat menjalankan agamanya. Namun di dalam berbagai ungkapan religius mereka termasuk juga unsur-unsur yang tidak ada di dalam ajaran Islam, atau bahkan bertentangan dengannya. Yaitu antara lain kepercayaan tentang adanya orang gaib yang asalnya manusia yang tidak mati melainkan berpindah ke alam gaib (wapat) dahulu kala, dan berbagai upacara bersaji yang terkait, malaikat dan makhluk halus lain sebagai sahabat manusia, gagasan tentang tuah pada benda dan cara-cara untuk menentukannya, berbagai kelakuan yang bertujuan untuk menebus atau mengganti ibadah warga yang telah meninggal dunia dan guna menyantuni atau memberikan bekal bagi kehidupan dalam alam baru mereka, dan beredarnya rumusan-rumusan yang dibaca atau dilukis, antara lain ayat atau surah al-Qur’an dengan berbagai khasiat yang tertentu. Unsur pertentangannya dengan ajaran Islam antara lain terletak pada kenyataan adanya larangan memberikan persembahan bagi selain Allah SWT dan adanya larangan mengunjungi juru ramal.

Gagasan keislaman masyarakat Banjar seperti demikian itu terjadi karena dalam proses pengislaman secara berkelompok, kepercayaan Islam diterima sebagai bagian dari kepercayaan bubuhan. Dengan demikian berbagai kegiatan ritual yang mengungkapkan kepercayaan bubuhan tersebut ke permukaan tetap dilaksanakan.

Namun orang Banjar dalam berbagai kesempatan selalu belajar, dan ini berdampak kepada corak keislaman mereka. Selain itu tempat-tempat bersemayamnya orang gaib semakin jauh saja dari pemukiman, dan berbagai ritus kelompok yang diharuskan dalam rangka kepercayaan bubuhan dicela sebagai perbuatan memuja setan dan pembiayaannya yang mahal dan menurunnya partisipasi warga kelompok bubuhan dan warga lingkungan, menyebabkan berbagai ritus akhirnya ditinggalkan.

DAFTAR PUSTAKA

Adatrechbundel, No. XIII, XXVI, XXVIII, XXXVI, XLIV. (‘s-Gravenhage: Mar-tinus Nijhoff, 1917-1952).

“Adat Istiadat Daerah Kalimantan Selatan”. Ketua Tim peneliti: M. Idwar Saleh. (Banjarmasin: Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kantor Wilayah Propinsi Kalimantan Selatan, 1978). Naskah stensil.

Baal, Jan van, Dema: Description and Analysis of Marind-Anim Culture (South New Guinea). With the Collaboration of Father J. Schueren. (The Hague: Martinus Nijhoff, 1966)

Baal, Jan van, Symbol for Communication: An Introduction to the Anthropologic-al Study of Religion. (Assen: Van Gorcum, 1968).

Bondan, Amir Hasan (Kiai), Suluh Sedjarah Kalimantan. (Banjarmasin: Percetakan Fajar, 1953)

Cense, A.A., De Kroniek van Bandjermasin. (Santpoort: C.A. Mees, 1928).

Ceritera Rakyat Daerah Kalimantan Selatan. 3 jenis naskah. (Banjarmasin, Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, Departemen Pendidik-an dan Kebudayaan, 1976-1984).

Daud, Alfani, “Pengamalan Ajaran Al-Qur’an dalam Masyarakat (Kasus Masyarakat Banjar)”, makalah dalam Seminar Nasional Al-Qur’an dan Tantangan Zaman, April 1985 di Yogyakarta, yang kemudian dimuat (versi berbahasa Inggeris) dalam Mizan, jilid II, No. 4, 1987, hlm 72-88.

Durkheim, Imile, The Elementary Forms of Religious Life. Diterjemahkan oleh J.W. Swain. (New York: Collier Books, 1976).

Firth, Raymond, Elements of Social Organization. (Boston: Beacon Press, 1972). Edisi Pertama tahun 1951.

Goede, William J., Religion among the Primitives. (London: Collier-Macmillan, 1951).

