Archive for 12- April- 2008


AGAMA SEBAGAI KRITIK BUDAYA

AGAMA SEBAGAI KRITIK KEBUDAYAAN

A. Pendahuluan

Berkembangnya kehidupan manusia membuat berkembang pula kebudayaan yang ada. Perkembangan kebudayaan pun ada yang bersifat positif ada pula yang bersifat negatif, disini agama merupakan suatu pengkritik kebudayaan tersebut yang mana akan mengarahkannya.

Dengan adanya ktitikan-kritikan agama inilah sehingga akan tercipata suatu kebudayaan yang positif dan tidak merusak tatanan kehidupan manusia.

B. Kebudayaan

Saat ini, renungan tema kebudayaan tidaklah bertujuan untuk dirinya sendiri, melainkan hanya sebuah alat atau sarana. Artinya, merenungkan sebuah tema besar kebudayaan bukan merupakan suatu usaha teoritis, melainkan sudah memasuki usaha penyediaan sarana-sarana yang dapat membantu kita dalam memaparkan suatu strategi kebudayaan di masa depan.

Adapun paradigma kebudayaan sendiri dapat dijelaskan melalui penjelasan penting, yakni:

Pertama, dahulu orang berendapat bahwa kebudayaan meliputi segala manifestasi kehidupan, seperti agama, kesenian, fiksafat, ilmu pengetahuan dan sebagainya. Saat ini, kebudayaan sudah menjadi manifestasi kehidupan setiap individu.

Kedua, kebudayaan pada masa kini lebih dipandang sebagai suatu yang dinamis, bukan suatu yang statis. Dalam ungkapan lain, kebudayaan dimasa lalu dipahami sebagai sebuah “kata benda,” tetapi sekarang ini sudah diartikan sebagai “kata kerja”. Artinya kebudayaan bukan sebuah koleksi barang-barang (benda), tetapi sudah dihubungkan dengan aktifitas manusia dalam membuat alat-alat, tarian-tarian, hingga mantera-mantera yang menenteramkan. Dalam arti ini maka tradisi juga merupakan bagian dari kebudayaan.

Untuk itu, yang dibutuhkan manusia sekarang ini dalam menggeluti kebudayaan adalah gambaran yang jelas atau “peta-peta”, paling tidak sebagai “tipe ideal” dalam istilah Max Webber. Adapun peta yang dibutuhkan disini adalah peta yang menggambarkan mengenai kebudayaan sendiri (yang local), dan kebudayaan manusia secara keseluruhan yang bersifat universal.

C. Peta Sebagai Tipe Ideal

Banyak filosof atau sosiolog yang telah mencoba menggambarkan peta-peta tersebut. Misalnya, filosof positifis A. Comte menggambarkan perubahan dari “masyarakat agama” ke “masyarakat metafisik” hingga kepada “masyarakat positif” yang sekarang ini berkembang sedemikian pesatnya. Dalam teori sosiologi dan antropologi, juga dijelaskan secara detail gambaran mengenai perubahan (kebudayaan) masyarakat sebagaimana yang dirumuskan A. Comte .

Adapun tahapan perkembangan kebudayaan meliputi tiga tahapan, yaitu:

1. Tahap mistis

Yaitu suatu tahapan kebudayaan yang pertama, di mana manusia merasakan dirinya terkepung suatu kekuatan-kekuatan ghaib yang berada di sekitarnya sehingga manusia merasa terkepung oleh kekuatan-kekuatan tersebut.

2. Tahap ontologis

Yakni suatu tahapan kebudayaan yang kedua, dimana manusia tidak lagi merasakan hidupnya berada dalam suatu kepungan kekuatan mistik, melainkan sudah secara bebas ingin mengetahui dan meneliti segala “hal ihwal.”

3. Tahap Fungsional

Yakni suatu tahapan kebudayaan yang ketiga, di mana sikap manusia- maksudnya manusia modern sekarang ini sudah mulai ditandai dengan “cita-cita humanismenya.”

D. Titik Lemah dibalik “peta”

Pembagian dalam peta-peta kebudayaan tersebut memberi tahu kita bahwa dalam setiap kebudayaan pada dasarnya tersimpan “titik kuat” sebagai suatu kekuatan, tetapi sekaligus terbongkar “titik lemah”. Adapun titik lemah pada peta-peta tersebut adalah:

  1. Pada tahap mistik, titik lemahnya terletak pada ditemukannya praktik-praktik magis yang mencoba mendamaikan semua proses social dan alamiah yang terjadi.
  2. Pada tahap kebudayaan ontologis, titik lemahnya terjadi pada kecenderungan “substansialisme.” Artinya, manusia melihat segala sesuatu hanya dari sudut pandang hakikatnya saja.
  3. Pada tahap kebudayaan fungsional terdapat kecenderungan “negatif operasionalistik.”

E. Agama Sebagai Kritik Kebudayaan

Penting ditekankan bahwa agama memiliki peran besar sebagai kritik kebudayaan. Maka, seorang agamawan di tengah krisis modernitas, ditantang untuk menyajikan pada kehidupan modern dewasa ini, detail-detail kearifan agamanya, yang memang otentik ada dalam tradisis besar agama-agama sejak masa lalu.

Di sinilah seorang teolog atau ahli agama, dituntut untuk bisa merumuskan suatu platform yang tidak hanya berisi legitemasi, tetapi justru memberikan kritik terhadap kebudayaan. Jelasnya agama harus berdimensi kritis terhadap kebudayaan manusia. Kebudayaan harus juga dinilai dalam perspektif ke arah mana ia akan membawa manusia. Kalau dulu, agama sekedar diasumsikan hanya mengurusi “dosa-dosa individu,” maka saatnya sekarang ini memfungsikan agama sebagai kritik terhadap kebudayaan manusia, yang cenderungyang telah mengalam proses “skularisasi.” Dalam konteks ini, berarti nilai-nilai masyarakat yang agamis harus berhadapan dengan nilai-nilai baru yang sangat menekankan rasionalitas. Dan ini pun merupakan masalah serius yang menimbulkan ketegangan nilai. Oleh karena itu, agama harus meminimalisir kecenderungan “sekularisasi kebudayaan,” sebagaimana sudah terjadi di Barat. Tentu saja, ini merupakan tugas berat kaum agamawan untuk merumuskan operasionalisasinya. Lagi pula, para teolog juga harus membuktikan bahwa agama adalah asasi dalam suatu platform yang operasional. Dan kesemua itu dapat dilakukan dengan sebagai berikut:

Pertama, bahwa fungs kritis agama harus dilakukan dengan menjauhi sikap-sikap yang sifatnya totaliter.

Kedua, agama (agamawan) dalam menerangkan fungsi kritisnya secara konkrit,harus memiliki pengetahuan-pengetahuan emperis yang tangguh.

Ketiga, agama tidak bisa bersifat polotis dalam pengertian hanya membatasi diri pada masalah ritualistik dan moralitas dalam kerangka ketaatan individu kepada Tuhannya, tetapi perlu terlibat kedalam proses transformasai social, sehingga fungsi kemanusiaan agama bisa tercapai.

Keempat, perlunya mendevinisikan kembali pertobatan dalam keberagaman manusia.

F. Penutup

Sudah jelas dikatan diatas bahwa kita perlu merubah paradigma-paradigma dahulu tentang fungsi agama yang hanya mengurus hal-hal yang berkaitan tentang dosa-dosa individu saja, melainkan agama juga sebagai pengkritis kebudayaan. Dengan kritikan agamalah yang dpat mengarahkan kebudayaan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Rachman, Budhy Munawar, Islam Pluralis, Jakarta, Paramadina, 2001

POLIGAMI

BAB I

PENDAHULUAN

Salah satu bagian yang sampai saat ini masih ramai diperbincangkan dalam ilmu fiqih yaitu fiqih munakahah. Di dalam fiqih munakahah yang sangat laku menjadi bahan diskusi di kalangan kita adalah soal poligami. Poligami merupakan persoalan yang pelik yang dihadapi oleh kaum perempuan khususnya dan Islam pada umumnya.

Menurut pakar psikologi maupun seksiologi, seorang laki-laki yang memasuki usia 30–40 an mempunyai gairah seks yang meledak-ledak. Umumnya disebut masa puber ke-2 dan punya fasilitas, ia cenderung banyak tingkah. Meskipun tidak semuanya, tetapi kebanyakan mereka yang tergolong sukses, mencoba bermain-main dengan apa yang disebut WIL (wanita idaman lain). Sedangkan bagi yang jujur biasanya merengek-rengek kepada istrinya agar diperbolehkan kawin lagi.

Sebenarnya keinginan untuk berselingkuh dengan WIL atau terang-terangan ingin kawin lagi bukan semata-mata karena dorongan kebutuhan seksual saja. Tetapi juga dipengaruhi oleh suatu kecenderungan agar ia dianggap hebat. Bagi laki-laki “tukang kawin” akan merasa bangga jika dirinya dianggap berhasil dalam menghidupi beberapa istrinya yang rukun-rukun saja.

Berpoligami tidak dilarang dalam Islam.boleh saja seorang lelaki mempunyai dua atau tiga bahkan empat orang istri. Tetapi ada syarat-sayarat berat yang harus dipenuhi, yaitu bersikap adil kepada istri-istrinya. Bersikap adil yang dimaksudkan dalam berpoligami adalah adil dalam segala-galanya. Tak sedikit laki-laki “berlindung” pada alasan bahwa keinginannya berpoligami itu meniru cara Nabi Muhammad. Di mana, saat itu Nabi mempunyai istri lebih dari satu. Lalu ketika niatnya menggebu-gebu ia berjanji pada istri pertama bahwa ia akan berlaku seadil-adilnya kepada istrinya yang kedua atau ketiga.

