Archive for 27- Mei- 2008


Etika Guru

A. Pendahuluan

Ada beberapa istilah yang harus diterangkan dahulu maksudnya sebelum kita melanjutkan pembicaraan kita mengenai tajuk kertas ini. Pertama sekali adalah keguruan. Maksudnya pekerjaan sebagai guru. Jadi ia adalah salah satu kerja (profesion) sebagaimana halnya dengan kerja-kerja yang lain dalam masyarakat seperti akuntan, Dokter, konseling, kejuruteraan, perniagaan dan lain-lain sebagainya. Sebagai sebuah kerja keguruan, ia tunduk kepada pelbagai syarat yang dikenakan kepada kerja-kerja yang lain seperti kode etika dan sebagainya. Kedua kode etika adalah aturan-aturan yang disepakati bersama oleh ahli-ahli yang mengamalkan kerja tertentu seperti akuntan, Dokter, konseling dan sebagainya. Ketiga, nilai-nilai yang menyertai setiap kerja itu seperti memberi perkhidmatan yang sebaik-baiknya kepada pelanggan dan sebagainya. Ini semua adalah nilai. Keempat pengamalan, memang semua kerja mementingkan amalan. Sebab setiap pemegang kerja itu dipanggil pengamal (practitioner) dalam bidang tertentu seperti akuntan, Dokter, konseling dan lain-lain. Tetapi sebelum sampai kepada amalan, nilai-nilai kerja itu harus dihayati (intemalized) lebih dahulu, ini yang membawa kita kepada aspek terakhir pada makalah, yaitu penghayatan. Kelima penghayatan, yaitu penghayatan nilai-nilai. Kalau ilmu seperti matematika, pengobatan dan lain-lain dipelajari, maka nilai-nilai seperti keikhlasan, kejujuran, dedikasi dan lain-lain itu dihayati. Kalau mau dipertegaskan lagi makalah ini sebenarnya diharapkan menjawab persoalan bagaimana cara membimbing guru-guru pendidikan Islam agar menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam etika keguruan itu. Oleh yang demikian marilah kita membicarakan dahulu di bawah ini apakah etika keguruan itu.

B. Maksud Mengajar

Mengajar sebenarnya bermaksud menyampaikan ilmu pengetahuan maklumat, memberi galakan, membimbing, memberi dan meningkatkan kemahiran, meningkatkan keyakinan, menanam nilai-nilai murni dan luhur kepada para pelajar yang belum mengetahui. Ia bukan sekadar menyampaikan maklumat atau bahan pengajaran dalam sebuah kelas. lebih mendukacitakan lagi jika proses mengajar dianggap sekadar menyampai maklumat dan menghabiskan sukatan pelajaran yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Proses mengajar mempunyai konsep yang sangat luas, ia bertujuan untuk menjadikan seseorang individu itu lebih bertanggungjawab dan mampu menjana fikirannya untuk terus bahagia dan berjaya mengatasi cabaran yang akan dihadapai. Ini hanya akan dicapai sekiranya proses pengajaran dan pembelajaran yang dilakukan mencapai tahap pengajaran berkesan.

C. Siapa itu Guru?

Orang yang mengajar dikenali sebagai guru. Perkataan guru adalah hasil gabungan dua suku kata iaitu `Gur’ dan `Ru’.

Dalam bahasa jawa, Gu diambil daripada perkataan gugu bermakna boleh dipercayai manakala Ru diambil daripada perkataan tiru yang bermaksud boleh diteladani atau dicontohi. Oleh itu, GURU bermaksud seorang yang boleh ditiru perkataannya, perbuatannya, tingkah lakunya, pakaiannya, amalannya dan boleh dipercayai bermaksud keamanahan yang dipertanggungjawabkan kepadanya untuk dilakukan dengan jujur.

D. Peranan dan Tugas Mengajar

Setiap guru seharusnya mengetahui peranan dan tugas mereka secara terperinci jika mereka ingin berusaha melakukan dan menghasilkan pengajaran yang berkesan.

Di antara tugas seorang guru ialah

1. menyampaikan ilmu pengetahuan

2. menyampaikan maklumat

3. menyampai dan

4. memberi kemahiran serta

5. memupuk nilai-nilai murni dan luhur sebagaimana yang telah disebutkan di atas.

Manakala peranan guru pula ialah sebagai pembimbing, pendidik, pembaharu, contoh dan teladan, pencari dan penyelidik, penasihat dan kaunselor, pencipta dan pereka, pencerita dan pelakon, penggalak dan perangsang, pengilham cita-cita, pengurus dan perancang, penilai, pemerhati, rakan dan kawan pelajar, doktor dan pengubat, penguat kuasa, pemberi petunjuk orang yang berwibawa dan sebagainya.

Jelas menunjukkan bahawa menjadi seorang guru merupakan satu tugas dan peranan yang agak berat. Sebenarnya, jika anda anggap tugas itu berat, maka beratlah ia. Jika anda terima ia sebagai satu cabaran dengan cara yang positif, maka mudahlah ia.

E. Pengertian Profesi

Profesi berasal dari bahasa latin “Proffesio” yang mempunyai dua pengertian yaitu janji/ikrar dan pekerjaan. Bila artinya dibuat dalam pengertian yang lebih luas menjadi: kegiatan “apa saja” dan “siapa saja” untuk memperoleh nafkah yang dilakukan dengan suatu keah-lian tertentu. Sedangkan dalam arti sempit profesi berarti kegiatan yang dijalankan berdasarkan keahlian tertentu dan sekaligus dituntut daripadanya pelaksanaan norma-norma sosial dengan baik.

Jabatan Guru Sebagai Suatu Profesi. Jabatan guru dapat dikatakan sebuah profesi karena menjadi seorang guru dituntut suatu keahlian tertentu (mengajar, mengelola kelas, merancang pengajaran) dan dari pekerjaan ini seseorang dapat memiliki nafkah bagi kehidupan selanjutnya. Hal ini berlaku sama pada pekerjaan lain. Namun dalam perjalanan selanjutnya, mengapa profesi guru menjadi berbeda dari pekerjaan lain. Menurut artikel “The Limit of Teaching Proffesion,” profesi guru termasuk ke dalam profesi khusus selain dokter, penasihat hukum, pastur. Kekhususannya adalah bahwa hakekatnya terjadi dalam suatu bentuk pelayanan manusia atau masyarakat. Orang yang menjalankan profesi ini hendaknya menyadari bahwa ia hidup dari padanya, itu haknya; ia dan keluarganya harus hidup akan tetapi hakikat profesinya menuntut agar bukan nafkah hidup itulah yang menjadi motivasi utamanya, melainkan kesediaannya untuk melayani sesama.

Di lain pihak profesi guru juga disebut sebagai profesi yang luhur. Dalam hal ini, perlu disadari bahwa seorang guru dalam melaksanakan profesinya dituntut adanya budi luhur dan akhlak yang tinggi. Mereka (guru) dalam keadaan darurat dianggap wajib juga membantu tanpa imbalan yang cocok. Atau dengan kata lain hakikat profesi luhur adalah pengabdian kemanusiaan.

F. Dua Prinsip Etika Profesi Luhur

Tuntutan dasar etika profesi luhur yang pertama ialah agar profesi itu dijalankan tanpa pamrih. Dr. B. Kieser menuliskan: “Seluruh ilmu dan usahanya hanya demi kebaikan pasien/klien. Menurut keyakinan orang dan menurut aturan-aturan kelompok (profesi luhur), para profesional wajib membaktikan keahlinan mereka semata-mata kepada kepentingan yang mereka layani, tanpa menghitung untung ruginya sendiri. Sebaliknya, dalam semua etika profesi, cacat jiwa pokok dari seorang profe-sional ialah bahwa ia mengutamakan kepentingannya sendiri di atas kepentingan klien.”

Yang kedua adalah bahwa para pelaksana profesi luhur ini harus memiliki pegangan atau pedoman yang ditaati dan diperlukan oleh para anggota profesi, agar kepercayaan para klien tidak disalahgunakan. Selanjutnya hal ini kita kenal sebagai kode etik. Mengingat fungsi dari kode etik itu, maka profesi luhur menuntut seseorang untuk menjalankan tugasnya dalam keadaan apapun tetap menjunjung tinggi tuntutan profesinya.

Kesimpulannya adalah jabatan guru juga merupakan sebuah profesi. Namun demikian profesi ini tidak sama seperti profesi-profesi pada umumnya. Bahkan boleh dikatakan bahwa profesi guru adalah profesi khusus luhur. Mereka yang memilih profesi ini wajib menginsafi dan menyadari bahwa daya dorong dalam bekerja adalah keinginan untuk mengabdi kepada sesama serta menjalankan dan menjunjung tinggi kode etik yang telah diikrarkannya, bukan semata-mata segi materinya belaka.

G. Tuntutan Seorang Guru

Di atas telah dijelaskan tentang mengapa profesi guru sebagai profesi khusus dan luhur. Berikut akan diuraikan tentang dua tuntutan yang harus dipilih dan dilaksanakan guru dalam upaya mendewasakan anak didik. Tuntutan itu adalah:

1. Mengembangkan visi anak didik tentang apa yang baik dan mengembangkan self esteem anak didik.

2. Mengembangkan potensi umum sehingga dapat bertingkah laku secara kritis terhadap pilihan-pilihan. Secara konkrit anak didik mampu mengambil keputusan untuk menentukan mana yang baik atau tidak baik.

Apabila seorang guru dalam kehidupan pekerjaannya menjadikan pokok satu sebagai tuntutan yang dipenuhi maka yang terjadi pada anak didik adalah suatu pengembangan konsep manusia terhadap apa yang baik dan bersifat eks-klusif. Maksudnya adalah bahwa konsep manusia terhadap apa yang baik hanya dikembangkan dari sudut pandang yang sudah ada pada diri siswa sehingga tak terakomodir konsep baik secara universal. Dalam hal ini, anak didik tidak diajarkan bahwa untuk mengerti akan apa yang baik tidak hanya bertitik tolak pada diri siswa sendiri tetapi perlu mengerti konsep ini dari orang lain atau lingkungan sehingga menutup kemung-kinan akan timbulnya visi bersama (kelompok) akan hal yang baik.

Berbeda dengan tujuan yang pertama, tujuan yang kedua lebih menekankan akan kemampuan dan peranan lingkungan dalam menentukan apa yang baik tidak hanya berdasarkan pada diri namun juga pada orang lain berikut akibatnya. Di lain pihak guru mempersiapkan anak didik untuk melaksanakan kebebasannya dalam mengembangkan visi apa yang baik secara konkrit dengan penuh rasa tanggung jawab di tengah kehidupan bermasyarakat sehingga pada akhirnya akan terbentuklah dalam diri anak sense of justice dan sense of good. Komitmen guru dalam mengajar guna pencapaian tujuan mengajar yang kedua lebih lanjut diuraikan bahwa guru harus memiliki loyalitas terhadap apa yang ditentukan oleh lembaga (sekolah). Sekolah selanjutnya akan mengatur guru, KBM dan siswa supaya mengalami proses belajar-mengajar yang berlangsung dengan baik dan supaya tidak terjadi penyalahgunaan jabatan. Namun demikian, sekolah juga perlu memberikan kebebasan bagi guru untuk mengembangkan, memvariasikan, kreativitas dalam merencanakan, membuat dan mengevaluasi sesuatu proses yang baik (guru mempunyai otonomi). Hal ini menjadi perlu bagi seorang yang profesional dalam pekerjaannya.

Masyarakat umum juga dapat membantu guru dalam proses kegiatan belajar mengajar. Hal ini dimungkinkan karena masyarakat ikut bertanggung jawab terhadap `proses’ anak didik. Ma-syarakat dapat mengajukan saran, kritik bagi lembaga (sekolah). Lembaga (sekolah) boleh saja mempertimbangkan atau menggunakan masukan dari masyarakat untuk mengembangkan pendidikan tetapi lembaga (sekolah) atau guru tidak boleh bertindak sesuai dengan kehendak masyarakat karena hal ini menyebabkan hilangnya profesionalitas guru dan otonomi lembaga (sekolah) atau guru.

Dengan demikian, pemahaman akan visi pekerjaan sesuai dengan etika moral profesi perlu dipahami agar tuntutan yang diberikan kepada guru bukan dianggap sebagai beban melainkan visi yang akan dicapai guru melalui pro-ses belajar mengajar. Guru perlu diberikan otonomi untuk mengembangkan dan mencapai tuntutan tersebut.

H. Etika Keguruan

Sebenarnya kode etika pada suatu kerja adalah sifat-sifat atau ciri-ciri vokasional, ilmiah dan aqidah yang harus dimiliki oleh seorang pengamal untuk sukses dalam kerjanya. Lebih ketara lagi ciri-ciri ini jelas pada kerja keguruan. Dari segi pandangan Islam, maka agar seorang muslim itu berhasil menjalankan tugas yang dipikulkan kepadanya oleh Allah S.W.T pertama sekali dalam masyarakat Islam dan seterusnya di dalam masyarakat antarabangsa maka haruslah guru itu memiliki sifat-sifat yang berikut:

1. Bahwa tujuan, tingkah laku dan pemikirannya mendapat bimbingan Tuhan (Rabbani), seperti disebutkan oleh surah Al-imran, ayat 79, “Tetapi jadilah kamu Rabbani (mendapat bimbingan Tuhan)”.

2. Bahwa ia mempunyai persiapan ilmiah, vokasional dan budaya menerusi ilmu-ilmu pengkhususannya seperti geografi, ilmu-ilmu keIslaman dan kebudayaan dunia dalam bidang pengkhususannya.

3. Bahwa ia ikhlas dalam kerja-kerja kependidikan dan risalah Islamnya dengan tujuan mencari keredhaan Allah S.W.T dan mencari kebenaran serta melaksanakannya.

4. Memiliki kebolehan untuk mendekatkan maklumat-maklumat kepada pemikiran murid-murid dan ia bersabar untuk menghadapi masalah yang timbul.

5. Bahwa ia benar dalam hal yang didakwahkannya dan tanda kebenaran itu ialah tingkah lakunya sendiri, supaya dapat mempengaruhi jiwa murid-muridnya dan anggota-anggota masyarakat lainnya. Seperti makna sebuah hadith Nabi S.A.W, “Iman itu bukanlah berharap dan berhias tetapi meyakinkan dengan hati dan membuktikan dengan amal”.

6. Bahwa ia fleksibel dalam mempelbagaikan kaedah-kaedah pengajaran dengan menggunakan kaedah yang sesuai bagi suasana tertentu. Ini memerlukan bahawa guru dipersiapkan dari segi professional dan psikologikal yang baik.

7. Bahwa ia memiliki sahsiah yang kuat dan sanggup membimbing murid-murid ke arah yang dikehendaki.

8. Bahwa ia sedar akan pengaruh-pengaruh dan trend-trend global yang dapat mempengaruhi generasi dan segi aqidah dan pemikiran mereka.

9. Bahawa ia bersifat adil terhadap murid-muridnya, tidak pilih kasih, ia mengutamakan yang benar.

Seperti makna firman Allah S.W.T dalam surah al Maidah ayat ke 8,

“Janganlah kamu terpengaruh oleh keadaan suatu kaum sehinga kamu tidak adil. Berbuat adillah, sebab itulah yang lebih dekat kepada taqwa. Bertaqwalah kepada Allah, sebab Allah Maha Mengetahui apa yang kamu buat”.

Inilah sifat-sifat terpenting yang patut dipunyai oleh seorang guru Muslim di atas mana proses penyediaan guru-guru itu harus dibina.

