UPACARA MANDI HAMIL

DALAM PANDANGAN MASYARAKAT BANJAR

Oleh : Fat Hurrahman

A. PENDAHULUAN

Berbagai upacara mandi yang ditemukan di lapangan ialah upacara mandi menjelang kawin pertama kali, upacara mandi bagi seorang wanita yang pertama kali hamil, berbagai upacara mandi sebaagi cara penyembuhan, dan mandi sebagai salah satu syarat atau bentuk amalan.

Tidak semua wanita yang hamil pertama kali harus menjalani upacara mandi. Konon yang harus menjalaninya ialah yang keturunannya secara turun temurun memang harus menjalaninya. Pada upacara mandi hamil, mungkin si calon ibu sebenarnya bukan tergolong yang wajib menjalaninya, tetapi konon bayi yang dikandungnya mungkin mengharuskannya melalui ayahnya dan dengan demikian si calon ibu ini pun harus menjalaninya pula. Lalai melakukan upacara itu konon menyebabkan yang bersangkutan atau salah seorang anggota kerabat dekat “dipingit”. Sebagai akibat peristiwa “pemingitan” itu proses kelahiran berjalan lambat.[1]

Seperti sudah dikemukakan di atas, tidak semua wanita hamil pertama kali harus melakukan upacara mandi. Yang harus melakukannya hanyalah mereka yang memang keturunan dari orang-orang yang selalu melaksanakannya. Namun dalam kenyataannya banyak ibu-ibu muda yang melaksanakan upacara itu dalam bentuknya yang sangat sederhana, meskipun konon sebenarnya tidak ada keharusan baginya untuk melakukan hal itu.

Di Anduhum dan di Rangas prosedur yang lengkap tidak berhasil ditemukan, sekalipun dinyatakan sebagian ada dilakukan oleh keturunan tertentu. Di kalangan mereka yang secara tradisional melaksanakannya pun tampaknya ada kecendrunagn untuk menyederhanakan upacara itu, mungkin karena menghindarai pembiayaannya yang besar.

Untuk melaksanakan upacara ini kadang-kadang dipadakan saja dengan meminta banyu baya kepada seorang bidan, membuat banyu Yasin sendiri yang kemudian dicampur dengan bunga-bungaan dan melakukan sendiri upacara di rumah yang dibantu oleh wanita-wanita tua yang masih berhubungan kerabat dekat dengannya atau dengan suaminya.

Sebagai syarat melaksanakan upacara mandi ini disiapkan nasi ketan dengan inti, yang dimakan bersama setelah upacara selesai. Upacara mandi yang demikian sederhana ini sebenarnya juga dilaksanakan pada kehamilan ketiga, kelima dan seterusnya di Dalam Pagar dan sekitarnya, khususnya apabila terdapat kesukaran pada kehamilan sebelumnya.[2]

B. MASA KEHAMILAN

1. Upaya Mendapatkan Keselamatan

Wanita yang hamil pertama kali (tian mandaring) harus diupacara mandikan. Keharusan melakukan upacara mandi hamil ini konon hanyalah berlaku bagi wanita nag turun temurun melakukan upacara ini. Seorang wanita yang keturunannya seharusnya tidak mengharuskan dilakukannya upacara itu, tetapi karena kondisi si bayi dalam kandungan mengharuskannya melalui ayahnya, si wanita itu harus pula menjalaninya. Jika tidak konon wanita itu dapat dipingit, sehingga umpamanya si bayi lambat lahir dan akibatnya ia sangat menderita karenanya.[3]

Dalam kehidupan masyarakat Banjar yang masih terikat akan tradisi lama, apabila seseorang wanita yang sedang hamil untuk kali pertamanya, ketika usia kehamilan mencapai tiga bulan atau pada kehamilan tujuh bulan maka diadakanlah suatu upacara dengan maksud atau tujuan utama untuk menolak bala dan mendapatkan keselamatan. Karena menurut kepercayaan sebagian masyarakat Banjar, bahwa wanita yang sedang hamil tersebut suka diganggu mahluk-mahluk halus yang jahat.[4]