Ada pula yang beralasan berpoligami itu lebih baik untuk menyalurkan nafsu syahwat yang berlebih-lebihan. Mereka bilang, “daripada berzina lebih baik kawin lagi, walaupun dengan cara siri”.

Ada seorang lelaki yang mempunyai dua orang istri dengan bangganya ia bercerita katanya ia berhasil manjadi lelaki tulen karena bisa berpoligami dan menyatukan dua hati. Bahkan dua istrinya itu hidup bersama dalam satu rumah. Alasan mengapa ia berpoligami, karena selama kawin dengan istri pertama tak di karuniai anak. Tanpa memeriksakan diri ke doktor, suami itu secara tidak langsung menuduh istrinya yang mandul. Dengan bersenjatakan hal yang demikian itu, ia menekan agar istrinya memperbolehkan ia berpoligami. Meskipun pada awalnya terjadi perdebatan, akhirnya keinginannya terkabul. Ia kawin lagi dengan gadis yang lebih muda dari istrinya. Sampai bertahun tahun lamanya, dengan istri kedua pun mereka tak mendapatkan anak. Kesimpulannya bahwa bukan istri istrinya yang mandul.

Jadi sebelum memutuskan untuk kawin lagi, hendaknya kita bertanya pada diri sendiri, berpikir dengan nurani yang merdeka tidak terpengaruh nafsu. Sudahkah tujuan kita itu dengan aturan-aturan Islami. Kalau keinginan berpoligami itu masih dipengaruhi oleh nafsu syahwat atau ingin mendapat pujian sebagai lelaki hebat, sebaiknya niat itu di tunda dulu. Karena berpoligami itu tidak semudah yang dibayangkan.

BAB II

MONOGAMI, POLIGAMI DAN POLIANDRI

A. Monogami, Poligami di Indonesia

Berdasarkan UU No.1/1974 tentang perkawinan, maka Hukum Perkawinan di Indonesia menganut asas monogami, baik untuk pria maupun untuk wanita (vide pasal 3 (1) UU No.1/1974). Hanya apabila dikehendaki oleh yang bersangkutan, karena hukum dan agama dari yang bersangkutan mengizinkannya, seorang suami dapat beristri lebih dari seorang. Namun demikian, perkawinan seorang suami dengan lebih dari seorang istri, meskipun hal itu dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan, hanya dapat dilakukan apabila memenuhi berbagai persyaratan tertentu dan diputuskan oleh pengadilan.[1] Vide pasal 3 (2), pasal 4 (1) dan (2), dan pasal 5 (1) dan (2).

Untuk kelancaran pelaksanaan UU No.1/1974, telah dikeluarkan PP No.9/1975, yang mengatur ketentuan-ketentuan pelaksanaan dari UU tersebut. Dan dalam hal suami yang bermaksud untuk beristri lebih dari seorang, maka ia wajib mengajukan permohonan secara tertulis kepada pengadilan (vide pasal 4 UU No.1/1975 dan pasal 40 PP No.9/1975).

Pegawai Pencatat Perkawinan dilarang untuk melakukan pencatatan perkawinan seorang suami yang akan beristri lebih dari seorang sebelum adanya izin pengadilan (vide pasal 44 PP No.9/1975).

Khusus pegawai negeri sipil dan yang dipersamakan, seperti pejabat pemerintahan desa, telah dikeluarkan PP No.10/1983 tentang Izin perkawinan dan Perceraian bagi Pegawai Negeri Sipil, dengan maksud agar pegawai negeri sipil dapat menjadi contoh yang baik kepada bawahannya dan menjadi teladan sebagai warga negara yang baik dalam masyarakat, termasuk dalam membina kehidupan berkeluarga.

PP No.10/1983 secara tidak langsung untuk memperketat dan mempersulit izin perceraian dan izin poligami, sebab selain yang bersangkutan harus memenuhi ketentuan-ketentuan yang tersebut dalam UU No.1/1974 dan PP No.9/1975, juga harus memenuhi ketentuan-ketentuan yang tersebut dalam PP No.10/1983.[2] Misalnya, menurut PP No.10/1983, pegawai negeri sipil yang akan melakukan perceraian dan poligami harus memperoleh izin terlebih dahulu dari pejabat yang berwenang untuk itu (vide pasal 3 dan 4).

Apabila pegawai negeri melakukan perceraian dan poligami tanpa izin lebih dahulu dari pejabat yang berwenang, maka ia dijatuhi hukuman disiplin berupa pemberhentian dengan hormat sebagai pegawai negeri tidak atas permintaan sendiri (vide pasal 16).

Demikianlah beberapa ketentuan pokok dari PP No.10/1983, yang bertujuan untuk mencegah atau mempersulit poligami di kalangan pegawai negeri, dengan adanya sanksi-sanksi hukuman yang berat dan akibat-akibat yang negatif dari poligami yang harus dipikirkan lebih dahulu secara matang oleh pegawai yang bersangkutan.

B. Monogami, Poligami Menurut Hukum Islam

Asas monogami telah diletakan oleh Islam sejak 15 abad yang lalu sebagai salah satu asas perkawinan dalam Islam yang bertujuan untuk landasan dan modal utama guna membina kehidupan rumah tangga yang harmonis, sejahtera dan bahagia.

Islam memandang poligami lebih banyak membawa resiko/mudarat daripada manfaatnya, karena manusia itu menurut fitrahnya (human nature) mempunyai watak cemburu, iri hati dan suka mengeluh. Watak-watak tersebut akan mudah timbul dengan kadar tinggi jika hidup dalam kehidupan keluarga yang poligamis. Dengan demikian poligami itu menjadi sumber konflik antara suami dengan istri-istri dan anak-anak dari istri-istrinya, maupun konflik antara istri beserta anak-anaknya masing-masing.

Karena itu hukum asal dalam perkawinan menurut Islam adalah monogami, sebab dengan monogami akan mudah menetralisasi sifat atau watak cemburu, iri hati, dan suka mengeluh. Berbeda dengan kehidupan keluarga yang poligamis, orang akan mudah peka dan tersinggung timbulnya perasaan cemburu, iri hati/dengki, dan suka mengeluh dalam kadar tinggi, sehingga bisa mengganggu ketenangan keluarga dan dapat pula membahayakan keutuhan keluarga.

Bahkan, kalangan pengamat luar Islam (Islamisis) menganggap dibolehkannya melakukan poligami ini membuktikan bahwa Islam sangat mengabaikan konsep demokrasi dan hak-hak asasi manusia di dalam kehidupan suami istri. Poligami menurut mereka, merupakan salah satu bentuk diskriminasi dan marginalisasi terhadap kaum perempuan (istri).[3]

Marilah kita perhatikan ayat-ayat al-Qur’an yang berkenaan dengan masalah monogami dalam surah an-Nisa ayat 2-3:

Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah baligh) harta-harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka (dengan jalan mencampur adukannya) kepada hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu adalah dosa yang besar. Dan jika kamu takut tidak dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) wanita yang yatim (bila kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita lain yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka kawinilah seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itulah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

Ayat 2 dan 3 surah an-Nisa di atas berkaitan (ada relevansinya), sebab ayat 2 mengingatkan kepada para wali yang mengelola harta anak yatim, bahwa mereka berdosa besar jika sampai memakan atau menukar harta anak yatim yang baik dengan yang jelek dengan jalan yang tidak sah. Sedangkan ayat 3 mengingatkan kepada para wali anak wanita yatim yang mau mengawini anak yatim tersebut, agar si wali itu beritikad baik dan adil serta fair, yakni si wali wajib memberikan mahar dan hak-hak lainnya kepada anak yatim wanita yang dikawininya. Ia tidak boleh mengawininya dengan maksud untuk memeras dan menguras harta anak yatim atau menghalang-halangi anak wanita yatim kawin dengan orang lain. Hal ini berdasarkan keterangan Aisyah ra waktu ditanya oleh Urwah bin Zubair mengenai maksud ayat 3 surah an-Nisa tersebut.

Jika wali anak wanita yatim tersebut khawatir atau takut tidak bisa berbuat yatim terhadap anak yatim, maka ia (wali) tidak boleh mengawini anak wanita yatim yang berada di bawah perwaliannya itu. Tetapi ia wajib kawin dengan wanita lain yang ia senangi, seorang istri sampai dengan empat, dengan syarat ia mampu berbuat adil terhadap istri-istrinya, maka ia hanya boleh beristri seorang, dan ini pun ia tidak boleh berbuat zalim terhadap istri yang seorang.

Apabila ia masih takut pula kalau berbuat zalim terhadap istrinya yang seorang itu, maka tidak boleh ia kawin dengannya, tetapi ia harus mencukupkan dirinya dengan budak wanitanya.

Menurut Ibnu Jarir, bahwa sesuai dengan nama surah ini surah an-Nisa, maka masalah pokoknya ialah mengingatkan kepada orang yang berpoligami agar berbuat adil terhadap istri-istrinya dan berusaha memperkecil jumlah istrinya agar ia tidak berbuat zalim terhadap keluarganya. Sedangkan menurut Aisyah ra yang didukung oleh Muhammad Abduh, bahwa masalah pokoknya ialah masalah poligami, sebab masalah poligami dibicarakan dalam ayat ini adalah dalam kaitannya dengan masalah anak wanita yatim yang mau dikawini oleh walinya sendiri secara tidak adil atau tidak manusiawi. Kemudian ada pendapat lain lagi ialah Al-Razi, bahwa yang dimaksud dengan ayat ini adalah larangan berpoligami yang mendorong orang yang bersangkutan memakai harta anak yatim guna mencukupi kebutuhan istri-istrinya.