Buku-buku pendidikan telah juga memberikan ciri-ciri umum seorang guru, ciri-ciri itu tidak terkeluar dan sifat-sifat dan aspek-aspek berikut:

1. Tahap pencapaian ilmiah

2. Pengetahuan umum dan keluasan bacaan

3. Kecerdasan dan kecepatan berfikir

4. Keseimbangan jiwa dan kestabilan emosi

5. Optimisme dan entusiasme dalam pekerjaan

6. Kekuatan sahsiah

7. Memelihara penampilan(mazhar)

8. Positif dan semangat optimisme

9. Yakin bahawa ia mempunyai risalah(message)

Dari uraian di atas jelaslah bahawa seorang guru Muslim memiliki peranan bukan sahaja di dalam sekolah, tetapi juga diluarnya. Oleh yang demikian menyiapkannya juga harus untuk sekolah dan untuk luar sekolah. Maka haruslah penyiapan ini juga dipikul bersama oleh institusi-institusi penyiapan guru seperti fakulti-fakulti pendidikan dan maktab-maktab perguruan bersama-sama dengan masyarakat Islam sendiri, sehingga guru-guru yang dihasilkannya adalah guru yang soleh, membawa perbaikan (muslih), memberi dan mendapat petunjuk untuk menyiarkan risalah pendidikan Islam. Petunjuk (hidayah) Islam di dalam dan di luar adalah sebab tujuan pendidikan dalam Islam untuk membentuk generasi-generasi umat Islam yang memahami dan menyedari risalahnya dalam kehidupan dan melaksanakan risalah ini dengan sungguh-sungguh dan amanah dan juga menyedari bahawa mereka mempunyai kewajipan kepada Allah S.W.T dan mereka harus melaksanakan tugas itu dengan sungguh-sungguh dan ikhlas. Begitu juga mereka sedar bahawa mereka mempunyai tanggung jawab, maka mereka menghadapinya dengan sabar, hati-hati dan penuh prihatin. Begitu juga mereka sedar bahawa mereka mempunyai tanggungjawab terhadap masyarakatnya, maka mereka melaksanakannya dengan penuh tanggungjawab, amanah, professionalisme dan kecekalan. Dengan demikian umat Islam akan mencapai cita-citanya dalam kehidupan dengan penuh kemuliaan, kekuatan, ketenteraman dan kebanggaan. Sebab Allah S.W.T telah mewajibkan kepada diriNya sendiri dalam surah al-Nahl ayat ke 97,

“la tidak akan mensia-siakan pahala orang-orang yang berbuat baik”

Setelah berpanjang lebar tentang kode etika keguruan dalam pandangan pendidikan Islam, marilah kita tutup bagian ini dengan suatu misal atau model yang menjamin bahwa bila dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan penuh ketekunan maka masyarakat akan hidup bahagia dan individu-individu dan kumpulan-kumpulan akan hidup dengan tenteram. Model ini tergambar dalam firman Allah S.W.T yang bermaksud,

“Katakanlah (wahai Muhammad) marilah aku bacakan apa yang dihararamkan kepadamu oleh Tuhanmu. Hendaklah berbuat baik kepada kedua ibu bapa. Janganlah kamu membunuh anak-anakmu kerana takut kemiskinan, sebab Kamilah yang memberi mereka dan kamu rezeki. Jangan kamu mendekati perkara-perkara buruk yang terang-terangan dan yang tersembunyi. Jangan kamu membunuh diri yang dihararamkan kamu membunuhnya kecuali dengan kebenaran, itulah wasiat Allah kepadamu, mudah-mudahan kamu berakal. Jangan kamu mendekati harta anak yatim kecuali untuk yang lebih baik sehinggalah ia dewasa. Sempumakanlah ukuran dan timbangan dengan adil. Allah tidak memberi beban seseorang kecuali yang disanggupinya. Jika kamu berkata, maka berbuat adillah walaupun kepada sanak saudara. Sempurnakanlah janjimu kepada Allah. Itulah pesanNya bagimu, mudah-mudahan kamu ingat. Sungguh inilah jalanKu yang lurus, maka ikutilah olehmu, jangan kamu ikut jalan-jalan lain nescaya kamu bercerai-berai dari jalanNya. Itulah pesanNya bagimu, mudah-mudahan kamu bertaqwa ”

Ayat-ayat ini mengandungi sepuluh perakuan (wasaya) penting dalam kehidupan individu dan kumpulan-kumpulan Islam dan kemanusiaan. Ia merupakan perlembagaan Ilahi dalam pendidikan dan bimbingan akhlak dan sosial yang intinya adalah sebagai berikut;

1. Jangan mensyarikatkan Allah S.W.T.

2. Berbuat baik kepada ibu bapa.

3. Jangan membunuh anak kerana takut miskin.

4. Jangan mendekati perkara-perkara buruk.

5. Jangan membunuh manusia.

6. Jangan mendekati harta anak-anak yatim.

7. Sempurnakanlah timbangan dan ukuran dengan adil.

8. Tidak boleh dibebani seseorang lebih dari kemampuannya.

9. Berbuat adillah dalam berkata-kata walaupun pada kaum kerabat.

10. Sempumakanlah janjimu dengan Allah S.W.T.

Selepas uraian tentang kode etika dalam keguruan, marilah kita bahas tentang penghayatan dan pengamalan nilai. Masalah penghayatan (internalization) sesuatu perkara berlaku bukan hanya pada pendidikan agama saja tetapi pada aspek pendidikan, pendidikan pra-sekolah, pendidikan sekolah, pengajian tinggi, pendidikan latihan perguruan dan lain-lain. Sebab adalah terlalu dangkal kalau pendidikan itu hanya ditujukan untuk memperoleh ilmu (knowledge) dan ketrampilan (skill) saja tetapi yang lebih penting dari itu semua adalah penanaman sikap (attitude) yang positif pada diri pendidik terhadap hal yang menjadi tumpuan pendidikan. Pendidikan ilmu (knowledge) terutama yang berkenaan dengan fakta-fakta dan ketrampilan tidaklah terlalu rumit sebab tidak terlalu banyak melibatkan nilai-nilai. Tetapi sebaliknya pendidikan sikap di mana terlibat nilai-nilai yang biasanya berasal dari cara-cara pemasyarakatan yang diperoleh oleh kanak-kanak semasa kecil, apa lagi kalau objek pendidikan itu memang adalah nilai-nilai yang tidak dapat dinilai dengan betul atau salah tetapi dengan baik atau buruk, percaya atau tidak percaya, suka atau tidak suka dan lain-lain lagi. Dalam keadaan terakhir ini pendidikan tidak semudah dengan pendidikan fakta atau ketrampilan.

Pendidikan nilai-nilai, yang selanjutnya kalau diulang-ulang sebab diteguhkan akan berubah menjadi penghayatan nilai-nilai, mempunyai syarat-syarat yang berlainan dengan pendidikan fakta-fakta ketrampilan.

1. Pertama sekali nilai itu mestilah mempunyai model. Yang berarti tempat di mana nilai itu melekat supaya dapat disaksikan bagaimana nilai-nilai itu beroperasi. Ambillah suatu nilai seperti kejujuran. Nilai ini bersifat mujarrad(abstract), jadi tidak dapat diraba dengan pancaindera. Tidak dapat dilihat dengan mata, rupanya bagaimana. Tidak dapat dicium baunya, harum atau busuk dan sebagainya. Pendeknya, supaya nilai yang bernama kejujuran itu dapat disaksikan beroperasi maka ia harus melekat pada suatu model, seorang guru, seorang bapa, seorang kawan dan lain-lain. Kalau model tadi dapat mencerminkan nilai-nilai yang disebut, kejujuran itu pada dirinya, maka kejujuran itu boleh menjadi perangsang. Itu syarat pertama. Syarat yang kedua kalau kejujuran itu dapat menimbulkan peneguhan pada diri murid-murid maka ia akan dipelajari, ertinya diulang-ulang dan kemudian berubah menjadi penghayatan. Syarat kedua agak rumit sedikit, sebab selain daripada nilai kejujuran itu sendiri, juga model tempat kejujuran itu melekat diperlukan berfungsi bersama untuk menimbulkan peneguhan itu. Dengan kata-kata yang lebih sederhana, seorang guru atau ibu yang mengajarkan kejujuran kepada murid atau anaknya, haruslah ia sendiri lebih dahulu bersifat jujur, kalau tidak maka terjadi pertikaian antara perkataan dan perbuatan. Dalam keadaan terakhir ini, guru sebagai perangsang(stumulus) telah gagal sebagai model, sebab ia tidak akan memancing tingkahlaku kejujuran dan murid-muridnya.

2. Oleh sebab model tempat melekatnya nilai-nilai yang ingin diajarkan kepada murid-murid adalah manusia biasa, dengan pengertian dia mempunyai kekurangan-kekurangan, maka nilai-nilai yang akan diajarkan itu boleh menurun nilainya disebabkan oleh kekurangan-kekurangan yang ada pada model itu, malah ada kemungkinan anak didik mempelajari nilai sebaliknya. Jadi daripada jujur dia menjadi tidak jujur, jika pada model itu timbul sifat-sifat atau tingkah laku yang tidak meneguhkan kejujuran itu. Sebagai misal, ada murid-murid yang benci kepada matematik sebab ia tidak suka kepada guru yang mengajarkan matematik, kalau sikap ini dikembangkan, murid-murid boleh benci kepada semua yang berkaitan dengan matematik, seperti pelajaran sains misalnya. Oleh sebab itu dikehendaki dari guru-guru, terutama pada tingkat-tingkat sekolah dasar agar mereka melambangkan ciri kesempumaan dari segi jasmaniah dan rohaniah. Dengan kata lain syarat penghayatan nilai-nilai sangat bergantung pada peribadi model yang membawa nilai-nilai itu.

3. Semua guru, terlepas daripada mata pelajaran yang diajarkannya, adalah pengajar nilai-nilai tertentu. Sebab guru-guru sama ada sedar atau tidak, mempengaruhi murid-muridnya melalui kaedah-kaedah dan strategi-strategi pengajaran yang digunakan yang sebahagian besarnya termasuk dalam kawasan “kurikulum informal”. Sebagaimana setiap guru, apapun yang diajarkannya, adalah seorang guru bahasa maka setiap guru juga adalah seorang pengajar nilai-nilai. Bila seorang guru memuji seorang murid, maka ia meneguhkan sesuatu tingkahlaku. Bila guru menghukum seorang murid, maka ia menghukum tingkahlaku tertentu. Malah bila guru tidak mengacuhkan seorang murid, maka murid tersebut mungkin merasa bahawa guru tidak menyukai perbuatannya. Ini semua adalah nilai-nilai. Begitu juga dengan pendidikan agama, sebahagian, kalau tidak sebahagian besar, nilai-nilai agama itu sendiri tidak diajarkan oleh guru-guru agama di sekolah, tetapi oleh guru-guru matematik, geografi, sejarah dan lain-lain. Kalau mereka mencerminkan nilai-nilai Islam dalam cara berpakaian, bersopan-santun, beribadat atau dengan kata lain kalau amal mereka mencerminkan nilai-nilai Islam. Malah sebaliknya, mungkin ada setengah-setengah guru-guru agama sendiri tidak menjadi perangsang nilai-nilai Islam itu, kalau tidak menjadi perangsang negatif yang boleh menimbulkan sifat anti-agama pada diri murid-murid, iaitu jika perangai mereka sehari-hari bertentangan dengan nilai-nilai Islam, walaupun mereka sendiri mengajarkan agama. Jadi jangankan menghayati agama, sebaliknya murid-murid semakin menjauhi kalau tidak membenci segala yang berbau agama.

Inilah sebahagian syarat-syarat yang perlu wujud untuk penghayatan nilai-nilai. Oleh sebab pendidikan agama merupakan pendidikan ke arah nilai-nilai agama, maka orientasi pendidikan agama haruslah ditinjau kembali sesuai dengan tujuan tersebut. Pendidikan agama sekadar untuk lulus ujian mata pelajaran agama sudah lewat masanya. Orientasi sekarang adalah ke arah kemasyarakatan yang bermotivasi dan berdisiplin. Ini tidaklah mengesampingkan bahawa dalam pelajaran agama itu sendiri ada perkara-perkara yang bersifat fakta-fakta dan ketrampilan-ketrampilan. Maka pada yang terakhir ini juga berlaku kaedah pengajaran fakta-fakta dan ketrampilan. Tetapi memperlakukan semua pendidikan agama sebagai pengajaran fakta-fakta dan ketrampilan-ketrampilan saja adalah suatu kesalahan besar yang perlu diperbaiki dengan segera. Sebab kalau tidak maka suatu masa nanti akan timbul dalam masyarakat Islam sendiri ahli-ahli agama yang tidak menghayati ajaran agama atau orang-orang orientalis yang berdiam di negeri-negeri Timur.

Pengamalan nilai-nilai adalah kelanjutan daripada penghayatan nilai. Nilai-nilai yang sungguh-sungguh dihayati akan tercermin dalam amalan sehari-sehari. Sebab penghayatan itu pun berperingkat-peringkat, mulai dari peringkat yang paling rendah sampai kepada peringkat tinggi, seperti tergambar pada gambarajah di bawah,

Kelima : Peringkat Perwatakan

Keempat : Peringkat Organisasi

Ketiga : Peringkat Penilaian

Kedua : Peringkat Gerak balas

Pertama : Peringkat Penerimaan

Bila nilai-nilai itu dihayati sampai ke peringkat perwatakan maka ia sebati dengan sahsiah dan sukar untuk diubah dan sentiasa terpancar dalam amalan sehari-hari.Kesimpulan. Oleh sebab kode etika itu adalah nilai-nilai maka ia perlu dihayati dan diamalkan, bukan sekadar diketahui dan dihafalkan. Di situ juga telah dinyatakan perakuan yang sepuluh (al-Wisaya al-’Asyarah) tentang segala kerjanya seorang muslim yang tercantum dalam al-Quran (al-An’am: 151-153).

I. Penutup

Seandainya kita coba mengkaji lebih dalam akan arti/makna dari lagu tersebut, maka tampaklah sebuah gambaran keseharian seorang guru, dengan loyalitasnya, ketekunan serta pengor-banan dalam mendidik siswa untuk mencapai suatu proses perkembangan yang optimal. Namun, dibalik itu semua juga tersirat suatu dilema profesi ini dimana seringkali guru tidak menerima penghargaan ataupun perlakuan yang sebanding dengan apa yang telah dikorbankan. Sebagai seorang yang berprofesi sebagai seorang guru apakah yang harus kita lakukan? Bagaimana pula sebaiknya kita menyikapi hal ini dengan lebih arif dan bijaksana? Karangan ini hanyalah sebuah tulisan dari pemikiran dan diskusi yang teoritis ini, namun de-ngan yang teoritis ini, penulis bisa berharap dapat memberikan masukan untuk merefleksikan kembali pilihan kita.

Jabatan guru merupakan jabatan Profesional, dan sebagai jabatan profesional, pemegangnya harus memenuhi kualifikasi tertentu. Kriteria jabatan profesional antara lain bahwa jabatan itu melibatkan kegiatan intelektual, mempunyai batang tubuh ilmu yang khusus, memerlukan persiapan lama untuk memangkunya, memerlukan latihan dalam jabatan yang berkesinambungan, merupakan karier hidup dan keanggotaan yang permanen, menentukan baku perilakunya, mementingkan layanan, mempunyai organisasi profesional, dan mempunyai kode etik yang di taati oleh anggotanya.

Jabatan guru belum dapat memenuhi secara maksimal persyaratan itu, namun perkembangannya di tanah air menunjukkan arah untuk terpenuhinya persyaratan tersebut. Usaha untuk ini sangat tergantung kepada niat, perilaku dan komitmen dari guru sendiri dan organisasi yang berhubungan dengan itu, selain juga, oleh kebijaksanaan pemerintah.

DAFTAR PUSTAKA

Soetjipto, Raflis Kosasi, 1999, “Profesi Keguruan”, Cetakan ke I, Jakarta, Penerbit Rineka Cipta

Suharsimi Arikunto, 1980 “Pengelolaan Kelas dan Siswa”, Cetakan ke II, Jakarta : Penerbit Rajawali.

Suharsimi Arikunto, 1993, “Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi”, Cetakan ke II, Jakarta : Penerbit Rineka Cipta.

Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, 1997, “Strategi Belajar Mengajar”, Cetakan ke I, Jakarta : Penerbit Rineka Cipta.

Syaiful Bahri Djamarah, 2000, “Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif”, Cetakan ke I, Jakarta : Penerbit Rineka Cipta.

KEIMANAN

1.Tentang iman, islam, ihsan

حديث ابى هريرة رضى الله عنه قال كان النبى صلى الله عليه وسلم بارزا يوما للناس فاتاه رجول فقال: ما الايمان الايمان ان تؤمن بالله وملا ئكته وبلقائه وبرسوله وتؤمن بالبعث قال: ماالاسلام قال: الاسلام ان تعبد الله ولاتشرك به وتقيم االصلاة وتؤدى الزكاة المفروضة وتصوم رمضان قال: ما الاحسان قال: ان تعبد الله كانك تراه فان لم تكن تراه فانه يراك قال: متى الساعة قال: ماالمسئول عنها باعلم من السائل قال: وساخبرك عن اشراطها قال: ادا ولدت الامة ربهاواداتطاول رعاة الابل البهم فى البنيان, فى خمس لايعلمهن الاالله ثم تلا النبى صلى الله عليه وسلم ان الله عنده علم الساعة وينزل الغيث ويعلم مافى الارحام وماتدرى نفس ماداتكسب غداوماتدرى نفس باي ارض تموت ان الله عليم خبير(الاية) ثم ادبر فقال:(ردوه) فلم يرواشيئافقال:” هدا جبريل جاء يعلم الناس دينهم” (متفق عليه)

Artinya:

Hadits abi hurairah R.a berkata: bahwasanya rosulullah suatu hari memberi nasihat pada umat, datanglah seorang laki-laki dan bertanya: apakah iman itu? Berkata rosulullah SAW:iman ialah bahwasanya beriman pada Allah , malaikat , perjumpaan dgn rosulullah dan beriman dgn hari kiamat. Lalu bertanya apa itu islam? Rosulullah menjawab: islam ialah menyembah Allah dan tidak menyekutukannya, mendirikan solat, menunaikan zakat yang diwajibkan, puasa ramadhan. Kemudian bertanya apakah ihsan itu? Rosulullah menjawab: menyembah Allah seperti ia melihatmu dan jika tiada melihatnya, maka ia melihatmu. Ia bertanya: kapan hari kiamat itu? Bersabda rosulullah:yang bertanya lebih mengetahui dari yang ditanya. Lalu ia bertanya: beritahukan aku ttg tanda-tandanya? Dijawab: jika seorang melahirkan tuannya, tukang gembala bermegah-megahan dalam bangunan, lima perkara yang tiada mengetahuinya kecuali allah. Kemudian membaca rosulullah: bahwasanya Allah mengetahui hari kiamat, menurunkan hujan, mengetahui apa yang didalam rahim, apa-apa yang tdk diketahui diri, apa yang akan terjadi esok, dan tiada mengetahui dimana ia dikuburkan kelak, Allah yang maha mengetahui. Kemudian ia pergi. Dan berkata sahabat: tiada tampak atasnya bekas perjalanan jauh. Rosulullah menjawab: itu jibril yang datang untuk mengajari umat manusia tentang agama islam.