Upacara ini juga mempunyai maksud dan tujuan untuk keselamatan bagi ibu yang sedang hamil serta keselamatan bagi seluruh keluarganya. Bagi masyarakat Banjar Hulu Sungai khususnya, menganggap bahwa angka ganjil seperti 3, 7 dan 9 bagi yang hamil merupakan saat-saat yang dianggap sakral. Bukankah kelahiran sering terjadi pada bulan ke7 dan bulan ke-9? Dan menurut kepercayaan mereka bahwa roh-roh halus dan hantu selalu berusaha mengganggu si ibu dan dan bayi dalam kandungan, karena menurut mereka bahwa wanita hamil 3 bulan itu baunya harum.[5]

Pada masyarakat Banjar Batang Banyu telah diketahui ada suatu upacara yang disebut “Batapung Tawar Tian (hamil) Tiga Bulan”, menyusul kemudian dilaksanakan upacara mandi “Tian Mandaring” ketika kehamilan telah berusia tujuh bulan. Tetapi pada masyarakat Banjar Kuala sampai saat ini hanya mengenal dan melakukan upacra mandi “Tian Mandaring” atau sering pula disebut upacara mandi “Bapagar Mayang”. Dikatakan demikian karena upacara tersebut dikelilingi oleh benang yang direntangkan dari tiang ke tiang tersebut di tebu (manisan) serta tombak (bila ada), sehingga merupakan ruang persegi empat pada benang-benang tersebut disangkutkan mayang-mayang pinang dan kelengkapan lainnya. Adapun tata pelaksanaan upacara “Mandi Tian Mandaring” ini akan dikupas pada pembahasan selanjutnya.

Upacara mandi dengan bepagar mayang ini kebanyakan dilaksanakan oleh kelompok, tutus bangsawan atau tutus candi, tetapi pada kebanyakan rakyat biasa atau orang yang tidak mampu tetapi ingin melaksanakan upacara in, maka pelaksanaan cukup sederhana saja tanpa menggunakan pagar mayang.

Selain upacara yang berupa mandi tersebut, adapula beberapa upaya yang diusahakan oleh para orang tua untuk anak atau menantunyayang sedang hamil sebagai wujud sebuah pengharapan dari seluruh keluarga agar ibu yang akan melahirkan kelak selamat dan tidak ada gangguan pada saat persalinan (kada halinan) serta anak yang lahir sempurna keadaannya. Upaya-upaya tersebut antara lain:

1. Mengingatkan anak menantunya yang sedang hamil untuk menghindari dari hal-    hal yang bersifat pantangan (tabu).

2. Memberikan doa atau bacaan al-Qur’an untuk dijadikan amalan selama masa     kehamilan.

3. Meminta air (banyu tawar) yang telah dibacakan doa-doa dari seorang tabib atau     orang pintar.[6]

2. Hal-hal yang Berupa Pantangan

Sebagian dari kelompok masyarakat yang masih memakai adat tradisi lama, hal-hal yang bersifat pantangan atau pamali masih mereka yakini, namun sebagiannya tidak memperdulikan hal-hal yang bersifat pantangan tersebut. Sebab sebagian beranggapan bahwa hal-hal yang seperti tidak masuk akal (mustahil) dapat mempengaruhi kehamilan. Hal-hal yang berupa pantangan tersebut antara lain:

1. Tidak boleh duduk di depan pintu, dikhawatirkan akan susah melahirkan.

2. Tidak boleh keluar rumah pada waktu senja hari menjelang waktu maghrib,     dikhawatirkan kalau diganggu mahluk halus atau roh jahat.

3. Tidak boleh makan pisang dempet, dikhawatirkan anak yang akan dilahirkan akan     kembar dempet atau siam.

4. Jangan membelah puntung atau kayu api yang ujungnya sudah terbakar, karena     anak yang dilahirkan bisa sumbing atau anggota badannya ada yang buntung.