Menurut Rasyid Ridha, pendapat Al-Razi tersebut lemah tetapi ia menganggap benar jika yang dimaksud dengan ayat 3 surah an-Nisa itu mencakup tiga masalah pokok yang masing-masing dikemukakan oleh Ibnu Jabir, Muhammad Abduh, dan Al-Razi. Artinya dengan menggabungkan tiga pendapat tersebut di atas, maka maksud ayat tersebut ialah unttuk meberantas/melarang tradisi zaman jahiliyah yang tidak manusiawi, yaitu wali anak wanita yatim mengawini anak yatimnya tanpa memberi hak mahar dan hak-hak lainnya dan ia bermaksud untuk makan harta anak yatim dengan cara tidak sah, serta ia menghalangi anak yatimnya kawin dengan orang lain agar ia tetap leluasa menggunakan harta tersebut. Demikian pula tradisi zaman jahiliyah yang mengawini istri yang banyak dengan perlakuan yang tidak adil dan tidak manusiawi, dilarang oleh Islam berdasarkan ayat ini.

C. Makna Adil Menurut Tokoh-tokoh Islam

Apabila kita melihat kembali sejarah teologi-sosial poligami, tampak bahwa hal itu merupakan tindakan yang dikhususkan untuk menolong janda-janda dan anak-anak yatim yang terancam nasibnya. Hendaknya kita memperhatikan pendapat Muhammad Syahrur dalam bukunya Al-Kitab wa Al-Qur’an Qira’ah Mu’ashirah. Dalam bukunya, Muhammad Syahrur mencoba melakukan reinterpretasi terhadap surah an-Nisa ayat 3, sebagaimana yang umum dilakukan oleh ulama-ulama tafsir maupun fiqih lainnya. Dia memulainya dengan menafsirkan seluruh ayat tersebut secara etimologis. Menurutnya kata “qasthun” dan “adlun” memiliki dua makna yang saling bertentangan. Pertama kata “qasthun” bisa bermakna keadilan sesuai dengan surah al-Maidah ayat 42, al-Hujarat ayat 9, dan al-Mumtahanah ayat 8. Kedua, bermakna kezaliman dan dosa sesuai dengan makna surah al-Jin ayat 15. demikian juga kata “adlun” berarti istawa (sama); dan kedua, berarti a’wajaj (bengkok). Walaupun demikian, antara “adlun” dan “qisthun” ada perbedaan makna. Apabila kata “qisthun” itu berbuat adil pada satu cabang, kata “adlun” berbuat adil kepada dua cabang secara seimbang. Memperhatikan ulasan Syahrur disinilah sebenarnya hakikat keadilan yang dimaksud.

Prinsip keadilan inilah yang digaris bawahi Muhammad Abduh ketika dia mengeluarkan fatwa yang sangat menghebohkan untuk ukuran zamannya. Fatwa Abduh yang dikeluarkan pada tahun 1298 H tersebut secara panjang lebar dikutip oleh Ali Ahmad Al-Jurjawi dalam bukunya yang sangat terkenal Hikmah Al Tasyri wa Falsafatuhu. Abduh mengatakan bahwa syariat Muhammad saw. Memang membolehkan laki-laki mengawini empat perempuan sekaligus, jika laki-laki tersebut mengetahui kemampuan dirinya untuk berbuat adil. Jika tidak mampu berbuat adil, tidak dibolehkan beristri lebih dari satu. Dalam hal ini Abduh mengutip “fain khiftum alla ta’dilu fawahidatan”. Menurut Abduh, apabila seorang laki-laki tidak mampu memberikan hak-hak istrinya, rusaklah struktur rumah tangga dan kacaulah penghidupan keluarga. Padahal, tiang utama dalam mengatur kehidupan rumah tangga adalah adanya kesatuan dan saling menyayangi antar anggota keluarga.

Dari kutipan Al-Jurjawi atas Fatwa Muhammad Abduh sangat menekankan kepada keadilan kualitatif dan hakiki, seperti rasa sayang, cinta dan kasih, yang semuanya tidak bisa diukur dengan angka-angka. Hal ini sesuai dengan makna yang dikandung dalam istilah yang digunakan oleh Al-Qur’an, yaitu “adalah”, yang memang memiliki makna yang lebih kualitatif. Adapun keadilan bersifat kuantitatif, yang sebenarnya lebih tepat untuk kata “qisthun”. Keadilan kuantitatif ini bersifat rentan karena sifatnya mudah berubah, misalnya tentang pembagian rezeki secara merata diantara istri-istri yang dikawini, pembagian jatah hari (giliran) dan sebagainya.

Abdurrahman Al-Jaza’iri dalam kitab Al-Fiqih ‘ala Al-Madzahib Al-Arba’ah menyatakan bahwa mempersamakan hak atas kebutuhan seksual dan kasih sayang di antara istri-istri yang dikawini bukanlah kewajiban bagi orang yang berpoligami karena, sebagai manusia, orang tidak akan mampu berbuat adil dalam membagi kasih sayang dan cinta.

D. Hikmah Poligami

Mengenai hikmah diizinkan berpoligami dan keadaan darurat dengat syarat berlaku adil antara lain ialah sebagai berikut:

1. Untuk mendapatkan keturunan bagi suami yang subur dan istri mandul.

2. Untuk menjaga keutuhan keluarga tanpa menceraikan istri, sekalipun istri tidak     dapat menjalankan tugasnya sebagai istri, atau ia mendapat cacat badan atau     penyakit yang tidak dapat disembuhkan.

3. Untuk menyelamatkan suami yang hypersex dari perbuatan zina dan krisis akhlak lainnya.

4. Untuk menyelamatkaan kaum wanita dari krisis akhlak yang tinggal di     Negara/masyarakat yang jumlah wanitanya jauh lebih banyak dari kaum prianya, misalnya akibat peperangan yang cukup lama.

Kalau kita perhatikan dalam mengupas hikmah poligami, kebanyakannya lebih cendrung memihak kepada kepentingan laki-laki. Sebagai misal, kalau tidak ada poligami dimungkinkan akan merebaknya perzinaan, dekadensi moral dan sebagainya. Seorang penulis Indonesia Said Thalib Al-Hamadani, tokoh Al-Irsyad, berpendapat bahwa poligami dibolehkan dalam Islam karena untuk kepentingan memperbanyak umat. Jalan untuk ini adalah dengan cara melakukan kawin. Menurutnya, Negara-negara maju banyak membutuhkan sumber daya manusia. Lebih lanjut, ia membuat pernyataan yang belum dibuktikan oleh dunia kedokteran bahwa seorang laki-laki memiliki kemampuan yang lebih kuat dalam membuahkan keturunan dibandingkan kaum perempuan dengan alasan siklus reproduksi laki-laki lebih panjang karena tidak mengenal menopause. Daripada seorang laki-laki melakukan penyimpangan seksual kepada selain istrinya, sebaiknya berpoligami.

Model penafsiran monolitik terhadap kasus seperti ini memang sering terjadi. Seharusnya dalam menetapkan persoalan poligami terlebih dahulu harus melakukan pengamatan secara objektif, tidak hanya dari sudut pandang laki-laki, tetapi juga dari sudut pandang perempuan. Tidakkah kita berpikir bahwa sebagai seorang muslim, perempuan juga memiliki kepentingan hati nurani. Kepentingan untuk hidup tenang dengan suami yang dicintainya tanpa diributi oleh ketiga (wanita intim lain).

Salah satu alasan dibolehkannya berpoligami yaitu untuk menyelamatkan suami yang hypersex dari perbuatan zina dan krisis akhlak lainnya, ini juga jelas-jelas tidak qurani karena berusaha untuk menyetujui nafsu laki-laki yang tidak terkendali. Yakni, jika kebutuhan seksual seoarang laki-laki dapat terpuaskan oleh seorang istri, dia harus mempunyai dua. Barangkali, jika nafsunya lebih besar daripada dua, maka ia harus mempunyai tiga, dan terus sampai dia mempunyai empat. Baru setelah empat, prinsip Al-Qur’an tentang pengendalian diri, kesederhanaan, dan kesetiaan akhirnya dijalankan.

Karena pada awalnya istri diisyaratkan untuk mengendalikan diri dan setia, kebajikan moral ini juga penting untuk suami. Al-Qur’an jelas tidak menekankan pada suatu tingkat yang tinggi dan beradab untuk wanita sementara membiarkan laki-laki berinteraksi dengan yang lain pada tingkat yang paling hina.

Mengenai hikmah Nabi Muhammad diizinkan bagi umatnya ialah sebagai berikut:

1. Untuk kepentingan pendidikan dan pengajaran agama. Istri Nabi sebanyak (sembilan) orang itu bisa menjadi sumber informasi bagi umat Islam yang ingin mengetahui ajaran-ajaran Nabi dalam berkeluarga dan bermasyarakat, terutama mengenai masalah-masalah kewanitaan/kerumahtanggaan.

2. Untuk kepentingan politik mempersatukan suku-suku bangsa Arab untuk menarik mereka masuk agama Islam. Misalnya perkawinan Nabi dengan Juwairiyah, putri Al-Harist kepada suku Bani Musthaliq. Demikian pula perkawinan Nabi dengan Shafiah, seorang tokoh dari suku Bani Quraidzah dan Bani Nadhir.