Joekes, A.M., “De Wet van Sultan Adam van Bandjermasin van 1835″, dlm De Indische Gids, tahun ke 3, jilid II, 1881, hlm 146-179.

Lelang, Muhammad, “Gegevens over boeboehan of familieband (1904)” diterje-mahkan dan dikomentari oleh J.C. Vergouwen, dlm Adatrechtbundel XXVI, 1926, hlm 459-464.

Loomis, Charles P., dan Loomis, Zone K., Modern Social Theories: Selected American Writers. (London, Toronto, Princeton: D. van Nostrand Company, 1965).

Malefijt, Annemarie de Waal, Religion and Culture: An Introduction to Anthropology of Religion. (New York: Macmillan Publishing Co., Inc.; London: Collier Mac-millan Publishers 1968).

Mallincrodt, J., Het Adatrecht van Borneo. Dua jilid. (Leiden: M. Dubbeldeman, 1928).

Nottingham, Elizabeth K., Religion and Society. (New York: Random House, 1954). Versi berbahasa Indonesia oleh Abdul Muis Mahawy, Agama dan Masyarakat: Suatu Pengantar Sosiologi Agama. (Jakarta: Rajawali, 1985).

Sch@rer, Hans, Die Gottenidee der Ngadju Dajak im Shd Borneo. (Leiden: E.J. Brill, 1938). Edisi berbahasa Inggeris oleh Rodney Needam, Ngaju Religion: The Con-ception of God among a South Borneo People. (The Hague: Martinus Nijhoff, 1963).

Skeat, W.W., Malay Magic: Being an Introduction to the Folklore and Popular Religion of the Malay Peninsula. With a Preface by Charles Otto Blagden. (London: Macmillan & Co., Ltd, 1900).

Ven, A. van der, “Aanteekeningen omtrent het Rijk Bandjermasin” dlm Tijdschrift van het Bataviaasche Genootschaft, tahun ke 9, 1860, hlm 93-133.

Vergouwen, J.C. Lihat Muhammad Lelang.

Wallace, Anthony F.C., Religion: An Anthropological View. (London: Random House, 1966).

Perkembangan Agama Dalam Masyarakat Banjar
Oleh Fat Hurrahman

A. Pendahuluan
pengakuan bahwa religi suatu sistem, berarti religi itu terdiri dari bagian-bagian yang behubungan satu sama lain, dan masing-masing bagia merupakan satu sistem tersendiri. Apabilakita berbicara tentang sistem kepercayaan, maka yang dimaksud ialah seluruh kepercayaan atau keyakinan yang dianut oleh seseorang atau kesatuan sosial. Kesatuan social itu dapat berwujud suatu masyarakat dalam arti luas, tetapi dapa pula berwujud satu kelompok kekerabatan yang relatif kecil, dalam hal ini Bubuhan dalam masyarakat Banja, atau bahkan keluarga batih semata-mata, dan dapat pula berwujud suatu masyarakat daerah lingkungan tertentu. Pengkatagorian atas berbagai-bagai system kepercayaan yang ada dalam masyarakat Banjar sedikit banyak berdasarkan atas kesatuan-kesatuan sosial yang menganutnya.