Sumber: lu’lu’ wal marjan (5)

2.Iman ketika keluar maksiat

حديث ابى هريرة رضى الله عنه ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: لا يزنى الزني حين يزني وهو مؤمن ولا يسرق حين يسرق وهو مؤمن, ولا يشرب االخمر حين يشربها وهو مؤمن التوبة معروضة بعدا” (رواه مسلم)

Artinya:

Hadits Abi hurairah r.a, bahwasanya Rosulullah SAW bersabda: tidak akan berzina orang yang berzina apabila ketika berzina ia beriman, dan tidak mencuri seorang pencuri apabila ia mencuri dalam keadaan beriman, dan tiada meminum khamar apabila ia meminumnya dalam keadaan beriman, taubat dilaksanakan sesudahnya.

Sumber: shohih muslim (104)

3.malu sebagian daripada iman

حديث ابن عمر رضى الله عنهما: ان رسول الله صلى الله عليه وسلم مر على رجل من الانصار وهو يعظ اخاه فى الحياء, فقال رسول الله عليه وسلم:” دعه فان االحياء من الايمان (متفق عليه)

Artinya:

Hadits Ibnu Umar r.a, bahwasanya Rosulullah SAW melewati seorang laki-laki dari kaum anshor yang sedang menasehati saudaranya karena malu. Maka bersabda Rosulullah SAW: biarkan ia karena bahwasanya malu itu sebagian dari iman.

Sumber:lu’lu wal marjan (22)

4.cabang-cabang iman

عن ابى هريرة رضى الله عنه قال, قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:” الايمان بضع وسبعون شعبة, فافضلها قول لااله الا الله, وادناها اماطة الادى عن الطرق والحياء من الايمان” (متفق عليه

Artinya:

Dari Abi Hurairah r.a berkata: bersabda Rosulullah SAW: cabang iman ada tujuh puluh bagian, dan yang paling utama ialah perkataan lailaha illallah, dan yang paling serendah-rendahnya iman ialah menyingkirkan sesuatu dari jalan, dan malu itu sebagian daripada iman.

Sumber: Misykatul mashobih (5)

Ikhlas Dalam Beramal dan Istiqomah

(I)وعن امير المؤ منين ابى حفص عمر بن الخطاب بن تفيل بن عبد العزى بن رياح بن عبد الله بن قرط بن رزاح بن عدى بن كعب بن لؤى بن غالب القريشي رضى الله قال: “انما الاعمال بالنيات وانما لكل امرىءمانوى فمن كانت هجرته الى الله ورسوله فهجرته الى الله و رسوله, ومن كانت هجرته لدنيايصيبهااو امراة ينكحهافهجرته الى ماهاجر اليه. (متفق عليه)

Artinya:

Dari Amiril mukminin Abi Hafshin umar bin khatab bin Tufail bin Abdul Izza bin Riyah bin Abdullah bin Qort bin Rzah bin A’dd bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib al quraisy r.a berkata: aku telah mendengar Rosulullah SAW bersabda: bahwasanya setiap amal tergantung pada niat dan tiap perkara tergantung pada niat, barang siapa berniat hijrah kepada Allah dan rosulnya maka hijrahnya kepada allah dan rosulnya, dan barang siapa hijrahnya untuk dunia dan perempuan yg akan dinikahinya maka hijrahnya kepada apa yang ia tuntut.

Sumber: Riyadhus Sholihin

( (IIوعن ابى عمرو, وقيل: ابى مرة سفيان بن عبد الله رضى الله عنه قال: قلت: يارسول الله قل لى فى الاسلام قولا لااسال عنه احد غيرك. قال: “قل: امنت باالله ثم استقيم”.(رواه مسلم)

Artinya:

Dari Abi Amru, dikatakan Abi muroh Sofyan bin Abdullah r.a berkata: aku bertanya: ya Rosulullah katakan padaku suatu perkataan dalam islam yang tiada bertanya aku akan selainnya. Bersabda rosulullah: “katakan, aku beriman kepada allah dan istiqomahlah”.

Sumber: riyadhus sholihin

Dosa-Dosa Besar

عن ابن مسعود رضى الله عنه قال: سالت النبى صلى الله عليه وسلم اى الدنب الاعظم عند الله ؟ قال ان تجعل لله ندا وهوخلقك قلت ان دلك لعظيم قلت ثم اى؟ قال وان تقتل ولدك تخاف ان يطعم معك قلت ثم اى؟ قال ان تزانى حليلة جارك

Artinya:

Dari Ibnu Mas’ud r.a berkata: aku bertanya pada nabi SAW tentang dosa besar disisi Allah? Bersabda Rosulullah : menjadikan selain Allah (saingan) padahal Allah yang menciptakan hal itu termasuk dosa besar, aku bertanya: lalu apa? Sabda rosulullah: bahwasanya membunuh anak-anakmu dikarnakan takut mereka makan bersama engkau, aku bertanya lagi: lalu apa? Sabdanya: bahwasanya menzinahi istri tetangga engkau

عن ابى هريرة رضى الله عنه: ان رسول الله صلي الله عليه وسلم قال: اجتنب السبع الموبقات, قيل يارسول الله,وماهن؟ قال الشرك بالله, والسحر, وقتل النفس التي حرم الله الا بالحق, واكل مال اليتيم, واكل الربا, والمتولي يوم الزحف وقدف المحصنات الغافلات المؤمنات.

Artinya: Dari Abi Hurairah ra: Bahwasanya Rasul SAW. Bersabda: Jauhi olehmu tujuh yang membinasakan, seseorang bertanya, wahai rasulullah! apa itu tujuh yang membinasakan? Beliau bersabda: Mensekutukan Allah, sihir, menghilangkan nyawa orang lain kecuali yang dibolehkan, memakan harta anak yatim, memakan harta riba, lari dari peperangan dan menuduh perempuan mukmin berzina.

Sumber: lu’lu walmarzan (56)

عن اناس رضي الله عنه: عن النبي صلي الله عليه وسلم في الكبا ئر. قال الشرك بالله وعقوق الوالدين وقتل النفس وقول الزور.

Artinya: dari Anas ra. Bersabda Nabi SAW tentang dosa-dosa besar: menyekutukan allah, durhaka kepada kedua orang tua, menghilangkan nyawa orang lain, dan saksi palsu,

Sumber: lu’lu walmarzan (55)

MUNAFIQ

عن انس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من صلى لله اربعين يوما فى جماعة يدرك التكبيرة الاولى كتب له برئتان برئة من النفاق وبرئة من النار(رواه االترمدى)

Artinya:

Dari annas berkata: sabda Rosulullah SAW barang siapa solat berjama’ah selama 40 hari tiada tertinggal takbir yang awal ditulis baginya dua keselamatan, selamat dari sifat munafiq dan selamat dari api neraka.

عن ابن عمر رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلي الله عليه وسلم: اربع من كن فيه كان منا منافقا خالصا ومن كانت فيه خلة منهن كانت فيه خلة من نفاق حتي يدعها وادا حدث كدب وادا عاهد غدر وادا وعد اخلف وادا خاصم فجر.

Artinya:

Dari Ibnu Umar ra. Bersabda Rasulullah SAW. Empat perkara, barang siapa padanya empat perkara tersebut jadilah ia seorang munafik yang tidak diragukan. Dan barang siapa padanya sebagian daripadanya(empat perkara) maka padanya sebagian daripada sifat munafik tersebut sehingga ia meninggalkannya dan jika berkata- kata ia berdusta, jika berjanji ia ingkar, jika bertengkar ia curang.

Sumber : Lu’lu Walmarzan (37)

Akhlakul Karimah

1.Orang yang baik adalah, baik akhlaknya

عن النوس بن سمعان قال: سالت النبى صلى الله عليه وسلم عن البر و الاثم؟ فقال البر حسن الخلق, والاثم ماحك فى نفسك, وكرهت ان يطلع عليه الناس. (رواه مسلم)

Artinya:

Dari Nawwas bin sam’an berkata: aku bertanya pada nabi SAW tentang bakti dan dosa? Maka sabdanya: bakti ialah baik akhlak, sedangkan dosa adalah apa-apa yang meragukan dalam dirimu dan kamu tak suka jika diketahui oleh orang banyak.

Sumber: Riyadhus Sholihin (623)

2. kejujuran membawa kepada kebaikan

عن ابن مسعود, عن النبى صلى الله عليه وسلم قال: ان الصدق يهدى الى البر وان البر يهدى الى الجنة, وان الرجل ليسدق حتى يكون صديقا. وان الكدب يهدى الى الفجور, وان الفجور يهدى الى النار. وان الرجل ليكدب حتى يكتب عند الله كادبا.(متفق عليه)

Artinya:

Dari ibnu Mas’ud, dari nabi SAW bersabda: bahwasanya kejujuran membawa pada kebaikan dan kebaikan membawa kepada surga, dan bahwasanya seorang laki-laki yang senantiasa jujur sehingga ia menjadi orang yang jujur. Dan bahwasanya dusta membawa kepada dosa, dan bahwasanya dosa membawa membawa kepada neraka. Bahwasanya seorang laki-laki yang senantiasa berdusta sehingga ditulis baginya disisi Allah sebagai pendusta.

Sumber: Lu’lu wal Marjan (1675)

3. Orang yang paling berhak dihormati

عن ابى هريرة قال: جاء رجل الى رسول الله صلى الله عليه وسلم, فقال: يارسول الله! من احق بحسن صحابتى؟ قال: امك, قال: ثم من؟ قال: امك, قال: ثم من؟ قال: امك, قال: ثم من؟ قال: ثم ابوك.(متفق عليه(

Artinya:

Dari Abi Hurairah berkata: telah datang seorang laki-laki kepada Rosulullah SAW, dan bertanya: ya Rosulullah! siapakah yang lebih berhak untuk aku hormati dari kerabatku? Sabdanya: ibumu, laki-laki itu berkata: lalu siapa? Sabda rosulullah: ibumu, lalu tanyanya lagi: lalu siapa? Sabda rosulullah: ibumu, lalu tanyanya lagi: lalu siapa? Sabda rosulullah: lalu ayahmu.

Sumber: Lu’lu’ wal Marjan (1652)

4. berbuat baik kepada tetangga

عن ابى شريح العدوى قال: سمعت ادناى وابصرت عيناى حين تكلم النبى صلى الله عليه وسلم, فقال: من كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليكرم جاره…(متفق عليه)

Artinya:

Dari Abi Syuraih al A’dawi berkata: aku mendengar dengan telingaku dan aku melihat dengan kedua mataku ketika rosulullah bersabda: barang siapa beriman kepada Allah dan hari kiamat maka mulyakanlah tetangganya.

Sumber: Lu’lu’ wal Marjan (30).

KESEHATAN

  1. Mukmin yang kuat lebih disukai Allah daripada mukmin yang lemah

عن ابى هريرة رضى الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “ألمؤمن القوي خير واحب الى الله من المؤمن الضعيف وفى كل خير احرص ما ينفعك واستعن بالله ولاتعجز وان اصابك شيء فلا تقل لوانى فعلت كدا ولكن قل قدرالله وماشاء فعل فان”لو” تفتح عمل الشيطان” (رواه مسلم)

Artinya:

Dari Abi Hurairah r.a berkata: bersabda Rosulullah SAW: “orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah dan setiap sesuatu ada kebaikan didalamnya, maka bersungguh-sungguhlah terhadap sesuatu yang memberi manfaat bagimu dan mintalah pertolongan pada Allah dan jangan lemah jika tertimpa sesuatu jangan katakan jika aku memperbuat yang demikian tetapi ucapkanlah ini kuasa Allah dan Allah memperbuat setiap sesuatu, maka bahwasanya “jikalau” membuka perbuatan syaitan.

Sumber: Adabun Nabawy (88)

2. Lima fitrah dalam kebersihan tubuh

حديث ابى هريرة رضى الله عنه عن النبى صلى الله عليه وسلم قال:” الفطرة خمس او خمس من الفطرة: الختان والااستحداد ونتف الابط وتقليم الاظفار وقص الشارب” (متفق عليه)

Artinya:

Hadits abi hurairah r.a dari nabi SAW bersabda: suci /fitrah ada lima : khitan, mencabut bulu ari, memotong bulu ketiak memotong kuku dan mencukur kumis.

Sumber: Lu’lu’ wal Marjan (145)

3. Siwak

حديث ابى هريرة رضى الله عنه ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:”لولا ان اشق على امتى او على الناس لامرتهم بالسواك مع كل صلاة” (متفق عليه)

Artinya:

Hadits Abi Hurairah r.a bahwasanya Rosulullah SAW bersabda: jikalau tidak memberatkan umatku dan seluruh manusia akan kuperintahkan bersiwak pada setiap solat.

Sumber: Lu’lu’ wal marjan (142)

PERSAUDARAAN DALAM ISLAM

  1. Orang islam bersaudara

حديث عبد الله بن عمر رضى الله عنهما, ان رسول الله عليه وسلم قال: المسلم اخو المسلم لا يظلمه ولا يسلمه. ومن كان فى حاجة اخيه, كان الله فى حاجته. ومن فرج عن مسلم كربة من كربات يوم القيامة. ومن ستر مسلما ستره الله يوم القيامة. (متفق عليه)

Artinya :

Hadits Abdullah bin Umar r.a, bahwasanya Rosulullah SAW bersabda: orang muslim saudaranya muslim, tiada mendholiminya dan tidak membiarkannya di dholimi, dan barang siapa menunaikan hajat saudaranya, Allah akan menunaikan hajatnya, dan barang siapa melapangkan kesulitan orang muslim maka melapangkan Allah akan ia dari kesulitan-kesulitan di hari kiamat. Dan barang siapa menutupi aib saudaranya (muslim) Allah akan menutupi aibnya dihari kiamat.

Sumber: Lu’lu’ wal marjan (1667)

  1. Orang mukmin bagaikan sebuah bangunan

حديث ابى موسى رضى الله عنه, عن النبى صلى الله عليه وسلم قال: ان المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا, وشبك اصابعه. (متفق عليه)

Artinya:

Hadits abi Musa r.a, dari nabi SAW bersabda: bahwasanya orang mukmin bagi mukmin lainnya seperti bangunan yang menguatkan antara satu bagian dgn bagian yang lain, dan rosulullah sambil menggenggam jemarinya.

Sumber: lu’lu’ wal marjan (1670)

  1. larangan mencaci dan membunuh sesama manusia

وعن ابن مسعود رضى الله عنه قال, قال رسول الله صلى الله عليه وسلم سباب المسلم فسوق وقتاله كفر. (متفق عليه)

artinya:

Dari Ibnu Mas’ud r.a berkata: bersabda Rosulullah SAW: mencaci orang muslim itu fasiq dan membunuhnya ialah kafir.

Sumber: Riyadhus Sholihin (1559)

DORONGAN MEMPELAJARI DAN MENGAJARKAN AL-QUR’AN DAN TANGGUNG JAWAB MENUNTUT PENGETAHUAN

1. Hasad yang diperbolehkan

عن ابن عمر رضى الله عنهما قال, قال رسول الله عليه وسلم: لا حسد الافى اثنتين: رجل اتاه الله القران فهو يقوم به اناء النهار ورجل اًعطاه مالا فهو ينفق منه اناء الليل واناء النهار. (رواه البخارى ومسلم والترمدى والنسائى)

Artinya:

Dari ibnu umar r.a berkata, sabda Rosulullah SAW: jangan engkau hasad kecuali pada dua perkara: pertama seorang laki-laki yang datang padanya Alqur’an dan ia sibuk mengamalkannya sepanjang hari (siang dan malam) dan yang kedua seorang laki-laki yang diberikan harta dan ia sibuk menginfaqkan hartanya sepanjang hari (siang malam).