3. Untuk kepentingan sosial dan kemanusiaan. Misalnya perkawinan Nabi dengan beberapa janda pahlawan Islam yang telah lanjut usianya seperti Saudah binti Zum’ah (suami meninggal setelah kembali dari hijrah Abessinia), Hafsah binti Umar (suami gugur di Badar), Zainab binti Khuzaimah (suami gugur di Uhud), dan Hindun Ummu Salamah (suami gugur di Uhud). Mereka memerlukan pelindung untuk melindungi jiwa dan agamanya, dan penanggung untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.[4]

Jelaslah, bahwa perkawinan Nabi dengan sembilan istrinya itu tidaklah terdorong oleh motif memuaskan nafsu seks dan kenikmatan seks. Sebab kalau motifnya demikian, tentunya Nabi mengawini gadis-gadis dari kalangan bangsawan dan dari berbagai suku pada masa Nabi masih berusia muda. Tetapi kenyataannya adalah Nabi pada usia 25 tahun kawin dengan Khadijah seorang janda berumur 40 tahun dan pasangan suami istri ini selama lebih kurang 25 tahun berumah tangga benar-benar sejahtera dan bahagia serta mendapatkan keturunan : dua anak laki-laki, tetapi meninggal masih kecil, dan empat anak wanita.

Setelah Khadijah wafat tahun ke 10 sejak Nabi Muhammad diangkat menjadi Nabi, barulah kemudian Nabi memikirkan kawin lagi. Mula-mula kawin dengan Saudah binti Zum’ah, seorang janda, kemudian disusul dengan istri-istrinya yang lain. Tetapi tidak ada seorang istrinya pun yang dikawini dengan motif untuk pemuasan nafsu seks atau karena harta kekayaannya, melainkan karena motif agama, politik, sosial dan kemanusiaan.[5]

E. Poliandri

Hingga saat ini kita hanya menerangkan tentang bolehnya poligami menurut aturan agama, dan tinjauan kemanusiaan. Adapun hal-hal yang berkenaan dengan bolehnya wanita menikahi banyak laki-laki (poliandri) sama sekali tidak ada dalilnya di dalam Islam.

Diriwayatkan dari Muhammad bin Sinan bahwasannya ar-Ridha menulis jawaban kepadanya tentang persoalan-persoalan yang berkaitan dengan dibolehkannya laki-laki menikahi empat orang wanita dan diharamkannya wanita menikahi lebih dari satu laki-laki. Kalau seorang laki-laki mengawini empat orang wanita, maka anak-anaknya akan dinisbatkan kepadanya. Akan tetapi bila wanita menikahi dua orang laki-laki atau lebih, maka tidak akan diketahui milik siapakah anak yang dilahirkan, karena semua laki-laki memberikan andil di dalam menikahi dan mencampuri wanita tersebut. Paad gilirannya rusaklah keturunan dan warisan, serta ilmu-ilmu pengetahuan.

Memang, Islam membolehkan wanita menikahi laki-laki lain, selain suaminya jika suaminya telah menceraikannya dan telah sempurna masa idahnya. Dapat diambil kesimpulan bahwa Islam memberikan hak kepada para janda yang dicerai maupun yang ditinggal mati oleh suaminya untuk menikah setelah selesai masa idahnya, tanpa bergantung kepada orang lain.

Akan tetapi yang hendak kita persoalkan di sini ialah, mengapa wanita tidak berhak untuk menikah lebih dari satu suami pada saat yang sama?

Sebagaimana dimaklumi setiap manusia apabila memiliki seorang istri, ia akan memiliki juga harga diri, kemanusiaan dan rasa cemburu atas istrinya. Setiap suami menganggap istrinya sebagai tempat kehormatan dan harga dirinya. Istrinya adalah kemulian yang harus ia jaga dari segala macam kotoran dan penyakit, dari kehinan dan kerendahan diri. Mereka adalah pakaian untukmu dan kamu juga sebagai pakaian untuk mereka. Maka tidak boleh yang lain mencemari kehormatannya atau kehormatan orang lain. Oleh Karena itu wanita harus punya satu suami, suami yang sah, bukan yang lain. Wanitalah yang melahirkan dan dari rahimnya tumbuh keturunan. Bagaimana mungkin benih banyak laki-laki disimpan di dalam satu wadah itu. Wanita tentu akan hamil dan melahirkan apa yang dikandung di dalam perutnya. Jika ia hamil karena dihamili lebih dari seorang, maka milik siapakah bayi yang dilahirkan itu? Untuk orang yang mencampuri pertama kali, kedua ataukah ketiga? Atau anak itu untuk wanita?

Jika kita membuka lembaran-lemabran sejarah, maka kita akan melihat bentuk-bentuk keprimitifan dan kebiadaban terformulasikan pada masa-masa dan tempat-tempat yang berbeda. Praktik poliandri telah dilakukan sejak dulu, jauh sebelum kedatangan Islam, dan pada masyarakat primitif, yang bentuknya masih tetap bertahan sampai saat ini pada bangsa-bangsa selain Islam. Misalnya, sebagian Negara-negara Timur juga membolehkan praktik tersebut seperti yang terjadi di Sri lanka (Pulau Ceylon) dan lain sebaginya. Hukum-hukum di negara tersebut membolehkan beberapa laki-laki yang bersaudara menikahi satu orang wanita pada satu hari dalam jam yang berbeda. Kita telah menemukan beberapa bangsa yang mempraktikan aturan tersebut. Berlakunya aturan poliandri mengharuskan beberapa orang laki-laki mencampuri satu wanita bersama-sama. Dan hal ini menyebar pada masyarakat tersebut. Di antara bangsa-bangsa yang menganut aturan ini ialah bangsa Tibet di Selatan India, sebagian bangsa Kenya, bangsa Masi, dan Bahima di Afrika dan sebagian bangsa Eskimo.

Di belahan Amerika bagian utara, utara Meksiko yaitu bangsa Tahus, terdapat praktik yang serupa dengan poliandri hingga saat ini. Praktiknya adalah seseorang yang dianggap sebagai dukun, atau pemimpin suku mewakili seluruh keluarganya untuk melakukan hubungan seksual dengan pengantin putri pada malam pertama. Ini merupakan kenangan suci dalam pernikahan dan percampuran.

Sedangkan bagi bangsa Arab jahiliyah ada juga semacam praktik pernikahan di atas sebagai berikut:

1. Pernikahan seorang wanita dengan laki-laki yang tidak lebih dari sepuluh orang yaitu bila ada beberapa orang laki-laki yang bersaudara mereka menikahi seorang wanita dan mencampurinya secara bergantian. Bila ia kemudian ternyata hamil dari percampuran mereka, kemudian melahirkan, maka wanita itu mengirim berita kepada mereka tentang apa yang terjadi, kemudian ia memberikan nama dengan nam laki-laki yang ia cintai.[6]

2. Pernikahan prostitusi. Yaitu dengan mengawini beberapa laki-laki tanpa batas. Terkumpul laki-laki sebanyak mungkin kemudian semuanya mencampuri wanita, dan wanita tersebut melayani semua orang itu. Para wanita yang melakukan praktik ini biasanya mengibarkan bendera di pintu rumahnya untuk membedakan mereka denagn wanita-wanita lain.[7]

3. Perkawinan yang mirip dengan jual-beli (Al-Istibdha). Seorang laki-laki mengatakan kepada istrinya: “Jika kamu telah selesai menstruasi, pergilah kepada pulan dan mintalah ia untuk mencampurimu supaya kita dapat anak dari dia”.

4. Perkawinan dengan cara tukar-menukar, seperti barter barang dagangan. Bentuknya adalah seorang laki-laki mengatakan kepada laki-laki lain: “Berilah kesempatan kepadaku untuk mencampuri istrimu, dan kamu juga aku persilahkan untuk mencampuri istriku”. Di situ wanita layaknya barang dagangan yang dapat diperjual-belikan.[8]

Sebagian masyarakat Eropa sekarang ini juga membolehkan wanita untuk menikahi lebih dari satu orang laki-laki atas dasar kebebasan, karena kebebasan yang mutlak membolehkan hal tersebut.

Adapun hal-hal yang sering terjadi di dunia Islam atau di Negara-negara Timur yang menyerupai kejadian-kejadian di Barat adalah bukan dari ajaran Islam sama sekali. Jika terjadi hal-hal semacam itu, maka hal-hal tersebut adalah sisa-sisa peninggalan para penjajah untuk merusak eksistensi Islam dan melenyapkannya. Peninggalan-peninggalan tersebut berupa berbagai macam bentuk prostitusi yang dikirimkan oleh Barat ke Negara kita untuk memberi kesibukan kepada masyarakat dengan permainan dan kelezatan, sehingga para penjajah itu mudah mengeruk harta kekayaan kita, dan merampas kehormatan dan keagungan kita.

Semua yang dikemukakan di atas menjelaskan antara perbedaan hak laki-laki dan wanita dalam jumlah pasangan yang boleh dimiliki mereka. Walhasil, wanita tidak berhak untuk disamakan dengan laki-laki dalam persoalan ini, karena persamaan di dalam persoalan ini akan merusak nilai eksistensi masyarakat Islam dan yang bukan Islam sekalipun.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Hukum asal dalam perkawinan menurut Islam adalah monogami. Asas monogami ini telah diletakan oleh Islam sejak 15 abad yang lalu sebagai salah satu asas perkawinan dalam Islam.

Adapun poligami hanya dibolehkan bila dalam keadaan darurat, misalnya istri ternyata mandul. Suami diizinkan berpoligami dengan syarat ia benar-benar mampu mencukupi nafkah untuk semua keluarga dan harus bersikap adil dalam pemberian nafkah lahir dan giliran waktu tinggalnya.