B. Perkembangan Agama Atau Kepercayaan Dalam Masyarakat Banjar
Bentuk-bentuk kepercayaan dan praktek-praktek keagamaan yang bagaimana yang dianut oleh nenek-nenek moyang orang Banjar tatkala mereka mula-mula menetap di sini, sulit mencari keterangan dan bukti yang akurat untuk mengutarkan asal-usul agama dalam suku Banjar.barangkali aspek religius dari kehidupan masyarakat Bukit yang mendiami pegunungan Merartus adalah merupakan sisa-sisa yang masih tertinggal (survivals) dari kepercayaan mereka itu. Tentu saja dengan mengingart pengaruh dari agama Hindu dan Islam. Mungkin pula religi nenek moyang orang Banjar pada zaman purba itu dapat ditelusuri di kalangan suku Murba yang hidup di daerah Sumatera (Riau dan Jambi) dan Semenanjung Malaya (sekarang Malaysia Barat) pada saat ini. Dengan demikian kita bias memperkirakan bahwa religi mereka berdasarkan pemujaan nenek moyang dan adanya makhluk-makhluk halusdi sekitar mereka (animisme). Mungkin bentuk-bentuk pemujaan nenek moyang dan aspek-aspek animisme dari kegidupan keagamaan masyarakat Banjar, yang kadang-kadang masih muncul, adalah sisa-sisa dari agama mereka dahulu kala.
Tentang agama yang dianut oleh raja-raja cikal bakal sultan-sultan Banjar, Hikayat Banjar mungkin dapat dijadikan landasan. Empu Jatmika pada waktu mendirikan keraton Negaradipa konon menyuruh pula membangun candi, yang dinamakan “candi Agung”, yang bekas-bekasnya masih ada di kota Amuntai, tidak jauh dari pertemuan sungai Balangan dan Tabalong.
Dengan demikian dapat diperkirakan bahwa agama yang dianut di Negaradipa dan demikian pula agaknya di Negaradaha, ialah salah satu bentuk agama Syiwa, mungkin sekali dalam bentuk sinkretisme syiwa Budha. Pengaruh ini intensif, menurut salah satu peneliti sejarah budaya Banjar hanya terbatas dalam lingkungan Keratondan keluarga bangsawan atau pembesar-pembesar kerajaan, dan hanya berkenaan dengan daerah ibukota lalawangan (mungkin setingkat kabupaten Jawa).
Sejak pangeran Samudera dinobatkan sebagai sultan Suriansyah di Banjarmasin, yaitu kira-kira 400 tahun yang lalu, Islam telah menjadi agama resmi kerajaan menggantikan agama Hindu. Dan agaknya perubahan agama istana Hindu menjadi Islam dipandang oleh rakyat awam sebagai hal yang sewajarnya saja, dan tidak perlu mengubah loyalitas mereka. Sejak masa Suriansyah proses islamisasi berjalan cepat, sehingga dalam waktu yang relatif tidak terlalu lama, yaitu sekitar pertengahan abad-18 atau bahkan sebelumnya, Islam sudah menjadi identitas oaring Banjar.
Sebagaimana nama-nama atau barangkali lebih baik gelar-gelar bagi dewa tertinggi itu memperlihatkan adanya pengaruh Hindu dan Islam., dan sebagian lagi membayangkannya sebagai nenek moyang.
Agama Kristen mlai diperkenalkan sekitar tahun 1688 oleh seorang pastor Portugi, namun penyebaran agam Kristen secara intensif dilakukan di kalangan orang Dayak di kawasan ini oleh kegiatan zending sejak tahun 1688. orang-orang Dayak sasaran khususnya ialah yang bertempat tinggal di (propinsi) Kalimantan Tengah, sedangkan orang-orang Bukit baru terjamah oleh kegiatan pengkristenan pada permulaan abad ini.
Feuilletau de Bruyn melaporkan ditemukannya sekitar 200 orang Kristen di kalangan orang Manyan di sekitar kota Tanjung, yang tersebar dalam beberapa kampung, sedangkan beberapa penganut Kristen di Labuhan pada waktu itu tidak diperoleh sesuatu keterangan.
Setelah menceritakan tentang sultan Suriansyah, selaku sultan Banjar pertama yang menganut agama Islam, Hikayat Banjartidak menyinggung-nyinggung lagi bagaimana proses islami selanjutnya atau bagaimana pengaruh Islam terhadap pemerintahan dan kehidupan sehari-hari, selain menyebut beberapa jabatan agama, yaitu panghulu, chalifah dan chatib.
Mungkin perkembangan jabatan-jabatan agama dari yang tertinggi di ibukota kesultanan sampai yang terendah di kampong-kampung adalah atas pengaruh syekh Muhammmad Arsyad al Banjari. Pengaruh beliau terhadap pelaksanaan sehari-hari di kehidupan keagamaan orang Banjar cukup besar. Karya yang konon didasarkan atas ajaran beliau, yaitu kitab perukuna, sejak lama sekali, bahakn sampai sekarang masih, merupakan kitab pegangan bagi sebagian besar ummat Islam di Banjar, bahkan juga di daerah-daerah lainnya di Indinesia.