Sumber: Adabun Nabawy (76)

  1. perbandingan antara orang yang membaca dan tidak membaca al Qur’an

عن ابى موسى رضى الله عنه قال, قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مثل المؤمن الدى يقراً القران مثل الاًترجة ريحهاطيب وطعمهاطيب, ومثل المؤمن الدى لايقراً القران مثل التمرة لاريحهاوطعمها حلو, ومثل المنافق الدى لايقراً القران مثل الحنظلة ليس لهاريح وطعمها مر, ومثل المنافق الدى يقراً القران مثل الريحانة ريحها طيب وطعمها مر. (رواه البخارى ومسلم والنسائى وابن ماجه)

Artinya:

Dari Abi Musa r.a berkata, sabda rosulullah SAW : perumpamaan orang mukmin yang membaca Al qur’an seperti buah jeruk manis yang baunya harum dan manis rasanya, dan perumpamaan orang mukmin yang tak membaca al qur’an seperti kurma yang tak berbau dan manis rasanya, dan perumpaman orang munafiq yang tidak membaca Al qur’an seperti buah pare yang tidak berbau dan rasanya pahit, dan perumpamaan orang munafiq yang membaca Al Qur’an seperti bunga raihanah yang baunya harum dan rasanya pahit.

Sumber: Adabun nabawy (79)

3. hilangnya ilmu karena wafatnya orang berilmu

عن عبد الله بن عمرو بناالعاص رضى الله عنهما قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: ان الله لايقبض العلم النتزاعا ينتزعه من العباد, ولكن بقيض العلم يقبض العلماء حتى ادا لم يبق عالما, اتخد الناس رئوسا جهالا فسئلوا, فافتوا بغير علم, فضلوا واضلو. (رواه البخارى ومسلم)

Artinya:

Dari Abdullah bin Amru r.a berkata: aku mendengar rosulullah SAW bersabda: Allah mengangkat ilmu dari hati hamba, akan tetapi mengangkat ilmu dengan mengambil para ulama sehingga tiada tersisa, Dan menyisakan penguasa yang jahil yang berfatwa tanpa ilmu, maka sungguh sesat lagi menyesatkan.

Sumber: lu’lu’ wal marjan (1712)

  1. sikap yang baik dan buruk dalam menuntut ilmu

عن ابى واقد الليثى, ان رسول الله صلى الله عليه وسلم بينماهو جالس فى المسجد والناس معه, اد اًقبل ثلاثة نفر, فاًقبل اثنان الى رسول الله صلى الله عليه وسلم, ودهب واحد. قال: فوقفا على رسول الله صلى الله عليه وسلم. فاًمااًحدهما فراًى فرجة فى الحلقة فجلس فيهاواماالاخر فجلس خلفهم, واماالثالث فاًدبر داهبا فلما فرغ رسول الله عليه وسلم, قال: اًلا اخيركم عن النفر الثلاثة؟ امااًحدهم فاًوى الى الله فاًواه الله: واماالا خر فاستحيا فاستحيا الله منه: واماالا خر فاًعرض فاًعرض الله عنه. (رواه البخارى ومسلم)

Artinya:

Dari Abi Waqad Al laysy, bahwasanya rosulullah SAW duduk di masjid bersama sahabat, tiba-tiba datang tiga orang, maka yang dua orang menghadap pada rosulullah SAW sedangkan yang satu terus pergi, adapun salah satu dari keduanya melihat ada lowongan ditengah majlis maka iapun duduk ditempat tersebut sedang yang lainnya duduk dibelakang sedangkan salah satu dari ketiganya telah pergi, maka ketika rosulullah telah selesai dari nasehatnya, beliau bersabda:” sukakah kamu aku beritakan kepada kalian tentang tiga orang tersebut? Adapun orang pertama ia ingin mendekat pada allah maka allahpun memberi tempat dekat, sedangkan orang kedua ia malu kepada Allah maka Allahpun malu kepadanya dan adapun orang ketiga ia berpaling dari Allah maka Allahpun berpaling darinya.

Sumber: Lu’lu’ wal marjan (1405)

DORONGAN MENCARI RIZKI YANG HALAL

  1. Tangan yang diatas lebih mulia dari yang dibawah

حديث لبن عمر رضى الله عنه, اًن رسول الله عليه وسلم قال, وهو على المنبر, ودكر الصدقة و التعفف والمسئلة: اليد العليا خير من يد السفلى, فاليد العليا هى المنفقة, والسفلى هى السائلة. (متفق عليه)

Artinya:

Ibnu umar r.a berkata: ketika nabi SAW khutbah di atas mimbar dan menyebut sedekah dan minta-minta, maka bersabda : tangan yang diatas lebih baik dari tangan yang dibawah, tangan yang diatas itu memberi dan yang dibawah yang meminta.

Sumber: Lu’lu’ wal marjan (612)

حديث حكيم بن حزام رضى الله عنهو خن انبى صلى الله عليه وسلم, قال: اليد العلياخير من اليد السفلى, وابداً بمن تعول, وخير الصدقة عن الظهر غنى, ومن يستعفف يعفه الله, ومن يستغن يغنه الله. (متفق عليه)

Artinya:

Hakiem bin hizam r.a berkata: nabi Saw bersabda: tangan yang diatas lebih baik dari tangan yang dibawah, dan dahulukan keluargamu (orang-orang yang wajib kamu belanjai) dan sebaik-baik sedekah itu dari dari kekayaan (yang berlebihan), dan siapa yang menjaga kehormatan diri tidak meminta-minta, maka Allah akan mencukupinya , demikian pula siapa yang beriman merasa sudah cukup maka allah akan membantu memberinya kekayaan.

Sumber: Lu’lu’ wal marjan (613)

  1. mencari kayu bakar lebih baik dari meminta-minta

حديث ابى هريرة رضى الله عنه, قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لاًن يحتطب احدكم حزمة على ظهره خير من ان يسال اًحدا فيعطيه أو يمنعه.

artinya:

Abu Hurairah r.a berkata: rosulullah SAW bersabda: jika seseorang itu pergi mencari kayu, lalu diangkat seikat kayu diatas punggungnya (yakni untuk dijual dipasar) maka itu lebih baik baginya daripada minta kepada seseorang baik diberi atau ditolak

Sumber: Lu’lu’ wal marjan (618)

KEPEDULIAN SOSIAL

  1. Membuang duri dijalan

حديث ابى هريرة, اًن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: بينمارجل يمشى بطريق, وجد غصن شوك على الطريق, فاًخره, فشكر الله له, فغفر له. (متفق عليه)

Artinya:

Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda: ketika seseorang berjalan disuatu jalan, tiba-tiba melihat dahan berduri ditengah jalan, maka segera ia singkirkan, maka Allah memuji perbuatannya dan mengampunkan baginya (dosanya).

Sumber: Lulu’ Walmarjan (1682)

  1. Menolong saudara-saudara seagama

عن عبد الله بن عمر رضى الله عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: المسلم اًخو المسلم لايظلمه ولا يسلمه ومن كان فى حاجة اًخيه كان الله فى حاجته ومن فرج الله عنه كربة من كرب يوم القيامة ومن ستر مسلما ستره الله يوم القيامة. (رواه بخارى, ابو داود, النسائى, الترمدى )

Artinya:

Dari Abdillah bin Umar RA, Rasulullah bersabda: orang muslim itu bersaudara atas orang muslim yang lain, tidak boleh ia menganiaya dan tidak boleh ia dibiarkan dianiaya oleh orang lain atau tidak boleh diserahkan kepada musuh.

Sumber: Adabun Nabawy (23)

  1. Haram menyiksa kucing dan binatang lain yang tidak mengganggu

حديث عبد الله بن عمر رضى الله عنه, ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: عدبت امراًة فى هرة سجنتهاحتى ماتت, فدخلت فيها النار. لاهى اطعمتها, ولا سقتها, اد حبستها. ولا هى تركتها تاًكل من خشاس الارض. (متفق عليه)

Artinya:

Abdullah bin Umar berkata: Nabi Muhammad SAW bersabda: Seorang wanita telah disiksa disebabkan kucing yang dikurung sampai mati, sehingga ia masuk neraka sebab tidak diberi makan, minum ketika dikurung, juga tidak dilepas untuk mencari makanan dari binatang-binatang bumi yang menjadi makanannya.

Sumber: Lu’lu’ Walmarjan (1683)

  1. Pelacur memberi minum anjing yang kehausan

حديث ابى هريرة رضى الله عنه, ان رسول الله عليه وسلم قال: بينا رجل يمشى فاشتد عليه العطش, فنزل بئرا, فشرب منها, ثم خرج, فاد هو بكلب يلهث ياًكل الثرى من العطش.فقال: لقد بلغ هدا مثل الدى بلغ بى. فملاً خفه, ثم امسكه بفيه, ثم رقى, فسقى الكلب. فشكرالله له فغفر له ,قالوا: يارسول الله! وان لنا فى البهائم اجرا؟ قال: فى كل كبد رطبة اجر. (متفق عليه)

Artinya:

Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda: Ketika ada seseorang berjalan, ia merasa sangat haus, lalu ia turun ke sebuah sumur untuk minum, kemudian setelah ia keluar dari sumur, tiba-tiba ada anjing menjilat-jilat tanah karena sangat haus, maka ia berkata: binatang ini telah merasa haus sebagaimana yang kurasa, lalu ia turun kembali kedalam sumur dan mengisi sepatunya dengan air, lalu digigit dengan mulutnya dan dibawa naik keatas sumur, lalu memberi minum pada anjing itu, maka Allah memuji perbuatannya itu dan mengampunkan baginya. Sahabat bertanya, Ya Rasulullah apakah ada pahala untuk kami dalam menolong dan memberi apa-apa pada binatang? Jawab Nabi SAW: Setiap jiwa yang hidup itu ada pahalanya (Bukahari Muslim) yakni bagi siapa yang suka menolong dan dengan memberi makan atau minum.

Sumber: Lu’lu’ Walmarjan (1447)

حديث ابى هريرة, قال: قال النبى صلى الله عليه وسلم بينما كلب يطيف بركية كاد يقتله العطش, اد راًته البغى من بغايا بنى اسرايل, فنزعت موقها, قسقته, فغفر لهابه.(متفق عليه)

Artinya:

Abu Hurairah berkata, Nabi SAW bersabda: Ketika ada anjing berputar-putar diatas sumur hampir mati kehausan, tiba-tiba dilihat oleh seorang wanita pelacur dari Bani Isarail, maka segera ia membuka sepatunya lalu digunakan menimba air sumur lalu diminumkan pada anjing itu, maka Allah mengampunkan baginya.

Sumber: Lu’lu’ Walmarjan (1448)

ZAKAT DAN SADAKAH

  1. Zakatul fitri

حديث ابن عمر رضى الله عنهما, اًن رسول الله صلى الله عليه وسلم فرض زكاة الفطرصاعا من تمر, او صاعا من شعير, على كل حر او عبد, دكر او انثى من المسلمين. (متفق عليه)

Artinya:

Ibnu umar r.a berkata: rosulullah telah mewajibkan zakatul fitri satu sha’ dari kurma atau jawawut, beras, jagung atas tiap orang merdeka atau budak, lelaki atau wanita, besar atau kecil dari kaum muslimin.

Sumber: Lu’lu’ wal marjan (570)

  1. Semua amal kebaikan termasuk sedekah

حديث ابى موسى, قال: قال النبى صلى الله عليه وسلم: على كل مسلم صدقة قالوا: فان لم يجد؟ قال: فيعمل بيديه فينفع نفسه ويتصدق, قالوا: فان لم يستطع او لم يفعل؟ قال: فيعين داالحاجة الملهوف, قالوا: فان لم يفعل؟ قال: فياًمر بالخير او قال: بالمعروف, قال: قان لم يفعل؟ قال: فيمسك عن الشر فانه له صدقة. (متفق عليه)

Artinya:

Abu musa r.a berkata, nabi SAW bersabda: tiap muslimin wajib bersedekah. Sahabat bertanya: jika tidak dapat? Jawab nabi SAW: bekerja dengan tangannya yang berguna bagi diri dan bersedekah. Sahabat Tanya pula: jika tidak dapat? Jawab nabi SAW: membantu orang yang sangat berhajat. Sahabat bertanya: jika tidak dapat? Jawab nabi Saw: menganjurkan kebaikan. Sahabat bertanya: jika tidak dapat? Jawab nabi SAW: menahan diri dari kejahatan maka itu sedekah untuk dirinya sendiri.

Sumber: Lu’lu’ wal marjan (589)

  1. Zakat fitrah

عن ابن عباس رضى الله عنهما: ان النبى صلى الله عليه وسلم بعث معادا الى اليمن فدكر الحديث وفيه : ان الله قد افترض عليهم صدقة فى اموالهم تؤخد من اغنيائهم فترد فى فقرائهم (متفق عليه)

Artinya:

Dari Ibnu Abbas r,a, bahwasanya Rosulullah Saw pernah mengutus Muadz keyaman . maka menyebutkan hadits didalamnya: sesungguhnya Allah mewajibkan kepada mereka zakat harta mereka , diambil dari orang-orang kaya mereka lalu dikembalikan kepada kaum faqir-faqir mereka.

Sumber: Bulugul Maram (621)

AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR & ZIHAD FISABILILLAH

  1. Penegak kebenaran selalu muncul

حديث المغيرة بن شعبة, عن النبى صلى الله عليه وسلم, قال: لايزال ناس من أمتى ظاهرين حتى ياًتيهم امر الله وهم ظاهرون.(متفق عليه)

artinya:

al mughirah bin syu’bah r.a berkata: nabi Saw bersabda: selalu akan ada dari umatku gigih memepertahankan hak, sehingga tiba ketentuan allah dan mereka tetap menang

Sumber: Lu’lu’ wal marjan (1249)

  1. Bahaya orang yang tidak mencegah kemunkaran

عن ابى بكر الصديق رضى الله عنه قال: يايها الناس انكم تقرئون هده الاية : ياايها الدين أمنوا عليكم انفسكم لايضركم من ضل ادااهتديتم, وان سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: ان الناس اداراوااظالم فلم يأخدوا على يديه او شك ان يعمهم الله بعقاب منه. (رواه ابو داوود, الترمدى,النسائى)

Artinya:

Abu Bakar Asshiddiq r.a berkata; hai sekalian manusia, kamu membaca ayat ini : ya ayyuhalladzina amanu alaikum anfusakum laa yadhurrukum man dhollaa idzahtadaitum hingga akhirnya. (hai sekalian orang yang beriman, jagalah dirimu, tidak membahayakan kamu kesesatan orang yang sesat, asalkan kamu mendapat hidayat), dan kamu letakkan pengertiannya tidak pada tempatnya sedang saya telah mendengar rosulullah bersabda: sesungguhnya jika orang-orang melihat orang dholim berbuat kejam jahat, dan tidak mereka cegah ( tahan tangannya ), mungkin sudah hampir allah akan meratakan kepada mereka siksanya.

Sumber: Riyadhus Sholihin (197)

3. Akibat memerintah pada yang ma’ruf tapi tidak melaksanakannya

حديث أسامة قيل له: لو اتيت فلانا فكلمتهز قال: انكم لترون أنى لا أكلمه الا اسمعكم. انى اكلمه الا اسمعكم. انى أكلمه فى السر, دون أن افتح بابا لا اكون اول من فتحه. ولا اكل لرجل, أن كان على أميرا :انه خير الناس, بعد شىء سمعته من رسول الله صلى الله عليه وسلم قالوا: وما سمعته يقول؟ قال سمعته يقول: يجاء بالرجل يوم القيامة, فيلقى فى النار, فتندلق أفتابه فى النار, فيدور كما يدور الحمار برحاهو فيجتمع اهل النار عليه, فيقولون: أى فلان! ما شأنك؟ اليس كنت تأمرون بالمعروف, وتنهى عن المنكر؟ قال: كنت امركم بالمعروف ولا اتيه, وانها كم عن المنكر واتيه. (متفق عليه)

artinya:

Usamah r.a ketika ditanya: mengapakah anda tidak pergi kepada fulan itu untuk menasehatinya. Jawabnya: kalian mengira aku tidak bicara kepadanya melainkan jika kamu dengar, sungguh aku telah menasehatinya dengan rahasia, jangan sampai akulah yang membuka pintu, yang aku tidak ingin menjadi pertama yang membukanya, dan aku tidak memuji orang itu baik meskipun ia pimpinanku setelah aku mendengar rosulullah saw bersabda: orang bertanya: apakah yang anda dengar dari rosulullah Saw? Jawab Usamah: aku telah mendengar rosulullah Saw bersabda; aku dihadapkan seorang pada hari qiamat kemudian dibuang kedalam neraka, maka keluar usus perutnya dalam neraka, lalu ia berputar-putar bagaikan himar yang berputar dipenggilingan, maka berkumpullah penghuni neraka padanya dan berkata: hai fulan mengapakah anda? Tidakkah dahulu engkau menganjurkan kami untuk berbuat baik dan mencegah dari yang munkar? Jawabnya: benar aku menganjurkan kepadamu kebaikan tetapi aku tidak mengerjakannya, dan mencehgah kamu dari yang munkar tapi aku melakukannya.