5. Jangan meletakan sisir di atas kepala, ditakutkan akan susah saat melahirkan.[7]

6. Dilarang pergi ke hutan, karena wanita hamil menurut kepercayaan mereka baunya     harum sehingga mahluk-mahluk halus dapat mengganggunya.

7. Dilarang menganyam bakul karena dapat berakibat jari-jari tangannya akan     berdempet menjadi satu.[8]

Pantangan-pantangan tersebut di atas bukan hanya pada si calon ibu saja, tetapi juga berlaku terhadap suaminya.

3. Pemeliharaan Kehamilan dan Keselamatan

Cara pemeliharaan kehamilan tidaklah berbeda dengan wanita-wanita dari suku lain. Pusat Kesehatan Masyarakat (puskesmas) banyak mereka kunjungi untuk memeriksa kehamilan. Selain itu pemeriksaan kehamilan secara tradisional pun mereka lakukan yaitu dengan cara:

1. Melakukan pijatan atau dengan istilah Banjar “Baurut” pada seorang dukun beranak atau bidan kampung yang ahli dalam bidang pijatan (urut).

2. Membatasi diri untuk tidak terlalu suka minum air es.

3. Memperbanyak makan sayur dan buah-buahan.

4. Jika perut terasa sakit karena masuk angin, oleh bidan kampung disuruh     meminum air rebusan gula merah dengan jahe (tipakan).

5. Jika kaki bengkak, maka digosok dengan wadak panas atau ramuan beras kencur.

C. UPACARA MANDI HAMIL

1. Nama Upacara dan Tahap-tahapnya.

Berbagai nama bagi upacara mandi hamil ialah: mandi-mandi matian, mandi baya, mandi bepapai dan badudus. Dinamakan mandi baya karena menggunakan antara lain banyu baya, air yang disiapkan oleh bidan khusus untuk keperluan tersebut. Dinamakan bapapai karena memapai, yaitu memercikan air dengan berkas daun-daunan, merupakan salah satu acara pokok dalam upacara ini. Badudus ialah istilah lain bagi upacara mandi (bandingkan dengan duduk dalam ras.1968: Glosary dan Index), demikian pula mandi-mandi atau bamandi-mandi. Tambahan kata batian pada istilah mandi-mandi untuk membedakannya dengan upacara mandi lainnya (hamil, batian, memperoleh hamil). Kata baya dalam ungkapan banyu baya dan mandi baya tidak jelas artinya.[9]

Untuk mengetahui makna atau pengertian, baiklah kita lihat atau kita tinjau dari pengertian istilah atau nama dari upacara ini, yaitu “Betapung Tawar Tian Tiga Bulan”. Betapung berasal dari kata tapung dalam bahasa Banjar maksudnya mengikat atau mendekatkan antara satu benda dengan benda yang lain. “Ba” adalah satu awalan dalam bahasa Banjar, di mana digunakan untuk menunjukan pekerjaan dan berfungsi sebagai penegas dari kata tapung. Sedangkan tawar berarti terang atau selamat. Sedangkan tian maksudnya adalah kehamilan atau hamil atau kandungan yang berada dalam rahim ibu yang sedang mengandung.

Oleh Karena itu Batapung Tawar Tian Tiga Bulan berarti suatu upacara yang bertujuan untuk mendapatkan keselamatan bagi wanita yang sedang hamil atau mengandung tiga bulan.

Secara kata atau istilah berarti bahwa Batapung Tawar Tian Tiga Bulan ialah memercikan air tepung tawar kepada wanita yang sedang hamil tiga bulan.[10]