C. Kepercayaan Dan Keyakinan Di Masyarakat Banjar
Kepercayaan yang berasal dari ajaran Islam bukanlah satu-satunya keperyacaan religius yang dianut masyarakat Banjar, sistem ritus dan system upacara yang diajarkan Islam bukanlah satu-satunya sistem upacara yang dilakukan. Keseluruhan kepercayaan yang dianut orang Banjar penulis sejarah bedakan menjadi tiga katagori. Yang pertama ialah kepercayaan yang bersumber dari ajaran Islam. Isi kepercayaan ini tergambar dari rukun iman yang ke enam. Yang harus disebutkan di sini, sehubungan dengan karangan ini, ialah kepercayaan tentang malaikat sebagai makhluk tuhan dengan fungsi-fungsi tertentu. Dan tentang adanya kehidupan sesudah mati atau sesudah hancurnya alam semesta ini ( hari akhirat) selain manusia dan malaikat, masih ada dua jenis makhluk tuhan lai yang termasuk dalam sistem kepercayaan ini dan keduanya memang disebut dalam Al Qur’an, yaitu jin dan setan atau iblis.
Kedua, kepercayaan yang munkin ada kaitannya denga struktur masyarakat Banjar pada zaman dahulu, yaiut setidak-tidaknya pada masa sultan-sultan dan sebelumnya. Orang-orang Banjar pada waktu itu hidup dalam lingkungan keluarga luas, yang dinamakan bubuhan dan juga bertempat tinggal dalam rumah, dan belakangan, dalam lingkungan , bubuhan pula.
Kepercayaan demikian ini selalu disertai dengan keharusan bubuhan melakukan upacara tahunan, yang dinamakan atau lebih baik penulisan kategorikan sebagai aruh tahunan, disertai berbagai keharusan atau tantangan sehubungan dengan kepercayaan itu.
Ketiga, kepercayaan yang berhubungan dengan tafsiran masyarakat atas alam lingkungan sekitarnya, yang mungkin adakalanya berkaitan pula dengan kategori kedua.kepercayaan kategori pertama mungkin lebih baik dinamakan kepercayaan Islam, kategori kedua kepercayaan bubuhan dan kategori ketiga kepercayaan lingkungan. Referensi sehubungan denga kepercayaan Islam biasanya diperoleh dari ulama-ulama, kepercayaan bubuhan diperoleh dari tokoh bubuhan dan kepercayaan yang berhubungan dengan tafsiran penduduk terhadap lingkungan alam sekitar (kepercayaan lingkungan) diperoleh dari tabib-tabib, sebutan dukun dalam masyarakat Banjar, atau orang-orang tua tertentu, terutama yang tinggal di lingkungan yang bersangkutan tetapi juga yang bertempat tinggal di luarnya. Masih sehubungan dengan bentuk kepercayaan yang ketiga, kep0ercayaan lingkungan, ialah kepercayaan yang berkenaan dengan isi alam ini.
Di dalam masyarakat berkembang kepercayaan dengan minyak-minyak sakti, yang konon berkhasiat menyebabkan dagangan sipemakainya laku, ia disukai orang, menyembuhkan luka bagaimanapun parahnya, atau kebal terhadap senjata, tetapi di samping itu ada di antara minyak-minyak sakti itu yang berakibat sampingan berupa peminumnya menjadi “hantu” setelah matinya kelak, khsusnya berkenaan wanita yang minum minyak kuyang.
Masyarakat Banjar mengembangkan kegiatan berupacara hamper dalam semua bidang kehidupan: yang ia lihat dari sifatnya merupakan pelaksanaan belaka dari kewajiban-kewajiban (dan anjuran-anjuran) yang diajarkan oleh agama Islam, terjadi dalam rangka peralihan tahap-tahap hidup seorang individu, yang berulang tetap sesuai jalannya kelender, dan yang terjadi sewaktu-waktu dirasakan keperluan untuk itu.
D. Penutup
Kepercayaan dan agama yang dianut nenek moyang kita pada zaman dahulu yang berkembang hingga sekarang tidak lepas dari beberapa keyakinan tentang hal yang gaib dan dijadikan ritual penyembahan. Sejak masa syehk Arsyad al Banjari perubahan dan perkembangan agama terjadi khususnya agama Islam sedangkan agama Kristen datang di bawa oleh bangsa Portiugis dan berkembang di masyarakat Banjar sehingga terjadi keragaman agama dalam masyarakat banjar.