Sumber: Lu’lu’ wal marjan (1882)

وعن ابى زيد أسامة بن زيد بن حارسة, رضى الله عنهما, قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم, يقول: يؤتى بالرجل يوم القيامة فيلقى فى النار, فتندلق أقتاب بطنه, فيدور بها كما يدور الحمار فى الرحا, فيجتمع اليه اهل النار فيقولون: يافلان مالك؟ الم تك تأمر بالمعروف وتنهى عن المنكر ؟ فيقول: بلى, قد كنت امر بالمعروف ولا أتيه, وأنهى عن المنكر واتيه. (متفق عليه)

Artinya:

Abu Zaid (usamah) bin Zaid bin Haritsah r.a berkata; saya telah mendengar rosulullah SAW bersabda: seorang dihadapkan dihari qiamat. Kemudian dilemparkan kedalam neraka, maka keluar usus perutnya, lalu berputar-putar didalam neraka bagaikan himar yang berputar disekitar penggilingan maka berkerumun ahli neraka padanya sambil bertanya: hai fulan mengapakan engkau, tidakkah engkau dahulu menganjurkan kebaikan dan mencegah munkar? Jawabnya: benar, aku dahulu menganjurkan kebaikan tetapi tidak saya kerjakan, dan mencegah munkar tetapi saya kerjakan.

Sumber: Riyadhus Sholihin (198)

PENUTUP

Alhamdulillah atas berkat rahmat Allah dan bimbingan dari bapak dosen, akhirnya pembukuan hadist-hadist tarbawy dapat kami selesaikan, yang kami kumpulkan dari beberapa kitab hadist. Dan kami berharap semoga buku ini dapat memberi manfaat pada diri kami khususnya dan untuk orang lain pada umumnya. Mudah-mudahan apa yang telah kami kerjakan mendapatkan ridho dari Allah SWT.

Tidak lupa kami mohon maaf kepada segenap pembaca yang budiman akan berbagai kekurangan dalam pembukuan ini. Dengan memberikan saran dan kritik yang membangun dan kemudian dilakukan perbaikan, kami sampaikan banyak terimakasih.

Wallahul muwaffiq ilaa aqwamith tharieq

Assalamualaikum Wr.Wb.

Tim penyusun

- Mujahid

- Gusti. M. Abd. Q. Jailani

- Khairun alfisah

- Poliyanto

- Fathurrahman

KECERDASAN EMOSIONAL SPRITUAL

DALAM BELAJAR

A. Latar Belakang

Kecerdasan spiritual merupakan sebuah kesadaran yang menghubungkan manusia dengan Allah SWT dengan hati nurani.Tingkat spiritual pada anak-anak tercermin pada aktivitas kreatifnya. Arah dan tujuan hidup akan indah dengan kecerdasan spiritual. Contohnya: bagaimana kita memandang alam, air, tumbuh – tumbuhan, awan, bunga yang berwarna-warni, Fauna–kupu2, yang suka diving bisa melihat bagaimana keindahan isi laut. Untuk mencapai ketakwaan yang tinggi kepada Allah SWT, maka Allah SWT mengajak kita untuk mengenali alam ( kecerdasan spiritual kita tinggi). Seperti misalnya kita merasa takjub dengan keindahan alam, Surat Abasa (80) ayat 24-31.

̍ÝàZu‹ù=sù ß`»|¡RM}$# 4’n<Î) ÿ¾ÏmÏB$yèsÛ ÇËÍÈ $¯Rr& $uZö;t7|¹ uä!$yJø9$# ${7|¹ ÇËÎÈ §NèO $uZø)s)x© uÚö‘F{$# $y)x© ÇËÏÈ $uZ÷Kt7/Rrsù $pkŽÏù ${7ym ÇËÐÈ $Y6uZÏãur $Y7ôÒs%ur ÇËÑÈ $ZRqçG÷ƒy—ur WxøƒwUur ÇËÒÈ t,ͬ!#y‰tnur $Y6ù=äñ ÇÌÉÈ ZpygÅ3»sùur $|/r&ur ÇÌÊÈ

24. Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.25. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit),26. kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya,27. lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu,28. anggur dan sayur-sayuran,29. zaitun dan kurma,30. kebun-kebun (yang) lebat,31. dan buah-buahan serta rumput-rumputan

Aristoteles menjabarkan orang yang marah tapi cerdas, adalah yang mengerti kapan dan bagaimana bersikap ketika akan marah. Kecerdasan emosional menyangkut::

v Motivasi diri, dengan mendorong dirinya dengan cara-cara sebagai berikut :

§ Bagaimana seseorang memiliki sifat positif thinking (berfikir)

§ Bagaimana seseorang bisa memanage pekerjaannya

§ Bertahan menghadapi frustasi

§ Mengenali emosi orang lain.

§ Kemampuan untuk membina hubungan dengan orang lain (social skill-interpersonal intelligent).

Wilayah emosional meliputi:

1. Kenali emosi diri.

2. Bisa menghibur diri dari ketersinggungan.

B. Emosi

Setiap individu menurut dasarnya memilki kebutuhan-kebutuhan jasmaniyah tertentu . Di antara kebutuhan-kebutuhan ini kita dapati misalnya kebutuhan-kebutuhan akan makanan, kebebasan bergerak, serta komport atau kebebasan dari stimulus-stimulus yang mengganggu. Setiap stimulus yang akan menghalangi, memblokade atau mengacaukan salah satu kebutuhan semacam ini dapat menyebabkan individu kehilangan cara hidupnya yang biasanya berlangsung dengan lancar dan menyebabkan dia mengalami emosi yang tidak enak, seperti takut, marah atau mata gelap. Sebaliknya suatu situasi yang memenuhi atau mencukupi kebutuhan-kebutuhan dasar akan menghasilkan sambutan-sambutan yang mengenakkan, yang dapat disebut :kepuasan kegembiraan yang memuncak ; kelegaan atas rasa nikmat. Emosi juga dapat ditimbulkan oleh reaksi sosial, seprti interaksi antara individu dengan individu lainnya. Emosi bukanlah pengalaman yang berdiri sendiri atau diskrit.

Untuk kepentingan belajar dalam membimbing perkembangan emosional dapat diisolasikan empat aspek dari emosi : manifestasi yang terlihat, intensitet, nada perasaan dan kecendrungan arah. Karena emosi bukanlah pengalaman yang terpisah-pisah, melainkan mengantar aktivitet-aktivitet psikis yang lain, guru harus berusaha dengan bijaksana untuk melengkapi berbagai aktivitet belajar dengan cara-cara yang tepat yang dapat menyinggung aspek-aspek yang menyenangkan dari pengalaman yang diemosikan.

C. Motivasi Dan Emosi

Motivasi berkaitan erat dengan emosi. Emosi itu sendiri adalah pendorong terjadinya perilaku, tetapi hubungannya dengan motivasi seperti apa, belum terjawab sepenuhnya oleh ahli psikologi. Menurut Hilgrad dan kawan-kawan, kebanyakan ahli beranggapan bahwa motivasi adalah pendorong perilaku yang determinan-determinannya berasal dari dalam diri individu (stimulus-stimulus internal), sedang determinan-determinan emosi berasal dari luar individu (stimulus-stimulus eksternal).

Kebanyakan perilaku bermotivasi mempunyai komponen emosional (afektif). Komponen inilah yang menyebabkan perilaku tertentu cenderung di ulang kembali (karena menghasilkan sesuatu yang menyenangkan) atau dijauhi/dihindari (karena menimbulkan sesuatu yang tidak disukai) meskipun demikian, para ahli lebih memperhatikan perilaku terarah tujuan bila mempelajari motivasi dan pengalaman-pengalaman subjektif afektif bila mempelajari emosi.

Karena perilaku bermotivasi selalu mempunyai komponen afektif, maka pengetahuan tentang perilaku apa dengan komponen afektif apa akan mempermudah usaha untuk memperbesar motivasi manusia. Para ahli sepakat bahwa didalam emosi masih terdapat unsur nalar, kognisi. Karena adanya kognisi inilah, maka dapat terjadi dua orang yang menghadapi insentif yang sama (uang) mempunyai reaksi yang amat berbeda. Dengan pengetahuan emosi inilah orang setinggi mungkin mempertahankan motivasi ini baik dalam hal pekerjaan ataupun belajar

D. Motivasi, Belajar, dan Minat

Dalam kaitannya dengan belajar dan minat biasanya para ahli membedakan dua macam motivasi berdasarkan sumber dorongan terhadap perilaku, yaitu motivasi intristik dan ekstrisik. Motivasi intrinsik adalah yang bersumber dari dalam diri individu yang bersangkutan (ingin menjadi Guru, saya harus lebih banyak belajar karena kurang menguasai bagaimana menjadi guru yang profesional ; dan lain-lain). Motivasi ekstrinsik mempunyai sumber dari luar (takut nilai rendah ; untuk mendapatkan si Maya tersayang ; biar dibilang anak pintar ; dan lain-lain).

Motivasi intrinsik erat kaitannya dengan n-achnya Mc Clelland dan aktualisasinya Maslow. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa motivasi intrinsik lebih tahan lama dan kuat dibanding motivasi Ekstrinsik untuk mendorong minat belajar. Namun demikian, motivasi ekstrinsik juga bisa sangat efektif karena minat tidak selalu bersifat intrinsik.

E. Kecerdasan Inteligensi

Sebenarnya pengertian cerdas ini sangat beragam, karena kecerdasan bisa meliputi berbagai aspek, seperti intelektual, emosional, spritual, kinestetik, musik, interpersonal, akademis dan sebagainya. Tapi secara awam, budaya masyarakat kita cenderung menganggap cerdas adalah apabila anak yang selalu jadi juara kelas atau yang jago matematik. Padahal, tentu tidak selalu demikian. Belum tentu semua anak yang cerdas adalah anak yang jago matematik atau anak yang selalu jadi juara kelas. Ada banyak anak yang tidak menjadi juara kelas tapi sebenarnya ia tergolong anak yang cerdas.Ada banyak anak yang cerdas berbahasa tapi tidak pandai matematik, atau ada anak yang pandai bergaul tapi kurang trampil dalam hal menggambar, dan sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa pengertian cerdas di sini menggambarkan adanya potensi-potensi yang menonjol yang dimiliki anak dan bersifat unik antara anak yang satu dengan yang lain. Setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda.

F. Kecerdasan Emosional Spritual

Seorang ibu, orangtua murid yang baru lulus, bercerita bagaimana caranya untuk mengirim Rahmat ke Jerman. Ia sudah meyakinkan anaknya bahwa ia tidak akan mampu untuk membiayainya. Tetapi anaknya berulang-kali meyakinkan orangtuanya, bahwa Tuhan pasti akan memberikan jalan. Ditengah-tengah pembicaraan, ibu itu bercerita tentang perubahan perilaku anaknya setelah masuk sekolah yang menitik beratkan kepada pengembangan kecerdasan emosional spritual. Waktu pulang kampung, ia banyak menaruh perhatian pada tetangga-tetangganya yang miskin. Menjelang Lebaran, seperti biasanya, ibu itu memberi anaknya uang untuk membeli pakaian baru. Rahmat menerima uang itu seraya minta izin untuk memberikannya pada tukang becak tetangganya. “Uang ini jauh lebih berharga bagi dia ketimbang saya, Bu,” kata Rahmat. Ibunya bercerita sambil meneteskan air mata. Kisah nyata di atas menyajikan contoh anak yang cerdas secara spiritual. Itu terjadi jauh sebelum konsep kecerdasan spiritual ramai diperbincangkan. Dan kutipan lima karakteristik orang yang cerdas secara spiritual menurut Roberts A. Emmons, The – Psychology of Ultimate Concerns:

(1)   Kemampuan untuk mentransendensikan yang fisik dan material;

(2)   Kemampuan untuk mengalami tingkat kesadaran yang memuncak;

(3)   Kemampuan untuk mensakralkan pengalaman sehari-hari;

(4)   Kemampuan untuk menggunakan sumber-sumber spiritual buat menyelesaikan masalah.

(5) Kemampuan untuk berbuat baik.

Karakteristik di atas sering disebut sebagai komponen inti kecerdasan spiritual. Anak yang merasakan kehadiran Tuhan atau makhluk ruhaniyah di sekitarnya mengalami transendensi fisikal dan material. Ia memasuki dunia spiritual. Ia mencapai kesadaran kosmis yang menggabungkan dia dengan seluruh alam semesta. Ia merasa bahwa alamnya tidak terbatas pada apa yang disaksikan dengan alat-alat indranya. Dalam interaksi sehari-hari, kalau seseorang tidak memiliki kecerdasan emosional maka hubungan yang dia lakukan adalah berdasarkan pamrih semata.Kalau orang yang beriman maka dia akan menjalin hubungan dengan orang lain, karena mengharap ridho Allah SWT (surat Al Insan ayat 9).

Sanktifikasi pengalaman sehari-hari, ciri yang ketiga, terjadi ketika kita meletakkan pekerjaan biasa dalam tujuan yang agung. Konon, pada abad pertengahan seorang musafir bertemu dengan dua orang pekerja yang sedang mengangkut batu-bata. Salah seorang di antara mereka bekerja dengan muka cemberut, masam, dan tampak kelelahan. Kawannya justru bekerja dengan ceria, gembira, penuh semangat. Ia tampak tidak kecapaian. Kepada keduanya ditanyakan pertanyaan yang sama, “Apa yang sedang Anda kerjakan? “Yang cemberut menjawab, “Saya sedang menumpuk batu.” Yang ceria berkata, “Saya sedang membangun Masjid!” Yang kedua telah mengangkat pekerjaan “menumpuk bata” pada dataran makna yang lebih luhur. Ia telah melakukan sanktifikasi.

Orang yang cerdas secara spiritual tidak memecahkan persoalan hidup hanya secara rasional atau emosional saja. Ia menghubungkannya dengan makna kehidupan secara spiritual. Ia merujuk pada warisan spiritual -seperti teks-teks Kitab Suci atau wejangan orang-orang suci- untuk memberikan penafsiran pada situasi yang dihadapinya, untuk melakukan definisi situasi

Mengelola emosi berarti bagaimana menangani perasaan agar terungkap dengan tepat. Ini bergantung pada kesadaran diri.Makanya kalau dibilang mengelola emosi itu tidak tepat, Contoh: Apabila seorang anak melakukan kesalahan,maka sang ibu sebaiknya tidak langsung memarahi. Tapi bertanya kepada sang anak, apakah dia tahu telah melakukan kesalahan. Karena, sang anak belum tentu dia tahu kesalahannya.Begitupun dengan suami. Jadi tanyalah dengan cara yang baik tidak dengan marah-marah.

Ketika Rahmat diberitahu bahwa orang tuanya tidak akan sanggup menyekolahkannya ke Jerman, ia tidak putus asa. Ia yakin bahwa kalau orang itu bersungguh-sungguh dan minta pertolongan kepada Tuhan, ia akan diberi jalan. Bukankah Tuhan berfirman, “Orang-orang yang bersungguh-sungguh dijalan Kami, Kami akan berikan kepadanya jalan-jalan Kami”? Bukankah Heinrich Heine memberikan inspirasi dengan kalimatnya “Den Menschen machtseiner Wille gro=DF und klein”? Rahmat memiliki karakteristik yang ke empat. Tetapi Rahmat juga menampakkan karakteristik yang ke lima: memiliki rasa kasih yang tinggi pada sesama makhluk Tuhan. “The fifth and final component of spiritual intelligence refers to the capacity to engage invirtuous behavior: to show forgiveness, to express gratitude, to be humble, to display compassion and wisdom,” tulis Emmons. Memberi maaf, bersyukur atau mengungkapkan terimakasih, bersikap rendah hati, menunjukkan kasih sayang dan kearifan, hanyalah sebagian dari kebajikan. Karakteristikterakhir ini mungkin disimpulkan dalam sabda nabi Muhammad saw, “Amal paling utama ialah engkau masukkan rasa bahagia pada sesama manusia.”

Dijelaskan secara singkat kiat-kiat untuk mengembangkan SQ :

(1)   Jadilah “gembala spiritual” yang baik,

(2)   Bantulah anak untuk merumuskan “missi” hidupnya,

(3)   Baca kitab suci bersama-sama dan jelaskan maknanya dalam kehidupan kita,

(4)   Ceritakan kisah-kisah agung dari tokoh-tokoh spiritual,

(5)   Diskusikan berbagai persoalan dengan perspektif ruhaniah,

(6)   Libatkan anak dalam kegiatan-kegiatan ritual keagamaan,

(7)   Bacakan puisi-puisi, atau lagu-lagu yang spiritual dan inspirasional,

(8)   Bawa anak untuk menikmati keindahan alam,

(9)   Bawa anak ke tempat-tempat orang yang menderita, dan

(10) Ikut-sertakan anak dalam kegiatan-kegiatan sosial.