Sedangkan poliandri sangat tidak dibenarkan dalam Islam karena merupakan kebiadaban yang amat merusak dan bukan cara yang dianjurkan oleh Islam Karena wanita dijadikan seperti budak yang digiring untuk melayani syahwat laki-laki yang tidak mempunyai rasa belas kasihan. Poliandri ini juga dapat merusak keturunan, hak waris, ilmu-ilmu pengetahuan, serta dapat merusak nilai eksistensi masyarakat Islam.

DAFTAR RUJUKAN

1. Aqdad, Abbas Mahmud Al, Hakaikul Islam wa Abathilu Khushumih, Darul Qalam, Cairo, 1957.

2. Asnawi, Muhammad, Himpunan Peraturan dan Undang-undang Republik Indonesia tentang Perkawinan serta Peraturan Pelaksanaannya, Menara Kudus, Kudus, 1975.

3. Bukhari, Shahih Bukhari.

4. Ghaffar, Abdur Rasul Abdul Hasan Al, Wanita Islam dan Gaya Hidup Modern, Pustaka Hidayah, Jakarta, 1993.

5. Hasyim, Syafiq, Hal-hal yang Tak Terpikirkan tentang Isu-Isu Keperempuanan dalam Islam, Mizan, Bandung, 2001.

6. Thabrani, Tarikh Ath-Thabrani.

7. Vide Haikal, Muhammad Husain, Hayatu Muhammad, Maktabah Al-Nahdhah Al-Arabiyah, Cairo, 1965.

8. Vide Peraturan Pemerintah RI No.10 th. 1983, Tentang Izin Perkawinan dan Perceraian Bagi Pegawai Negeri.

9. Wadud, Amina, Qur’an Menurut Perempuan, PT. Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, 2001.

10. Zuhdi, Masjfuk, Masail Fiqhiyah, CV. Haji Mas Agung, Jakarta, 1993.


[1] Moch. Asnawi (ed), himpunan Peraturan dan Undang-undang Republik Indonesia tentang Perkawinan serta Peraturan Pelaksanaannya, Kudus, Menara Kudus, 1975, h.26.

[2] Vide Peraturan Pemerintah RI No.10 Tahun 1983 tentang Izin Perkawinan dan Perceraian bagi Pegawai Negeri, h.1-13.

[3] Syafiq Hasyim, Hal-hal yang Tak Terpikirkan tentang Isu-isu Keperempuanan dalam Islam, Bandung, Mizan, h.159.

[4] Abbas Mahmud al-Aqqad, Haqaiqul Islam wa Abathilu Khushumih, Cairo, darul Qalam, 1957, hlm. 181-182.

[5] Vide Muhammad Husain Haikal, Hayatu Muhammad, Cairo, Maktabah al-Nahdhah al-Arabiyah, 1965, h.123-189.

[6] Shahih Bukhari, jilid VII, h.19-20.

[7] Tarikh Ath-Thabrani, jilid I, h.38.

[8] Shahih Bykahri., lop. cit, jilid VII, h.19.

A. PENDAHULUAN

Pada dasarnya agama membawa misi sebagai pembawa kedamaian dan keselarasan hidup. Baik itu agama Islam sendiri dan agama lainnya.

Namun, dalam kenyataannya tidak jarang agama bukannya menjadi pemersatu sosial tapi malah sebaliknya sebagai unsur konflik. Hal ini disebabkan dengan adanya truth klaim pada tiap-tiap pemeluknya.

Al Qur’an sebagai wahyu Allah, dalam pandangan dan keyakinan umat Islam adalah sumber kebenaran dan mutlak itu tidak akan tampak manakala tidak di pahami.

Sehingga kerukunan antaragama yang pernah dijalankan oleh pemerintah ORBA pada masa itu berjalan lancar sesuai dengan cirinya yang menekankan pada pendekatan keamanan. Lalu timbul berbagai macam kerusuhan pada saat ini baik itu di Ambon, Kupang dan Aceh sehingga program itu perlu ditanyakan kembali, bisa saja kan kita mengira karena pendekatannya itu pada masa Orde Baru berjalan lancar.

B. PLURALIS AGAMA

Agama, sebagaimana seni, sangat sulit untuk diberi batasan yang tegas. Agama, menurut Hans Kung, bukanlkah untuk didefinisikan, apalagi untuk diperdebatkan. Agama adalah sesuatu untuk dihayati dan diamalkan. Ia bukan sesuatu yang ada diluar diri manusia.

Menurut Hans Kung, agama bukan hanya menyangkut hal-hal yang teoritik, melainkan hidup sebagaimana yang kita hayati. Agama menyangkut sikap hidup, pendekatan terhadap hidup, cara hidup, dan yang terpenting adalah menyangkut perjumpaan atau relasi dengan apa yang dinamakan Rudulf Otto sebagai The Holy. Agama selalu menyangkut basic trust seseorang terhadap hidup dan menyangkut “ya” atau “tidak” terhadap hidup. Menurut Kung, secara eksistensial, sadar atau tidak, manusia membutuhkan komitmen pada makna, dan komitmen pada norma.

Dalam hal ini agama selalu berkaitan dengan manusia. Sejarah agama selalu menyertai sejarah kemanusiaan. Agama tidak akan pernah hilang dari muka bumi ini semenjak dimulainya sejarah kemanusiaan hingga ia punah. Sebab, menurut Max Scheler (1874-1928) merupakan kemampuan tersendiri yang palin g dasar dalam diri manusia. Bahkan, agama merupakan fitrah yang diturunkan yang telah menyatu dalam diri manusia semenjak kelahirannya.

Setiap agama membawa misi sebagai pembawa kedamaian dan keselarasan hidup, bukan saja antarmanusia, tetapi juga antarsesama makhluk Tuhan penghuni semesta ini. Dalam tataran historis, misi agama tidak selalu artikulatif. Saelain sebagai alat pemersatu sosial, agama pun menjadi unsur konflik. Bahkan, menurut Schimmel, dua unsur itu menyatu dalam agama. Mungkin pernyataan ini agak berlebihan. Tetapi, jika melihat perjalanan sejarah dan realitas dimuka bumi ini, pernyataan itu menemukan landasan historisnya sampai sekarang. Persoalannya, bagaimana realitas itu bisa memicu para pemelik agama untuk merefleksikan kembali ekspresi keberagamaannya yang sudah sedemikian mentradisi dalam hidup dan kehidupannya.

Berkaitan dengan itu, salah satu yang menjadi problem paling besar dalam kehidupan beragama dewasa ini, yang ditandai oleh kenyataan pluralisme, adalah bagaimana teologi suatu agama mendefinisikan diri ditengah-tengah agama lain, dengan semakin berkembangnya pemahaman mengenai pluralisme agama, berkembanglah suatu paham teologia religionum. Paham ini menekankan semakin pentingnya dewasa ini untuk berteologi dalam konteks agama.

C. KLAIM KEBENARAN

Setiap agama memiliki kebenaran. Keyakinan tentang yang benar itu didasarkan pada Tuhan sebagai satu-satunya sumber kebenaran. Dalam tataran sosialogis, klaim kebenaran berubah menjadi simbol agama yang dipahami secara subjektif, personal, oleh setiap pemeluk agama. Ia tidak lagi utuh dan absolut. Pluralitas manusia menyebabkan wajah kebenaran itu tampil beda ketika akan dimaknakan dan dibahasakan. Sebab, perbedaan ini tidak dapat dilepaskan begitu saja dari berbagai referensi dan latar belakang yang diambil orang yang meyakininya dari konsepsi ideal turun kebentuk-bentuk normatif yang bersifat kultural. Ini yang biasanya digugat oleh berbagai gerakan keagamaan pada umumnya. Mereka mengklaim telah memahami, memiliki, bahkan menjalankan secara murni dan konskuen nilai-nilai suci itu.

Kita memang sulit melepaskan kerangka (frame) subjektivitas ketika keyakinan lain yang berbeda. Meskipun ada yang berpendapat bahwa kerangka subjektif adalah cermin eksistensi yang alamiah. Lagi pula, setiap manusia mustahil menempatkan dua hal yang saling berkontradiksi satu sama lain dalam hatinya. Dengan begitu, kita tidak harus memaksakan inklusivisme “gaya kita” pada orang lain, yang menurut kita ekslusif. Sebab, bila hal ini terjadi, pemahaman kita pun sebenarnya masih terkunjung pada jerat-jerat ekskusivisme, tetapi dengan menggunakan nama inklusivisme.

Dengan demikian,pluralisme bisa muncul pada masyrakat di mana pun ia berada.ia selalu mengikuti perkembangan masyarakat yang semakin cerdas, tidak ingin dibatasi oleh sekat-sekat sektarianisme.

D. ISLAM DAN PLURALISME

Al Qur’an sebagai wahyu Allah, dalam pandangan dan keyakinan umat Islam adalah sumber kebenaran dan mutlak itu tidak akan tampak manakala Al qur’an tidak berinteraksi dengan realitas sosial, atau menurut Quraish Shihab di bumikan. Menurut Nurcholis Majid berpendapat bahwa sistem nilai plural adalah sebuah aturan Tuhan yang tidak mungkin berubah, diubah, dilawan, dan diingkari. Barang siapa yang mencoba mengingkari hukum kemajemukan budaya, maka akan timbul fenomena pergunakan yang tidak berkesudahan. Boleh dikatakan bahwa memahami pluralitas agama dan budaya merupakan bagian dari memahami agama, sebab memahami agama pada dasarnya juga memahami kebudayaan masyarakat secara menyeluruh.