2. Waktu Penyelenggaraan Upacara

Upacara mandi ini harus dilaksanakan pada umur kehamilan tujuh bulan atau tidak lama sesudahnya. Upacara mandi ini harus dilaksanakan pada waktu turun bulan, khususnya pada hari-hari dalam minggu ke tiga bulan Arab. Apabila karena sesuatu hal upacara mandi tidak dapat dilaksanakan pada waktu tersebut, pelaksanaannya ditunda pada bulan berikutnya. Juga upacara ini harus dilaksanakan pada waktu turun matahari, upacara ini biasanya dilakukan sekitar jam 14.00 dan tidak pernah setelah jam 16.00. Secara darurat upacara mandi ini pernah dilaksanakan di Dalam Pagar, yaitu pada saat si wanita sudah hampir melahirkan. Si wanita ini sudah lama sakit akan melahirkan, dan oleh bidan yang menolongnya dinyatakan bahwa meskipun si wanita bukan keturunan yang harus melakukan upacara itu, tetapi si bayi mengharuskannya melalui ayahnya. Oleh karena itu upacara mandi secara darurat dilaksanakan, yaitu hanya sekedar menyiram dan memerciki si ibu dengan banyu baya. Segera setelah selesai dimandikan tersebut konon lahirlah bayinya.

3. Tempat Penyelenggaraan Upacara

Para informan di Dalam Pagar menyatakan upacara ini harus dilaksankan di dalam pagar mayang. Pada upacara yang berhasil diamati di Akar Bagantung dan Teluk Selong (1979), pagar mayang memang digunakan, tetapi pada upacara mandi yang dilaksanakan di Dalam Pagar (1980) tidak dibangun pagar mayang, melainkan cukup dilaksanakan di atas palatar belakang.[11]

4. Pihak yang Terlibat dalam Upacara

Pihak yang terlibat dalam upacara ini di antaranya:

- Orang tua dari kedua belah pihak baik itu ibu kandung atau ibu mertua.

- Saudara-saudara, kerabat-kerabat seperti julak (saudara ibu), uma kacil (adik ibu)   dan begitu pula dari pihak mertua.

- Di pimpin oleh bidan kampong (dukun beranak) dan Tuan Guru (mualim) yang    membacakan doa selamat setelah upacara berakhir.

Selain pihak-pihak di atas masih ada yang terlibat dalam upacara tersebut, yakni para undangan yaitu wanita-wanita tetangga dan kerabat dekat, umumnya terdiri dari ibu-ibu muda dan wanita-wanita muda yang sudah kawin. Wanita-wanita tua yang hadir biasanya adalah mereka yang banyak tahu tentang upacara ini atau karena diperlukan untuk membantu bidan melaksanakannya.

5. Persiapan dan Perlengkapan Upacara

Upacara mandi hamil mengharuskan tersedianya 40 jenis penganan atau “wadai ampat puluh”. Mungkin sebenarnya berjumlah 41, atau bahkan lebih. Wadai 40 ini terdiri dari: apam (putih dan merah), cucur (putih dan merah), kawari, samban, tumpiangin (sejenis rempeyek di Jawa, tetapi kali ini tidak menggunakan kacang tanah melainkan kelapa iris), cicin (cincin, perhiasan dipakai di jari, dua jenis dan tiga warna), parut hayam (perut lilit ayam, tiga warna), sarang samut (sarang semut, tiga warna), cangkaruk (cengkaruk), ketupat (empat jenis), nasi ketan putih (dengan inti di atasnya), wajik, kokoleh (putih dan merah), tapai, lemang, dodol, madu kasirat (sejenis dodol tapi masih muda), gagati (empat jenis), dan sesisir pisang mahuli.[12]

Sedangkan hidangan untuk para tamu ialah nasi ketan (dengan inti) dan apam dari wadai 40 ini, tetapi bisa juga ketupat dan sayur tumis ditambah dengan nasi ketan, atau hidangan lainnya. Tetapi di Anduhum konon kadang-kadang ada keharusan (dahulu) menghidangkan bubur ayam, yang mungkin mengandung perlambang tertentu pula. Dapat diduga meskipun terdapat kesamaan dalam jumlah jenis penganan yang harus dihidangkan pada upacara mandi hamil di Martapura namun terdapat perbedaan tentang keharusan adanya jenis-jenis penganan tertentu tergantung pada kerabat yang melaksanakannya. Pada upacara mandi yang diamati di Dalam Pagar terdapat detail-detail seperti yang akan dijelaskan di bawah ini.