1. Jadilah gembala spiritual. Orang tua atau guru yang bermaksud mengembangkan SQ anak haruslah seseorang yang sudah mengalami kesadaran spiritual juga. Ia sudah “mengakses” sumber-sumber spiritual untuk mengembangkan dirinya. Seperti disebutkan di atas yakni karakteristik orang yang cerdas secara spiritual, ia harus dapat merasakan kehadiran dan peranan Tuhan dalam hidupnya. “Spiritual intelligence is the faculty of our non-material dimension the human soul,” kata Khalil Khavari. Ia harus sudah menemukan makna hidupnya dan mengalami hidup yang bermakna. Ia tampak pada orang-orang di sekitarnya sebagai “orang yang berjalan dengan membawa cahaya.” (Al-Quran 6:122).

`tBurr& tb%x. $\GøŠtB çm»oY÷uŠômrsù $oYù=yèy_ur ¼çms9 #Y‘qçR ÓÅ´ôJtƒ ¾ÏmÎ/ †Îû Ĩ$¨Y9$# `yJx. ¼ã&é#sW¨B ’Îû ÏM»yJè=—à9$# }§øŠs9 8l͑$sƒ¿2 $pk÷]ÏiB 4 šÏ9ºx‹x. z`Îiƒã— tûï̍Ïÿ»s3ù=Ï9 $tB (#qçR%x. šcqè=yJ÷ètƒ ÇÊËËÈ

Ia tahu ke mana ia harus mengarahkan bahteranya. Ia pun menunjukkan tetap bahagia di tengah taufan dan badai yang melandanya. “Spiritual intelligence empowers us to be happy in spite of circumstances and not because of them,” masih kata Khavari. Bayangkalah masa kecil kita dahulu. Betapa banyaknya perilaku kita terilhami oleh orang-orang yang sekarang kita kenal sebagai orang yang berSQ tinggi. Dan orang-orang itu boleh jadi orang-tua kita, atau guru kita, atau orang-orang kecil di sekitar kita.

2.Rumuskan missi hidup. Nyatakan kepada anak bahwa ada berbagai tingkat tujuan, mulai dari tujuan paling dekat sampai tujuan paling jauh, tujuan akhir kita: Suatu misal ada seorang anak yang ingin melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi swasta, setelah gagal di UMPTN. Ia tidak punya apa pun kecuali kemauan. Sayang, ia belum bisa merumuskan keinginannya dalam kerangka missi yang luhur. Berikut ini adalah cuplikan percakapannya anatar anak dan yang dimintai tolong :

* Saya ingin belajar, Pak

* Untuk apa kamu belajar?

* Saya ingin mendapat pekerjaan.

* Jika belajar itu hanya untuk dapat pekerjaan, saya beri kamu pekerjaan.

* Tinggallah di rumahku. Cuci mobilku, dan saya bayar.

* Saya ingin belajar, Pak

* Untuk apa kamu belajar?

* Saya ingin mendapat pengetahuan

* Jika tujuan kamu hanya untuk memperoleh pengetahuan, tinggallah bersamaku. Saya wajibkan kamu setiap hari untuk membaca buku. Kita lebih banyak memperoleh pengetahuan dari buku ketimbang sekolah.

* Tetapi saya ingin masuk sekolah.

* Untuk apa kamu masuk sekolah?

* Saya bingung, Pak.

Kita dapat membantu anak untuk menemukan missinya. Jika kamu sudah sekolah, kamu mau apa? Aku mau jadi orang pintar. Jika sudah pintar, mau apa, what then? Dengan kepintaranku, aku akan memperoleh pekerjaan yang bagus. Jika sudah dapat pekerjaan, mau apa? Aku akan punya duit banyak.Jika sudah punya duit banyak, mau apa? Aku ingin bantu orang miskin, yang di negeri kita sudah tidak terhitung jumlahnya. Sampai di sini, kita sudah membantu anak untuk menemukan tujuan hidupnya.

3. Baca Kitab Suci. Setiap agama pasti punya kitab suci. Begitu keterangan guru-guru kita. Tetapi tidak setiap orang menyediakan waktu khusus untuk memperbincangkan kitab suci dengan anak-anaknya. Di antara pemikir besar Islam, yang memasukkan kembali dimensi ruhaniah ke dalam khazanah pemikiran Islam, adalah Dari Muhammad Iqbal. Walaupun ia dibesarkan dalam tradisi intelektual barat, ia melakukan pengembaraan ruhaniah bersama Jalaluddin Rumi dan tokoh-tokoh sufi lainnya. Boleh jadi, yang membawa Iqbal ke situ adalah pengalaman masa kecilnya. Setiap selesai salat Subuh, ia membaca Al-Quran. Pada suatu hari, bapaknya berkata, “Bacalah Al-Quran seakan-akan ia diturunkan untukmu!” Setelah itu, kata Iqbal, “aku merasakan Al-Quran seakan-akan berbicara kepadaku.”

4. Ceritakan kisah-kisah agung. Anak-anak, bahkan orang dewasa, sangat terpengaruh dengan cerita. “Manusia,” kata Gerbner, “adalah satu-satunya makhluk yang suka bercerita dan hidup berdasarkan cerita yang dipercayainya.” Para Nabi mengajar umatnya dengan parabel atau kisah perumpamaan. Para sufi seperti Al-’Attar, Rumi, Sa’di mengajarkan kearifan perenial dengan cerita. Sekarang Jack Canfield memberikan inspirasi pada jutaan orang melalui Chicken Soup-nya. Kita tidak akan kekurangan cerita luhur, bila kita bersedia menerima cerita itu dari semua sumber.

5. Diskusikan berbagai persoalan dengan perspektif ruhaniah. Melihat dari perspektif ruhaniah artinya memberikan makna dengan merujuk pada Rencana Agung Ilahi (Divine Grand Design). Mengapa hidup kita menderita? Kita sedang diuji Tuhan. Dengan mengutip Rumi secara bebas, katakan kepada anak kita bahwa bunga mawar di taman bunga hanya merkah setelah langit menangis. Anak kecil tahu bahwa ia hanya akan memperoleh air susu dari dada ibunya setelah menangis. Penderitaan adalah cara Tuhan untuk membuat kita menangis. Menangislah supaya Sang Perawat Agung memberikan susu keabadian kepadamu. Mengapa kita bahagia? Perhatikan bagaimana Tuhan selalu mengasihi kita, berkhidmat melayani keperluan kita, bahkan jauh sebelum kita dapat menyebut asma-Nya.

6. Libatkan anak dalam kegiatan-kegiatan ritual keagamaan. Kegiatan agama adalah cara praktis untuk “tune in” dengan Sumber dari Segala Kekuatan. Ambillah bola lampu listrik di rumah Anda. Bahaslah bentuknya, strukturnya, komponen-komponennya, kekutan cahayanya, voltasenya, dan sebagainya. Anda pasti menggunakan sains. Kegiatan agama adalah kabel yang menghubungkan bola lampu itu dengan sumber cahaya. Sembahyang, dalam bentuk apa pun, mengangkat manusia dari pengalaman fisikal dan material ke pengalaman spiritual. Untuk itu, kegiatan keagamaan tidak boleh dilakukan dengan terlalu banyak menekankan hal-hal yang formal. Berikan kepada anak-anak kita makna batiniah dari setiap ritus yang kita lakukan. Sembahyang bukan sekedar kewajiban. Sembahyang adalah kehormatan untuk menghadap Dia yang Mahakasih dan Mahasayang!

7. Bacakan puisi-puisi, atau lagu-lagu yang spiritual dan inspirasional. Seperti kita sebutkan di atas, manusia mempunyai dua fakultas, fakultas untuk mencerap hal-hal material dan fakultas untuk mencerap hal-hal spiritual. Kita punya mata lahir dan mata batin. Ketika kita berkata “masakan ini pahit”, kita sedang menggunakan indra lahiriah kita. Tetapi ketika kita berkata “keputusan ini pahit”, kita sedang menggunakan indra batiniah kita. Empati, cinta, kedamaian, keindahan hanya dapat dicerap dengan fakultas spiritual kita (Ini yang kita sebut sbg SQ). SQ harus dilatih. Salah satu cara melatih SQ ialah menyanyikan lagu-lagu ruhaniah atau membacakan puisi-puisi. Jika Plato berkata “pada sentuhan cinta semua orang menjadi pujangga”, kita dapat berkata “pada sentuhan puisi semua orang menjadi pecinta.”

8. Bawa anak untuk menikmati keindahan alam. Teknologi moderen dan kehidupan urban membuat kita teralienasi dari alam. Kita tidak akrab lagi dengan alam. Setiap hari kita berhubungan dengan alam yang sudah dicemari, dimanipulasi, dirusak. Alam tampak di depan kita sebagai musuh setelah kita memusuhinya. Bawalah anak-anak kita kepada alam yang relatif belum banyak tercemari. Ajak mereka naik ke puncak gunung. Rasakan udara yang segar dan sejuk. Dengarkan burung-burung yang berkicau dengan bebas. Hirup wewangian alami. Ajak mereka ke pantai. Rasakan angin yang menerpa tubuh. Celupkan kaki kita dan biarkan ombak kecil mengelus-elus jemarinya. Dan seterusnya. Kita harus menyediakan waktu khusus bersama mereka untuk menikmati ciptaan Tuhan, setelah setiap hari kita dipengapkan oleh ciptaan kita sendiri.

9. Bawa anak ke tempat-tempat orang yang menderita. Nabi Musa pernah berjumpadengan Tuhan di Bukit Sinai. Setelah ia kembali ke kaumnya, ia merindukan pertemuan dengan Dia. Ia bermunajat, “Tuhanku, di mana bisa kutemui Engkau.” Tuhan berfirman, “Temuilah aku di tengah-tengah orang-orang yang hancur hatinya.”

10. Ikut-sertakan anak dalam kegiatan-kegiatan sosial. Dari Canfield dalam Chicken Soup for the Teens. Ia bercerita tentang seorang anak yang “catatan kejahatannya lebih panjang dari tangannya.” Anak itu pemberang, pemberontak, dan ditakuti baik oleh guru maupun kawan- kawannya. Dalam sebuah acara perkemahan, pelatih memberikan tugas kepadanya untuk mengumpulkan makanan untuk disumbangkan bagi penduduk yang termiskin. Ia berhasil memimpin kawan-kawannya untuk mengumpulkan dan membagikan makanan dalam jumlah yang memecahkan rekor kegiatan sosial selama ini. Setelah makanan, mereka mengumpulkan selimut dan alat-alat rumah tangga. Dalam beberapa minggu saja, anak yang pemberang itu berubah menjadi anak yang lembut dan penuh kasih. Seperti dilahirkan kembali, ia menjadi anak yang baik – rajin, penyayang, dan penuh tanggung jawab.

G. Penutup

Kecerdasan Emosional Spritual adalah Anak yang merasakan kehadiran Tuhan atau makhluk ruhaniyah di sekitarnya mengalami transendensi fisikal dan material. Ia memasuki dunia spiritual. Ia mencapai kesadaran kosmis yang menggabungkan dia dengan seluruh alam semesta. Ia merasa bahwa alamnya tidak terbatas pada apa yang disaksikan dengan alat-alat indranya. Dalam interaksi sehari-hari, kalau seseorang tidak memiliki kecerdasan emosional maka hubungan yang dia lakukan adalah berdasarkan pamrih semata.Kalau orang yang beriman maka dia akan menjalin hubungan dengan orang lain, karena mengharap ridho Allah SWT (surat Al Insan ayat 9).

$oÿ©VÎ) ö/ä3ãKÏèôÜçR Ïmô_uqÏ9 «!$# Ÿw ߉ƒÌçR óOä3ZÏB [ä!#t“y_ Ÿwur #·‘qä3ä© ÇÒÈ

Ada tipe orang yang straight forward/berbicara langsung apa adanya. Dari sudut pandang kecerdasan emosional, orang seperti ini harus belajar memahami perasaan orang lain.

Rasulullah pernah menerima tamu, Usman bin Affan. Rasulullah selalu membetulkan bajunya ketika Usman bertamu. Karena Rasulullah tahu betul sifat Usman yang pemalu. Apalagi kalau Rasulullah berpakaian santai. Untuk itu kita perlu belajar mengenali orang lain seperti tindakan Rasulullah terhadap tamunya. Sehingga tindakan kita bisa diterima oleh orang lain

DAFTAR BACAAN

Whiterington., “Psikologi Pendidikan”, PT.Rineka Cipta. Jakarta, 1991

Muhammad Iqbal. Drs., “Rekonstruksi Pemikiran Islam”, Kalam Mulia, 1994

Irwanto. Drs. Dkk., “Psikologi Umum”, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1994

Ditulis oleh Bidang PSDM Fahima. Rabu, 20 September 2006, Pukul 20.00-21.30 JST/18.00 – 19.30 WIB), “Membangun Emosi yang Cerdas di Bulan Ramadhan”, Tempat : Radio Tarbiyah Pembicara : Ust. Adi Junjunan Mustafa.

Jalaluddin Rakhmat. Prof. Dr. KH, Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Anak”, Dikutip dari artikel lepas Yayasan Muthahari, http://www.melasayang.netfirms.com, 05 Februari 2007

Dewa Ketut Sukardi. Drs., “Analisis Tes Psikologis”, PT. Rineka Cipta, Jakarta, 1990

A. Pendahuluan

pengakuan bahwa religi suatu sistem, berarti religi itu terdiri dari bagian-bagian yang behubungan satu sama lain, dan masing-masing bagia merupakan satu sistem tersendiri. Apabilakita berbicara tentang sistem kepercayaan, maka yang dimaksud ialah seluruh kepercayaan atau keyakinan yang dianut oleh seseorang atau kesatuan sosial. Kesatuan social itu dapat berwujud suatu masyarakat dalam arti luas, tetapi dapa pula berwujud satu kelompok kekerabatan yang relatif kecil, dalam hal ini Bubuhan dalam masyarakat Banja, atau bahkan keluarga batih semata-mata, dan dapat pula berwujud suatu masyarakat daerah lingkungan tertentu. Pengkatagorian atas berbagai-bagai system kepercayaan yang ada dalam masyarakat Banjar sedikit banyak berdasarkan atas kesatuan-kesatuan sosial yang menganutnya.

B. Perkembangan Agama Atau Kepercayaan Dalam Masyarakat Banjar

Bentuk-bentuk kepercayaan dan praktek-praktek keagamaan yang bagaimana yang dianut oleh nenek-nenek moyang orang Banjar tatkala mereka mula-mula menetap di sini, sulit mencari keterangan dan bukti yang akurat untuk mengutarkan asal-usul agama dalam suku Banjar.barangkali aspek religius dari kehidupan masyarakat Bukit yang mendiami pegunungan Merartus adalah merupakan sisa-sisa yang masih tertinggal (survivals) dari kepercayaan mereka itu. Tentu saja dengan mengingart pengaruh dari agama Hindu dan Islam. Mungkin pula religi nenek moyang orang Banjar pada zaman purba itu dapat ditelusuri di kalangan suku Murba yang hidup di daerah Sumatera (Riau dan Jambi) dan Semenanjung Malaya (sekarang Malaysia Barat) pada saat ini. Dengan demikian kita bias memperkirakan bahwa religi mereka berdasarkan pemujaan nenek moyang dan adanya makhluk-makhluk halusdi sekitar mereka (animisme). Mungkin bentuk-bentuk pemujaan nenek moyang dan aspek-aspek animisme dari kegidupan keagamaan masyarakat Banjar, yang kadang-kadang masih muncul, adalah sisa-sisa dari agama mereka dahulu kala.

Tentang agama yang dianut oleh raja-raja cikal bakal sultan-sultan Banjar, Hikayat Banjar mungkin dapat dijadikan landasan. Empu Jatmika pada waktu mendirikan keraton Negaradipa konon menyuruh pula membangun candi, yang dinamakan “candi Agung”, yang bekas-bekasnya masih ada di kota Amuntai, tidak jauh dari pertemuan sungai Balangan dan Tabalong.

Dengan demikian dapat diperkirakan bahwa agama yang dianut di Negaradipa dan demikian pula agaknya di Negaradaha, ialah salah satu bentuk agama Syiwa, mungkin sekali dalam bentuk sinkretisme syiwa Budha. Pengaruh ini intensif, menurut salah satu peneliti sejarah budaya Banjar hanya terbatas dalam lingkungan Keratondan keluarga bangsawan atau pembesar-pembesar kerajaan, dan hanya berkenaan dengan daerah ibukota lalawangan (mungkin setingkat kabupaten Jawa).

Sejak pangeran Samudera dinobatkan sebagai sultan Suriansyah di Banjarmasin, yaitu kira-kira 400 tahun yang lalu, Islam telah menjadi agama resmi kerajaan menggantikan agama Hindu. Dan agaknya perubahan agama istana Hindu menjadi Islam dipandang oleh rakyat awam sebagai hal yang sewajarnya saja, dan tidak perlu mengubah loyalitas mereka. Sejak masa Suriansyah proses islamisasi berjalan cepat, sehingga dalam waktu yang relatif tidak terlalu lama, yaitu sekitar pertengahan abad-18 atau bahkan sebelumnya, Islam sudah menjadi identitas oaring Banjar.