Langkah bijaksana bagi setiap umat adalah belajar dari kenyataan sejarah. Yatu sejarah yang mendorong terwujudnya masyarakat plural dan integratif, oleh karena itu, agenda yang perlu diluruskan oleh islam Indonesia adalah mengubah pluralisme sebagai ideologi sebagai konkret. Tentu saja dituntut peran negara yang positif dalam memperlakukan agama. Agama bukan hanya sebagai intrumen mobilisasi politik, tetapi yang lebih penting adalah memperlakukannya sebagai sumber etika dalam interaksi, baik diantarasesama penguasa maupun sesama penguasa antar rakyat.

E. KERUKUNAN ANTARAGAMA

Konsep kerukunan antar umat beragama pernah dirumuskan dan ditetapkan oleh pemerintah Ordebaru dengan melibatkan semua tokoh agama yang ada di Indonesia, selama masa Orba. Relatif tidak konflik antar umat beragama yang berbeda. Namun ketika di Ambon, Aceh, Kupang, dan diberbagai daerah lannya terjadi berbagai kerusuhan dan tindakan kekerasan yang berbau agama.

Oleh karena itu, pengkajian ulang terhadap konsep kerukunan antar umat beragama yang selama ini diterapkan pemerintah. Maka konflik antaragama tidak bisa terhindarkan akan selalu meledak. Bila terjadi hal-hal sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, baik aspek politis, ekonomi, maupun sosial budaya.

Konflik merupakan suatu kondisi pertentangan dari dua kepentingan, yang antara keduanya saling memperebutkan, bahkan saling bertabrakan bahkan saling berlawanan. Dalam istilah Al Qur’an, konflik disebut dengan kata ‘aduw (permusuhan, pertentangan, konflik).

Khusus kata ‘aduw yang dikaitkan dengan interaksi antarmanusia dapat ditarik induksi tentang macam-macam konflik berikut :

1. Konflik sosial (Q.S 2:36;7 : 24 : 20 : 123 ; 43 : 67)

2. Konflik politik (Q.S 10 : 90; 22: 19 ; 28 :8 ; 28 : 15)

3. Konflik agama ( Q.S 4:62 ; 63 : 4; 4 : 101 ; 25 : 31)

4. Konflik budsaya (Q.S 5 : 48 ; 30 : 32)

Selain satu bagian dari kerukunan antarumat baragama adalah perlunya diadakan dialog antaragama. Agar komonikatif dan terhindar dari perdebatan teologis antarpemeluk (tokoh) agama.

F. KESIMPULAN

Dengan memperhatikan persoalan di atas, tampaknya konflik berwajah agama perlu dilihat dalam kaitan-kaitan politis, ekonomi, atau sosial budayanya. Apabila benar bahwa konflik itu murni konflik agama, maka masalah kerukunan sejati tetap hanya dapat dibangun atas dasar nilai-nilai keadilan, kebebasan, dan HAM, yang - menyentuh keluhuran martabat manusia. Makin mendalam rasa keagamaan, makin mendalam pula rasa keadilan dan kemanusiaan. Seandainya tidak demikian, agama tidak mengangkat keluhuran martabat manusia.

DAFTAR PUSTAKA

Zainal Abidin, Ahmad Syafi’i., Sosiosophologi, Cv Pustaka Setia., Bandung, 2002.

Dadang Kahmad, Sosiologi Agama, PT Remaja Rosdakarya., Bandung., TTh.

A. Pendahuluan

Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Menurut Langgulung pendidikan Islam tercakup dalam delapan pengertian, yaitu At-Tarbiyyah Ad-Din (Pendidikan keagamaan), At-Ta’lim fil Islamy (pengajaran keislaman), Tarbiyyah Al-Muslimin (Pendidikan orang-orang islam), At-tarbiyyah fil Islam (Pendidikan dalam islam), At-Tarbiyyah ‘inda Muslimin (pendidikan dikalangan Orang-orang Islam), dan At-Tarbiyyah Al-Islamiyyah (Pendidikan Islami).

Arti pendidikan Islam itu sendiri adalah pendidikan yang berdasarkan Islam. Isi ilmu adalah teori. Isi ilmu bumi adalah teori tentang bumi. Maka isi Ilmu pendidikan adalah teori-teori tentang pendidikan, Ilmu pendidikan Islam secara lengkap isi suatu ilmu bukanlah hanya teori.

Hakikat manusia menurut Islam adalah makhluk (ciptaan) Tuhan, hakikat wujudnya bahwa manusia adalah mahkluk yang perkembangannya dipengaruhi oleh pembawaan dan lingkungan.

Manusia sempurna menurut Islam adalah jasmani yang sehat serta kuat dan Berketerampilan, cerdas serta pandai.

Tujuan umum pendidikan Islam ialah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah. Jadi menurut Islam, pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia yang menghambakan kepada Allah. Yang dimaksud menghambakan diri ialah beribadah kepada Allah.

B. Pendidikan Dalam Perspektif Islam

Pengertian pendidik adalah orang dewasa yang bertanggung jawab memberi bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasaan. Pendidik Islam ialah Individu yang melaksanakan tindakan mendidik secara Islami dalam situasi pendidikan islam untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Menurut Langgulung (1997), pendidikan Islam tercakup dalam delapan pengertian, yaitu At-Tarbiyyah Ad-Din (Pendidikan keagamaan), At-Ta’lim fil Islamy (pengajaran keislaman), Tarbiyyah Al-Muslimin (Pendidikan orang-orang islam), At-tarbiyyah fil Islam (Pendidikan dalam islam), At-Tarbiyyah ‘inda Muslimin (pendidikan dikalangan Orang-orang Islam), dan At-Tarbiyyah Al-Islamiyyah (Pendidikan Islami).

Pendidik Islam ialah Individu yang melaksanakan tindakan mendidik secara Islami dalam situasi pendidikan islam untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Para ahli pendidikan lebih menyoroti istilah-istilah dari aspek perbedaan antara tarbiyyah dan ta’lim, atau antara pendidikan dan pengajaran. Dan dikalangan penulis Indonesia, istilah pendidikan biasanya lebih diarahkan pada pembinaan watak, moral, sikap atau kepribadian, atau lebih mengarah kepada afektif, sementara pengajaran lebih diarahkan pada penguasaan ilmu pengetahuan atau menonjolkan dimensi kognitif dan psikomotor.

Pengertian pendidikan bahkan lebih diperluas cakupannya sebagai aktivitas dan fenomena. Pendidikan sebagai aktivitas berarti upaya yang secara sadar dirancang untuk membantu seseorang atau sekelompok orang dalam mengembangkan pandangan hidup, sikap hidup, dan keterampilan hidup, baik yang bersifat manual (petunjuk praktis) maupun mental, dan sosial sedangkan pendidikan sebagai fenomena adalah peristiwa perjumpaan antara dua orang atau lebih yang dampaknya ialah berkembangnya suatu pandangan hidup, sikap hidup, atau keterampilan hidup pada salah satu atau beberapa pihak, yang kedua pengertian ini harus bernafaskan atau dijiwai oleh ajaran dan nilai-nilai Islam yang bersumber dari al Qur’an dan Sunnah (Hadist). Menurut Prof. Dr. Mohammad Athiyah al Abrasyi pendidik itu ada tiga macam :

1. Pendidikan Kuttab

Pendidikan ini ialah yang mengajarkan al Qu’ran kepada anak-anak dikuttab. Sebagian diantara mereka hanya berpengetahuan sekedar pandai membaca, menulis dan menghafal al Qur’an semata.

2. Pendidikan Umum

Ialah pendidikan pada umumnya, yang mengajarkan dilembaga-lembaga pendidikan dan mengelola atau melaksanakan pendidikan Islam secara formal sperti madrasah-madrasah, pondok pesantren ataupun informal seperti didalam keluarga.

3. Pendidikan Khusus

Adalah pendidikan secara privat yang diberikan secara khusus kepada satu orang atau lebih dari seorang anak pembesar kerajaan (pejabat) dan lainnya.

C. Defenisi Ilmu Pendidikan Islam

Ilmu Pendidikan Islam adalah ilmu pendidikan yang berdasarkan Islam. Isi ilmu adalah teori. Isi ilmu bumi adalah teori tentang bumi. Maka isi Ilmu pendidikan adalah teori-teori tentang pendidikan, Ilmu pendidikan Islam secara lengkap isi suatu ilmu bukanlah hanya teori, tetapi isi lain juga ada ialah :

1. Teori.

2. Penjelasan tentang teori itu.

3. Data yang mendukung tentang penjelasan itu.

Islam adalah nama Agama yang dibawa oleh nabi Muhammad saw, yang berisi seperangkat ajaran tentang kehidupan manusia ; ajaran itu dirumuskan berdasarkan dan bersumber pada al Qur’an dan hadist serta aqal. Penggunaan dasarnya haruslah berurutan :al Qur’an lebih dahulu ; bila tidak ada atau tidak jelas dalam al Qur’an maka harus dicari dalam hadist ; bila tidak ada atau tidak jelas didalam hadist, barulah digunakan aqal (pemikiran), tetapi temuan aqal tidak boleh bertentangan dengan jiwa al Qur’an dan hadist.

D. Tujuan Umum Pendidikan Manusia

1. Hakikat manusia menurut Islam

Manusia adalah makhluk (ciptaan) Tuhan, hakikat wujudnya bahwa manusia adalah mahkluk yang perkembangannya dipengaruhi oleh pembawaan dan lingkungan.