DAFTAR PUSTAKA

• Daud, Alfani, 1997. Islam Dan Masyarakat Banjar. Jakarta. PT. Raja Grafindo.
http://www.indomedia.com/bpost/pudak/journal/islam. Htm#1

AGAMA SEBAGAI KRITIK BUDAYA

AGAMA SEBAGAI KRITIK KEBUDAYAAN

A. Pendahuluan

Berkembangnya kehidupan manusia membuat berkembang pula kebudayaan yang ada. Perkembangan kebudayaan pun ada yang bersifat positif ada pula yang bersifat negatif, disini agama merupakan suatu pengkritik kebudayaan tersebut yang mana akan mengarahkannya.

Dengan adanya ktitikan-kritikan agama inilah sehingga akan tercipata suatu kebudayaan yang positif dan tidak merusak tatanan kehidupan manusia.

B. Kebudayaan

Saat ini, renungan tema kebudayaan tidaklah bertujuan untuk dirinya sendiri, melainkan hanya sebuah alat atau sarana. Artinya, merenungkan sebuah tema besar kebudayaan bukan merupakan suatu usaha teoritis, melainkan sudah memasuki usaha penyediaan sarana-sarana yang dapat membantu kita dalam memaparkan suatu strategi kebudayaan di masa depan.

Adapun paradigma kebudayaan sendiri dapat dijelaskan melalui penjelasan penting, yakni:

Pertama, dahulu orang berendapat bahwa kebudayaan meliputi segala manifestasi kehidupan, seperti agama, kesenian, fiksafat, ilmu pengetahuan dan sebagainya. Saat ini, kebudayaan sudah menjadi manifestasi kehidupan setiap individu.

Kedua, kebudayaan pada masa kini lebih dipandang sebagai suatu yang dinamis, bukan suatu yang statis. Dalam ungkapan lain, kebudayaan dimasa lalu dipahami sebagai sebuah “kata benda,” tetapi sekarang ini sudah diartikan sebagai “kata kerja”. Artinya kebudayaan bukan sebuah koleksi barang-barang (benda), tetapi sudah dihubungkan dengan aktifitas manusia dalam membuat alat-alat, tarian-tarian, hingga mantera-mantera yang menenteramkan. Dalam arti ini maka tradisi juga merupakan bagian dari kebudayaan.

Untuk itu, yang dibutuhkan manusia sekarang ini dalam menggeluti kebudayaan adalah gambaran yang jelas atau “peta-peta”, paling tidak sebagai “tipe ideal” dalam istilah Max Webber. Adapun peta yang dibutuhkan disini adalah peta yang menggambarkan mengenai kebudayaan sendiri (yang local), dan kebudayaan manusia secara keseluruhan yang bersifat universal.

C. Peta Sebagai Tipe Ideal

Banyak filosof atau sosiolog yang telah mencoba menggambarkan peta-peta tersebut. Misalnya, filosof positifis A. Comte menggambarkan perubahan dari “masyarakat agama” ke “masyarakat metafisik” hingga kepada “masyarakat positif” yang sekarang ini berkembang sedemikian pesatnya. Dalam teori sosiologi dan antropologi, juga dijelaskan secara detail gambaran mengenai perubahan (kebudayaan) masyarakat sebagaimana yang dirumuskan A. Comte .

Adapun tahapan perkembangan kebudayaan meliputi tiga tahapan, yaitu:

1. Tahap mistis

Yaitu suatu tahapan kebudayaan yang pertama, di mana manusia merasakan dirinya terkepung suatu kekuatan-kekuatan ghaib yang berada di sekitarnya sehingga manusia merasa terkepung oleh kekuatan-kekuatan tersebut.

2. Tahap ontologis

Yakni suatu tahapan kebudayaan yang kedua, dimana manusia tidak lagi merasakan hidupnya berada dalam suatu kepungan kekuatan mistik, melainkan sudah secara bebas ingin mengetahui dan meneliti segala “hal ihwal.”