Sebagaimana nama-nama atau barangkali lebih baik gelar-gelar bagi dewa tertinggi itu memperlihatkan adanya pengaruh Hindu dan Islam., dan sebagian lagi membayangkannya sebagai nenek moyang.

Agama Kristen mlai diperkenalkan sekitar tahun 1688 oleh seorang pastor Portugi, namun penyebaran agam Kristen secara intensif dilakukan di kalangan orang Dayak di kawasan ini oleh kegiatan zending sejak tahun 1688. orang-orang Dayak sasaran khususnya ialah yang bertempat tinggal di (propinsi) Kalimantan Tengah, sedangkan orang-orang Bukit baru terjamah oleh kegiatan pengkristenan pada permulaan abad ini.

Feuilletau de Bruyn melaporkan ditemukannya sekitar 200 orang Kristen di kalangan orang Manyan di sekitar kota Tanjung, yang tersebar dalam beberapa kampung, sedangkan beberapa penganut Kristen di Labuhan pada waktu itu tidak diperoleh sesuatu keterangan.

Setelah menceritakan tentang sultan Suriansyah, selaku sultan Banjar pertama yang menganut agama Islam, Hikayat Banjartidak menyinggung-nyinggung lagi bagaimana proses islami selanjutnya atau bagaimana pengaruh Islam terhadap pemerintahan dan kehidupan sehari-hari, selain menyebut beberapa jabatan agama, yaitu panghulu, chalifah dan chatib.

Mungkin perkembangan jabatan-jabatan agama dari yang tertinggi di ibukota kesultanan sampai yang terendah di kampong-kampung adalah atas pengaruh syekh Muhammmad Arsyad al Banjari. Pengaruh beliau terhadap pelaksanaan sehari-hari di kehidupan keagamaan orang Banjar cukup besar. Karya yang konon didasarkan atas ajaran beliau, yaitu kitab perukuna, sejak lama sekali, bahakn sampai sekarang masih, merupakan kitab pegangan bagi sebagian besar ummat Islam di Banjar, bahkan juga di daerah-daerah lainnya di Indinesia.

C. Kepercayaan Dan Keyakinan Di Masyarakat Banjar

Kepercayaan yang berasal dari ajaran Islam bukanlah satu-satunya keperyacaan religius yang dianut masyarakat Banjar, sistem ritus dan system upacara yang diajarkan Islam bukanlah satu-satunya sistem upacara yang dilakukan. Keseluruhan kepercayaan yang dianut orang Banjar penulis sejarah bedakan menjadi tiga katagori. Yang pertama ialah kepercayaan yang bersumber dari ajaran Islam. Isi kepercayaan ini tergambar dari rukun iman yang ke enam. Yang harus disebutkan di sini, sehubungan dengan karangan ini, ialah kepercayaan tentang malaikat sebagai makhluk tuhan dengan fungsi-fungsi tertentu. Dan tentang adanya kehidupan sesudah mati atau sesudah hancurnya alam semesta ini ( hari akhirat) selain manusia dan malaikat, masih ada dua jenis makhluk tuhan lai yang termasuk dalam sistem kepercayaan ini dan keduanya memang disebut dalam Al Qur’an, yaitu jin dan setan atau iblis.

Kedua, kepercayaan yang munkin ada kaitannya denga struktur masyarakat Banjar pada zaman dahulu, yaiut setidak-tidaknya pada masa sultan-sultan dan sebelumnya. Orang-orang Banjar pada waktu itu hidup dalam lingkungan keluarga luas, yang dinamakan bubuhan dan juga bertempat tinggal dalam rumah, dan belakangan, dalam lingkungan , bubuhan pula.

Kepercayaan demikian ini selalu disertai dengan keharusan bubuhan melakukan upacara tahunan, yang dinamakan atau lebih baik penulisan kategorikan sebagai aruh tahunan, disertai berbagai keharusan atau tantangan sehubungan dengan kepercayaan itu.

Ketiga, kepercayaan yang berhubungan dengan tafsiran masyarakat atas alam lingkungan sekitarnya, yang mungkin adakalanya berkaitan pula dengan kategori kedua.kepercayaan kategori pertama mungkin lebih baik dinamakan kepercayaan Islam, kategori kedua kepercayaan bubuhan dan kategori ketiga kepercayaan lingkungan. Referensi sehubungan denga kepercayaan Islam biasanya diperoleh dari ulama-ulama, kepercayaan bubuhan diperoleh dari tokoh bubuhan dan kepercayaan yang berhubungan dengan tafsiran penduduk terhadap lingkungan alam sekitar (kepercayaan lingkungan) diperoleh dari tabib-tabib, sebutan dukun dalam masyarakat Banjar, atau orang-orang tua tertentu, terutama yang tinggal di lingkungan yang bersangkutan tetapi juga yang bertempat tinggal di luarnya. Masih sehubungan dengan bentuk kepercayaan yang ketiga, kep0ercayaan lingkungan, ialah kepercayaan yang berkenaan dengan isi alam ini.

Di dalam masyarakat berkembang kepercayaan dengan minyak-minyak sakti, yang konon berkhasiat menyebabkan dagangan sipemakainya laku, ia disukai orang, menyembuhkan luka bagaimanapun parahnya, atau kebal terhadap senjata, tetapi di samping itu ada di antara minyak-minyak sakti itu yang berakibat sampingan berupa peminumnya menjadi “hantu” setelah matinya kelak, khsusnya berkenaan wanita yang minum minyak kuyang.

Masyarakat Banjar mengembangkan kegiatan berupacara hamper dalam semua bidang kehidupan: yang ia lihat dari sifatnya merupakan pelaksanaan belaka dari kewajiban-kewajiban (dan anjuran-anjuran) yang diajarkan oleh agama Islam, terjadi dalam rangka peralihan tahap-tahap hidup seorang individu, yang berulang tetap sesuai jalannya kelender, dan yang terjadi sewaktu-waktu dirasakan keperluan untuk itu.

D. Penutup

Kepercayaan dan agama yang dianut nenek moyang kita pada zaman dahulu yang berkembang hingga sekarang tidak lepas dari beberapa keyakinan tentang hal yang gaib dan dijadikan ritual penyembahan. Sejak masa syehk Arsyad al Banjari perubahan dan perkembangan agama terjadi khususnya agama Islam sedangkan agama Kristen datang di bawa oleh bangsa Portiugis dan berkembang di masyarakat Banjar sehingga terjadi keragaman agama dalam masyarakat banjar.

DAFTAR PUSTAKA

· Daud, Alfani, 1997. Islam Dan Masyarakat Banjar. Jakarta. PT. Raja Grafindo.

· Http://www.indomedia.com/bpost/pudak/journal/islam. Htm#1

UPACARA MANDI HAMIL

DALAM PANDANGAN MASYARAKAT BANJAR

Oleh : Fat Hurrahman

A. PENDAHULUAN

Berbagai upacara mandi yang ditemukan di lapangan ialah upacara mandi menjelang kawin pertama kali, upacara mandi bagi seorang wanita yang pertama kali hamil, berbagai upacara mandi sebaagi cara penyembuhan, dan mandi sebagai salah satu syarat atau bentuk amalan.

Tidak semua wanita yang hamil pertama kali harus menjalani upacara mandi. Konon yang harus menjalaninya ialah yang keturunannya secara turun temurun memang harus menjalaninya. Pada upacara mandi hamil, mungkin si calon ibu sebenarnya bukan tergolong yang wajib menjalaninya, tetapi konon bayi yang dikandungnya mungkin mengharuskannya melalui ayahnya dan dengan demikian si calon ibu ini pun harus menjalaninya pula. Lalai melakukan upacara itu konon menyebabkan yang bersangkutan atau salah seorang anggota kerabat dekat “dipingit”. Sebagai akibat peristiwa “pemingitan” itu proses kelahiran berjalan lambat.[1]

Seperti sudah dikemukakan di atas, tidak semua wanita hamil pertama kali harus melakukan upacara mandi. Yang harus melakukannya hanyalah mereka yang memang keturunan dari orang-orang yang selalu melaksanakannya. Namun dalam kenyataannya banyak ibu-ibu muda yang melaksanakan upacara itu dalam bentuknya yang sangat sederhana, meskipun konon sebenarnya tidak ada keharusan baginya untuk melakukan hal itu.

Di Anduhum dan di Rangas prosedur yang lengkap tidak berhasil ditemukan, sekalipun dinyatakan sebagian ada dilakukan oleh keturunan tertentu. Di kalangan mereka yang secara tradisional melaksanakannya pun tampaknya ada kecendrunagn untuk menyederhanakan upacara itu, mungkin karena menghindarai pembiayaannya yang besar.

Untuk melaksanakan upacara ini kadang-kadang dipadakan saja dengan meminta banyu baya kepada seorang bidan, membuat banyu Yasin sendiri yang kemudian dicampur dengan bunga-bungaan dan melakukan sendiri upacara di rumah yang dibantu oleh wanita-wanita tua yang masih berhubungan kerabat dekat dengannya atau dengan suaminya.

Sebagai syarat melaksanakan upacara mandi ini disiapkan nasi ketan dengan inti, yang dimakan bersama setelah upacara selesai. Upacara mandi yang demikian sederhana ini sebenarnya juga dilaksanakan pada kehamilan ketiga, kelima dan seterusnya di Dalam Pagar dan sekitarnya, khususnya apabila terdapat kesukaran pada kehamilan sebelumnya.[2]

B. MASA KEHAMILAN

1. Upaya Mendapatkan Keselamatan

Wanita yang hamil pertama kali (tian mandaring) harus diupacara mandikan. Keharusan melakukan upacara mandi hamil ini konon hanyalah berlaku bagi wanita nag turun temurun melakukan upacara ini. Seorang wanita yang keturunannya seharusnya tidak mengharuskan dilakukannya upacara itu, tetapi karena kondisi si bayi dalam kandungan mengharuskannya melalui ayahnya, si wanita itu harus pula menjalaninya. Jika tidak konon wanita itu dapat dipingit, sehingga umpamanya si bayi lambat lahir dan akibatnya ia sangat menderita karenanya.[3]

Dalam kehidupan masyarakat Banjar yang masih terikat akan tradisi lama, apabila seseorang wanita yang sedang hamil untuk kali pertamanya, ketika usia kehamilan mencapai tiga bulan atau pada kehamilan tujuh bulan maka diadakanlah suatu upacara dengan maksud atau tujuan utama untuk menolak bala dan mendapatkan keselamatan. Karena menurut kepercayaan sebagian masyarakat Banjar, bahwa wanita yang sedang hamil tersebut suka diganggu mahluk-mahluk halus yang jahat.[4]

Upacara ini juga mempunyai maksud dan tujuan untuk keselamatan bagi ibu yang sedang hamil serta keselamatan bagi seluruh keluarganya. Bagi masyarakat Banjar Hulu Sungai khususnya, menganggap bahwa angka ganjil seperti 3, 7 dan 9 bagi yang hamil merupakan saat-saat yang dianggap sakral. Bukankah kelahiran sering terjadi pada bulan ke7 dan bulan ke-9? Dan menurut kepercayaan mereka bahwa roh-roh halus dan hantu selalu berusaha mengganggu si ibu dan dan bayi dalam kandungan, karena menurut mereka bahwa wanita hamil 3 bulan itu baunya harum.[5]

Pada masyarakat Banjar Batang Banyu telah diketahui ada suatu upacara yang disebut “Batapung Tawar Tian (hamil) Tiga Bulan”, menyusul kemudian dilaksanakan upacara mandi “Tian Mandaring” ketika kehamilan telah berusia tujuh bulan. Tetapi pada masyarakat Banjar Kuala sampai saat ini hanya mengenal dan melakukan upacra mandi “Tian Mandaring” atau sering pula disebut upacara mandi “Bapagar Mayang”. Dikatakan demikian karena upacara tersebut dikelilingi oleh benang yang direntangkan dari tiang ke tiang tersebut di tebu (manisan) serta tombak (bila ada), sehingga merupakan ruang persegi empat pada benang-benang tersebut disangkutkan mayang-mayang pinang dan kelengkapan lainnya. Adapun tata pelaksanaan upacara “Mandi Tian Mandaring” ini akan dikupas pada pembahasan selanjutnya.

Upacara mandi dengan bepagar mayang ini kebanyakan dilaksanakan oleh kelompok, tutus bangsawan atau tutus candi, tetapi pada kebanyakan rakyat biasa atau orang yang tidak mampu tetapi ingin melaksanakan upacara in, maka pelaksanaan cukup sederhana saja tanpa menggunakan pagar mayang.

Selain upacara yang berupa mandi tersebut, adapula beberapa upaya yang diusahakan oleh para orang tua untuk anak atau menantunyayang sedang hamil sebagai wujud sebuah pengharapan dari seluruh keluarga agar ibu yang akan melahirkan kelak selamat dan tidak ada gangguan pada saat persalinan (kada halinan) serta anak yang lahir sempurna keadaannya. Upaya-upaya tersebut antara lain:

1. Mengingatkan anak menantunya yang sedang hamil untuk menghindari dari hal-    hal yang bersifat pantangan (tabu).

2. Memberikan doa atau bacaan al-Qur’an untuk dijadikan amalan selama masa     kehamilan.

3. Meminta air (banyu tawar) yang telah dibacakan doa-doa dari seorang tabib atau     orang pintar.[6]

2. Hal-hal yang Berupa Pantangan

Sebagian dari kelompok masyarakat yang masih memakai adat tradisi lama, hal-hal yang bersifat pantangan atau pamali masih mereka yakini, namun sebagiannya tidak memperdulikan hal-hal yang bersifat pantangan tersebut. Sebab sebagian beranggapan bahwa hal-hal yang seperti tidak masuk akal (mustahil) dapat mempengaruhi kehamilan. Hal-hal yang berupa pantangan tersebut antara lain:

1. Tidak boleh duduk di depan pintu, dikhawatirkan akan susah melahirkan.

2. Tidak boleh keluar rumah pada waktu senja hari menjelang waktu maghrib,     dikhawatirkan kalau diganggu mahluk halus atau roh jahat.

3. Tidak boleh makan pisang dempet, dikhawatirkan anak yang akan dilahirkan akan     kembar dempet atau siam.

4. Jangan membelah puntung atau kayu api yang ujungnya sudah terbakar, karena     anak yang dilahirkan bisa sumbing atau anggota badannya ada yang buntung.

5. Jangan meletakan sisir di atas kepala, ditakutkan akan susah saat melahirkan.[7]

6. Dilarang pergi ke hutan, karena wanita hamil menurut kepercayaan mereka baunya     harum sehingga mahluk-mahluk halus dapat mengganggunya.

7. Dilarang menganyam bakul karena dapat berakibat jari-jari tangannya akan     berdempet menjadi satu.[8]

Pantangan-pantangan tersebut di atas bukan hanya pada si calon ibu saja, tetapi juga berlaku terhadap suaminya.

3. Pemeliharaan Kehamilan dan Keselamatan

Cara pemeliharaan kehamilan tidaklah berbeda dengan wanita-wanita dari suku lain. Pusat Kesehatan Masyarakat (puskesmas) banyak mereka kunjungi untuk memeriksa kehamilan. Selain itu pemeriksaan kehamilan secara tradisional pun mereka lakukan yaitu dengan cara:

1. Melakukan pijatan atau dengan istilah Banjar “Baurut” pada seorang dukun beranak atau bidan kampung yang ahli dalam bidang pijatan (urut).

2. Membatasi diri untuk tidak terlalu suka minum air es.

3. Memperbanyak makan sayur dan buah-buahan.

4. Jika perut terasa sakit karena masuk angin, oleh bidan kampung disuruh     meminum air rebusan gula merah dengan jahe (tipakan).

5. Jika kaki bengkak, maka digosok dengan wadak panas atau ramuan beras kencur.

C. UPACARA MANDI HAMIL

1. Nama Upacara dan Tahap-tahapnya.

Berbagai nama bagi upacara mandi hamil ialah: mandi-mandi matian, mandi baya, mandi bepapai dan badudus. Dinamakan mandi baya karena menggunakan antara lain banyu baya, air yang disiapkan oleh bidan khusus untuk keperluan tersebut. Dinamakan bapapai karena memapai, yaitu memercikan air dengan berkas daun-daunan, merupakan salah satu acara pokok dalam upacara ini. Badudus ialah istilah lain bagi upacara mandi (bandingkan dengan duduk dalam ras.1968: Glosary dan Index), demikian pula mandi-mandi atau bamandi-mandi. Tambahan kata batian pada istilah mandi-mandi untuk membedakannya dengan upacara mandi lainnya (hamil, batian, memperoleh hamil). Kata baya dalam ungkapan banyu baya dan mandi baya tidak jelas artinya.[9]

Untuk mengetahui makna atau pengertian, baiklah kita lihat atau kita tinjau dari pengertian istilah atau nama dari upacara ini, yaitu “Betapung Tawar Tian Tiga Bulan”. Betapung berasal dari kata tapung dalam bahasa Banjar maksudnya mengikat atau mendekatkan antara satu benda dengan benda yang lain. “Ba” adalah satu awalan dalam bahasa Banjar, di mana digunakan untuk menunjukan pekerjaan dan berfungsi sebagai penegas dari kata tapung. Sedangkan tawar berarti terang atau selamat. Sedangkan tian maksudnya adalah kehamilan atau hamil atau kandungan yang berada dalam rahim ibu yang sedang mengandung.