Dalam teori pendidikan lama, yang dikembangkan didunia barat, dikatakan bahwa perkembangannya seseorang hanya dipengaruhi oleh pembawaan (nativisme) sebagai lawannya berkembang pula teori yang mengajarkan bahwa perkembangan seseorang hanya ditentukan oleh lingkungannya (empirisme), sebagai sintesisnya dikembangkan teori ketiga yang mengatakan bahwa perkembangan seseorang ditentukan oleh pembawaan dan lingkungannya (konvergensi)

Manusia adalah makhluk utuh yang terdiri atas jasmani, akal, dan rohani sebagai potensi pokok, manusia yang mempunyai aspek jasmani, disebutkan dalam surah al Qashash ayat : 77 :

“Carilah kehidupan akhirat dengan apa yang dikaruniakan Allah kepadamu tidak boleh melupakan urusan dunia “

2. Manusia Dalam Pandangan Islam

Manusia dalam pandangan Islam mempunyai aspek jasmani yang tidak dapat dipisahkan dari aspek rohani tatkala manusia masih hidup didunia.

Manusia mempunyai aspek akal. Kata yang digunakan al Qur’an untuk menunjukkan kepada akal tidak hanya satu macam. Harun Nasution menerangkan ada tujuh kata yang digunakan :

1. Kata Nazara, dalam surat al Ghasiyyah ayat 17 :

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan”

2. Kata Tadabbara, dalam surat Muhammad ayat 24 :

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan al Qur’an ataukah hati mereka terkunci?”

3. Kata Tafakkara, dalam surat an Nahl ayat 68 :

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah : “buatlah sarang-sarang dibukit-bukit, dipohon-pohon kayu, dan ditempattempat yang dibikin manusia”.

4. Kata Faqiha, dalam surat at Taubah 122 :

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya (kemedan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”

5. Kata Tadzakkara, dalam surat an Nahl ayat 17 :

“Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan apa-apa? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran”.

6. Kata Fahima, dalam surat al Anbiya ayat 78 :

“Dan ingatlah kisah daud dan Sulaiman, diwaktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu”.

7. Kata ‘Aqala, dalam surat al Anfaal ayat 22 :

“Sesungguhnya binatang(makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli[1] yang tidak mengerti apa-apa-pun.

Manusia mempunyai aspek rohani seperti yang dijelaskan dalam surat al Hijr ayat 29 :

“Maka Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan meniupkan kedalamnya roh-Ku, maka sujudlah kalian kepada-Nya”.

3. Manusia Sempurna Menurut Islam

A. Jasmani Yang sehat Serta Kuat dan Berketerampilan

Islam menghendaki agar orang Islam itu sehat mentalnya karena inti ajaran Islam (iman). Kesehatan mental berkaitan erat dengan kesehatan jasmani, karena kesehatan jasmani itu sering berkaitan dengan pembelaan Islam.

Jasmani yang sehat serta kuat berkaitan dengan ciri lain yang dikehendaki ada pada Muslim yang sempurna, yaitu menguasai salah satu ketrampilan yang diperlukan dalam mencari rezeki untuk kehidupan.

Para pendidik Muslim sejak zaman permulaan - perkembangan Islam telah mengetahui betapa pentingnya pendidikan keterampilan berupa pengetahuan praktis dan latihan kejuruan. Mereka menganggapnya fardhu kifayah, sebagaimana diterangkan dalam surat Hud ayat 37 :

“Dan buatlah bahtera itu dibawah pengawasan dan petunjuk wahyu kami, dan jangan kau bicarakan dengan aku tentang orang-orang yang zalim itu karena meeka itu akan ditenggelamkan”.

B. Cerdas Serta Pandai

Islam menginginkan pemeluknya cerdas serta pandai yang ditandai oleh adanya kemampuan dalam menyelesaikan masalah dengan cepat dan tepat, sedangkan pandai di tandai oleh banyak memiliki pengetahuan dan informasi. Kecerdasan dan kepandaian itu dapat dilihat melalui indikator-indikator sebagai berikut :

a) Memiliki sains yang banyak dan berkualitas tinggi.

b) Mampu memahami dan menghasilkan filsafat.

c) Rohani yang berkualitas tinggi.

Kekuatan rohani (tegasnya kalbu) lebih jauh daripada kekuatan akal. Karena kekuatan jasmani terbatas pada objek-objek berwujud materi yang dapat ditangkap oleh indera.

Islam sangat mengistemewakan aspek kalbu. Kalbu dapat menembus alam ghaib, bahkan menembus Tuhan. Kalbu inilah yang merupakan potensi manusia yang mampu beriman secara sungguh-sungguh. Bahkan iman itu, menurut al Qur’an tempatnya didalam kalbu.

4. Tujuan Pendidikan Islam

Menurut Abdul Fatah Jalal, tujuan umum pendidikan Islam ialah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah. Jadi menurut Islam, pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia yang menghambakan kepada Allah. Yang dimaksud menghambakan diri ialah beribadah kepada Allah.

Islam menghendaki agar manusia dididik supaya ia mampu merealisasikan tujuan hidupnya sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah. Tujuan hidup menusia itu menurut Allah ialah beribadah kepada Allah. Seperti dalam surat a Dzariyat ayat 56 :

“ Dan Aku menciptakan Jin dan Manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku”.

Jalal menyatakan bahwa sebagian orang mengira ibadah itu terbatas pada menunaikan shalat, shaum pada bulan Ramadhan, mengeluarkan zakat, ibadah Haji, serta mengucapkan syahadat. Tetapi sebenarnya ibadah itu mencakup semua amal, pikiran, dan perasaan yang dihadapkan (atau disandarkan) kepada Allah. Aspek ibadah merupakan kewajiban orang islam untuk mempelajarinya agar ia dapat mengamalkannya dengan cara yang benar.

Ibadah ialah jalan hidup yang mencakup seluruh aspek kehidupan serta segala yang dilakukan manusia berupa perkataan, perbuatan, perasaan, pemikiran yang disangkutkan dengan Allah.

Menurut al Syaibani, tujuan pendidikan Islam adalah :

1. Tujuan yang berkaitan dengan individu, mencakup perubahan yang berupa pengetahuan, tingkah laku masyarakat, tingkah laku jasmani dan rohani dan kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki untuk hidup di dunia dan di akhirat.

2. Tujuan yang berkaitan dengan masyarakat, mencakup tingkah laku masyarakat, tingkah laku individu dalam masyarakat, perubahan kehidupan masyarakat, memperkaya pengalaman masyarakat.

3. Tujuan profesional yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran sebagai ilmu, sebagai seni, sebagai profesi, dan sebagai kegiatan masyarakat.

Menurut al abrasyi, merinci tujuan akhir pendidikan islam menjadi

1. Pembinaan akhlak.

2. menyiapkan anak didik untuk hidup dudunia dan akhirat.

3. Penguasaan ilmu.

4. Keterampilan bekerja dalam masyrakat.

Menurut Asma hasan Fahmi, tujuan akhir pendidikan islam dapat diperinci menjadi :

1. Tujuan keagamaan.

2. Tujuan pengembangan akal dan akhlak.

3. Tujuan pengajaran kebudayaan.

4. Tujuan pembicaraan kepribadian.

Menurut Munir Mursi, tujuan pendidikan islam menjadi :

1. Bahagia di dunian dan akhirat.

2. menghambakan diri kepada Allah.

3. Memperkuat ikatan keislaman dan melayani kepentingan masyarakat islam.

4. Akhlak mulia.

E. PENUTUP

Ilmu dalam perspektif Islam bukan hanya mempelajari masalah keagamaan (akhirat) saja, tapi juga pengetahuan umum juga termasuk. Orang Islam dibekali untuk dunia akhirat, sehingga ada keseimbangan. Dan ilmu umum pun termasuk pada cabang (furu’) ilmu agama.

Dan umat Islam sempat merasakan puncak keemasannya, dimana disaat bangsa Eropa mengidap penyakit hitam, umat islam sudah menemukan sabun, di saat jalan-jalan di Eropa kumuh, gelap, tidak teratur, umat islam sudah punya jalan-jalan yang indah, penerangan, bahkan sistem irigasi yang sudah maju.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Tafsir., Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam., PT. Remaja Rosdakarya., Bandung, 2001

Nur Uhbiyati., Ilmu Pendidikan Islam., CV. Pustaka Setia., Bandung, 1998


[1] Maksudnya : Manusia yang paling buruk disisi Allah ialah yang tidak mau mendengar, menuturkan dan memahami kebenaran.

I. Pendahuluan

Kita membicarakan hal yang sangat penting dalam psikologi dan sangat erat hubungannya dengan ilmu pendidikan, yaitu suatu pembawaan dan lingkungan.

Soal pembawaan ini adalah soal yang sangat tidak mudah dan dengan demikian memerlukan penjelasan, dan uraian yang tidak sedikit. Telah bertahun-tahun lamanya para ahli didik, ahli biologi, ahli psikologi dan lain-lain memikirkan dan berusaha mencari jawaban atas pertanyaan : perkembangan manusia tergantung pada pembawaan ataukah lingkungan atau dengan kata lain perkembangan anak muda hingga menjadi dewasa, faktor-faktor yang menentukan itu, kadang-kadang yang dibawa dari keturunan, pembawaan ataukah pengaruh-pengaruh lingkungan ada beberapa pendapat.

a. Aliran Nativisme

Aliran ini berpendapat bahwa segala perkembangan manusia itu telah ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir. Pendidikan tidak bisa mengubah sifat-sifat pembawaan. Salah satu perbedaan dasar individu adalah latar belakang hereditas masing-masing individu. Hereditas dapat diartikan sebagai pewaris atau pemindah biologis, karakteristik individu dari pihak orang tuanya.

b. Aliran Empirisme

Aliran ini mempunyai pendapat bahwa dalam perkembangan anak menjadi manusia dewasa, itu sama sekali ditentukan oleh lingkungannya. Sejak atau oleh pendidik dan pengalamannya sejak kecil, manusia dapat dididik apa saja/kearah yang lebih yang baik maupun kearah yang buruk.