3. Tahap Fungsional

Yakni suatu tahapan kebudayaan yang ketiga, di mana sikap manusia- maksudnya manusia modern sekarang ini sudah mulai ditandai dengan “cita-cita humanismenya.”

D. Titik Lemah dibalik “peta”

Pembagian dalam peta-peta kebudayaan tersebut memberi tahu kita bahwa dalam setiap kebudayaan pada dasarnya tersimpan “titik kuat” sebagai suatu kekuatan, tetapi sekaligus terbongkar “titik lemah”. Adapun titik lemah pada peta-peta tersebut adalah:

  1. Pada tahap mistik, titik lemahnya terletak pada ditemukannya praktik-praktik magis yang mencoba mendamaikan semua proses social dan alamiah yang terjadi.
  2. Pada tahap kebudayaan ontologis, titik lemahnya terjadi pada kecenderungan “substansialisme.” Artinya, manusia melihat segala sesuatu hanya dari sudut pandang hakikatnya saja.
  3. Pada tahap kebudayaan fungsional terdapat kecenderungan “negatif operasionalistik.”

E. Agama Sebagai Kritik Kebudayaan

Penting ditekankan bahwa agama memiliki peran besar sebagai kritik kebudayaan. Maka, seorang agamawan di tengah krisis modernitas, ditantang untuk menyajikan pada kehidupan modern dewasa ini, detail-detail kearifan agamanya, yang memang otentik ada dalam tradisis besar agama-agama sejak masa lalu.

Di sinilah seorang teolog atau ahli agama, dituntut untuk bisa merumuskan suatu platform yang tidak hanya berisi legitemasi, tetapi justru memberikan kritik terhadap kebudayaan. Jelasnya agama harus berdimensi kritis terhadap kebudayaan manusia. Kebudayaan harus juga dinilai dalam perspektif ke arah mana ia akan membawa manusia. Kalau dulu, agama sekedar diasumsikan hanya mengurusi “dosa-dosa individu,” maka saatnya sekarang ini memfungsikan agama sebagai kritik terhadap kebudayaan manusia, yang cenderungyang telah mengalam proses “skularisasi.” Dalam konteks ini, berarti nilai-nilai masyarakat yang agamis harus berhadapan dengan nilai-nilai baru yang sangat menekankan rasionalitas. Dan ini pun merupakan masalah serius yang menimbulkan ketegangan nilai. Oleh karena itu, agama harus meminimalisir kecenderungan “sekularisasi kebudayaan,” sebagaimana sudah terjadi di Barat. Tentu saja, ini merupakan tugas berat kaum agamawan untuk merumuskan operasionalisasinya. Lagi pula, para teolog juga harus membuktikan bahwa agama adalah asasi dalam suatu platform yang operasional. Dan kesemua itu dapat dilakukan dengan sebagai berikut:

Pertama, bahwa fungs kritis agama harus dilakukan dengan menjauhi sikap-sikap yang sifatnya totaliter.

Kedua, agama (agamawan) dalam menerangkan fungsi kritisnya secara konkrit,harus memiliki pengetahuan-pengetahuan emperis yang tangguh.

Ketiga, agama tidak bisa bersifat polotis dalam pengertian hanya membatasi diri pada masalah ritualistik dan moralitas dalam kerangka ketaatan individu kepada Tuhannya, tetapi perlu terlibat kedalam proses transformasai social, sehingga fungsi kemanusiaan agama bisa tercapai.

Keempat, perlunya mendevinisikan kembali pertobatan dalam keberagaman manusia.

F. Penutup

Sudah jelas dikatan diatas bahwa kita perlu merubah paradigma-paradigma dahulu tentang fungsi agama yang hanya mengurus hal-hal yang berkaitan tentang dosa-dosa individu saja, melainkan agama juga sebagai pengkritis kebudayaan. Dengan kritikan agamalah yang dpat mengarahkan kebudayaan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Rachman, Budhy Munawar, Islam Pluralis, Jakarta, Paramadina, 2001

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 181 pengikut lainnya.