Kue apam dan cucur, masing-masing berwarna merah dan putih, adalah kue-kue yanag biasa dipergunakan sebagai syarat upacara batumbang, yang dilaksanakan setelah upacara mandi selesai. Kue samban dan kawari merupakan lambang jenis kelamin bayi yang akan lahir. Samban melambangkan jenis kelamin perempuan dan kawari melambangkan jenis kelamin pria. Apam, cucur, kokoleh, wajik, nasi ketan, dodol dan madu kasirat merupakan kue-kue yang harus ada karena menggunakan air sungai Kitanu. Nasi ketan kuning dan telur rebus di atasnya merupakan sajian untuk buaya kuning yang konon (dahulu) menghuni sebuah lubuk dekat balai padudusan di tepi sungai Kitanu. Kue gagati jumlahnya harus sembilan dan ketupat jumlahnya harus tujuh. Tidak berhasil diungkapkan untuk siapa disajikan dan mengapa harus sembilan dan tujuh, sedangkan kue-kue lainnya tidak harus demikian.

Di Dalam pagar mayang, atau di tempat upacara mandi akan dilaksanakan, diletakan perapen, dan berbagai peralatan mandi. Sebuah tempayan atau bejana plastik berisi air tempat merendam mayang pinang (terurai), beberapa untaian bunga (kembang berenteng), sebuah ranting kambat, sebuah ranting balinjuang dan sebuah ranting kacapiring. Sebuah tempat air yang lebih kecil berisi banyu baya, yaitu air yang dimantrai oleh bidan, sebuah lagi berisi banyu Yasin, yaitu air yang dibacakan surah Yasin, yang sering dicampuri dngan banyu Burdah yaitu air yang dibacakan syair Burdah. Selain itu pada pengamatan di Dalam Pagar, terdapat sebuah gelas berisi air (banyu) sungai Kitanu. untuk keperluan mandi ini terdapat juga kasai (bedak, param) temugiring dan keramas asam jawa atu jeruk nipis. Dahulu, sebagai tempat duduk si wanita hamil itu diletakan sebuah kuantan (sejenis panci terbuat dari tanah yang diletakan tengkurap dan di atasnya diletakan bamban (bamban bajalin). Merupakan alat mandi pula ialah mayang pinang yang masih dalam seludangnya, kelapa tumbuh (berselimut kain kuning), benang lawai dan kelapa muda.

Untuk keperluan mandi hamil diperlukan dua buah piduduk. Sebuah akan diserahkan kepada bidan yang memimpin upacara dan yang membantu proses kelahiran, dan sebuah lagi sebagai syarat upacara. Yang pertama dilengkapi dengan rempah-rempah dapur, sedangkan yang sebuah lagi termasuk di dalamnya alat-alat yang diperlukan untuk melahirkan, ayam, pisau dan sarung berwarna kuning. Konon jenis kelamin ayam harus sesuai denagn jenis kelamin bayi yang akan lahir, sehingga praktis tidak mungkin disediakan, dan demikian pula alat-alat yang diperlukan untuk melahirkan biasanya juga belum tersedia, namun harus tegas dinyatakan sebagai ada. Bagian dari piduduk yang belum tersedia ini dikatakan sebagai “dihutang”, sebagai syarat menyediakan barang yang belum ada ini harus disediakan nasi ketan dengan inti, yang dihidangkan kepada hadirin setelah upacara selesai.

6. Proses Upacara

Berikut upacara mandi yang terjadi di Teluk Selong, sebuah kampung yang terletak bersebrangan sungai dengan Dalam Pagar.

Wanita hamil yang diupacarakan memakai pakaian yang indah-indah dan memakai perhiasan, duduk di atas lapik di ruang tengah sambil memangku sebiji kelapa tumbuh yang diselimuti kain kuning menghadapi sajian wadai ampat puluh. Setelah beberapa lama duduk dengan disaksikan oleh para undangan wanita, perempuan hamil itu turun ke pagar mayang sambil menggendong kelapa tumbuh tadi. Ketika ia turun ke pagar mayang, ia menyerahkan kelapa yang digendongnya kepada orang lain, bertukar pakaian dengan kain basahan kuning sampai batas dada, lalu duduk di atas bamban bajalin, sedemikian sehingga kuantan tanah langsung remuk. Para wanita tua yang membantunya mandi (jumlahnya selalu ganjil, sekurang-kurangnya tiga dan paling banyak tujuh orang dan seorang di antaranya bertindak sebagi pemimpinnya, yaitu biasanya bidan) menyiraminya dengan air bunga, membedakinya dengan kasai temugiring lalu mengeramasinya.