Aliran teori ini dalam lapangan pendidikan menimbulkan pandangan yang otomistis yang memandang bahwa pendidikan merupakan usaha yang cukup mampu untuk membentuk pribadi manusia. Teori ini sering disebut dengan “Tabularasa” yang memandang bahwa keturunan itu mempunyai peranan.

C. Hukum Konvergensi

Hukum ini berasal dari ahli psikologi bangsa Jerman bernama William Stern. Ia berpendapat bahwa pembawaan dan lingkungan kedua-duanya menentukan perkembangan manusia, dari duah buah faktor perkembangan dan lingkungan. Kedua hal tersebut itu kita renungkan benar-benar, belum tepatlah kiranya hal itu diperuntukkan bagi perkembangan manusia, hasil dari proses alam, yaitu pembawaan dan lingkungan belaka.

Tetapi perkembangan manusia itu bukan hasil belaka dari pembawaannya dan lingkungannya. Manusia itu tidak hanya diperkembangkan tetapi iya memperkembangkan dirinya sendiri. Manusia adalah makhluk.

Proses perkembangan manusia tidak hanya oleh faktor pembawaan yang telah ada pada orang itu dan faktor lingkungannya yang mempengaruhi orang itu. Aktivitas manusia itu sendiri dalam pekembangannya turut menentukan atau memainkan peranan juga.

II. Pembawaan dan Keturunan

a. Keturunan

Kita dapat mengatakan bahwa sifat-sifat atau ciri-ciri pada seorang anak adalah keturunan, jika sifat-sifat atau ciri-ciri tersebutdiwariskan atau diturunkan melalui sel-sel kelamin dari generasi yang lain. Yaitu ada dua syarat :

v Persamaan sifat atau ciri-ciri, dan

v Ciri-ciri ini harus menurun melaui sel-sel kelamin.

Mungkin juga sifat-sifat itu diwarisi dari nenek moyang atau buyutnya.

b. Pembawaan

1. Agar lebih jelas lagi pengertian kita tentang keturunan dan bagaimana hubungannya atau adakah perbedaannya antara turunan dengan pembawaan, inilah uraiannya, dapat kita katakan bahwa yng dimaksud dengan pembawaan ialah semua kesanggupan-kesanggupan yang dapat diwujudkan.

Pembawaan atau bakat terkandung dalam sel-benih (kiem-cel), yaitu keseluruhan kemungkinan-kemungkinan yang ditentukan oleh keturunan, inilah yang dalam arti terbatas kita namakan pembawaan (aanleg).

2. Struktur Pembawaan

Disamping kita memahami bahwa pembawaan yang bermacam-macam yang ada pada anak itu tidak dapat kita amati, jadi belum dapat dilihat sebelum pembawaan itu menyatakan diri dalam perwujudannya (dari potential ability menjadi actual ability), kita hendaklah selalu ingat bahwa sifat-sifat dalam pembawaan (potensi-potensi) itu seperti : potensi untuk belajar ilmu pasti, berkata-kata, intelijensi yang baik dan lain-lain merupakan struktur pembawaan anak-anak.

3. Di muka telah dikatakan bahwa pembawaan ialah seluruh kemungkinan yang terkandung dalam sel-benih yang akan berkembang mencapai perwujudannya.

Pembawaan (yang dibawa anak sejak lahir) adalah potensi-potensi yang aktif dan pasif, yang akan terus berkembang hingga mencapai perwujudannya.

4. Pembawaan dan Bakat

Sebenarnya kedua istilah itu – pembawaan dan bakat adalah dua istilah yang sama maksudnya. Umumnya dalam psikologi kita dapti kedua istilah itu sejajar, sama-sama dipakai untuk satu pengertian, yaitu pembawaan (aanleg). Untuk menggantikan kata aanleg kedua istilah tersebut di atas dapat digunakan sama-sama dengan maksud sama pula.

II. Beberapa Macam Pembawaan dan Pengaruh Keturunan

a. Perlu pula kiranya kita singgung sedikit beberapa macam pembawaan berikut :

1. Pembawaan jenis

Tiap-tiap manusia biasa diwaktu lainnya telah memiliki pembawaan jenis, yaitu jenis manusia. Bentuk badannya, anggota-anggota tubuhnya, intelijensinya, ingatannya dan sebagainya semua itu menunjukkan ciri-ciri yang khas, dan berbeda dengan jenis-jenis makhluk lain.

2. Pembawaan Ras

Dalam jenis manusia pada umumnya masih terdapat lagi bermacam-macam perbedaan yang juga termasuk pembawaan keturunan, yaitu pembawaan keturunan mengenai ras.

3. Pembawaan Jenis Kelamin

Setiap manusia yang normal sejak lahir telah membawa pembawaan jenis kelamin masing-masing.

4. Pembawaan Perseorangan

Kecuali pembawaan-pembawaan terebut diatas, tiap orang sendiri-sendiri (individu) memiliki pembawaan yang bersifat individual (pembawaan perseorangan)yang tipikal, banyak ditentukan oleh keturunan ialah pembawaan ras, pembawaan jenis dan pembawaan kelamin.

v Konstitusi tubuh : termasuk didalamnya : motorik, seperti sikap badan, sikap berjalan, air muka, gerakan bicara.

v Cara bekerja alat-alat indra : ada orang yang lebih menyukai beberapa jenis perangsang tertentu yang mirip dengan kesukaan yang dimilikioleh ayah atau ibunya.

v Sifat-sifat ingatan dan kesanggupan belajar.

v Tipe-tipe perhatian, intelijensi kosien (IQ) serta tipe-tipe intelijensi.

v Cara-cara berlangsungnya emosi-emosi yang khas.

v Tempo dan ritme perkembangan (ingat pelajaran psikologi perkembangan)

v

IV. Lingkungan (environment)

Macam-macam lingkungan dan bagaimana individu berinteraksi dengan lingkungannya.

v Macam-macam lingkungan

Lingkungan (environment) ialah meliputi semua kondisi-kondisi dalam dunia ini yang dalam cara-cara tertentu mempengaruhi tingkah laku kita, pertumbuhan, perkembangan atau life process kita kecuali gen-gen.

Menurut Sertain lingkungan itu dapat dibagi menjadi 3 bagian sebagai berikut :

1) Lingkungan alam/luar (eksternal or physical environment)

2) Lingkungan dalam (internal environment), dan

3) Lingkungan sosial/masyarakat (social environment)

v Bagaimana Individu Berhubungan Dengan Lingkungan?

Kepribadian adalah organisasi dinamis daripada sistem psikofisik dalam individu yang turut menentukan cara-caranya yang unik (khas).

Dari rumusan /definisi tersebut jelas bahwa kepribadian manusia tidak dapat dirumuskan sebagai suatu keseluruhan atau kesatuan individu saja, tanpa sekaligus meletakkan hubungannya dengan lingkungannya.

Menurut woodworth, cara-cara individu itu berhubungan dengan lingkungannya dapat dibedakan menjadi 4 macam :

1) Individu bertentangan dengan lingkungannya,

2) Individu menggunakan lingkungannya,

3) Individu berpartisipasi dengan lingkungannya, dan

4) Individu menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Individu itu senantiasa berusaha untuk “ menyesuaikan diri “ (dalam arti luas) dengan lingkungannya.

Dalam arti yang luas menyesuaikan diri itu berarti :

1) Mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan (penyesuaian autoplastis)

2) Mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan (keinginan) diri penyesuaian diri alloplastis.

V. Penutup

Bahwa semua yang berkembang dalam diri suatu individu ditentukan oleh pembawaan dan juga oleh lingkungannya dan adapula lebih ditentukan oleh pembawaannya.

Nativisme mengatakan bahwa pendidikan tidak bisa mengubah pembawaan. Bila dilihat dari kedua teori yang bertentangan satu dengan yang lainnya.

Sebagai kesimpulan dapat dikatakan jalan perkembangan manusia sedikit banyak ditentukan oleh pembawaan yang turun temurun oleh aktifitas atau penentuan manusia sendiri yang dilakukan dengan bebas di bawah pengaruh faktor-faktor lingkungan tertentu berkembang menjadi sifat-sifat.

Tetapi ada teori konvergensi yang merupakan teori gabungan baik pembawaan maupun pengalaman lingkungan mempunyai peranan penting di dalam perkembangan individu.

Perkembangan individu sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan faktor bawaan sejak lahir (endogen).

DAFTAR BACAAAN

1. Ahmadi, H. Abu, 1991. “Psikologi Umum”. Rineka Cipta : Semarang

2. Syah Muhibbin, 1995. “Psikologi Pendidikan”. PT. Remaja Rosdakarya : Bandung

3. Effendi Usman, Dkk, 1984. “Pengantar Psikologi”. Angkasa : Bandung

4.Soemanto Wasty, 1990. “Psikologi Pendidikan”. Rineka Cipta : Jakarta

5.Purwanto mangalin, 1955. “ Psikologi Pendidikan”. Bumi Angkasa : Jakarta

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 181 pengikut lainnya.