Oleh Karena itu Batapung Tawar Tian Tiga Bulan berarti suatu upacara yang bertujuan untuk mendapatkan keselamatan bagi wanita yang sedang hamil atau mengandung tiga bulan.

Secara kata atau istilah berarti bahwa Batapung Tawar Tian Tiga Bulan ialah memercikan air tepung tawar kepada wanita yang sedang hamil tiga bulan.[10]

2. Waktu Penyelenggaraan Upacara

Upacara mandi ini harus dilaksanakan pada umur kehamilan tujuh bulan atau tidak lama sesudahnya. Upacara mandi ini harus dilaksanakan pada waktu turun bulan, khususnya pada hari-hari dalam minggu ke tiga bulan Arab. Apabila karena sesuatu hal upacara mandi tidak dapat dilaksanakan pada waktu tersebut, pelaksanaannya ditunda pada bulan berikutnya. Juga upacara ini harus dilaksanakan pada waktu turun matahari, upacara ini biasanya dilakukan sekitar jam 14.00 dan tidak pernah setelah jam 16.00. Secara darurat upacara mandi ini pernah dilaksanakan di Dalam Pagar, yaitu pada saat si wanita sudah hampir melahirkan. Si wanita ini sudah lama sakit akan melahirkan, dan oleh bidan yang menolongnya dinyatakan bahwa meskipun si wanita bukan keturunan yang harus melakukan upacara itu, tetapi si bayi mengharuskannya melalui ayahnya. Oleh karena itu upacara mandi secara darurat dilaksanakan, yaitu hanya sekedar menyiram dan memerciki si ibu dengan banyu baya. Segera setelah selesai dimandikan tersebut konon lahirlah bayinya.

3. Tempat Penyelenggaraan Upacara

Para informan di Dalam Pagar menyatakan upacara ini harus dilaksankan di dalam pagar mayang. Pada upacara yang berhasil diamati di Akar Bagantung dan Teluk Selong (1979), pagar mayang memang digunakan, tetapi pada upacara mandi yang dilaksanakan di Dalam Pagar (1980) tidak dibangun pagar mayang, melainkan cukup dilaksanakan di atas palatar belakang.[11]

4. Pihak yang Terlibat dalam Upacara

Pihak yang terlibat dalam upacara ini di antaranya:

- Orang tua dari kedua belah pihak baik itu ibu kandung atau ibu mertua.

- Saudara-saudara, kerabat-kerabat seperti julak (saudara ibu), uma kacil (adik ibu)   dan begitu pula dari pihak mertua.

- Di pimpin oleh bidan kampong (dukun beranak) dan Tuan Guru (mualim) yang    membacakan doa selamat setelah upacara berakhir.

Selain pihak-pihak di atas masih ada yang terlibat dalam upacara tersebut, yakni para undangan yaitu wanita-wanita tetangga dan kerabat dekat, umumnya terdiri dari ibu-ibu muda dan wanita-wanita muda yang sudah kawin. Wanita-wanita tua yang hadir biasanya adalah mereka yang banyak tahu tentang upacara ini atau karena diperlukan untuk membantu bidan melaksanakannya.

5. Persiapan dan Perlengkapan Upacara

Upacara mandi hamil mengharuskan tersedianya 40 jenis penganan atau “wadai ampat puluh”. Mungkin sebenarnya berjumlah 41, atau bahkan lebih. Wadai 40 ini terdiri dari: apam (putih dan merah), cucur (putih dan merah), kawari, samban, tumpiangin (sejenis rempeyek di Jawa, tetapi kali ini tidak menggunakan kacang tanah melainkan kelapa iris), cicin (cincin, perhiasan dipakai di jari, dua jenis dan tiga warna), parut hayam (perut lilit ayam, tiga warna), sarang samut (sarang semut, tiga warna), cangkaruk (cengkaruk), ketupat (empat jenis), nasi ketan putih (dengan inti di atasnya), wajik, kokoleh (putih dan merah), tapai, lemang, dodol, madu kasirat (sejenis dodol tapi masih muda), gagati (empat jenis), dan sesisir pisang mahuli.[12]

Sedangkan hidangan untuk para tamu ialah nasi ketan (dengan inti) dan apam dari wadai 40 ini, tetapi bisa juga ketupat dan sayur tumis ditambah dengan nasi ketan, atau hidangan lainnya. Tetapi di Anduhum konon kadang-kadang ada keharusan (dahulu) menghidangkan bubur ayam, yang mungkin mengandung perlambang tertentu pula. Dapat diduga meskipun terdapat kesamaan dalam jumlah jenis penganan yang harus dihidangkan pada upacara mandi hamil di Martapura namun terdapat perbedaan tentang keharusan adanya jenis-jenis penganan tertentu tergantung pada kerabat yang melaksanakannya. Pada upacara mandi yang diamati di Dalam Pagar terdapat detail-detail seperti yang akan dijelaskan di bawah ini.

Kue apam dan cucur, masing-masing berwarna merah dan putih, adalah kue-kue yanag biasa dipergunakan sebagai syarat upacara batumbang, yang dilaksanakan setelah upacara mandi selesai. Kue samban dan kawari merupakan lambang jenis kelamin bayi yang akan lahir. Samban melambangkan jenis kelamin perempuan dan kawari melambangkan jenis kelamin pria. Apam, cucur, kokoleh, wajik, nasi ketan, dodol dan madu kasirat merupakan kue-kue yang harus ada karena menggunakan air sungai Kitanu. Nasi ketan kuning dan telur rebus di atasnya merupakan sajian untuk buaya kuning yang konon (dahulu) menghuni sebuah lubuk dekat balai padudusan di tepi sungai Kitanu. Kue gagati jumlahnya harus sembilan dan ketupat jumlahnya harus tujuh. Tidak berhasil diungkapkan untuk siapa disajikan dan mengapa harus sembilan dan tujuh, sedangkan kue-kue lainnya tidak harus demikian.

Di Dalam pagar mayang, atau di tempat upacara mandi akan dilaksanakan, diletakan perapen, dan berbagai peralatan mandi. Sebuah tempayan atau bejana plastik berisi air tempat merendam mayang pinang (terurai), beberapa untaian bunga (kembang berenteng), sebuah ranting kambat, sebuah ranting balinjuang dan sebuah ranting kacapiring. Sebuah tempat air yang lebih kecil berisi banyu baya, yaitu air yang dimantrai oleh bidan, sebuah lagi berisi banyu Yasin, yaitu air yang dibacakan surah Yasin, yang sering dicampuri dngan banyu Burdah yaitu air yang dibacakan syair Burdah. Selain itu pada pengamatan di Dalam Pagar, terdapat sebuah gelas berisi air (banyu) sungai Kitanu. untuk keperluan mandi ini terdapat juga kasai (bedak, param) temugiring dan keramas asam jawa atu jeruk nipis. Dahulu, sebagai tempat duduk si wanita hamil itu diletakan sebuah kuantan (sejenis panci terbuat dari tanah yang diletakan tengkurap dan di atasnya diletakan bamban (bamban bajalin). Merupakan alat mandi pula ialah mayang pinang yang masih dalam seludangnya, kelapa tumbuh (berselimut kain kuning), benang lawai dan kelapa muda.

Untuk keperluan mandi hamil diperlukan dua buah piduduk. Sebuah akan diserahkan kepada bidan yang memimpin upacara dan yang membantu proses kelahiran, dan sebuah lagi sebagai syarat upacara. Yang pertama dilengkapi dengan rempah-rempah dapur, sedangkan yang sebuah lagi termasuk di dalamnya alat-alat yang diperlukan untuk melahirkan, ayam, pisau dan sarung berwarna kuning. Konon jenis kelamin ayam harus sesuai denagn jenis kelamin bayi yang akan lahir, sehingga praktis tidak mungkin disediakan, dan demikian pula alat-alat yang diperlukan untuk melahirkan biasanya juga belum tersedia, namun harus tegas dinyatakan sebagai ada. Bagian dari piduduk yang belum tersedia ini dikatakan sebagai “dihutang”, sebagai syarat menyediakan barang yang belum ada ini harus disediakan nasi ketan dengan inti, yang dihidangkan kepada hadirin setelah upacara selesai.

6. Proses Upacara

Berikut upacara mandi yang terjadi di Teluk Selong, sebuah kampung yang terletak bersebrangan sungai dengan Dalam Pagar.

Wanita hamil yang diupacarakan memakai pakaian yang indah-indah dan memakai perhiasan, duduk di atas lapik di ruang tengah sambil memangku sebiji kelapa tumbuh yang diselimuti kain kuning menghadapi sajian wadai ampat puluh. Setelah beberapa lama duduk dengan disaksikan oleh para undangan wanita, perempuan hamil itu turun ke pagar mayang sambil menggendong kelapa tumbuh tadi. Ketika ia turun ke pagar mayang, ia menyerahkan kelapa yang digendongnya kepada orang lain, bertukar pakaian dengan kain basahan kuning sampai batas dada, lalu duduk di atas bamban bajalin, sedemikian sehingga kuantan tanah langsung remuk. Para wanita tua yang membantunya mandi (jumlahnya selalu ganjil, sekurang-kurangnya tiga dan paling banyak tujuh orang dan seorang di antaranya bertindak sebagi pemimpinnya, yaitu biasanya bidan) menyiraminya dengan air bunga, membedakinya dengan kasai temugiring lalu mengeramasinya.

Selanjutnya para pembantunya itu berganti-ganti mamapaikan berkas mayang, berkas daun balinjuang dan berkas daun kacapiring kepadanya dan kadang-kadang juga kepada hadirin di sekitarnya. Proses berikutnya ialah menyiramkan berbagai air lainnya, yaitu banyu sungai Kitanu, banyu baya, yang telah dicampur dengan banyu Yasin atau banyu doa, dan banyu Burdah. Setiap kali disiram dengan air-air tersebut, si wanita hamil diminta untuk menghirupnya sedikit. Sebuah mayang pinang yang masih belum terbuka dari seludangnya diletakkan di atas kepala wanita hamil tersebut lalu ditepuk, diusahakan sekali saja sampai pecah. Mayang dikeluarkan dari seludangnya lalu diletakkan di atas kepala wanita hamil dan disirami dengan air kelapa muda tiga kali berturut-turut dengan posisi mayang yang berbeda-beda. Kali ini juga airnya harus dihirup oleh wanita hamil itu.

Kemudian diambil dua tangkai mayang dan diselipkan di sela-sela daun telinga si wanita hamil masing-masing sebuah. Lalu dua orang perempuan tua membantunya meloloskan lawai dari kepala sampai ke ujung kaki, tiga kali berturut-turut. Untuk melepaskan lawai dari kakinya, pada kali yang pertma ia melangkah ke depan, kali yang ke dua melangkah ke belakang dan terakhir kembali melangkah ke depan.

Sesudah itu badannya dikeringkan dan ia berganti pakaian lalu keluar dari pagar mayang. Di luar telah tersedia sebiji telur ayam yang harus dipijakinya ketika melewatinya. Ketika ia keluar untuk kembali ke ruang tengah ini dibacakan pula shalawat berramai-ramai. Di ruang tengah si wanita hamil itu kembali duduk di atas lapik di hadapan tamu-tamu, disisiri dan disanggul rambutnya. Pada saat itu juga di tepung tawari, yaitu dipercikan minyak likat beboreh dengan anyaman daun kelapa yang dinamakan tepung tawar.

Setelah itu lalu batumbang dibacakan doa selamat oleh salah seorang hadirin. Sementara itu si wanita hamil menyalami semua wanita yang hamil menyalami semua wanita yang hadir, lalu masuk ke dalam kamarnya. Setelah itu hidangan pokok diedarkan dan kemudian ditambah dengan hidangan tambahan berupa nasi ketan (dengan inti), apam, cucur dan kue-kue lainnya yang sebelumnya dipamerkan sebagai saji. Sebagian kue saji harus disiapkan untuk dibawa pulang oleh bidan dan perempuan-perempuan tua yang tadi membantu si wanita hamil itu mandi.

7. Arti Lambang dan Makna di Balik Upacara

Dalam upacara mandi ini dilambangkna kelancaran proses kelahiran dengan berbagai cara, yaitu:

1. Pecahnya kuantan tanah ketika diduduki melambangkan pecahnya ketuban.

2. Pecahnya mayang dengan sekali tepuk saja menandakan proses kelahiran akan     berjalan dengan lancar, tetapi bila perlu ditepuk beberapa kali agar pecah, konon     menandakan proses kelahiran akan terganggu (halinan baranak), meskipun          diharapkan akan berakhir dengan selamat juga.

3. Proses kelahiran diperagakan dengan meloloskan lawai pada tubuh si wanita     mengisyaratkan mudahnya proses itu.

4. Pecahnya telur ketika dipijak juga melambangkan prose kelahiran yang cepat pula.

5. Kelapa tumbuh yang dipangku dan kemudian digendong melambangkaan bayi.

6. Memerciki dengan tepung tawar ialah guna memberkatinya.

7. Dan batumbang konon akan memperkuat semangatnya.

D. PENUTUP

Pada sebagian masyarakat Banjar dalam hal kehamilan masih melakukan daur hidup yang berupa upacara adat maupun berupa hal-hal yang dipercayai sehingga menimbulkan adanya pantangn atau tabu.

Upacara kehamilan yang berupa upacara mandi tian mandaring sampai sekarang masih berlangsung terutama sering dilakukan di daerah-daerah pedesaan yang masih kuat dengan tradisi dalam kehidupan sehari-hari sedangkan pada masa perkotaan yang sudah mengalami perkembangan kemajuan alam pikiran dan teknologi sebagian telah meninggalkan beberapa upacara adat dan tidak lagi mengindahkan berupa hal-hal yang dipercayai yang bersifat mustahil. Kalaupun mereka lakukan, kadang-kadang sudah berpadu dengan unsur modern. Baik dalam adat upacara maupun dalam pelaksanaan upacara lebih menitik beratkan pada unsur-unsur yang praktis daripada unsur-unsur yang bersifat magis.

Bagi masyarakat Banjar yang masih memakai adat, terutama yang berhubungan dengan kehamilan dan kelahiran dengan segala pantangannya, dalam hal upacara adat selalu mereka selenggarakan walaupun diimplemantasikan dalam bentuk upacara yang sangat sederhana sekali sebatas sebagai persyaratan belaka. Karena mereka khawatir akan dapat berakibat buruk terhadap bayi yang dikandungnya apabila tidak melaksanakan upacara adat. Oleh karena tujuan utama penyelenggaraan upacara untuk mengusir roh-roh jahat yang dapat mengganggu kehamilan.

Adanya lapisan kebudayaan lama / asli dengan segala unsur religinya yang berakulturasi yang mana unsur agama lebih banyak sekali mempengaruhi adat istiadat kebudayaan masyarakat Banjar. Karena masyarakat Banjar merupakan penganut agama Islam yang kuat, namun walaupun demikian sebagian masyarakat Banjar masih mempercayai kepercayaan lama yang berupa kepercayaan terhadap roh-roh halus yang dapat mengganggu kehidupannya. Karena itu setiap upacara adat yang merupakan daur hidupnya suku Banjar dilaksanakan secara Islami namun tidak meninggalkan unsur kepercayaan lama, dan sampai sekarang masih berkembang di masyarakat walaupun sebagiannya sudah hampir punah.

DAFTAR RUJUKAN

1. Daud, Alfani. 1997. Islam dan Masyarakat Banjar. Jakarta. Raja Grafindo Persada.

2. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Kebudayaan Rirektorat Permuseuman Museum negri Propinsi Kal-Sel Lambung Mangkurat 1999/2000. Upacara Kehamilan dan Kelahiran dalam Pandangan Masyarakat Banjar.

3. Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaaan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Kebudayaan Direktorat Sejarah daan Nilai Tradisional. 1981/1982. Upacara Tradisional (sejak anak dalam kandungan, lahir sampai dewasa).


[1] Alfani Daud, Islam dan Masyarakat Banjar, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1997, hal.259.

[2] Ibid., hal.268.

[3] Ibid., hal.263.

[4] Departemen Pend. &Kebud…., Upacara Kehamilan & Kelahiran dalam Pandangan Masyarakat Banjar.

[5] Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Upacara Tradisional (sejak anak dalam kandungan, lahir sampai dewasa), 1981, hal.25.

[6] Departemen Pend. & Kebud….., op.cit.

[7] Ibid., hal…

[8] Proyek Inventarisasi……, op. cit.

[9] Alfani Daud, loc. cit., hal. 263.

[10] Proyek Inventarisasi……, op. cit.h.25.

[11] Alfani daud, op.cit., hal.265.

[12] Ibid., hal.264.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 181 pengikut lainnya.