Selanjutnya para pembantunya itu berganti-ganti mamapaikan berkas mayang, berkas daun balinjuang dan berkas daun kacapiring kepadanya dan kadang-kadang juga kepada hadirin di sekitarnya. Proses berikutnya ialah menyiramkan berbagai air lainnya, yaitu banyu sungai Kitanu, banyu baya, yang telah dicampur dengan banyu Yasin atau banyu doa, dan banyu Burdah. Setiap kali disiram dengan air-air tersebut, si wanita hamil diminta untuk menghirupnya sedikit. Sebuah mayang pinang yang masih belum terbuka dari seludangnya diletakkan di atas kepala wanita hamil tersebut lalu ditepuk, diusahakan sekali saja sampai pecah. Mayang dikeluarkan dari seludangnya lalu diletakkan di atas kepala wanita hamil dan disirami dengan air kelapa muda tiga kali berturut-turut dengan posisi mayang yang berbeda-beda. Kali ini juga airnya harus dihirup oleh wanita hamil itu.

Kemudian diambil dua tangkai mayang dan diselipkan di sela-sela daun telinga si wanita hamil masing-masing sebuah. Lalu dua orang perempuan tua membantunya meloloskan lawai dari kepala sampai ke ujung kaki, tiga kali berturut-turut. Untuk melepaskan lawai dari kakinya, pada kali yang pertma ia melangkah ke depan, kali yang ke dua melangkah ke belakang dan terakhir kembali melangkah ke depan.

Sesudah itu badannya dikeringkan dan ia berganti pakaian lalu keluar dari pagar mayang. Di luar telah tersedia sebiji telur ayam yang harus dipijakinya ketika melewatinya. Ketika ia keluar untuk kembali ke ruang tengah ini dibacakan pula shalawat berramai-ramai. Di ruang tengah si wanita hamil itu kembali duduk di atas lapik di hadapan tamu-tamu, disisiri dan disanggul rambutnya. Pada saat itu juga di tepung tawari, yaitu dipercikan minyak likat beboreh dengan anyaman daun kelapa yang dinamakan tepung tawar.

Setelah itu lalu batumbang dibacakan doa selamat oleh salah seorang hadirin. Sementara itu si wanita hamil menyalami semua wanita yang hamil menyalami semua wanita yang hadir, lalu masuk ke dalam kamarnya. Setelah itu hidangan pokok diedarkan dan kemudian ditambah dengan hidangan tambahan berupa nasi ketan (dengan inti), apam, cucur dan kue-kue lainnya yang sebelumnya dipamerkan sebagai saji. Sebagian kue saji harus disiapkan untuk dibawa pulang oleh bidan dan perempuan-perempuan tua yang tadi membantu si wanita hamil itu mandi.

7. Arti Lambang dan Makna di Balik Upacara

Dalam upacara mandi ini dilambangkna kelancaran proses kelahiran dengan berbagai cara, yaitu:

1. Pecahnya kuantan tanah ketika diduduki melambangkan pecahnya ketuban.

2. Pecahnya mayang dengan sekali tepuk saja menandakan proses kelahiran akan     berjalan dengan lancar, tetapi bila perlu ditepuk beberapa kali agar pecah, konon     menandakan proses kelahiran akan terganggu (halinan baranak), meskipun          diharapkan akan berakhir dengan selamat juga.

3. Proses kelahiran diperagakan dengan meloloskan lawai pada tubuh si wanita     mengisyaratkan mudahnya proses itu.

4. Pecahnya telur ketika dipijak juga melambangkan prose kelahiran yang cepat pula.

5. Kelapa tumbuh yang dipangku dan kemudian digendong melambangkaan bayi.

6. Memerciki dengan tepung tawar ialah guna memberkatinya.

7. Dan batumbang konon akan memperkuat semangatnya.

D. PENUTUP

Pada sebagian masyarakat Banjar dalam hal kehamilan masih melakukan daur hidup yang berupa upacara adat maupun berupa hal-hal yang dipercayai sehingga menimbulkan adanya pantangn atau tabu.

Upacara kehamilan yang berupa upacara mandi tian mandaring sampai sekarang masih berlangsung terutama sering dilakukan di daerah-daerah pedesaan yang masih kuat dengan tradisi dalam kehidupan sehari-hari sedangkan pada masa perkotaan yang sudah mengalami perkembangan kemajuan alam pikiran dan teknologi sebagian telah meninggalkan beberapa upacara adat dan tidak lagi mengindahkan berupa hal-hal yang dipercayai yang bersifat mustahil. Kalaupun mereka lakukan, kadang-kadang sudah berpadu dengan unsur modern. Baik dalam adat upacara maupun dalam pelaksanaan upacara lebih menitik beratkan pada unsur-unsur yang praktis daripada unsur-unsur yang bersifat magis.

Bagi masyarakat Banjar yang masih memakai adat, terutama yang berhubungan dengan kehamilan dan kelahiran dengan segala pantangannya, dalam hal upacara adat selalu mereka selenggarakan walaupun diimplemantasikan dalam bentuk upacara yang sangat sederhana sekali sebatas sebagai persyaratan belaka. Karena mereka khawatir akan dapat berakibat buruk terhadap bayi yang dikandungnya apabila tidak melaksanakan upacara adat. Oleh karena tujuan utama penyelenggaraan upacara untuk mengusir roh-roh jahat yang dapat mengganggu kehamilan.

Adanya lapisan kebudayaan lama / asli dengan segala unsur religinya yang berakulturasi yang mana unsur agama lebih banyak sekali mempengaruhi adat istiadat kebudayaan masyarakat Banjar. Karena masyarakat Banjar merupakan penganut agama Islam yang kuat, namun walaupun demikian sebagian masyarakat Banjar masih mempercayai kepercayaan lama yang berupa kepercayaan terhadap roh-roh halus yang dapat mengganggu kehidupannya. Karena itu setiap upacara adat yang merupakan daur hidupnya suku Banjar dilaksanakan secara Islami namun tidak meninggalkan unsur kepercayaan lama, dan sampai sekarang masih berkembang di masyarakat walaupun sebagiannya sudah hampir punah.

DAFTAR RUJUKAN

1. Daud, Alfani. 1997. Islam dan Masyarakat Banjar. Jakarta. Raja Grafindo Persada.

2. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Kebudayaan Rirektorat Permuseuman Museum negri Propinsi Kal-Sel Lambung Mangkurat 1999/2000. Upacara Kehamilan dan Kelahiran dalam Pandangan Masyarakat Banjar.

3. Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaaan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Kebudayaan Direktorat Sejarah daan Nilai Tradisional. 1981/1982. Upacara Tradisional (sejak anak dalam kandungan, lahir sampai dewasa).


[1] Alfani Daud, Islam dan Masyarakat Banjar, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1997, hal.259.

[2] Ibid., hal.268.

[3] Ibid., hal.263.

[4] Departemen Pend. &Kebud…., Upacara Kehamilan & Kelahiran dalam Pandangan Masyarakat Banjar.

[5] Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Upacara Tradisional (sejak anak dalam kandungan, lahir sampai dewasa), 1981, hal.25.

[6] Departemen Pend. & Kebud….., op.cit.

[7] Ibid., hal…

[8] Proyek Inventarisasi……, op. cit.

[9] Alfani Daud, loc. cit., hal. 263.

[10] Proyek Inventarisasi……, op. cit.h.25.

[11] Alfani daud, op.cit., hal.265.

[12] Ibid., hal.264.

About these ads